Posted by admin on May 15, 2010 in
Uncategorized

Nama saya dyan. Tapi terkadang orang bebas memanggil saya dengan sebutan apapun. Dyan, dee, dichiel, chiel, freaky, sinting, aneh, cungkring, kutu loncat atau apapun sesuka hatinya. Tubuh saya kecil, tidak telalu tinggi, dan sering kesusahan ketika ingin membeli pakaian di toko. Dan entah sudah berapa kali saya dikira membolos sekolah karena tubuh saya yang mirip anak SMP saat bertemu dengan orang di jalan raya.
Kata Mama saya bandel, ceroboh dan nekat. Sering kali saya lupa kalau tubuh saya mini dan suka pusing-pusing kalau emosi saya mulai naik. Tapi sekali lagi, saya suka nekat menantang bahaya.
Entah sudah berapa kali saya dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang menilai saya dari penampilan. Udah nggak keitung juga berapa orang yang meremehkan saya karena sering duduk di pinggir jalan sambil gitaran dengan teman-teman saya yang rata-rata berpenampilan aneh-aneh.
“Anak-anak nggak punya masa depan. Tukang bikin onar.” begitu sebagian besar para orang tua yang melihat kelakuan kami. Padahal saat itu kami tidak berbuat apa-apa.


Pernah satu kali saya berada di bus yang terjebak kemacetan. Saking betenya, saya mengajak ngobrol orang disebelah saya. Entah kenapa sepertinya orang itu tidak nyaman saya ajak mengobrol. Dengan nada agak menyebalkan (maaf kalau memang nada suaranya seperti itu) dan pandangan yang tidak menengok kearah saya, dia bertanya:
“Nggak sekolah?”
“Udah selesai” jawab saya sambil cengar-cengir.
“Selesai? Kenapa nggak lanjutin?”
Saya hanya tersenyum kecil, “Pengennya sih lanjutin lagi. Tapi….”
“Emang sih sekarang sekolah itu muahal banget. Tapi pendidikan itu penting lho. Jangan sampai putus sekolah. Jaman sekarang nyari kerja kalo cuma lulusan SMP/SMU aja mah susah. Nanti mentok-mentoknya paling nganggur trus nongkrong-nongkrong di pinggir jalan….” dan bla…bla…bla… ibu-ibu itu terus berbicara sebelum saya sempat melanjutkan kalimat saya.
Saya hanya bisa senyum sambil manggut-manggut.
“Kamu dari mana mau kemana?” tanya ibu-ibu tersebut.
“Dari kerja. Trus mau ngambil formulir di XXX.” jawaban saya.
“Kerja? kerja apaan?”
“Periklanan.”
“Emang kamu lulusan mana?”
“Perbanas. S1. Tapi Insya Allah sih mau lanjutin lagi.Ini baru mau ngambil formulir buat lanjutin S2.”
“Ya ampuuuun, saya kira kamu baru lulus SMP..”
Dooooeeenggg! Setelah itu barulah sang Ibu mengajak ngobrol saya dengan lebih bersahabat. Mana pake nanyain ada lowongan apa nggak di kantor saya lagi!Katanya buat anaknya.Bete!
Itu hanya salah satu kisah dari sekian banyak kisah yang pernah saya alami. Saya heran. Kenapa sih, orang sering kali menilai seseorang dari penampilannya? Terus terang, saya memang sangat cuek dan badung. Bahkan otak saya juga pas-pasan. Tapi buat saya pendidikan itu sangat penting. Saya nggak mau jadi jenius. Tapi setidaknya saya nggak paling bodoh. Saya sekolah bukan karena gengsi atau apapun. Tapi saya hanya tidak ingin otak saya kosong. Setidaknya ada yang saya pelajari dan bisa saya ajarkan kepada anak-cucu saya. Gini-gini saya rela menggunakan hampir seluruh tabungan saya untuk pendidikan.
Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri sebuah acara untuk anak-anak yang memiliki keterbelakangan. Inti dari acara itu adalah memberikan motivasi kepada anak-anak tersebut agar memiliki impian dan cita-cita. Saya sangat sedih ketika mengetahui kalau banyak dari mereka yang ternyata tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup karena kekurangan yang mereka miliki. Salah seorang pengajar yang cukup saya kagumi karena selain cerdas, bergelar sarjana dan dari golongan berada, tapi juga memiliki hati bak malaikat mendekati saya dan membisikan sebuah kalimat yang membuat saya bersemangat untuk meraih pendidikan yang lebih lagi.
