My Amazing Family

now browsing by tag

 
 

Mereka memanggil Eyang Kung, Pak Gie

20111205-145139.jpg

Sebenarnya saya mau menuliskan cerita ini tepat tanggal 03 Desember kemarin. Karena tanggal itu adalah tanggal ulang tahun Eyang Kung, almarhum kakek saya yang meninggal beberapa tahun yang lalu. Tapi karena banyak kegiatan yang nggak bisa ditunda, jadilah saya menuliskannya hari ini. At least niat saya untuk bercerita kepada kalian mengenai eyang kung saya itu berhasil terpenuhi ūüėÄ

Namanya Achmad Soegianto. Kami cucu-cucunya biasa memanggilnya dengan Eyang Kung. Pria berperawakan tinggi tegap dengan wajah keras, judes dan berwibawa.

Diantara semua cucunya, mungkin saya yang paling biasa-biasa saja. Prestasi akademik biasa-biasa saja, fisik yang biasa-biasa saja, dan semua yang sangat BIASA dibandingkan dengan cucu eyang lainnya. Tapi… Satu hal yang paling saya ingat,dan nggak akan terlupakan seumur hidup saya, eyang kung sangat sayang dan bangga pada saya. Dia tak pernah membeda-bedakan saya dengan cucu-cucunya yang lain. Bahkan menunjukan raport yang penuh dengan tinta merah kebakaran pun, Eyang tetap memberi semangat pada saya (Saya memang tidak sepintar sepupu-sepupu saya yang lain)dan memberikan hadiah. Tapi percaya atau tidak, sosok dialah yang justru membuat saya termotivasi untuk selalu maju.

Eyang sering sekali menanyakan cita-cita saya. Tapi saya tak pernah ingat apa jawaban saya waktu itu karena saking kebanyakan cita-cita.Yang selalu saya ingat, Eyang Kung selalu berusaha hadir setiap kali saya nyanyi (Heeekkk! Kaget kan,kalo dulu saya penyanyi:)). Bahkan ketika saya tampil di luar kota.Eyang akan hadir menonton saya di barisan paling depan dan kadang menginap di hotel depan2an dengan hotel tempat saya menginap. Eyang juga yang suka memuji gambar saya disaat tidak ada satu orangpun yang memuji (Bahkan saya pun tidak:p)

Eyang Kung adalah marketer handal yang doyan jalan-jalan dari satu kota ke kota lain. Semua orang mengakuinya. Padahal kata papa,ia hanyalah lulusan SMU.Tapi ia pekerja keras yang tak mudah menyerah.Strategi-strategi marketing yang ada di kepalanya selalu mampu menciptakan terobosan baru. Nggak heran, kariernya cepat menanjak.Hingga ia berhasil menduduki jabatan tertinggi di kantornya. Salah satu perusahaan asuransi terbesar pada waktu itu.

Oiya,kata papa, Eyang Kung sempat hilang beberapa tahun.Diculik oleh pemberontak yang paling dicari saat itu.Tapi bukan karena Eyang bersalah,melainkan….SALAH CULIK ORANG (hekkk!!). Tapi pengalaman tinggal di hutan bersama kaum pemberontak itu menghasilkan cerita tersendiri buat Eyang.Ketika menyadari kalau mereka salah tangkap orang,Eyang malahan disuruh mengajar asuransi (sumpah!gw gak bohong.Ini asli cerita dari bokap gw).Efeknya ketika Eyang Kung kembali ke keluarga, satu hal yang beliau tekankan adalah, “Jangan takut sama setan!Saya tinggal bertahun-tahun di hutan nggak pernah ketemu tuh sama yang namanya Setan!”

Eyang kung sangat menyayangi keluarganya.Gaji yang ia peroleh sebagian besar ia tabung untuk bekal anak-anak dan cucu-cucunya nanti.Investasi jangka panjang. Ia tak pernah pelit kalau masalah uang. Saya dan cucu-cucunya yang lain juga sering kecipratan hehe….

