Mereka memanggil Eyang Kung, Pak Gie

20111205-145139.jpg

Sebenarnya saya mau menuliskan cerita ini tepat tanggal 03 Desember kemarin. Karena tanggal itu adalah tanggal ulang tahun Eyang Kung, almarhum kakek saya yang meninggal beberapa tahun yang lalu. Tapi karena banyak kegiatan yang nggak bisa ditunda, jadilah saya menuliskannya hari ini. At least niat saya untuk bercerita kepada kalian mengenai eyang kung saya itu berhasil terpenuhi 😀

Namanya Achmad Soegianto. Kami cucu-cucunya biasa memanggilnya dengan Eyang Kung. Pria berperawakan tinggi tegap dengan wajah keras, judes dan berwibawa.

Diantara semua cucunya, mungkin saya yang paling biasa-biasa saja. Prestasi akademik biasa-biasa saja, fisik yang biasa-biasa saja, dan semua yang sangat BIASA dibandingkan dengan cucu eyang lainnya. Tapi… Satu hal yang paling saya ingat,dan nggak akan terlupakan seumur hidup saya, eyang kung sangat sayang dan bangga pada saya. Dia tak pernah membeda-bedakan saya dengan cucu-cucunya yang lain. Bahkan menunjukan raport yang penuh dengan tinta merah kebakaran pun, Eyang tetap memberi semangat pada saya (Saya memang tidak sepintar sepupu-sepupu saya yang lain)dan memberikan hadiah. Tapi percaya atau tidak, sosok dialah yang justru membuat saya termotivasi untuk selalu maju.

Eyang sering sekali menanyakan cita-cita saya. Tapi saya tak pernah ingat apa jawaban saya waktu itu karena saking kebanyakan cita-cita.Yang selalu saya ingat, Eyang Kung selalu berusaha hadir setiap kali saya nyanyi (Heeekkk! Kaget kan,kalo dulu saya penyanyi:)). Bahkan ketika saya tampil di luar kota.Eyang akan hadir menonton saya di barisan paling depan dan kadang menginap di hotel depan2an dengan hotel tempat saya menginap. Eyang juga yang suka memuji gambar saya disaat tidak ada satu orangpun yang memuji (Bahkan saya pun tidak:p)

Eyang Kung adalah marketer handal yang doyan jalan-jalan dari satu kota ke kota lain. Semua orang mengakuinya. Padahal kata papa,ia hanyalah lulusan SMU.Tapi ia pekerja keras yang tak mudah menyerah.Strategi-strategi marketing yang ada di kepalanya selalu mampu menciptakan terobosan baru. Nggak heran, kariernya cepat menanjak.Hingga ia berhasil menduduki jabatan tertinggi di kantornya. Salah satu perusahaan asuransi terbesar pada waktu itu.

Oiya,kata papa, Eyang Kung sempat hilang beberapa tahun.Diculik oleh pemberontak yang paling dicari saat itu.Tapi bukan karena Eyang bersalah,melainkan….SALAH CULIK ORANG (hekkk!!). Tapi pengalaman tinggal di hutan bersama kaum pemberontak itu menghasilkan cerita tersendiri buat Eyang.Ketika menyadari kalau mereka salah tangkap orang,Eyang malahan disuruh mengajar asuransi (sumpah!gw gak bohong.Ini asli cerita dari bokap gw).Efeknya ketika Eyang Kung kembali ke keluarga, satu hal yang beliau tekankan adalah, “Jangan takut sama setan!Saya tinggal bertahun-tahun di hutan nggak pernah ketemu tuh sama yang namanya Setan!”

Eyang kung sangat menyayangi keluarganya.Gaji yang ia peroleh sebagian besar ia tabung untuk bekal anak-anak dan cucu-cucunya nanti.Investasi jangka panjang. Ia tak pernah pelit kalau masalah uang. Saya dan cucu-cucunya yang lain juga sering kecipratan hehe….

Eyang Kung nggak pernah membedakan orang.Semua orang ia sapa,semua orang ia kenal,semua orang ia perlakukan dengan sama.Dan akhirnya ia pun mendapatkan timbal baiknya. Pernah satu ketika Eyang mengajak saya ke Solo.Dan amazing banget, dari tukang becak, tukang parkir,karyawan restaurant,OB hotel, semua kenal dengannya. Hal ter-‘dalem’ yang terjadi adalah ketika Eyang jatuh sakit di Jakarta, seorang pria paruh baya datang bersama istrinya ke rumah Eyang. Dan ternyata, dia adalah Tukang becak langganan Eyang Kung di Solo.Dia sengaja datang ke jakarta mencari eyang karena sudah lama eyang nggak datang ke Solo… :((

Ya, kondisi Eyang menurun drastis ketika dokter memvonis beliau kena diabetes dan dia harus menjalani diet ketat yang sangat menyiksa (Well,eyang kung adalah penikmat makanan.Paling doyan wisata kuliner:). Saat inilah sering terjadi hal-hal ‘ajaib’ yang dilakukan oleh Eyang Kung demi melanggar diet ketatnya itu (haha..). Eyang paling sering muncul tiba-tiba di rumah saya dan dengan happy memberikan saya uang untuk membeli makanan apapun yang saya suka. Karena dia kepingin ikut makan juga. Sisa uangnya sudah pasti buat saya ;p.Padahal eyang uti (nenek saya) di rumah, kebingungan mencari dia. Jarak rumah saya dan Eyang waktu itu emang nggak terlalu jauh.Saya tinggal di Cipete, sementara Eyang di Pondok Indah. Biasanya kalau nggak diantar supir,Eyang Kung jalan kaki dengan topi pet andalannya dan tongkat (untuk ngusir anjing katanya). Lama-lama Eyang Uti udah terbiasa kalau Eyang Kung ilang.Karena pasti lagi di rumah saya.Dan siap-siap diet gagal sepulangnya dari sana :))

Taktik Eyang kung untuk merusak diet ketatnya ada lagi. Beliau akan dengan senang hati memberikan kami,cucu-cucunya uang saku kalau kami kepingin pergi ke PIM.Tapi dengan bisikan di ujungnya, “Oleh-olehin Eyang Kung Wendy’s yah..” ahahaha…
Atau pernah juga beliau bikin geger keluarga besar lantaran hilang pagi-pagi tanpa jejak.Semua orang nyari, semua orang panik, and guess what? Papa menemukan Eyang Kung sedang memakan Big Mac di Mc.D (hahaha…good)

But anyway, banyak hal yang saya kagumi dari sosok Eyang Kung. Pribadi yang sangat luar biasa menurut saya. Ia terkenal sangat dekat dengan karyawannya tanpa membedakan jabatan. Ada satu hal yang diingat oleh salah satu karyawan beliau. “Pak Gie selalu mengajak karyawannya makan di restaurant yang menurutnya enak. Dia nggak akan membiarkan kami memesan.Tapi ia akan memesan semua menu yang ada dan menuangkan di piring kami semua menu dengan porsi sedikit-sedikit. Jadi semua karyawan bisa merasakan semua masakan yang ada. Adil. Baru ketika selesai, beliau akan menanyakan komentar kami, ‘gimana?yang paling enak yang mana?'”

Dear Eyang Kung, terima kasih karena telah menjadi sumber inspirasi buat cucumu yang biasa-biasa saja ini. Semoga Eyang bahagia disana….I love you with all my heart-Dyan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *