December, 2009

now browsing by month

 

Call me a Loser..

n584823270_1046455_858

Jadi loser pasti nggak asik banget! Mana ada sih orang yang pengen terus-terusan jadi nggak penting? Okay, mungkin  tanpa kita sadari, disekeliling kita ada orang-orang yang memang dianggap loser sama temen-temen. Ada, tapi kayak nggak ada. Keberadaannya nggak akan berpengaruh apa-apa. Nggak enak banget kan jadi dia?

Saya tahu betul gimana rasanya jadi loser. Rasanya jadi nggak penting. Kalau saya ingat-ingat memang menyedihan banget. Kenapa? Karena saat itu, saya berusaha menutupinya dari orang tua saya. Maklum, mereka terlalu berlebihan bangga sama saya yang sebenernya bukan apa-apa di sekolah waktu itu. Mereka nggak tau betapa pendiamnya saya di sekolah, tidak sebawel saat dirumah. Mereka nggak tau betapa mindernya saya dengan teman-teman lainnya karena mereka cantik-cantik, punya barang bagus-bagus, dan lain sebagainya. Orang tua saya juga nggak tau kalau saya selalu kebingungan saat mau pergi dengan teman2 hanya karena saya merasa seperti babysitter yang sedang jalan bareng anak majikannya. Atau mereka juga nggak pernah tau kalau sering sekali saya diperlakukan ‘berbeda’ dengan cewek-cewek populer di sekolah.

Tapi sebuah kalimat menyakitkan yang keluar dari mulut salah seorang teman saya membuat pikiran saya terbuka. *mungkin nggak usah disebutin kali ya…karena saya malas mengingat kembali kejadian itu. Yah… meskipun kejadian itu yang merubah hidup dan pola pikir saya. Tapi yang jelas, saking sakit hatinya saya saat itu, dalam hati kecil saya berkata agak jahat, “Sekarang lo boleh ketawain gue. Tapi kita lihat beberapa tahun lagi, elo jadi apa dan gue jadi apa…” Dan kalimat itu yang selalu memotivasi saya sampai saat ini untuk menjadi orang yang lebih baik lagi dan lagi… YA, SAYA NGGAK MAU JADI LOSER.

Sekarang pasti masih banyak orang-orang yang diperlakukan sama seperti saya waktu itu. Buat kamu, pesan saya adalah jangan mau terus-terusan jadi NOTHING. Kamu harus jadi SOMETHING. Kalau orang tua kamu tau kamu jadi loser di sekolah/kampus, mereka pasti sedih banget.  Coba buat orang tua kamu dan orang-orang yang kenal kamu benar-benar bangga sama kamu.

Saya belajar dari apa yang pernah terjadi sama saya. Menurut saya, seseorang dianggap loser karena ia cenderung untuk jadi follower dan jarang banget ngeluarin ide baru. Selain itu juga karena mentalnya yang terlalu lemah untuk menghadapi segala kemungkinan buruk. Alias nggak berani ngambil resiko. Jadi, kalau kita nggak mau dianggap loser, kita harus lebih terbuka. Berani mengutarakan pendapat atau ide, berani mencoba hal baru, banyak berteman, jangan sombong dan  berusaha jadi diri sendiri. Kamu harus gali potensi apa yang yang ada di dalam diri kamu yang bisa kamu tonjolkan.

Ternyata nggak harus ganteng atau cantik untuk jadi seseorang yang ‘dianggap’ di lingkungan kita. Kalau kita merasa nggak punya kelebihan apa-apa, mungkin kita harus bikin ciri khas sendiri supaya diinget sama orang. Banyak kok selebritis-selebritis yang punya fisik pas-pasan tapi bisa sukses. Dan banyak juga tokoh2 hebat yang dulunya pernah jadi loser tapi bisa jadi seseorang yang berjasa buat dunia.