Eyang Kung nggak pernah membedakan orang.Semua orang ia sapa,semua orang ia kenal,semua orang ia perlakukan dengan sama.Dan akhirnya ia pun mendapatkan timbal baiknya. Pernah satu ketika Eyang mengajak saya ke Solo.Dan amazing banget, dari tukang becak, tukang parkir,karyawan restaurant,OB hotel, semua kenal dengannya. Hal ter-‘dalem’ yang terjadi adalah ketika Eyang jatuh sakit di Jakarta, seorang pria paruh baya datang bersama istrinya ke rumah Eyang. Dan ternyata, dia adalah Tukang becak langganan Eyang Kung di Solo.Dia sengaja datang ke jakarta mencari eyang karena sudah lama eyang nggak datang ke Solo… :((

Ya, kondisi Eyang menurun drastis ketika dokter memvonis beliau kena diabetes dan dia harus menjalani diet ketat yang sangat menyiksa (Well,eyang kung adalah penikmat makanan.Paling doyan wisata kuliner:). Saat inilah sering terjadi hal-hal ‘ajaib’ yang dilakukan oleh Eyang Kung demi melanggar diet ketatnya itu (haha..). Eyang paling sering muncul tiba-tiba di rumah saya dan dengan happy memberikan saya uang untuk membeli makanan apapun yang saya suka. Karena dia kepingin ikut makan juga. Sisa uangnya sudah pasti buat saya ;p.Padahal eyang uti (nenek saya) di rumah, kebingungan mencari dia. Jarak rumah saya dan Eyang waktu itu emang nggak terlalu jauh.Saya tinggal di Cipete, sementara Eyang di Pondok Indah. Biasanya kalau nggak diantar supir,Eyang Kung jalan kaki dengan topi pet andalannya dan tongkat (untuk ngusir anjing katanya). Lama-lama Eyang Uti udah terbiasa kalau Eyang Kung ilang.Karena pasti lagi di rumah saya.Dan siap-siap diet gagal sepulangnya dari sana :))

Taktik Eyang kung untuk merusak diet ketatnya ada lagi. Beliau akan dengan senang hati memberikan kami,cucu-cucunya uang saku kalau kami kepingin pergi ke PIM.Tapi dengan bisikan di ujungnya, “Oleh-olehin Eyang Kung Wendy’s yah..” ahahaha…
Atau pernah juga beliau bikin geger keluarga besar lantaran hilang pagi-pagi tanpa jejak.Semua orang nyari, semua orang panik, and guess what? Papa menemukan Eyang Kung sedang memakan Big Mac di Mc.D (hahaha…good)

But anyway, banyak hal yang saya kagumi dari sosok Eyang Kung. Pribadi yang sangat luar biasa menurut saya. Ia terkenal sangat dekat dengan karyawannya tanpa membedakan jabatan. Ada satu hal yang diingat oleh salah satu karyawan beliau. “Pak Gie selalu mengajak karyawannya makan di restaurant yang menurutnya enak. Dia nggak akan membiarkan kami memesan.Tapi ia akan memesan semua menu yang ada dan menuangkan di piring kami semua menu dengan porsi sedikit-sedikit. Jadi semua karyawan bisa merasakan semua masakan yang ada. Adil. Baru ketika selesai, beliau akan menanyakan komentar kami, ‘gimana?yang paling enak yang mana?'”

Dear Eyang Kung, terima kasih karena telah menjadi sumber inspirasi buat cucumu yang biasa-biasa saja ini. Semoga Eyang bahagia disana….I love you with all my heart-Dyan

Sebuah Cinta untuk Mama

img_4422

“Aku benci mama..”

Sebuah kalimat pendek yang ditemukan mama tertulis di selembar kertas yang terselip di antara halaman buku sekolah. Tulisan cakar ayam dengan huruf ‘B’ yang rumit.Tanda kalau yang menulis baru saja belajar bagaimana menulis huruf yang benar. Ya,itu tulisan saya sekitar dua puluh tahun yang lalu.

Tubuh saya gemetar ketika mama menyodorkan kertas itu di hadapan saya. Saya begitu takut. Saya memang anak kecil sok tahu yang terlalu fanatik dengan cerita Cinderella,sehingga sering merasa seperti anak tiri ketika mama memarahi saya. Saya pun tak pernah mau dibilang mirip mama. Saya selalu bilang kalau saya mirip papa, bukan mama.

img_4302s

Mama selalu marah kalau saya menangis, kecewa, atau merengek. Saya tak pernah mudah meminta sesuatu yang dijual di toko. Butuh waktu lama sampai mama membelikan sesuatu yang saya pengen. Mama juga selalu marah kalau saya bangun kesiangan, saya boros, saya terlambat pulang sekolah, saya nggak percaya diri, saya nggak sopan sama orang, saya asal ngomong, dan seterusnya dan sebagainya. Ya, mama selalu memarahi saya hingga saya menuliskan kalimat itu di kertas, ‘aku benci mama’

Ketika saya beranjak dewasa, sebuah kejadian buruk menimpa keluarga saya.Kejadian yang menyebabkan keluarga saya harus memulai semuanya dari nol. Saat itulah Tuhan membuka mata saya lebar-lebar mengenai sosok luar biasa yang telah melahirkan saya ke dunia ini….mama.

