My Wonderful Life

now browsing by tag

 
 

Nama saya bertambah (part 2)

20121111-231248.jpg

Hay, udah lama banget saya nggak posting di blog ini. Maklum, beberapa waktu yang lalu, blog saya ini sempat nggak bisa dibuka lantaran ada beberapa data yang hilang.But anyway, akhirnya blog ini bisa kembali di buka dan dengan layout baru (akhirnyaa)…yiiipieeee!!!

Postingan kali ini adalah janji saya pada kalian yang membaca postingan saya terdahulu dengan judul ‘Nama Saya Bertambah (part 1)’. Yess, syukur Alhamdulillah… Setelah dua tahun jungkir balik mengejar pendidikan, akhirnya selesai juga kuliah S2 saya di komunikasi UI. Dan nama saya yang pada postingan terdahulu: Dyan Nuranindya, SE, bertambah panjang menjadi: Dyan Nuranindya, SE, M.Si :) Bangga?pasti. Tapi bukan karena gelar yang menambah panjang nama saya. Karena bagi saya itu hanya akan membuat keren nama di undangan pernikahan saja (itupun kalo saya pengen masukin:p).Tapi lebih karena bangga bahwa orang serba biasa-biasa saja seperti saya (bahkan lebih cenderung dungu), yang nyaris nggak pernah terbayangkan oleh orang tua saya sekalipun bisa meraih pendidikan tinggi (karena mungkin saya kelewat cuek dan badung! Versi orang tua saya), bisa lulus sampai ke jenjang master. Alhamdulillah…