“Lo liat kan? Mereka ini yang membuat gue pengen sekolah tinggi supaya bisa gw tularin ke mereka. Kalau bukan kita, siapa lagi?”
Ya, lo bener. Kalau bukan kita, siapa lagi?
Posted by admin on Apr 28, 2010 in
Uncategorized
Hiyaaa…. sudah lama sekali saya nggak update blog ini. Jujur, I really miss you guys….hiks…hiks… (dasar cengeng!)
Mungkin untuk postingan saya kali ini lebih baik saya menceritakan sekilas tentang hal-hal yang terjadi atau hal-hal yang saya rasakan selama tiga bulan belakangan ini. Yah, itung-itung sebagai tanda permintaan maaf saya karena sudah meninggalkan kalian selama itu *maaf. Beberapa mungkin saya agak lupa *hehehe…maaf lagi. Tapi saya akan berusaha mengingat semuanya (udah mau cerita sekilas doang, masih banyak yang lupa lagi! Dasar nggak niat! Hahaha…)
Ehem! Okay, saya minum dulu.
Sudah. Saya tarik nafas panjaaaaaang. Saya mulai memejamkan mata, menghembuskan nafas dan….mulai.
JANUARY
Yup, awal tahun. Mendadak semua menjadi lebih rusuh dan ribet. Kerjaan di kantor semakin buaaanyaaak. Belum lagi deadline deadline tulisan yang bikin saya semakin kusut. Tapi dibalik itu semua, novel saya yang keempat, “Cinderella Rambut Pink” terbit juga di bulan ini. Yiiipiieee…..
January ini bikin saya introspeksi diri. Banyak hal yang harus dirubah menurut saya. Dari mulai pola hidup, pola makan, pendidikan, sampai pekerjaan. Benar kata mama, saya mulai gila kerja. Dalam sehari saya bisa menghabiskan 12 jam lebih di kantor. Kamar kos saya lebih sering menjadi tempat numpang tidur. Jangka waktu saya pulang ke rumah untuk bertemu keluarga dalam 5 bulan terakhir bisa dihitung pakai jari. Dan baru saya sadari kalau saya telah kehilangan banyak hal karena itu. Yah, meskipun seringkali saya selalu menyangkal di depan mama.
Saat seperti inilah yang membuat waktu terasa amat sangat berharga bagi saya. Bukan waktu, tapi lebih tepatnya adalah moment. Ya, kadang meskipun hanya beberapa menit saja mengobrol dengan teman-teman atau keluarga, buat saya merupakan saat yang paling membahagiakan ditengah kepenatan saya dengan pekerjaan yang nggak ada habisnya. Makanya sering kali saya nyolong-nyolong waktu untuk sekedar minum kopi sambil ngobrol dengan teman-teman, main ke kampus saya, atau menelepon mama hanya untuk mengobrol ngalor ngidul.
Kalian tau nggak, kenapa ada orang yang umurnya sama dengan kita, tapi dia jauh lebih sukses dari kita? Sah-sah aja kalau kalian jawab hal itu merupakan faktor keberuntungan. Tapi bagi saya, itu bukan hanya sebuah keberuntungan. Sukses atau enggaknya seseorang, itu tergantung bagaimana seseorang mampu memanfaatkan waktu yang sudah diberikan oleh Tuhan. Setiap orang kan punya jatah waktu yang sama kan? 1 hari 24 jam?
Saya tahu nggak seharusnya saya terus mengeluh soal waktu bekerja. Toh ini adalah pilihan saya. Dan saya juga yang ngelakuin. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana membuat semuanya menjadi menyenangkan. Membuat saya nggak harus kehilangan banyak hal. Mungkin saya harus punya management waktu yang lebih baik supaya semuanya bisa berjalan seimbang. Ok, saya sedang membaca buku tentang itu…. ;)
Ngomong-ngomong, saya pernah membahas masalah workaholic dengan teman-teman saya. Diantara semua komentar, ada salah seorang teman saya yang melontarkan pendapat agak berbeda. Dia bilang, saya bukan sedang mengejar ‘sesuatu’. Tapi saya sedang lari dari ‘sesuatu’.