Hari itu, untuk pertama kalinya saya melihat mama meneteskan air mata. Diam. Namun pipinya basah oleh air mata. Banyak orang yang sering bercerita tentang mama. Tentang betapa tegarnya wanita dihadapan saya itu. Betapa ia mampu mengatasi semua persoalnanya sendiri. Tapi saya tak pernah perduli. Saya tak pernah mau tahu. Detik itu, semua cerita seperti berderet di kepala saya…dan saya merengkuh, memeluk mama. Saya tahu mama tertekan. Saya bisa merasakannya. Bagaimanapun darahnya mengalir di dalam tubuh saya. Ada bagian dari dirinya adalah bagian dari diri saya. Saat itu saya menyadari, kalau saya dan mama adalah satu.

Ketika saya di kandungan, mama mati-matian mempertahankan saya agar tetap hidup bagaimana pun caranya. Banyak kejadian2 yang nyaris merenggut saya di perutnya, tapi Tuhan menjaga mama dan saya, hingga saya bisa terlahir ke dunia ini. Katanya, mama sangat santai ketika melahirkan saya. Karena dia sangat ingin saya melihat dunia.

Mama selalu memarahi saya bukan karena mama membenci saya.Tapi begitulah cara ia mendidik saya supaya tumbuh menjadi wanita yang kuat seperti dirinya. Wanita yang bisa diandalkan.

Mama selalu marah kalau saya menangis, kecewa, atau merengek karena ia tak mau saya gampang putus asa. Ia tak mau saya lembek. Ia tak mau saya terpuruk jika sesuatu yang saya harapkan tidak berhasil didapat.

Saya tak mudah meminta barang, karena mama mengajari saya agar saya tahu arti berusaha untuk mendapatkan sesuatu.Tahu artinya kerja keras.Tahu bagaimana menghargai proses, bagaimana menghargai tiap tetes keringat yang keluar. Dan mengerti bahwa segala sesuatu tidak instan,tapi perlu adanya usaha untuk memperoleh itu. Ya, sukses itu adalah sebuah proses.

Mama marah ketika saya bangun kesiangan, itu semata-mata karena mama mempersiapkan saya agar saya disiplin, agar suatu saat nanti saya menikah, saya tahu apa yang harus saya persiapkan untuk keluarga saya di pagi hari. Mama ingin hidup saya teratur. Dan mama ingin saya bisa menghargai setiap detik dalam hidup saya.

Mama mengajari saya banyak hal. Banyak hal tentang kehidupan. Banyak hal yang nggak pernah saya sadari telah ia tanamkan dari sejak saya kecil. Mama bukan seorang ibu yang akan menunjukkan kesedihannya ketika melihat saya terpuruk. Tapi ia selalu ada disamping saya ketika itu terjadi. Dia selalu berdiri di sebelah saya. Siap menyangga saya dengan tangannya meskipun saya tahu kalau dia juga tersakiti. Membuat saya menyadari bahwa terjatuh itu adalah hal yang biasa. Bukan rasa sakitnya, tapi kemampuan kita untuk kembali bangkit saat telah jatuh itulah yang membuat kita lebih kuat. Ya, Mama benar.

Terima kasih Tuhan, karena saya dilahirkan melalui rahim seorang wanita luar biasa ini.

Maafkan Dyan mama, anakmu ini memang sungguh kurang ajar. Maafkan Dyan karena sering mengecewakan mama.Sering membuat mama khawatir dengan kelakuan-kelakuan Dyan yang ekstrim. Dyan memang bukan anak yang sempurna.Tapi percayalah kalau Dyan sangat sayaaang mama dengan segenap hati. Dyan rela melakukan apapun untuk mama. Dyan akan berusaha jadi anak yang bisa membanggakan mama.Setidaknya bisa membuat mama selalu tersenyum bahagia. Terima kasih karena mama telah memberikan kepercayaan luar biasa pada Dyan. Hingga Dyan mampu untuk berdiri sendiri. Mampu berjalan dengan kedua kaki Dyan sendiri. Ya Tuhan, saya ingin seperti mama. Saya ingin mirip mama.