Saya bukan anak yang pintar.Nilai merah di rapor sudah jadi makanan saya sewaktu sekolah dulu. Bahkan saya sempat mengira kalau guru saya nggak punya bolpoin warna hitam (kidding). Tapi saya selalu punya keyakinan kalau kemampuan saya sebenarnya nggak hanya sebatas nilai merah di rapor. Saya pasti bisa lebih dari itu < --- rayuan gombal anak sekolah ketika penerimaan rapor pada orang tua. But anyway, benar saja. Mungkin keyakinan itu yang membuat Tuhan begitu baik pada saya. Saya diberikan jalan dan banyak kesempatan berharga untuk saya bisa terus maju dan mengembangkan potensi saya. Dari mulai diberikan kesempatan untuk menerbitkan buku, sampai memperoleh beberapa beasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Saya tahu saya nggak pinter, tapi saya nggak bodoh. Kalau saya nggak bisa, ya saya bisa belajar. Nggak usah buru-buru.Pelan-pelan aja kalau memang mampunya begitu. Dan fyi, kuliah s2 saya ini gratis hehehe... Satu hal yang 'agak' aneh ketika saya lulus S2 ini. Banyak pola pikir dan sudut pandang yang berubah. Memang, bekerja di perusahaan besar dengan gaji yang ciamik adalah keinginan semua orang. Termasuk saya. Makanya ketika lulus, dan mendapat tawaran-tawaran menggiurkan, saya sempat tergoda. Tapi tiba-tiba hati kecil saya berkata: Hey, This is not what I really want. Memperoleh gelar pendidikan di nama bukan cuma semata-mata untuk mencari jabatan atau materi tinggi. Bukan juga untuk pamer dan gaya-gayaan. Tapi ada hal yang jauh lebih besar dari itu. Yang terkadang nggak disadari oleh para lulusan sarjana di Indonesia ini. Memperoleh gelar pendidikan tinggi merupakan simbol sebuah tanggung jawab yang semakin besar. Saya teringat seorang dosen saya yang telah mengabdikan seumur hidupnya untuk dunia pendidikan. Kehidupannya sangat sederhana. Padahal gelar di namanya mungkin nggak akan cukup kalau harus ditulis dalam satu baris pada kartu nama. Entah apa jabatannya seandainya dia bekerja di sebuah kantor pemerintahan. Sehari-hari beliau harus mondar-mandir ujung ke ujung Jakarta hanya untuk mengajar. Dia juga bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan. Ketika ditanya kenapa ia melakukan itu semua, jawabannya simpel : 'Karena orang percaya sama saya' jawaban yang singkat dan terkesan ambigu, tapi mengandung makna yang panjang dan dalam kalau direnungkan.Dan saya mulai mengerti... 'If You're Not Where You Want To Be In Life, It's Your Own Fault' Kalimat tersebut yang selalu terngiang di hati saya. Membuat saya merenungi apa yang sebenarnya membuat saya bahagia. Saya menuliskan daftar kebahagiaan dan kesedihan saya pada secarik kertas. And guess what? Ternyata hasilnya seimbang. Bahkan ada beberapa yang justru saling melengkapi. Bukti keadilan Tuhan terlihat jelas pada secarik kertas itu. Tuhan ternyata begitu sayang pada saya. Saya diberikan kesedihan, agar saya tahu rasanya bahagia. Dan saya sangat bersyukur atas apapun yang terjadi di dalam kehidupan saya. Melalui secarik kertas itu, akhirnya saya tahu apa yang saya inginkan sebenarnya. Bergabung dengan berbagai komunitas pengajar bagi kaum marjinal ternyata merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri untuk saya. Membuat diri saya merasa berharga untuk orang lain. Merasa hidup saya lebih bermakna. Disamping juga bekerja secukupnya untuk menyambung hidup. Setiap tetes keringat yang keluar ketika menempuh pendidikan pun nggak sia-sia rasanya. Tuhan sudah begitu baik memberikan saya kesempatan untuk meraih pendidikan tinggi. Jadi sudah menjadi kewajiban saya untuk membagi ilmu yang saya miliki untuk orang-orang yang nggak seberuntung saya. Ini adalah perwujudan rasa syukur saya pada Tuhan. Dengan berbagi. Ingat, harta, gelar, dan kekuasaan nggak dibawa sampai mati! Kalian pasti punya passion masing-masing dalam hidup. Mengejar materi memang sebuah kewajiban selama nggak berlebihan. Memiliki jabatan tinggi di kantor juga menyenangkan. Tapi percaya deh, semuanya itu nggak akan bermakna kalau kalian nggak membagi apa yang kalian bisa untuk orang lain. So, mulailah mewarnai hidup kalian dengan melakukan hal-hal positif. Mungkin bisa dimulai degan memberikan tempat duduk kepada seorang ibu-ibu di bus, atau membantu orang yang ingin menyebrangi jalan. Sesimpel itu, tapi bisa bikin hidup kamu lebih bernilai. Oiya, bagaimanapun, nama saya tetap Dyan Nuranindya. Panggil saja Dyan, atau Dichiel, sesuka hati kalian. Saya tetap akan menengok dan tersenyum pada kalian. Saya tetap saya:) Nb: Mudah-mudahan postingan saya berikutnya, 'Nama saya bertambah part 3' sudah ada nama lelaki yang akan mewariskan wajah keturunan saya kelak di belakang nama saya. Amiiin...


20121111-231955.jpg

Are you happy?

Setiap orang pasti punya masalah dalam hidupnya.Lelah?Pasti.Saya pernah bertanya pada Tuhan mengenai sebuah kebahagiaan.Dan Tuhan menjawabnya melalui sebuah proses kehidupan.Bahagia ternyata bukan dicari,tapi bisa diciptakan.Sesimpel menertawai kebodohan diri,melihat foto2 gebetan yg lg tersenyum,atau memberi makan seekor kucing kecil di jalanan.Kebahagiaan justru ada ketika kita bisa menangis dan tertawa bersama orang-orang yang kita sayang,atau bahkan orang yang baru kita kenal tapi bersedia menopang tubuh kita, saat kita terpeleset jatuh.Orang-orang yang terpilih untuk menjadi malaikat bagi kita.Bahagia saya dangkal,tapi saya suka…kamu?