“Mungkin tanpa elo sadari, lo punya trauma yang nggak bisa hilang. Makanya lo berusaha untuk ngalihin pikiran lo ke pekerjaan,” lanjut teman saya itu
Pernyataannya itu membuat saya berpikir keras. Saya sadar, ada banyak hal di masa lalu yang membuat saya selalu sedih kalau mengingatnya kembali. Tapi kayaknya hal itu udah lama saya kubur dalam-dalam. Mungkin teman saya memang ada benarnya. Saya memang sedang lari dari ‘sesuatu’. Tapi apa?

FEBRUARY
Damn! Why I really hate this month. Saya membenci february. Entah kenapa dunia percintaan saya justru buruk di bulan ini. Saya pernah patah hati di bulan february. Saya pun pernah mengakhiri hubungan dengan pacar saya di bulan ini. Disaat orang-orang yang sedang kasmaran sangat menunggu-nunggu bulan ini karena bertepatan dengan hari valentine’s day. Saya malahan bete hahaha…
Again…
Nggak ada yang special di hari valentine buat saya. Rasanya sudah lama sekali saya tidak merasakan jalan berdua denga pacar saya hanya untuk iseng melihat-lihat orang lain pacaran (*pasangan yang aneh). Mungkin saya juga sudah hampir lupa gimana rasanya punya pacar. Gimana rasanya diperhatikan, dilindungi, dan disayangi oleh seseorang yang kita sayang. Rasanya juga sudah lama sekali saya tidak berdandan cantik dan berusaha berjalan pelan agar langkah saya bisa sejajar dengan pacar saya saat kami jalan berdua.Kangen… (hueek!) ah sudahlah!
“Elo lebih seru ditemenin, Cil. Disayang. Bukan dipacarin.”
Itu ucapan salah seorang teman terbaik saya ketika saya dan teman-teman sedang mengobrol dengan secangkir kopi di pinggir jalan. Entah apa maksud perkataannya. Tapi ucapan mabuknya itu sanggup membuat saya mengingat banyak hal. Banyak hal yang sering membuat saya sedikit miris karena merasa menjadi korban diskriminasi orang-orang yang doyan berteriak, “Woy! Gue nggak jomblo lagi nih!”
Kejadian ini sering kali terjadi dalam hidup saya. ketika kebahagiaan bercampur dengan ke-”bete”-an. Okay, okay, saya akan sebutkan beberapa diantaranya:
1. Saya selalu senang ketika sebuah undangan pernikahan teman saya dikirimkan ke saya. Biasanya saya langsung senyum- senyum sendiri dan dalam hati berkata, “Huahaha… akhirnya married juga nih orang!”
Tapi….. pasti saya langsung panik. Dan deretan pertanyaan meloncat-loncat di kepala saya,
“Pake baju apa?” Ya, saya akan jujur kalau saya nggak punya baju pesta yang ‘cantik’. Lemari saya penuh dengan baju ‘aneh-aneh’ yang nggak mungkin saya pakai ke pesta pernikahan tapi lebih cocok untuk nakut-nakutin anak TK hahaha…
“Sepatunya apa?” Okay, okay, ini kejujuran saya yang kedua. Saya punya beberapa high heels. Tapi jalan saya bisa berubah jadi robot kalau memakainya. Sumpah deh, saat ini saya sedang berusaha keras belajar menggunakan high heels untuk berjalan normal seperti cewek- cewek model di catwalk.
“Angpaonya berapa?” Ini nih yang lumayan susah. Saya suka takut kekecilan untuk masalah yang satu ini.
“Berangkatnya sama siapa?” hiks… ini yang paling bete. Di undangan pasti ditulis, ‘Dyan and Partner’ . Saat inilah saya suka ngerayu-ngerayu bahkan kalau perlu nyogok kakaksematawayangsayayangsupernyebelin untuk mengantarkan saya.
Okay, setelah semuanya sudah beres dan kakaksematawayangsayayangsupernyebelin sudah berhasil saya rayu-rayu, kebetean saya belom selesai sampai disini. Entah ada magnet apa, entah ada angin dari mana, setiap kali sesi melempar buket bunga dari pengantin, aneh bin ajaib, saya selalu mendapatkannya. Atau paling enggak tuh bunga jatuh tepat di depan kaki saya. Waktu pertama kali sih saya masih buat seru-seruan. Jadi saya seneng2 aja disuruh naik keatas panggung buat dapet hadiah. Tapi lama-lama tengsin juga karena biasanya di panggung akan ditanya, “Udah punya calon?” secara hadiah yang dikasih biasanya buat pasangan. Trus kalau saya jawab belum, pasti si MC langsung basa-basi promosi di ruangan itu. Sial!