Saya ingat ketika saya SMU, mama pernah tersenyum menatap saya ketika saya pulang dari sekolah. Beliau berkata, “Kamu udah dewasa, kamu udah tahu mana yang benar, dan mana yang salah. Mama nggak akan memarahi kamu atas sebuah kesalahan yang kamu lakukan. Tapi buatlah semuanya sebagai pelajaran agar kamu nggak mengulanginya lagi. Mama sangat percaya kalau kamu mampu bertanggung jawab atas diri kamu sendiri. Jangan hilangkan kepercayaan mama. Mama bangga dan sayang sama kamu…”

Saya sangat menyadari kalau semua kekuatan dan hal positif yang saya lakukan, sebagian besar adalah berkat didikan mama. Ya, Tuhan menitipkan saya pada mama. Dan mama memegang amanah itu dengan sempurna. Selamat Ulang Tahun mama…semoga panjang umur, sehat selalu, dan Allah SWT senantiasa melindungi setiap langkah mama..AMIN

Dari anakmu yang selalu menyayangimu-Dyan

Miss U Garfield…

Dulu di rumah, saya punya kucing namanya Garfield. Dia itu kucing kampung biasa. Bukan tipe anggora atau persia. Meskipun begitu, saya sayang banget sama dia. Dia itu penyemangat saya, penghibur saya, dan teman yang baik buat saya (Lebay banget nggak sih?Huahaha). Keluarga saya juga sayang sama garfield. Karena setiap hari ada saja tingkah yang dia lakukan yang bikin suasana rumah saya jadi selalu ceria (Hore!). Mama sayang sama garfield karena dia selalu menemaninya¬† setiap hari kalo saya, kakak saya, Papa saya pergi. Jadi saat mama saya tidur2an di kursi, si garfield tidur2an juga di bawah kursi. Papa saya sayang sama garfield, karena garfield yang selalu masih bangun ketika papa saya baru pulang dari kerja malem2. Kakak saya adalah orang yang paling gemes sama garfield. Sukanya ngegendong2 kucing itu dan ngasih makanan yang lebih enak dari makanan saya(sial!). Pembantu saya, Mbak Dilla, sayang banget sama garfield karena kucing itu selalu jadi temen istirahatnya. Makanya mbak dilla seneng banget mandiin garfield. Lagian anehnya, garfield itu doyan banget mandi. Kalo dimandiin diem aja. Nggak kabur. Sedangkan saya sayang sama garfield karena garfield selalu menatap saya dengan polosnya saat saya lagi suntuk, lagi marah2 atau lagi capek dengan kerjaan-kerjaan saya yang menumpuk.. Makanya dia bisa membuat saya tenang lagi. Ini saya akan ceritakan beberapa kelakuan garfield yang bikin keluarga saya ketawa-ketawa…….

Garfield kalo tidur nggak pernah tengkurep. Pasti terlentang. Kayak orang aja. Pernah di tengkurepin sama mama, tapi baru beberapa menit udah terlentang lagi.

Garfield selalu bangunin saya dan kakak saya setiap pagi dengan teriak-teriak di depan kamar kami berdua. Kalau pintu kamar saya atau pintu kamar kakak saya sudah dibuka, barulah dia berhenti teriak-teriak, loncat ke kasur dan tidur di kaki saya.

Garfied senang menemani saya bekerja. Biasanya dia tidur-tiduran disebelah saya tapi lama-kelamaan dia ketiduran beneran hahaha…. Dasar!

Garfield paling suka mandi. Kalo mandi, dia suka berdiri pegangan ember sementara mbak Dilla menggosok2 punggung, kaki, mukanya dia. Dia nggak bakalan lari. Tapi mbak Dilla suka kerepotan nahan badan garfield karena dia pengen banget nyebur ke dalam ember.

Kalo makan, garfield suka masukin mukanya kedalem tempat makannya. Terus saking lahapnya, dia bisa makan sambil nggak sadar kepalaya ngegiring tempat makanannya jalan-jalan. Lama-lama kita mengajari dia untuk makan pakai tangannya. Akhirnya dia mulai bisa mengambil makanan dalam kaleng dengan tangan kanannya. Ingat! Tangan kanan!

