Perkenalkan,saya asli Solo

20120723-004440.jpg

Banyak yang heran ketika mereka mengetahui kalau saya orang Jawa asli. Apalagi pas saya bilang kalau saya keturunan Solo. Banyak dari mereka yang langsung pingsan (Maaf.kalau ini saya agak lebay :)). Mungkin karena gaya berbicara saya yang cerewet dan banyak menggunakan bahasa ‘slang’ dalam komunikasi sehari-hari. Selain itu juga karena saya nggak betah diem lama-lama. Pengennya selalu loncat sana-sini, cerita banyak hal, dan tertawa terbahak-bahak.
Percayalah, saya orang Jawa asli. Papa-Mama saya orang Solo. Segaris dari mulai nenek moyang saya. Saya telahir di lingkungan keluarga Solo yang bisa dibilang ‘Solo banget!’. Budaya Jawa begitu melekat di diri saya. Bagaimana saya menghormati orang yang lebih tua, bagaimana saya mempertahankan harga diri sebagai wanita, dan bagaimana saya melakukan rutinitas sehari-hari. Banyak pakem-pakem dari Solo yang masih saya anut meskipun saya tinggal di kota metropolitan Jakarta. Kota dimana wanita terpaksa harus ‘macho’ karena tuntutan lingkungan. Jakarta keras, Sob!

Saya cucu yang bisa dibilang sing pretingsing. Cucu yang banyak maunya, suka aneh-aneh, dan paling ‘asal’ diantara cucu-cucu cewek yang lainnya. Saya yang punya hobi naik gunung, panjat tebing, suka musik-musik death metal yang agak melenceng dari garis seorang putri Solo. Saya pun senang memakai pakaian cowok yang kebesaran di tubuh saya, celana sobek-sobek, segala atribut tengkorak, tertawa terbahak-bahak, cerita panjang-lebar, dan punya kebiasaan buruk ngacak-acak rambut belakang saya ketika sedang grogi atau berpikir keras. Teman-teman saya juga lebih banyak cowok.

Tapi jangan salah, saya sanggup berbahasa Jawa halus (karena itu yang saya lakukan jika berbicara dengan keluarga di Solo), saya bisa menari Jawa, menembang Jawa, dan pengetahuan saya mengenai cerita pewayangan paling enggak, bisa dapet nilai tujuh :). Dan harus saya akui, saya sangat mencintai budaya Jawa dan sangat ingin mendalaminya.

Meskipun bisa dibilang hidup saya sudah sangat ‘kota’ karena 26 tahun tinggal di Jakarta, saya tak pernah melupakan hal-hal penting yang selalu diingatkan oleh mama:
Perempuan harus bisa nrimo. Belajar ikhlas menerima segala sesuatunya (termasuk klo suaminya berwajah pas-pasan?:)). Perempuan itu harus bisa masak (well, meskipun acak-acakan. At least saya tahu bedanya kunyit, garam, dan jahe :)). Harus tahu bagaimana melakukan konsep ‘prihatin’ yang sebenarnya dalam kehidupan (Macam Bapak Presiden, Mah?) dan sebagainya…
Terus terang, lama tinggal di Jakarta membuat saya banyak melihat realita yang terjadi di tengah masyarakat. Khususnya remaja. Pakem-pakem yang ada dari budaya nenek moyang perlahan luntur dimakan jaman. Hanya dengan mengatasnamakan kata ‘modern’. Saya mungkin lebih liberal. Apa yang menurut saya masih masuk akal digunakan saat ini, ya saya gunakan. Kalau enggak, pasti ada perubahan yang jauh lebih baik sebagai penggantinya. Dan pastinya butuh penjelasan yang baik kepada orang tua-orang tua kita yang masih menganut budaya lama.
Dulu, mama saya paling nggak bisa melihat anak perempuannya berteman dengan banyak cowok, pulang larut malam, tertawa terlalu keras, dan paling protes ketika saya memutuskan untuk tidak kerja kantoran di bank selepas kuliah. Karena menurutnya, dari turun temurun keluarga saya tidak membiasakan anak-anaknya seperti itu. Butuh proses yang panjang untuk membuat mama memahami semuanya. Dari mulai memperkenalkan teman-teman cowok saya ke mama, mengajak mama ke kantor saya jika ada kesempatan, dan menunjukan prestasi yang bisa saya capai dengan tidak bekerja kantoran di bank. Dan sekarang, perlahan beliau sudah mulai bisa memahami. Well, kepercayaan itu penting. Dan lebih penting lagi adalah tanggung jawab pada diri kita sendiri untuk nggak menyia-nyiakan kepercayaan itu.