But anyway, ketika saya menulis postingan ini, status di fb salah satu teman saya secara kebetulan berubah. Membuat saya mengacungkan 2 jempol untuknya, “you can’t hurry love…you just have to wait..” like this! :)
Baru-baru ini juga, di bulan april, saya datang ke kawinan salah seorang teman saya. Ternyata ribet banget ya jadi cewek kalau mau dateng ke kawinan temen dadakan. Gara-gara buru-buru, kepala saya kejedot pintu mobil, nggak sempet milih baju, make-up asal2an, rambut nggak diapa-apain, belum lagi nenteng highheels yang bikin kaki lecet dan tas kecil yang nggak guna.
Untungnya ada bunga hasil nyopotin gorden yang berhasil membuat rambut saya terlihat mendingan, baju hasil modifikasi sendiri yang lumayan lah buat dibawa kondangan.. hehehe….
“Hey mom, akhirnya anakmu ini berhasil jadi cewek”


MARET
Awal maret, saya mengalami yang namanya Jetlag. Apa itu jetlag, menurut wikipedia, jetlag adalah sebuah kondisi psikologis akibat perubahan ritme circadian. Perubahan tersebut disebabkan oleh kerja shift, perjalanan melewati meridian, atau panjangnya hari yang berubah. Kondisi ini dipercayai sebagai akibat dari terganggunya putaran terang/gelap yang mengubah periode ritme circadian tubuh. Dia dapat diperburuk oleh faktor lingkungan.
akibat yang ditimbulkan jet lag ialah:
* Lesu
* Grogi
* Mual
* Sakit kepala
* Insomnia atau pola tidur yang sangat tidak teratur
* Dehidrasi dan kehilangan nafsu makan
* Mudah terganggu
* Tidak rasional
Yaps, saya mengalami semuanya. Meskipun dibayarin kantor, tapi saya harus naik-turun pesawat berkali-kali karena memegang event-event yang berbeda di luar kota. Dari mulai Bandung, Jogja, dan Surabaya. Dan bukan sulap bukan sihir, hal itu saya lakukan hanya dalam jangka waktu kurang dari sebulan.Fiuuh! Saya sampai hafal gerakan pramugari ketika memperagakan alat keselamatan pesawat hahaha…
Oiya, bulan maret ini saya bantu-bantu temen saya jadi crew film lho…. Hohoho syenangnya… kapan-kapan ajak-ajak lagi ya, Mas. Jadi yang megang kabel juga nggak apa-apa kok. Asal jangan disuruh nulis aja ;)

Posted by admin on Jan 1, 2010 in
Uncategorized
“Mari hamburkan keceriaan malam ini! Mari hamburkan setumpuk uang demi kegembiraan malam ini! Jangan lupa, saatnya membakar pundi-pundi dengan dentuman petasan dan warna-warni kembang api… lalu mereka bisa apa? (dibelahan lain mereka tetap meringis-help the Children of Africa)”
Begitu kira-kira yang tertulis pada status salah seorang teman saya di FB. Tak lupa juga ia sisipkan video yang juga turut mendukung kalimatnya itu. Saya menanggapi statusnya itu dengan pertanyaan, “Kenapa harus di Africa? Di Indonesia aja banyak.”
Tapi biar bagaimanapun, saya setuju dengan status yang ditulis oleh teman saya itu. Intinya kan bukan masalah di negara mana. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa membatasi diri kita dalam merayakan tahun baru itu sendiri. Boleh aja seneng-seneng sama temen-temen di malam pergantian tahun, tapi jangan sampai berlebihan. Jangan sampai kita menghamburkan uang untuk hal-hal yang nggak penting. Mendingan uangnya itu ditabung, sukur-sukur di kasih ke fakir miskin.
Bukannya saya sirik sama teman-teman yang merayakan malam pergantian tahun dengan hura-hura sementara saya memilih untuk menuliskan planning 2010 saya pada secarik kertas di kosan. Tapi buat saya tahun baru itu hanyalah sebuah moment. Kalau nggak dimaknai, ya nggak bakalan ada maknanya juga. Sama saja seperti hari-hari biasa.
Setiap tahun baru pasti kita mengharapkan sebuah perubahan positif terjadi pada kita. Tapi tahun baru nggak selalu menjadi pertanda adanya perubahan lho. Jadi kalo ada yang mengharapkan adanya perubahan, tanpa ada niatan untuk berubah ya sampai bego juga nggak bakalan berubah. Kalau emang dasarnya mau berubah, kan nggak harus nunggu tahun baru dulu. Saat kita berpikir untuk melakukan perubahan, just do it!
Setiap pergantian tahun, saya selalu bersyukur atas apa yang telah saya peroleh di tahun sebelumnya. Bersyukur karena mendapatkan teman baru, pengetahuan baru, pengalaman baru dan pastinya pola pikir yang baru juga. Baik-buruk, susah-senang, bahagia-menderita, kaya-miskin, sehat-sakit, semuanya saya syukuri sebagai sebuah dinamika kehidupan. Dan pastinya, saya akan mengakhiri tahun itu dengan berbagai harapan dan cita-cita baru dengan semangat baru juga tentunya.
Nah, mumpung tahun baru masih anget-angetnya, kayaknya udah saatnya kita membuat rencana untuk melakukan perubahan positif di tahun 2010 ini. Dimulai dari diri kita sendiri, lalu meningkat ke lingkungan yang lebih luas. Buat diri kita berguna untuk orang lain. Buat supaya hidup kita nggak ngebosenin. Jangan sampai kita bosen hidup hanya gara-gara kita jenuh dengan kehidupan kita yang gitu gitu aja. Kenyataannya kan memang hidup ini minim perubahan. So, it’s time to make it different! Happy New Year guys!
“Gue nggak suka kembang api tahun baru,” ucap teman saya si pembuat status.
“Kenapa?”
“Yaah… elo liat aja status gue.”
“Gue juga nggak suka kembang api.”
“Kenapa?”
“SOALNYA MUUAHAAAALLL!!!”
Tags: My Comment
Posted by admin on Dec 31, 2009 in
Uncategorized

Jadi loser pasti nggak asik banget! Mana ada sih orang yang pengen terus-terusan jadi nggak penting? Okay, mungkin tanpa kita sadari, disekeliling kita ada orang-orang yang memang dianggap loser sama temen-temen. Ada, tapi kayak nggak ada. Keberadaannya nggak akan berpengaruh apa-apa. Nggak enak banget kan jadi dia?
Saya tahu betul gimana rasanya jadi loser. Rasanya jadi nggak penting. Kalau saya ingat-ingat memang menyedihan banget. Kenapa? Karena saat itu, saya berusaha menutupinya dari orang tua saya. Maklum, mereka terlalu berlebihan bangga sama saya yang sebenernya bukan apa-apa di sekolah waktu itu. Mereka nggak tau betapa pendiamnya saya di sekolah, tidak sebawel saat dirumah. Mereka nggak tau betapa mindernya saya dengan teman-teman lainnya karena mereka cantik-cantik, punya barang bagus-bagus, dan lain sebagainya. Orang tua saya juga nggak tau kalau saya selalu kebingungan saat mau pergi dengan teman2 hanya karena saya merasa seperti babysitter yang sedang jalan bareng anak majikannya. Atau mereka juga nggak pernah tau kalau sering sekali saya diperlakukan ‘berbeda’ dengan cewek-cewek populer di sekolah.
Tapi sebuah kalimat menyakitkan yang keluar dari mulut salah seorang teman saya membuat pikiran saya terbuka. *mungkin nggak usah disebutin kali ya…karena saya malas mengingat kembali kejadian itu. Yah… meskipun kejadian itu yang merubah hidup dan pola pikir saya. Tapi yang jelas, saking sakit hatinya saya saat itu, dalam hati kecil saya berkata agak jahat, “Sekarang lo boleh ketawain gue. Tapi kita lihat beberapa tahun lagi, elo jadi apa dan gue jadi apa…” Dan kalimat itu yang selalu memotivasi saya sampai saat ini untuk menjadi orang yang lebih baik lagi dan lagi… YA, SAYA NGGAK MAU JADI LOSER.
Sekarang pasti masih banyak orang-orang yang diperlakukan sama seperti saya waktu itu. Buat kamu, pesan saya adalah jangan mau terus-terusan jadi NOTHING. Kamu harus jadi SOMETHING. Kalau orang tua kamu tau kamu jadi loser di sekolah/kampus, mereka pasti sedih banget. Coba buat orang tua kamu dan orang-orang yang kenal kamu benar-benar bangga sama kamu.