Suka latihan nyanyi di atas genteng. Malem2, keluarga saya panik gara-gara denger suara garfield kayak lagi berantem gitu. Pas keluarga saya ke atap, gak taunya kita melihat garfield lagi teriak2 nggak jelas sendiri gitu. Lama kelamaan kita terbiasa dengan kelakuan aneh garfield.

Namanya garfield, tapi kadang mama manggil dia fiela (dari garfiela), kakak saya lebih sering manggil Garf. Mungkin dia bingung kali ya nama dia sebenernya siapa. Tapi suatu hari dia datang dari luar sambil ada sebuah kalung di lehernya, Di kalungnya ada tulisan, “Namaku osin.” Mungkin ada orang yang iseng nulisin kayak gitu.

Garfield pernah di kasih syal sama mama. Syal punya mama  saya pastinya. Tapi tiba-tiba dia langsung lari keluar, ke tempat sampah, ke depan gerbang sambil bawa syal itu. Ternyata dia langsung nyari pacar gitu. Dasar playboy!

Garfield punya pacar. Namanya Primadona. Waktu Primadona mati, 3 hari garfield makannya sedikit banget. Terus kalau jalan lemes gitu hahaha….

Garfield suka menekan-nekan tangannya di kaki kakak saya. Serasa lagi mijitin.

Garfield pernah di kasih alis mata ama mama. Kata mama, biar keliatan ganteng.

Garfield pernah bangunin saya pagi2 dengan ngelus2 tangannya di tangan saya.

Garfield gendut banget. Sampai2 mama bilang kayak babi. Kayaknya dia babai yang dikutuk jadi kucing.

Banyak banget deh, tingkah laku garfield yang selalu bikin saya dan keluarga saya ketawa. Kata mama, garfield itu adalah kucing yang kesurupan manusia hehehe…… Kalo kamu main kerumah saya, pasti kamu bakalan saya kenalin sama Garfield. Tapi itu dulu. Sebelum dia hilang bak ditelan bumi 2 tahun yang lalu. Nggak ada yang tau dia kemana. Sedih banget deh‚Ķ tapi untungnya keluarga saya dapet penggantinya. 16 kucing lucu ada di rumah saya saat ini hohoho‚Ķ. Suatu saat nanti saya akan menceritakan tentang mereka satu persatu‚Ķ

Becoming Mom

Diantara semua keluarga, saya memang yang paling sering membuat jantung mama saya dag-dig-dug. Saya yang paling sering dicariin ketika pulang sekolah nggak langsung pulang. Saya yang paling banyak punya temen yang ‘aneh-aneh’ menurut orang tua saya. Saya juga yang sering pulang berdarah-darah, lecet sana, lecet sini, karena main sepatu roda, main sepak bola, manjat pager, jatuh, nyangkut di kawat, kesrempet mobil, nyemplung got, dll. Tapi anehnya, saya juga anak mama yang ‘hampir’ semua kegiatan yang saya pengen selalu diiyakan keinginannya. Makanya nggak heran kalau waktu saya kecil hampir semua ekskul dan les saya ikutin. Dari mulai nyanyi, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, Matematika, Ngaji, Gambar, dan seterusnya dan sebagainya. Cukup panjang kalau saya harus menuliskan semuanya disini. Yang paling membuat mama dengan berat hati mengiyakan, yaitu ketika saya memutuskan untuk masuk kelompok pecinta alam yang membuat saya mulai mencintai gunung-gunung indah dan tebing-tebing tinggi. Itu pula yang membuat saya nyaris nggak dikenali oleh beliau setiap kali saya pulang naik gunung atau manjat tebing karena saya berubah seperti tikus kecil kecemplung got. Satu hal yang membuat saya kesal saat itu ialah ketika hampir setiap jam mama selalu menghubungi saya lewat hp untuk menanyakan hal yang sama, “Lagi ngapain, Dek?” again and again… Kalau sampai saya tidak mengangkat teleponnya, atau membalas smsnya, Mama akan mengomel panjaaaang dan lebaaaaarr….. “Kenapa teleponnya nggak diangkaat!! Kamu tau nggak, Mama khawatir! (Mama, please deh. Anak mama sudah besar. Sudah bisa jaga diri sendiri! Sloww…)