Si Pencemburu Sejati

Huaaaa….pengen banget posting ini gara-gara omongan salah satu sahabat saya kemarin ketika kami reunian buka puasa bareng.Cerita ngalor-ngidul pun terjadi. Dari mulai kisah lucu, menyenangkan, menyedihkan, sampai kisah aib masing-masing.Dan… Sebuah kasus lama pun baru terbongkar…
“Si X apa kabar, Chiel?”
Saya menggeleng. “Nggak tau, udah lama banget nggak ketemu. Dia masih sempet sih, nelpon nanya kabar.Lebihnya nggak pernah lagi.”
Kawan saya pun tertawa.Membuat saya heran. Kemudian dia cerita panjang-lebar, “Dulu santai banget ya lo waktu sama dia.”
“Santai gimana?”
“Yaah… Dia mondar-mandir sama cewek lain, elo santai-santai aja.Gue kan jadi diem-diem aja.Gue mikir, elo-nya aja santai, masa gue yang sewot.” ucapnya sambil tertawa.
“Gak tau ya, gue percaya aja sama dia.Lagian dia nggak pernah bohong juga pergi sama siapa.Ampe apal gue tuh cewek siapa-siapa aja.Gak perlu gue tanyain, dia udah kabarin gue sendiri.”
“Lo nggak sakit hati?”
“Cemburu sih iya, tapi kadang gue mikir lagi. Ngapain gue cemburu?Toh dia sayangnya sama gue.Selalu ada waktu buat gue.Dan dia nggak pernah malu bawa atau ngenalin gue ke temen-temennya dia sebagai pacarnya.”
“Ah lo selalu gt.Sama yg dulu2 juga cuek bgt”
“Njriit! Macem banyak aje ahahaha…”

Okay, case closed. Sorry ya, nggak bisa dilanjutin lagi ceritanya. Just kalian tahu intinya aja ahahaha…. Obrolan dengan sahabat saya itu tiba-tiba menyadarkan saya pada suatu pemikiran.Sebenernya salah nggak sih, kalau kita terlalu cuek dan santai dengan pasangan kita?Kata orang-orang jaman dulu sih, yang penting itu saling percaya.Tapi kalau terlalu percaya tanpa adanya ‘penjagaan’ apakah akan baik-baik saja?
Saya akui, pada dasarnya saya orang yang sangat cueeek banget sama sebuah hubungan ketika pacaran.Saya terlalu menganut sistem ‘saling percaya’ yang emang nempel banget di kepala saya.Saya mikir, kalau saya nggak selingkuh dan baik-baik saja, pasti pasangan saya juga melakukan sebaliknya. Tapi… Sepertinya hal kayak gitu nggak bisa dilakukan di jaman sekarang.Apalagi di kota besar.Makanya saya seringkali jadi korban perselingkuhan ahahaha…hush! *maap

Pola pikir saya itu lambat laun saya rubah. Tapi anehnya malah merubah drastis pemikiran saya. Asli, saya jadi sangat pencemburu. Bawaannya uring-uringan kalau pasangan saya nggak ngabarin di mana dia berada.Bawaannya khawatir. Bawaannya deg2an, curigaan.Dikit-dikit kangen.Tidur nggak tenang.Kerjaan berantakan.Gosh! Ini bukan saya banget! Dan diperparah dengan kejadian2 nggak menyenangkan yang nggak sengaja saya lihat. Okay, saya memang sayang berlebihan. Tapi ternyata itu malah membuat pasangan saya nggak nyaman *im so sorry:(* Ujung-ujungnya…. (again!) saya jatuh sakit.Tolol!

Guys, learning dari itu semua adalah… Kalau kalian pengen tahu semua-muanya tentang pasangan kalian, coba tanya pada diri kalian masing-masing dulu apakah kalian siap untuk mengetahui hal-hal yang (mungkin aja) akan nyakitin diri kalian sendiri?Kalau kalian nggak siap, yaudah, nggak usah kepo menyelidiki twitter,fb,atau sms dia dengan cewek2.Kecuali kalo emang ada bukti pasangan kamu jelas2 selingkuh ya… Sebelum akhirnya putuss (haha!tetep).Anyway, saya sekarang lebih santai.Kalau siap sakit hati, ya silahkan jadi kepo.Tapi kalau nggak siap, yaudah jangan cari gara2,gatel ngecek2…nanti pusing sendiri.Haha…