Thomas Alfa Edison penemu bola lampu pernah dianggap tuli dan bodoh. Einstein pernah dianggap idiot, Beethoven pernah dianggap sebagai pemusik yang nggak punya masa depan, Steven Spielberg pernah berkali2 di DO dan dimasukkan ke kelas anak-anak terlambat mental, Bill gates pun pernah di DO dari Harvard. See, mereka semua pernah jadi orang gagal. Tapi lihat mereka sekarang. Yang terpenting, jangan mau terus-terusan jadi looser. Kita semua berhak untuk jadi WINNER.

Dan kalau memang saat ini ada orang yang menganggap kamu loser, coba bilang sama diri kamu sendiri,

“Panggil gue loser sekarang. Kita lihat beberapa tahun lagi, elo jadi apa dan gue jadi apa…gue akan buktiin ke elo kalo gue bukan loser!”

X-Banner

pb060087

Perkenalkaan kelinci baru sayaaa…. X-BANNER!!!

Huahaha… nama yang aneh untuk seekor kelinci. Sebelumnya saya mau cerita dulu asal muasal si banner.

Jadi ceritanya, waktu itu kantor saya membeli seekor kelinci untuk keperluan pemotretan untuk sebuah event. Rencananya hasil foto itu nanti akan diedit untuk digunakan sebagai materi publikasi (id card, X-banner, dll) karena untuk materi publikasi tersebut kita butuh foto yang high resolution. Nah, setelah sesi foto berakhir, terjadi percakapan sadis diantara teman-teman:

teman 1:  “Kita masukin gudang aja, nggak usah dikasih makan biar mati pelan-pelan. Habis siapa yang mau ngurus?”

teman 2: “Kita potong aja. Bikin sate kelinci.”

teman 3: “Udah, taro aja di kurungan. Di diemin juga lama-lama mati”

teman 4: “Dilepas aja. Ntar juga paling ilang atau ketabrak mobil.”

Mendengar komentar-komentar sadis dari teman-teman, tanpa ragu saya pun langsung berkata, “NGGAK! MENDINGAN GUE BAWA PULANG!” padahal dalam hati saya sempet ragu juga. Saya kan ngekos. Kalau saya pergi kerja, siapa yang ngurus? Tapi saya nggak perduli. Yang penting kelinci itu harus saya bawa pulang!

Okay, sebelum saya bawa pulang, saya mencari kardus bekas di gudang kantor saya. Kemudian saya buatin kelinci itu rumah-rumahan biar dia lebih nyaman. Setelah itu saya telpon mama…

saya        : “Mah, aku punya hadiah untuk mama. Ada yang bisa ngambil nggak, di kosan aku?”

Besoknya, si X-banner dibawa mama ke rumah. Setidaknya saya lebih lega karena kelinci itu ada yang bisa mengurus karena mama saya selalu berada di rumah. Awalnya saya agak khawatir juga sih, karena dirumah saya ada 16 ekor kucing. Gimana kalo si X-banner malahan jadi santapan kucing-kucing saya???

Tapi ternyata perkiraan saya salah. Karena terjadi persahabatan yang sedikit aneh menurut saya….hahaha…

foto0020foto0018foto0022

Jangan sok tau tentang hidup saya!

1_737921958l

Yup, jangan sok tau tentang hidup saya karena kamu nggak tau apa-apa tentang saya. Ucapan itu muncul ketika saya menutup Jojo dengan perasaan konyol. Kenapa? Karena beberapa hari belakangan ini saya bertemu dengan orang yang sotoy abiez tentang hidup saya. Mengkritik dan merasa dirinya paling tau tentang saya. Buseeet! Emangnya situ ari-ari saya yang konon katanya sudah dikubur oleh orangtua saya sehingga situ merasa lebih mengenal saya dibandingkan mama saya sendiri?