Hingga sebuah kejadian membuat saya menyadari alasan mama melakukan itu semua. Saat itu saya sedang melakukan pekerjaan saya sebagai LO sebuah event. Saya harus mengurus 10 orang perempuan cantik yang belum pernah saya kenal sebelumya. Setelah sebulan penuh saya berulang-ulang membaca profil mereka satu persatu sebelum tidur, melihat foto mereka, mencoba membaca kharakter mereka, dan berulang kali menghubungi mereka, inilah saat yang paling mendebarkan buat saya. Saya menjemput mereka semua di bandara. Saya menggigit ujung bibir saya, berharap kalau mereka tiba dengan selamat. Di otak saya saya mengulang nama-nama mereka, mengingat profil dan foto mereka satu persatu. Saya hafal betul di luar kepala. Saya harus pastikan kalau mereka, kesepuluh-sepuluhnya, tiba dengan selamat. Sumpah! meskipun saya belum pernah melahirkan, tapi mungkin rasanya nggak jauh beda dengan itu. Dengan bantuan saudara, saya bisa masuk kedalam bandara hingga ruang tunggu bagasi. Saya nggak mau 10 orang calon ‘anak’ saya kebingungan. Mereka harus save. Saya HARUS ada disana. Hati saya cukup lega ketika saya melihat wajah salah satu dari mereka yang cukup saya kenali. Kemudian muncul yang lain dibelakangnya. Mulut saya langsung komat-kamit menghitung jumlah mereka. 1..2..3..4..wait…wait….APA?!? EMPAT??? HARUSNYA KAN LIMA!!! (well, dari 10 orang memang 6 orang berangkat dari Jakarta. Yang satu lagi, nanti saya ceritakan… sabar…) Saya mulai panik. Saya menarik nafas panjang.

Untungnya beberapa saat kemudian hp saya berbunyi. Saya melihat nama di layar hp saya adalah nama dari salah satu perempuan cantik itu. Saya pun langsung buru-buru angkat.

“Halo…” jawab saya.

“Mbak Dyan, aku udah sampai. Aduuh…. yang lainnya pada cantik-cantik banget gitu, Mbak. Aku jadi malu nih….”

Saya menengok kesebelah saya dan langsung kembali berbicara di telepon, “Hey2, aku ada di sebelah kamu…hahaha….”

Well saya sempat lega untuk beberapa saat. Mungkin memang mereka terpisah tempat duduknya. Tapi rasa lega itu nggak lama. Karena saya kembali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu saat hp saya berbunyi. Tanpa melihat layar hp, sayapun langsung mengangkatnya, “Halo???”

“Mbak Dyan, aku ketinggalan pesawat…”

Mendadak wajah saya pucat seketika. Tubuh saya gemetar. Entah kenapa kepala saya tiba-tiba senut-senut. God! Satu orang ‘anak’ saya tertinggal pesawat! Padahal beberapa menit yang lalu salah satu dari mereka menelepon saya kalau mereka sudah berada di dalam pesawat. SAYA HARUS GIMANA!!!

Saya sadar, Mama juga pernah mengalami hal yang sama saat suatu hari saya bilang kalau saya ditinggal oleh teman-teman saya sendirian di jalanan jam sebelas malem. Seketika itu Mama langsung menjemput saya dengan rasa cemas. Meskipun ketika bertemu saya tetep kena omel x) Seandainya jarak itu bukanlah Jogja-Jakarta, mungkin saya akan melakukan hal yang sama dengan mama. Menjemputnya. Tapi haloo…itu Jogja-Jakarta!!! Air mata saya hampir tumpah saat itu. Tapi saya sadar kalau itu nggak akan menyelesaikan masalah. Lebih baik saya mencari jalan agar ‘anak’ saya itu sampai di Jogja bagaimanapun caranya. Akhinya saya menelepon semua maskapai penerbangan yang ada menuju Jogja. Entah kenapa semuanya penuh, waiting list karena sekarang sedang liburan. Saya kembali menelepon ‘anak’ saya itu, memintanya untuk memberikan hp-nya pada petugas maskapai karena saya ingin berbicara. Saya memohon pada petugas maskapai penerbangan agar memasukan ‘anak’ saya ke penerbangan berikutnya. Lagi-lagi dia bilang waiting list. Damn! Saya memohon untuk memasukan nama ‘anak’ saya sebagai prioritas karena dia tertinggal rombongan. Petugas tersebut mengiyakan. Saya tak perduli berapa banyak orang yang telah dia iyakan saat itu. Saya hanya mencoba menenangkan diri.