Jujur, saya lebih suka bersama dengan pasangan yang bisa saling bicara baik-baik tentang apa yang memang saya inginkan dari dia, dan apa yang dia inginkan dari saya.Karena kadang nggak semua yang saya lakukan itu bener lho… bisa jadi saya salah total di mata pasangan saya. Saling percaya itu masih tetep penting buat saya. Intinya, yang paling saya sayangi itu dia. And I prepared myself perfectly for him. I’ll do my best to become his future wife. Selama ini, secara nggak langsung, pasangan saya jadi motivasi diri saya untuk menabung banyak hal untuk masa depan. Misalnya, ngingetin saya biar nggak boros karena nabung buat nikah, bikin saya setengah mati belajar masak biar bisa masakin dia sarapan, belajar bangun sebelum subuh untuk nyetrika baju untuk nyiapin pakaian kerja dia nanti, atau prepare nyari penghasilan tambahan biar nanti dia nggak terlalu repot mikirin beli bedak buat saya 😀 (its true!saya belajar banyak hal).Bahkan kadang saya suka nabung nggak penting, misalnya: Okay,saya nggak akan marah sama kamu.Jadi kalau saya sampai marah, saya bayar 50 rb :))

Lalu, siapa bilang saya cuek?Saya pencemburu sejati….. karena saya sayang:)

Behind The Scene-Tetralogi Soda

Udah lama banget ya, saya berencana untuk cerita alasan saya menulis tetralogi Soda. Terus terang,nulis novel Canting Cantiq, Cinderella Rambut Pink, dan Rock’n Roll onthel ini bener-bener seru!
Percaya atau enggak, dalam tetralogi ini, bukan pembaca aja yang belajar sesuatu dari novel ini, tapi saya pun ikut belajar banyak hal dari pembuatan novel-novel ini.

Ide awalnya adalah karena saya sedih banget melihat kurangnya rasa toleransi di negara kita ini.Dari mulai masalah ras,agama,suku, dan lainnya. Kalau ada orang yang berpenampilan,berpendapat, atau berperilaku ‘berbeda’ dari orang kebanyakan,maka mereka dianggap “nggak layak hidup” alias dikucilkan dari pergaulan. Bahkan yang paling apes adalah jadi bahan bully.Padahal kan belum tentu mereka lebih jelek dari yang ngebully.Ya kan…

Bukan cuma itu aja, saya sedih juga ketika tahu banyak banget remaja Indonesia yang justru dengan lantang bilang kalau mereka benci banget sama Indonesia.Dan banyak juga yang lebih suka sama hal-hal yang berbau luar negeri ketimbang buatan Indonesia.Padahal kualitas produk buatan Indonesia juga gak kalah oke. Emang sih,hal itu sah-sah aja.Tapi jangan ngeluh kalo ekonomi Indonesia nggak maju-maju.Piss Jo!

Dari alasan-alasan itu, akhirnya saya mikir, “Kayaknya gw harus ngelakuin sesuatu untuk Bangsa ini!” tapi apa? Saya kan bukan politikus atau pejabat yang punya pengaruh besar buat negeri ini. Saya mikir mayan lama dan…..Taraaaa!!! Ternyata jawabannya justru ada di depan mata kepala saya sendiri.

“Hey,Im a writer! So write it!”

Pertanyaan terbesar saya sewaktu mulai menulis ini adalah, “Apa novel saya ini bisa diterima sama anak-anak muda saat ini?” as we know, novel saya sebelumnya mengusung logo teenlit yang selalu berkesan “light” dengan warna-warna cover stabilo dimana didalamnya berisi tulisan sangat ringan dan cerita yang berada di lingkup yang familier dengan anak muda. Pakem-pakem itu akan sedikit berubah kalau saya beneran menulis tetralogi ini…

Berani???

Saya cuma berpikir sejenak, selanjutnya…Hantem aja ah!
Yap,saya hantem segala ketakutan saya.Lagian,saya yakin pembaca-pembaca saya cukup keren untuk bisa menerima hal-hal baru di dunia teenlit.Jadinya saya pede aja.Masalah suka atau enggak urusan belakangan.Yang jelas, saya pengen belajar dan pengen pembaca novel saya juga ikut belajar ketika mereka membaca. Sadeeess!