Okay, saya nggak sabar pengen menceritakan semuanya pada kalian. Awal percakapan kami adalah ketika tiba-tiba dia menyapa saya di sebuah tempat. Awal pertemuan saja dia sudah sok asiknya mendekati saya sambil berkata, “Woy! Lo dyan, kaan? Lo yang nulis dealova, kaan?Nggak nyangka penulis dealova nongkrong disini.” Hah?!? Sapa elo? Perasaan hampir setiap hari saya ada di tempat itu. Malahan saya yang heran karena baru kali itu saya melihat mukenya. Teman-teman saya saja tidak ada yang mengenal dia. Freak! Saya tersenyum, berusaha untuk tidak menyakiti dia. Yah, mungkin saja saya memang mengenal dia tapi saya lupa. Ayo positive thinking dichiel!

Lelaki itu menjabat tangan saya dan langsung duduk disebelah saya. Saya dan teman-teman saya pun tak keberatan. Lalu mulailah dia berbicara…

“Gue tuh suka mengkritisi Film. Dan film lo itu masuk kategori film sampah di blog gw. Gw tau itu base on novel lo yang isinya emang menye-menye gitu. Emang ya, cewek-cewek doyannya sama yang kayak gitu. Pantesan aja novel-novel stabillo laku dibaca sama cewek model kayak elo. “

Saya cuma nyengir. “Yah… itu kan masalah selera, Mas..,” jawab saya berusaha santaiii. Padahal dalam hati saya ngomong, “Mas, mas, saya aja mati-matian riset kalimat-kalimat indah yang disukain cewek-cewek. Secara saya dan teman-teman main saya lebih sering menggunakan kata-kata indah buat jadi bahan lawakan. Hahaha… dan satu lagi ya, Mas. Buku yang saya baca itu nggak cuma novel teenlit. Saya baca semua buku. Termasuk buku politik dan ekonomi. Catat itu! “

“Tapi Soundracknya lumayan laah, buat cewek-cewek model kayak elo”

Hah?!? cewek model kayak gue gimana? Jelas-jelas saya menyukai musik death metal. Yah, meskipun saya juga mendengarkan jenis musik lainnya. Sorry, saya nggak sok idealis…

“Oiya, bentar lagi di bioskop bakalan ada film romantis buat cewek-cewek. Cewek kayak elo pasti suka deh.”

Apa-apaan siih?cewek kayak gue lagi? Hey! Saya suka sekali film Action,  film Godfather dan semua karya-karya Tim Burton. Yaah, kecuali kalau dia menganggap kalau itu adalah film romantis. Dasar tolol!

Dalam waktu yang lumayan lama dia ngoceh panjang lebar. Menjelek-jelekkan karya-karya orang lain seenak udelnya. Saya  cuma nyengar-nyengir sambil terus-terusan ngomong, “Yaaah… selera orang kan beda-beda, Mas. Malahan bagus kalau semakin banyak film2, novel2 yang bermunculan di Indonesia. Itu tandanya manusia Indonesia pekerja keras. Nggak males-malesan. Setidaknya ada yang bisa mereka kerjakan. Hehehe…”

Mendengar ungkapan saya, lelaki itu terlihat nggak mau kalah, “Tapi percuma kalau semua sampah!”

Anjriiit dari pada mulut lo yang sampah! *maaf dalam hati saya memang ngomong begitu. Saya kembali terdiam. Bingung mau ngomong apa lagi. Kemudian sebuah pertanyaan mendadak kelar dari mulut saya, “Emangnya mas kerja dimana?”

“Saya nggak kerja. Gini-gini aja. Yah… kumpul sama temen-temen, jalan sama temen-temen…”

“Oooh…”

Dia terlihat memundurkan posisi duduknya. “Saya tuh baru mau jalan ke Gunung Gede. Kemarin saya habis dari Sundoro-Sumbing.”

Bodo amat! Emangnya saya tanya? Saya sudah mulai muak dengan keberadaan orang itu.

“Cewek kayak kamu palingan taunya cuma minta uang dari mami, ngabisin duit ke mal apa untuk ngegaul. Pasti nggak suka kotor-kotoran di gunung. Paling juga merengek kepanasan.”

Okay! Enough!Gw emosi! Tapi anehnya saat itu saya hanya cengar-cengir saja. Mungkin nggak enak sama teman-teman saya dan nggak enak sama orang itu juga karena baru kenal.

Nggak lama kemudian, akhirnya lelaki tersebut pergi juga. Teman-teman saya langsung heboh tertawa. Kata-kata mereka cuma satu, “Asli tuh orang sotoy marotoy abies!”

Saya pun juga ikut-ikutan tertawa. Padahal sebenernya saya emosi banget! Sok tau banget sih tuh orang tentang hidup saya? Emangnya mentang-mentang saya penulis novel teenlit, trus saya  udah pasti adalah cewek yang nggak punya bacaan lain selain teenlit?cewek yang cuma doyan dengerin lagu dan film mellow2 romantis, cewek yang nggak suka melakukan kegiatan diluar ruangan, cewek yang hobinya cuma menghamburkan duit orangtua untuk shopping? Hey! sok tau banget lo?

Emangnya mentang-mentang saya penulis novel teenlit, saya nggak boleh suka dengerin musik metal?Emangnya saya nggak boleh baca buku politik dan ekonomi? emangnya saya nggak boleh nonton film action yang penuh pertumpahan darah? Emangnya nggak boleh kalau saya masuk anggota pecinta alam? Dan emangnya aneh kalau saya udah biasa hidup sendiri jauh dari orang tua dan mati-matian bekerja untuk biaya kuliah saya? Yang jelas, saya mau nulis novel apa kek, itu urusan saya! Siapa elo mau ngatur hidup gue???

Okay, mungkin saat itu cowok tersebut tidak terlalu serius bicara seperti itu. Atau mungkin dia hanya iseng.  Tapi please ya, Mas. Jangan sok tau tentang hidup saya karena anda nggak tau apa-apa tentang saya!!!

Cinta Monyet

n1219070796_347256_29392

Ok, the point is…. saya ketemu lagi dengan ‘dia’.

Pengakuannya adalah…

Hmmm… HIYAAA…. saya maluuuu…..hahaha….

Beneran, saya malu banget membuat pengakuan ini. Bukan malu sama kalian, tapi malu dengan kelakuan saya sendiri hihihi…

Okay, saya akan memulai ceritanya…

Semua itu berawal ketika saya sekolah dulu. Waktu itu saya masih duduk di bangku kelas 1. Jangan berpikir kalau saya yang dulu sama seperti saya saat ini. Jelas beda. Saya yang dulu nggak se-ancur sekarang hahaha…. anyway, penampilan saya dulu agak aneh. Dibilang tomboy enggak. Dibilang girly enggak juga. Biasa -biasa aja deh pokoknya. Dulu saya punya rambut panjang dan selalu dikepang kuda. Trus gigi saya di bekhel. Dulu saya jauh lebih pendiam. Nggak terlalu banyak omong, kalau banyak omong malahan kelihatan aneh atau over. Teman-teman saya di sekolah juga nggak terlalu banyak. Teman saya lebih banyak yang berada diluar sekolah.

Nah, dulu saya punya kakak kelas. Waktu saya kelas 1, dia kelas tiga. Dia termasuk cowok yang biasa-biasa saja di sekolah saya dulu. Bukan masuk kategori anak-anak gaul, anak-anak ganteng, anak-anak lapangan ataupun anak-anak pinter. Tapi entah kenapa saya suka sekali melihat wajahnya. Wajahnya ‘adem’. Bisa bikin tenang. Dan kalau senyum….

Yang saya inget, dia pernah naksir berat dengan teman saya. Dia sering menunggui teman saya untuk sekedar mengajaknya ke kantin. Tapi sayangnya, teman saya itu nggak nanggepin sama sekali. Bahkan kesannya menolak mentah-mentah. Dulu saya sering merasa kasihan dengan kakak kelas saya itu. “Kenapa ya, orang baik digituin?” itu pikiran saya dulu dalam hati sambil melihatnya dari kejauhan. Saya memang cupu. Nerd…

Sampai saya lulus pun nggak ada seorangpun yang tau kalau dia orang yang bisa bikin saya deg-degan tiap kali berpapasan, bikin saya buru-buru kabur saking groginya kalau dia berada di jarak kurang dari satu meter dari saya, dan bikin saya tenang ketika saya sedang emosi. Lagi-lagi… mukanya adem…. *halah

Well, yang jelas ini pengakuan saya … (Past)

1. Dia nggak kenal sama saya. Bahkan inget muka saya aja pasti enggak.

2. Saya nggak pernah menyebutkan nama dia di depan teman-teman saya.

3. Ok, dulu saya suka sama dia. Tapi hanya saya sendiri yang tau.

4. Saya sering memperhatikan dia. Sekali lagi saya berikan alasannya, “Mukanya bikin adem”

5. Dia bukan ‘bintang’ di sekolah. Tapi entah kenapa saya merasa dia memiliki nilai plus-plus yang tinggi dimata saya. Dulu saya terheran-heran kenapa cowok seperti dia nggak punya pacar?

Dan, ini adalah pengakuan saya saat ini….

1. Yup, beberapa bulan belakangan ini tiba-tiba saya teringat dia. Saya ingin tau khabarnya ehehe…

2. Yup, saya lupa nama aslinya karena dulu saya hanya tau nama panggilannya saja.

3. Yup, beberapa bulan ini saya mencari-cari segala kemungkinan nama-nama dia di facebook dan friendster. Kemudian saya lihat fotonya satu-persatu. Saya masih ingat jelas wajahnya. *seinget saya namanya agak2 Jawa gitu….NIHIL

4. Yup, saya mencoba googling di sekolah2 dimana dia menjadi alumni. Siapa tau ada jalan…NIHIL

5. Yup, saya mencari-cari dia di facebook dan friendster lewat temannya-temannya dan temannya… NIHIL

6. Yup, saya amat sangat penasaran

THE FACT IS….

1. Akhirnya saya menemukan diaaaaaaa!!!!!!!HOREEE!!!

2. Well, dia nggak single lagi….

3. Saya merasa sukses besaaaarrrrrr! Saya berhasil menemukan dia, saya tau seperti apa dia saat ini, dan saya amat sangat bahagia….

4. Saya masih malu kenalan sama dia. Jadi saya memilih untuk tidak berkenalan. Cukup tau khabarnya saja….

FINISH.CASE CLOSED. BACK TO THE REALITY. WORK….WORK…WORK….

(nama+SMP/SMU+lokasi bertemu sengaja disamarkan. Biarkan ini menjadi rahasia saya…huhuhu)

Cinta Monyet

n1219070796_347256_29392

Ok, the point is…. saya ketemu lagi dengan ‘dia’.

Pengakuannya adalah…

Hmmm… HIYAAA…. saya maluuuu…..hahaha….

Beneran, saya malu banget membuat pengakuan ini. Bukan malu sama kalian, tapi malu dengan kelakuan saya sendiri hihihi…

Okay, saya akan memulai ceritanya…

Semua itu berawal ketika saya sekolah dulu. Waktu itu saya masih duduk di bangku kelas 1. Jangan berpikir kalau saya yang dulu sama seperti saya saat ini. Jelas beda. Saya yang dulu nggak se-ancur sekarang hahaha…. anyway, penampilan saya dulu agak aneh. Dibilang tomboy enggak. Dibilang girly enggak juga. Biasa -biasa aja deh pokoknya. Dulu saya punya rambut panjang dan selalu dikepang kuda. Trus gigi saya di bekhel. Dulu saya jauh lebih pendiam. Nggak terlalu banyak omong, kalau banyak omong malahan kelihatan aneh atau over. Teman-teman saya di sekolah juga nggak terlalu banyak. Teman saya lebih banyak yang berada diluar sekolah.

Nah, dulu saya punya kakak kelas. Waktu saya kelas 1, dia kelas tiga. Dia termasuk cowok yang biasa-biasa saja di sekolah saya dulu. Bukan masuk kategori  anak-anak gaul, anak-anak ganteng, anak-anak lapangan ataupun anak-anak pinter. Tapi entah kenapa saya suka sekali melihat wajahnya. Wajahnya ‘adem’. Bisa bikin tenang. Dan kalau senyum….

Yang saya inget, dia pernah naksir berat dengan teman saya. Dia sering menunggui teman saya untuk sekedar mengajaknya ke kantin. Tapi sayangnya, teman saya itu nggak nanggepin sama sekali. Bahkan kesannya menolak mentah-mentah. Dulu saya sering merasa kasihan dengan kakak kelas saya itu. “Kenapa ya, orang baik digituin?” itu pikiran saya dulu dalam hati sambil melihatnya dari kejauhan. Saya memang cupu. Nerd…

Sampai saya lulus pun nggak ada seorangpun yang tau kalau dia orang yang bisa bikin saya deg-degan tiap kali berpapasan, bikin saya buru-buru kabur saking groginya kalau dia berada di jarak kurang dari satu meter dari saya, dan bikin saya tenang ketika saya sedang emosi. Lagi-lagi… mukanya adem…. *halah

Well, yang jelas ini pengakuan saya … (Past)

1. Dia nggak kenal sama saya. Bahkan inget muka saya aja pasti enggak.

2. Saya nggak pernah menyebutkan nama dia di depan teman-teman saya.

3. Ok, dulu saya suka sama dia. Tapi hanya saya sendiri yang tau.

4. Saya sering memperhatikan dia. Sekali lagi saya berikan alasannya, “Mukanya bikin adem”

5. Dia bukan ‘bintang’ di sekolah. Tapi entah kenapa saya merasa dia memiliki nilai plus-plus yang tinggi dimata saya. Dulu saya terheran-heran kenapa cowok seperti dia nggak punya pacar?

Dan, ini adalah pengakuan saya saat ini….

1. Yup, beberapa bulan belakangan ini tiba-tiba saya teringat dia. Saya ingin tau khabarnya ehehe…

2. Yup, saya lupa nama aslinya karena dulu saya hanya tau nama panggilannya saja.

3. Yup, beberapa bulan ini saya mencari-cari segala kemungkinan nama-nama dia di facebook dan friendster. Kemudian saya lihat fotonya satu-persatu. Saya masih ingat jelas wajahnya.  *seinget saya namanya agak2  Jawa gitu….NIHIL

4. Yup, saya mencoba googling di sekolah2 dimana dia menjadi alumni. Siapa tau ada jalan…NIHIL

5. Yup, saya mencari-cari dia di facebook dan friendster lewat temannya-temannya dan temannya… NIHIL

6. Yup, saya amat sangat penasaran

THE FACT IS….

1. Akhirnya saya menemukan diaaaaaaa!!!!!!!HOREEE!!!

2. Well, dia nggak single lagi….

3. Saya merasa sukses besaaaarrrrrr! Saya berhasil menemukan dia, saya tau seperti apa dia saat ini, dan saya amat sangat bahagia….

4. Saya masih malu kenalan sama dia. Jadi saya memilih untuk tidak berkenalan. Cukup tau khabarnya saja….

FINISH.CASE CLOSED. BACK TO THE REALITY. WORK….WORK…WORK….

(nama+SMP/SMU+lokasi bertemu sengaja disamarkan. Biarkan ini menjadi rahasia saya…huhuhu)