Saya bilang pada ‘anak’ saya, “Aku coba bantuin kamu disini. Aku pengen banget kamu ada disini. Please kamu juga harus berusaha disana…,” jujur dari dalam hati. Saya berusaha setenang mungkin. Padahal sebenarnya saya nyaris putus asa.

Mungkin nggak banyak orang yang sanggup mengerti apa yang saya rasakan saat itu. Saya nggak akan rela kalau salah satu sari mereka ada yang nggak hadir. Gimana saya bisa rela? Sebulan penuh saya berulang-ulang membaca profil mereka satu persatu sebelum tidur, melihat foto mereka, mencoba membaca kharakter mereka dan berulang kali menghubungi mereka hingga saya hafal betul suara mereka. Saya sanggup menghafal profil mereka dan sanggup merasa telah mengenal mereka lamaaa sekali. Saya juga berusaha memasangkan teman satu kamar yang nyaman untuk mereka dengan berusaha menditeksi karakter mereka masing-masing layaknya psikolog agar mereka tidak merasa sendiri….

Mama sering kali lupa makan saat sibuk mengurus segala keperluan keluarganya. Seperti ditampar, ya saya sampai lupa makan saat itu. Saya tidak perduli. Sebelum saya melihat mereka LENGKAP, saya tidak akan tenang. Mereka HARUS ada disini lengkap dengan selamat.

Singkat cerita, dengan kecerdasannya, ‘anak’ saya itu bisa sampai ke Jogja. Thanks God! Saya menjemputnya di bandara. Betapa bahagianya saya ketika melihat ia muncul dari balik pintu bandara. Saya jadi teringat mama. Mungkin perasaan itu yang mama rasakan ketika mama melihat saya sampai ke rumah dengan selamat setelah sebelumnya saya menelepon untuk mengabarkan kalau saya jatuh dan berdarah di sekolah. Karena hari masih siang, saya langsung membawanya ke tempat membatik untuk bergabung dengan teman-temannya.

Tiga hari itu saya memang sangat lelah. Setiap menit saya harus selalu memastikan kalau 10 ‘anak’ saya itu baik-baik saja. Tapi entah kenapa saya merasa bahagia tanpa beban. Tiga hari itu membuat saya belajar banyak hal tentang mama. Saya cemas ketika salah satu dari mereka ada yang hilang, pucat, bahkan sakit. Saya amat sangat khawatir kalau mereka merasa tidak bahagia. Untungnya mereka nggak minta yang aneh2. Jadinya saya ikhlas-ikhlas aja mengabulkan segala permintaan mereka. Bangun jam empat pagi dengan menggigil (maklum kulit saya tipis bgt!) untuk mengetuk pintu kamar mereka satu-persatu, membangunkan mereka untuk siap-siap dimake-up, mengantarkan air putih saat mereka kehausan, dan menemani saat mereka ingin jalan-jalan ke malioboro. Saya juga belajar untuk lebih sabar. Mungkin kesabaran saya hanya seperberapa dari kesabaran yang dimiliki Mama dalam mengurus saya yang superkeras kepala dan bandel ini. Saya begitu bangga ketika mereka tampil diatas panggung, berbicara di depan ratusan mata, ketika make-up diwajah mereka melekat sempurna, ketika mereka tampak cantik dengan kebaya mereka. Mereka tampil hebat. Saya tak perduli seberapa lelahnya saya, seberapa dekil dan kucelnya saya saat itu. Ya, Mah, anakmu yang keras kepala ini begitu cegeng saat itu. Betapa bodohnya anakmu ini baru menyadari sekarang bagaimana perasaan seorang Ibu. Bagaimana perasaan Mama mengurus aku….

Saya memang tidak bisa meceritakan secara detail seluruh rangkaian kisah ini. Meskipun saya amat sangat ingin menceritakannya. Dulu mungkin saya tidak begitu ambil pusing dengan yang namanya menikah dan punya anak. Tapi sejak saat itu, saya jadi ingin cepat-cepat menikah dan punya anak. Saya ingin menjadi seorang Ibu. Saya ingin seperti Mama… Terima Kasih untuk semua orang yang turut andil dalam cerita ini. Berkat kalian, saya bisa belajar banyak hal. Belajar bahwa kesabaran akan muncul dengan sendirinya saat kita ikhlas melakukan sesuatu untuk orang yang kita sayangi. Dan satu hal yang saya sadari, Saya Amat Sangat Menyayangi Mama Saya dan saya sangat menyayangi kalian…..Luv U Mom and Luv U too girls…. :)