Oiya bicara soal wanita Jawa dari garis keturunan keluarga saya (gak tau ya, apakah di keluarga lain juga sama atau enggak), ada satu hal yang masih saya kagumi dan nyaris membuat saya terheran-heran. Masalah ilmu kebatinan. Dulu masyarakat Jawa menganut keyakinan yang disebut dengan kejawen. Dimana merupakan sebuah alkulturasi antara keyakinan dan agama yang ada saat itu masuk ke wilayah Jawa. Eyang juga dulu menganut kejawen sebelum murni masuk islam. Kejawen berkaitan erat dengan ilmu kebatinan yang *entahbagaimana* masih dimiliki oleh eyang putri sampai saat ini.

Oke, saya akan bercerita sedikit (kalau kalian bosan, silahkan berhenti membaca, key. Kalau masih ‘on’ mariih baca kalimat selanjutnya:) Percaya nggak percaya, eyang putri memiliki batin yang kuat untuk bisa merasakan jika seseorang yang beliau sayangi dalam bahaya. Itu karena kebiasaannya waspada semenjak eyang putri menikah muda dengan eyang kakung yang pada masa itu merupakan seorang priyai di desa. Karena saat itu adalah masa perang, maka eyang kakung adalah tokoh yang lumayan diincar oleh musuh. Sering kali terjadi penjebakan dimana eyang kakung diundang untuk menghadiri berbagai acara yang ternyata adalah strategi musuh untuk menangkap eyang kakung. Dan disitulah peran eyang putri. Beliau mampu merasakan melalui batinnya ketika suaminya dalam bahaya (ini yang namanya cinta,sob! *tsah!). Ketika itu terjadi, eyang putri akan melakukan segenap cara untuk menghambat eyang kakung mendatangi tempat tersebut. Hingga usaha musuh menjebak eyang kakung selalu gagal.

Mama pernah bercerita, ketika jaman perang, rumah eyang kakung sering kali didatangi oleh mata-mata yang ingin memberikan informasi kepada musuh. Waktu itu mama masih sangat kecil. Tapi mama mengingat jelas bagaimana eyang putri dan eyang kakung melindungi keluarga mereka. Ketika batin eyang putri merasakan bahaya, beliau akan berdiam diri, memanjatkan doa kepada Tuhan agar diberikan perlindungan. Pada saat itu banyak yang bilang kalau orang-orang jahat yang ingin mendekati rumah eyang tidak mampu mencapai rumah. Mereka hanya berputar-putar disekeliling kebun kayak orang bingung. Canggih ya? :))

Atau pernah juga mama bercerita ketika situasi desa lagi nggak aman, which dimana-mana suara tembakan. Ketika musuh menyantroni rumah eyang, eyang kakung membawa eyang putri dan mama kecil ke salah satu sudut rumah. Eyang kakung memejamkan mata, meminta perlindungan pada Tuhan, dan…. >>> mama ingat betul apa yang terjadi ketika itu. Musuh mondar-mandir di depan mereka membawa senjata. Tapi amazing…. nggak ada satupun yang bisa melihat eyang kakung, eyang putri, dan mama. Mereka invisible… (aseli,saya mendengarkan mama bercerita seperti sedang menonton sebuah adegan film x-men. Hahaha….).

Pelajaran yang bisa dipetik adalah… yess, keyakinan pada Tuhan itu penting banget untuk melindungi kita di dunia ini. Mama bilang, bahwa apa yang dilakukan eyang itu bukanlah sebuah ilmu, atau kekuatan yang dimiliki seorang manusia. Eyang adalah orang biasa tanpa kelebihan apa-apa. Itu bukanlah sebuah kelebihan. Tapi sebuah kepasrahan luarbiasa yang dilakukan seorang manusia kepada Tuhan. Ya, pasrah pada Tuhan. Eyang sadar betul bahwa keluarganya dalam bahaya. Kekuatannya sebagai manusia tidak bisa untuk melindungi dirinya dan keluarganya, mengalahkan musuh yang jumlahnya banyak dan bersenjata lengkap. Maka, satu-satunya jalan adalah pasrah. Pasrah bahwa hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Bahwa ada kekuatan Maha Dahsyat yang bisa mengalahkan ribuan peluru sekalipun. Yang memberikan keputusan akhir atas apa yang akan terjadi…..

Saat ini, jaman sudah semakin maju. Tapi banyak kebiasaan-kebiasaan dan adat istiadat nenek moyang kita yang masih bisa kita gunakan dan lestarikan. Karena sebenarnya, ada banyak makna dan moral yang bisa kita pelajari dari apa yang dilakukan oleh nenek moyang kita terdahulu…. yeah, everything happens for a reason, rite?

Akhirnya, saya mau bilang…. saya wanita Jawa, asli Solo. Kamu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *