Nama saya bertambah (Part 1)

Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi. Saya terkejut ketika melihat eyang saya sudah bangun sambil duduk menatap saya yang masih setengah sadar karena baru bangun tidur. Lho? Eyang udah bangun? Pikir saya dalam hati.
Hari ini memang hari yang sangat dinanti-nantikan oleh eyang putri. Saat dimana cucu terakhirnya diwisuda. Selama ini, setiap kali saya pulang ke Solo, eyang selalu menanyakan hal yang sama, “Kapan diwisudanya?” terlihat sekali kalau eyang sangat menginginkan hal itu. Dua tahun yang lalu sewaktu kakak saya diwisuda, eyang putri juga hadir. Dan rasa bangga sangat jelas terlihat di wajahnya saat itu. Matanya nampak berkaca-kaca.
Tapi hari ini, saya yang meneteskan air mata melihat beliau dengan fisik yang lemah ngotot ingin mengantarkan saya wisuda di JCC. Ketika turun dari mobil, eyang memegang tangan saya erat sambil berusaha melangkahkan kakinya perlahan. Dari situlah saya menyadari kalau eyang putri tidak lagi sekuat dulu. Eyang yang bisa naik-turun gunung tanpa lelah, eyang yang bisa menggarap sawahnya sendiri, berjalan kaki berkilo-kilo meter dari rumahnya dan eyang putri yang dulu sering menjemput cucu perempuannya (saya) yang nakal mancing di kali yang cukup jauh dari rumah solo.

Di lokasi Plenary hall, seperti wisuda pada umumnya, para wisudawan duduk di lantai bawah. Sedangkan para undangan duduk di tribun atas. Selama acara, mata saya tak henti-hentinya menatap kearah eyang, mama, dan papa yang terduduk di tribun atas. Eyang dengan sabar mengikuti jalannya acara wisuda. Saya tau kalau eyang pasti sangat lelah. Saya saja merasa sangat capek, bosan dan mengantuk. Tapi setiap kali melihat beliau, semangat saya kembali datang. Saya tidak boleh kalah dengan rasa capek, bosan, dan mengantuk.
Ketika nama saya dipanggil untuh memindahkan kuncir, saya melihat eyang tersenyum sangat bahagia. Kerutan di wajahnya sampai tertarik saking lebar senyumnya. Sebelum saya naik ke panggung pun saya menyempatkan diri melambaikan tangan saya kearahnya. Dalam hati saya berkata, “Eyang, mama, papa, ini semua untuk kalian. Cuma ini yang bisa saya berikan.” Eyang pun balas melambaikan tangan dengan tawa kecil. Entah kenapa saat itu saya meneteskan air mata. Saya tak perduli lagi dengan make-up yang yang menempel di wajah, kebaya yang membuat saya sesak napas, kain yang membuat saya sulit berjalan, dan sepatu hak tinggi yang membuat kaki saya lecet-lecet. Semua seakan tergantikan dengan senyum bahagia mereka. Bahkan ketika Prof. Darsono, dosen yang sangat saya kagumi dan hormati sejak awal kuliah memindahkan kuncir topi saya, mata saya masih basah oleh air mata.
Sebenarnya saya adalah orang yang sulit menangis. Saya selalu berusaha menenangkan diri setiap kali mendapatkan masalah agar saya tidak cengeng. Tapi kenapa hari itu saya merasa begitu terharu? Begitu cengeng.
Saya memang bukan wisudawan yang memperoleh penghargaan karena IPK tertinggi. Tapi saya merasa amat sangat bersyukur. Tuhan begitu baik pada saya. Saya ditunjukkan senyum bahagia kedua orang tua dan nenek, sidang saya memperoleh nilai sempurna, dan skripsi saya berhasil masuk ke dalam BAI 2009 di Malaysia. Belum lagi saya sidang skripsi tepat sehari setelah saya berulang tahun ke-23. Dan tanpa disangka, orang-orang yang saya sayangi hadir semua ke kampus untuk menyuport. Inilah kado ulang tahun terindah untuk saya.  Wisuda saya juga tepat sehari sebelum ayah saya berulang tahun. Saya begitu bahagia dan bersyukur.
Tepat pada hari ini, seperti judul tulisan ini, nama saya bertambah panjang. Dyan Nuranindya, S.E. Tapi ini baru perpanjangan tahap satu. Mengapa? Karena saya berharap nama saya akan jauh lebih panjang lagi. Mungkin Tuhan akan memberikan rejeki untuk saya untuk mengambil S2, S3, atau apapun. Mungkin juga suatu hari nanti saya bisa naik haji, atau suatu hari nanti Tuhan memberikan  saya seorang lelaki baik hati yang meminang saya sehingga namanya akan berada di belakang nama saya.  Saya bersyukur apapun yang diberikan Tuhan. Semoga akan ada part II, part III, dan seterusnya. Amin.




Comments are Closed