Saya belajar dari apa yang pernah terjadi sama saya. Menurut saya, seseorang dianggap loser karena ia cenderung untuk jadi follower dan jarang banget ngeluarin ide baru. Selain itu juga karena mentalnya yang terlalu lemah untuk menghadapi segala kemungkinan buruk. Alias nggak berani ngambil resiko. Jadi, kalau kita nggak mau dianggap loser, kita harus lebih terbuka. Berani mengutarakan pendapat atau ide, berani mencoba hal baru, banyak berteman, jangan sombong dan berusaha jadi diri sendiri. Kamu harus gali potensi apa yang yang ada di dalam diri kamu yang bisa kamu tonjolkan.
Ternyata nggak harus ganteng atau cantik untuk jadi seseorang yang ‘dianggap’ di lingkungan kita. Kalau kita merasa nggak punya kelebihan apa-apa, mungkin kita harus bikin ciri khas sendiri supaya diinget sama orang. Banyak kok selebritis-selebritis yang punya fisik pas-pasan tapi bisa sukses. Dan banyak juga tokoh2 hebat yang dulunya pernah jadi loser tapi bisa jadi seseorang yang berjasa buat dunia.
Thomas Alfa Edison penemu bola lampu pernah dianggap tuli dan bodoh. Einstein pernah dianggap idiot, Beethoven pernah dianggap sebagai pemusik yang nggak punya masa depan, Steven Spielberg pernah berkali2 di DO dan dimasukkan ke kelas anak-anak terlambat mental, Bill gates pun pernah di DO dari Harvard. See, mereka semua pernah jadi orang gagal. Tapi lihat mereka sekarang. Yang terpenting, jangan mau terus-terusan jadi looser. Kita semua berhak untuk jadi WINNER.
Dan kalau memang saat ini ada orang yang menganggap kamu loser, coba bilang sama diri kamu sendiri,
“Panggil gue loser sekarang. Kita lihat beberapa tahun lagi, elo jadi apa dan gue jadi apa…gue akan buktiin ke elo kalo gue bukan loser!”
Posted by admin on Dec 28, 2009 in
Uncategorized

Perkenalkaan kelinci baru sayaaa…. X-BANNER!!!
Huahaha… nama yang aneh untuk seekor kelinci. Sebelumnya saya mau cerita dulu asal muasal si banner.
Jadi ceritanya, waktu itu kantor saya membeli seekor kelinci untuk keperluan pemotretan untuk sebuah event. Rencananya hasil foto itu nanti akan diedit untuk digunakan sebagai materi publikasi (id card, X-banner, dll) karena untuk materi publikasi tersebut kita butuh foto yang high resolution. Nah, setelah sesi foto berakhir, terjadi percakapan sadis diantara teman-teman:
teman 1: “Kita masukin gudang aja, nggak usah dikasih makan biar mati pelan-pelan. Habis siapa yang mau ngurus?”
teman 2: “Kita potong aja. Bikin sate kelinci.”
teman 3: “Udah, taro aja di kurungan. Di diemin juga lama-lama mati”
teman 4: “Dilepas aja. Ntar juga paling ilang atau ketabrak mobil.”
Mendengar komentar-komentar sadis dari teman-teman, tanpa ragu saya pun langsung berkata, “NGGAK! MENDINGAN GUE BAWA PULANG!” padahal dalam hati saya sempet ragu juga. Saya kan ngekos. Kalau saya pergi kerja, siapa yang ngurus? Tapi saya nggak perduli. Yang penting kelinci itu harus saya bawa pulang!
Okay, sebelum saya bawa pulang, saya mencari kardus bekas di gudang kantor saya. Kemudian saya buatin kelinci itu rumah-rumahan biar dia lebih nyaman. Setelah itu saya telpon mama…
saya : “Mah, aku punya hadiah untuk mama. Ada yang bisa ngambil nggak, di kosan aku?”
Besoknya, si X-banner dibawa mama ke rumah. Setidaknya saya lebih lega karena kelinci itu ada yang bisa mengurus karena mama saya selalu berada di rumah. Awalnya saya agak khawatir juga sih, karena dirumah saya ada 16 ekor kucing. Gimana kalo si X-banner malahan jadi santapan kucing-kucing saya???
Tapi ternyata perkiraan saya salah. Karena terjadi persahabatan yang sedikit aneh menurut saya….hahaha…



Tags: My Craziest Things