Jadilah saya riset kiri-kanan. Banyak-banyak baca buku tentang Indonesia dan mencari tokoh-tokoh yang punya penampilan dan perilaku unik di luar sana. Yang bisa mewakilkan jiwa dan emosi anak-anak muda Indonesia yang sangat beragam. Beberapa diantara perilaku kecil tokoh-tokoh dalam tetralogi ini memang saya ambil dari diri saya sendiri…yaaakkk buka kartuuuu!!!

Dan saya pilihlah setting tempat tokoh-tokoh tersebut di dalam sebuah kos-kosan. Soalnya kos-kosan itu tempat yang paling identik sama anak muda yang lagi sekolah atau kuliah yang berasal dari kota-kota berbeda.Dari situlah toleransi di bangun :).Kos-kosan Soda (nama kos-kosan di novel saya) mewakili sebuah keluarga, bahkan bisa juga sebuah negara.Dimana isinya berbeda-beda, tapi tetap berada dalam satu kesatuan. Memiliki seorang pemimpin yang bijaksana bernama Eyang Santoso (pemilik kos-kosan Soda) yang sangat mencintai dan peduli terhadap pendidikan di Indonesia.

Cerita dari masing-masing novel memang membawa tema tentang semangat anak muda Indonesia dari berbagai segi.Karena Indonesia itu luas,Jeung! Banyak yang bisa kalian ceritakan.Dari sejarahnya, budayanya, keindahan alamnya, dan seterusnya dan sebagainya. Dari Sabang sampai Merauke.

Novel ini adalah salah satu bentuk kontribusi saya untuk Indonesia. Mudah-mudahan tetralogi ini bisa dibeli juga oleh penerbit luar untuk di translate menjadi bahasa asing.Seperti yang terjadi di dua novel saya sebelumnya, Dealova dan Rahasia Bintang.Amiiinn….

So, apa yang bisa kamu lakukan untuk Indonesia?lakukan dari sekarang…

Dan dia memilih saya…

20120812-043629.jpg

Foto ini diambil oleh teman saya ketika acara bazaar Ramadhan Gempita dan VAC minggu kemarin. Awalnya, saya yang sedang berada di stand bazaar kaget setengah mati ketika ada seorang batita menunjuk saya.Batita itu sedang berada di gendongan ibunya yang tengah sibuk memilih-milih pakaian jualan. Dengan wajah polosnya, Batita tersebut mencondongkan tubuhnya ke arah saya, membuat ibunya terheran-heran. Saya yang ‘ngeh’ ditunjuk oleh batita tersebut kontan tersenyum.Dan ternyata batita tersebut menginginkan saya menggendongnya.Terlihat dari gesture yang ditunjukannya.Jadilah saya menggendongnya.Sementara ibunya sibuk berbelanja.

Kejadian itu bukan pertama kalinya buat saya.Sering kali di tengah-tengah keramaian,seorang bayi, menggunakan gesture-nya menginginkan saya menggendongnya.Salah satu contoh yang lain adalah ketika saya menghadiri sebuah pernikahan teman kakak saya. Lagi asik makan puding, tiba-tiba dari kejauhan seorang bayi di gendongan ayahnya menunjuk lurus ke arah saya.Otomatis itu membuat sang ayah bingung dan mengikuti kemauan bayi untuk mendekati saya. Lagi-lagi ia merentangkantangannya meminta saya menggendongnya. Saya akhirnya meletakkan mangkok puding ke meja, dan menggendong bayi itu,Si ayah berkali-kali meminta maaf pada saya.Saya mah asik-asik aja.

Pertanyaannya adalah? Apa yang membuat bayi-bayi tersebut tertarik untuk meminta gendong saya di tengah keramaian?Apakah mereka merasa saya kawannya? Atau karena wajah saya mirip badut? atau… Saya punya aura babysitter?ahahaha…..tanya kenapa.