Sebuah Cinta untuk Mama

img_4422

“Aku benci mama..”

Sebuah kalimat pendek yang ditemukan mama tertulis di selembar kertas yang terselip di antara halaman buku sekolah. Tulisan cakar ayam dengan huruf ‘B’ yang rumit.Tanda kalau yang menulis baru saja belajar bagaimana menulis huruf yang benar. Ya,itu tulisan saya sekitar dua puluh tahun yang lalu.

Tubuh saya gemetar ketika mama menyodorkan kertas itu di hadapan saya. Saya begitu takut. Saya memang anak kecil sok tahu yang terlalu fanatik dengan cerita Cinderella,sehingga sering merasa seperti anak tiri ketika mama memarahi saya. Saya pun tak pernah mau dibilang mirip mama. Saya selalu bilang kalau saya mirip papa, bukan mama.

img_4302s

Mama selalu marah kalau saya menangis, kecewa, atau merengek. Saya tak pernah mudah meminta sesuatu yang dijual di toko. Butuh waktu lama sampai mama membelikan sesuatu yang saya pengen. Mama juga selalu marah kalau saya bangun kesiangan, saya boros, saya terlambat pulang sekolah, saya nggak percaya diri, saya nggak sopan sama orang, saya asal ngomong, dan seterusnya dan sebagainya. Ya, mama selalu memarahi saya hingga saya menuliskan kalimat itu di kertas, ‘aku benci mama’

Ketika saya beranjak dewasa, sebuah kejadian buruk menimpa keluarga saya.Kejadian yang menyebabkan keluarga saya harus memulai semuanya dari nol. Saat itulah Tuhan membuka mata saya lebar-lebar mengenai sosok luar biasa yang telah melahirkan saya ke dunia ini….mama.

Hari itu, untuk pertama kalinya saya melihat mama meneteskan air mata. Diam. Namun pipinya basah oleh air mata. Banyak orang yang sering bercerita tentang mama. Tentang betapa tegarnya wanita dihadapan saya itu. Betapa ia mampu mengatasi semua persoalnanya sendiri. Tapi saya tak pernah perduli. Saya tak pernah mau tahu. Detik itu, semua cerita seperti berderet di kepala saya…dan saya merengkuh, memeluk mama. Saya tahu mama tertekan. Saya bisa merasakannya. Bagaimanapun darahnya mengalir di dalam tubuh saya. Ada bagian dari dirinya adalah bagian dari diri saya. Saat itu saya menyadari, kalau saya dan mama adalah satu.

Ketika saya di kandungan, mama mati-matian mempertahankan saya agar tetap hidup bagaimana pun caranya. Banyak kejadian2 yang nyaris merenggut saya di perutnya, tapi Tuhan menjaga mama dan saya, hingga saya bisa terlahir ke dunia ini. Katanya, mama sangat santai ketika melahirkan saya. Karena dia sangat ingin saya melihat dunia.

Mama selalu memarahi saya bukan karena mama membenci saya.Tapi begitulah cara ia mendidik saya supaya tumbuh menjadi wanita yang kuat seperti dirinya. Wanita yang bisa diandalkan.

Mama selalu marah kalau saya menangis, kecewa, atau merengek karena ia tak mau saya gampang putus asa. Ia tak mau saya lembek. Ia tak mau saya terpuruk jika sesuatu yang saya harapkan tidak berhasil didapat.

Saya tak mudah meminta barang, karena mama mengajari saya agar saya tahu arti berusaha untuk mendapatkan sesuatu.Tahu artinya kerja keras.Tahu bagaimana menghargai proses, bagaimana menghargai tiap tetes keringat yang keluar. Dan mengerti bahwa segala sesuatu tidak instan,tapi perlu adanya usaha untuk memperoleh itu. Ya, sukses itu adalah sebuah proses.

Mama marah ketika saya bangun kesiangan, itu semata-mata karena mama mempersiapkan saya agar saya disiplin, agar suatu saat nanti saya menikah, saya tahu apa yang harus saya persiapkan untuk keluarga saya di pagi hari. Mama ingin hidup saya teratur. Dan mama ingin saya bisa menghargai setiap detik dalam hidup saya.

Mama mengajari saya banyak hal. Banyak hal tentang kehidupan. Banyak hal yang nggak pernah saya sadari telah ia tanamkan dari sejak saya kecil. Mama bukan seorang ibu yang akan menunjukkan kesedihannya ketika melihat saya terpuruk. Tapi ia selalu ada disamping saya ketika itu terjadi. Dia selalu berdiri di sebelah saya. Siap menyangga saya dengan tangannya meskipun saya tahu kalau dia juga tersakiti. Membuat saya menyadari bahwa terjatuh itu adalah hal yang biasa. Bukan rasa sakitnya, tapi kemampuan kita untuk kembali bangkit saat telah jatuh itulah yang membuat kita lebih kuat. Ya, Mama benar.

Terima kasih Tuhan, karena saya dilahirkan melalui rahim seorang wanita luar biasa ini.

Maafkan Dyan mama, anakmu ini memang sungguh kurang ajar. Maafkan Dyan karena sering mengecewakan mama.Sering membuat mama khawatir dengan kelakuan-kelakuan Dyan yang ekstrim. Dyan memang bukan anak yang sempurna.Tapi percayalah kalau Dyan sangat sayaaang mama dengan segenap hati. Dyan rela melakukan apapun untuk mama. Dyan akan berusaha jadi anak yang bisa membanggakan mama.Setidaknya bisa membuat mama selalu tersenyum bahagia. Terima kasih karena mama telah memberikan kepercayaan luar biasa pada Dyan. Hingga Dyan mampu untuk berdiri sendiri. Mampu berjalan dengan kedua kaki Dyan sendiri. Ya Tuhan, saya ingin seperti mama. Saya ingin mirip mama.

Saya ingat ketika saya SMU, mama pernah tersenyum menatap saya ketika saya pulang dari sekolah. Beliau berkata, “Kamu udah dewasa, kamu udah tahu mana yang benar, dan mana yang salah. Mama nggak akan memarahi kamu atas sebuah kesalahan yang kamu lakukan. Tapi buatlah semuanya sebagai pelajaran agar kamu nggak mengulanginya lagi. Mama sangat percaya kalau kamu mampu bertanggung jawab atas diri kamu sendiri. Jangan hilangkan kepercayaan mama. Mama bangga dan sayang sama kamu…”

Saya sangat menyadari kalau semua kekuatan dan hal positif yang saya lakukan, sebagian besar adalah berkat didikan mama. Ya, Tuhan menitipkan saya pada mama. Dan mama memegang amanah itu dengan sempurna. Selamat Ulang Tahun mama…semoga panjang umur, sehat selalu, dan Allah SWT senantiasa melindungi setiap langkah mama..AMIN

Dari anakmu yang selalu menyayangimu-Dyan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *