Wisata Tana Toraja

Dari semua tempat yang pernah saya kunjungi, ada satu tempat yang paling menarik menurut saya. Tempat yang indah dengan segala tradisi, budaya, dan aura ‘mistik’-nya yang luar biasa. Yap! Tana Toraja.

Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti “orang yang berdiam di negeri atas”. Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari (Sumber: Wikipedia

Menarik yekaaaan…

Nah, Kamis, 24 Desember 2015, saya dan teman-teman janjian di bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Rencananya memang mau ke Toraja. Ini semacam ritual liburan akhir tahun dimana kami selalu merencanakan sebuah perjalanan wisata. Kebetulan pesawat menuju Makassar akan berangkat pada pukul 13.00 WIB. Jadinya kami punya waktu yang cukup banyak untuk datang lebih awal dan nongkrong-nongkrong cantik di bandara. Tapi makanan tetep bungkus dari Indomaret terdekat hahahay…

Oiya, untuk kalian yang mau dapet tiket pesawat murah ke Makassar, kalian bisa dateng ke Travel Fair yang banyak digelar di kota kalian. Lumayan untuk ngirit biaya perjalanan. Apalagi untuk wilayah Indonesia Timur yang tiket pesawatnya rada bikin deg-deg serr… dan puasa nggak makan sushi… Ohh… maaayy!!! 🙁

Anywaaayyy… Lanjut lagi ke cerita saya. Perjalanan Jakarta-Makassar memakan waktu sekitar 3 jam 30 menit.  Untuk kisah di dalem pesawat nggak usah diceritain kali ye.. isinya tetap sama kok. Ada mbak-mbak pramugari dengan gerakan khas memberikan instruksi pemakaian alat emergency, penumpang yang belum take-off udah tidur (itu saya!), penumpang yang sok-sok pake sun glasses padahal tidur (itu saya lagi!), atau penumpang yang sok-sok dengerin iPod padahal antisipasi kalau-kalau diajak ngomong nggak nyaut lantaran lagi tidur (itu saya juga!)

Sesampainya di Makassar, kami langsung disambut oleh rintik hujan dan mobil-mobil yang mengantre di area penjemputan bandara. Bandara Makassar lumayan padat hari itu. Katanya sih, lagi ada acara yang diadakan salah satu partai besar di Indonesia. Ah, saya nggak peduli. Yang saya peduli saat ini adalah bagaimana menemukan sopir mobil sewaan yang telah kami pesan via telepon sebelum berangkat ke Makassar.

Singkat cerita, akhirnya kami berhasil bertemu dengan sopir mobil sewaan itu. Namanya Pak Budi. Orangnya baik dan sopan banget. Awalnya saya berpikir dia bukan orang asli Makassar lantaran logatnya yang tidak ketara trus dengan pedenya saya ngomong, “Bapak orang jawa ya?”  Ternyata dia Makassar tulen. Sok pede, sok iye, padahal tetooot!

Oke, lalu meluncurlah kami ke rumah kenalan kami di Makassar untuk bersih-bersih sambil istirahat sebentar. Nah, dari teman saya ini, kami dikenalkan dengan seorang cewek cantik. Namanya Harla. Dia asli Toraja. Rezeki anak sholehah, Harla mau menemani kami untuk ikut ke Toraja.

Pukul 22.00 WIT kami langsung jalan menuju Toraja via darat dan dengan Pak Sopir andalan kami, Pak Budi.

Sepanjang perjalanan, jujur aja, saya nggak bisa tidur. Perjalan Makassar-Toraja terbilang rawan kalau malam hari, begitu cerita Pak Budi. Jadi sepanjang perjalanan, mata saya sibuk lihat-lihat kiri-kanan takut tiba-tiba ada Ninja Hatori muncul yekaaaan? Bisa-bisa diajak mendaki gunung lewatin lembah. Halah!

Ada beberapa kota yang kami lewati sepanjang perjalanan menuju Toraja. Kota-kota tersebut terlihat serupa. Namun ada satu kota yang cukup menarik di mata saya. Kota tersebut terlihat mentereng dengan kantor pemadam kebakaran, rumah sakit, kantor polisi yang bisa dibilang cukup mewah. Kota tersebut juga terlihat lebih terang dibandingkan dengan kota-kota lain yang kami lewati lantaran lampu-lampu kecil terpasang rapi di jajaran pohon yang menghiasi jalanan.

“Kota ini kok…” Belum sempat kalimat saya berlanjut, Pak Budi yang sedang memegang kendali mobil langsung memotong. Seperti sudah tahu pertanyaan apa yang kiranya akan terlontar dari mulut saya.
“Ini kota Bantaeng, Non. Kota ini memang paling mewah dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Bupatinya orang pinter, Non. Dulu pernah belajar di Jepang. Jadi mungkin beberapa infrastruktur kotanya dia pelajari dari sana,” ucap Pak Budi.

Sayangnya, kota Bantaeng memang tidak terlalu besar. Jadi hanya beberapa menit saja kami sudah kembali memasuki kegelapan jalanan menuju Toraja. Dan saya kembali berkhayal tentang ninja Hatori.

Sekitar pukul 06.00 pagi, tiba-tiba saya merasakan suasana yang berbeda yang sulit untuk dijelaskan. Aura mistik begitu terasa disertai cuaca yang rada lembab-lembab macem di film Twilight. Rasanya ngeri-ngeri sedap (lhah?!?)

“Kita udah masuk Toraja nih, Non,” jawaban Pak budi langsung membuat saya mulai paham dengan perasaan yang tiba-tiba muncul ini. Anjayy… kalimat sinetron percintaan zaman Rhoma Irama.

Sekilas, jalanan Toraja mirip seperti di Puncak-Bogor. Jalanan menanjak dan sedikit berkelok, dengan rumah-rumah di kiri-kanan. Beberapa menjual kopi. Catet ya, kopi asli Toraja dari biji kopi. Jadi jangan bayangin sachetan yang digantung-gantung serenteng, oke!

Kami diantarkan ke penginapan untuk istirahat sejenak dan menaruh barang bawaan kami. Yakali jalan-jalan bawa tas-tas segede gaban.

Oke, setelah bersih-bersih dan istirahat sejenak, matahari pun telah muncul dari balik pegunungan. Saya dan teman-teman langsung menuju tujuan kami yang pertama: Londa. Londa adalah objek wisata yang berada di Toraja utara. Kalau kalian nggak menyewa mobil, kalian bisa menggunakan ojek atau becak motor untuk menuju ke Londa. Lokasinya nggak terlalu sulit kok. Di Londa, kami melihat goa-goa dengan patung-patung kayu, peti jenazah yang disebut Erong (biasanya peti tersebut digunakan untuk jenazah yang tinggi kedudukannya di masyarakat), serta tulang belulang jenazah yang umurnya sudah ratusan tahun. Katanya, belum ke Toraja kalau belum ke Londa. Yes, itu artinya saya sudah di Toraja!!!

Tau-tau yang melambangkan seseorang yang dimakamkan di Londa

Setelah dari Londa, kami langsung lanjut ke Ke’tekesu’. Sebetulnya nggak jauh beda dengan Londa. Objek wisata Ke’tekesu’ juga berisi makam para leluhur Toraja. Bedanya, kalau di Ke’tekesu’ bentuknya lebih besar. Ada deretan rumah-rumah khas Toraja  yang menjadi lokasi foto sejuta umat. Di Ke’tekesu’ juga terdapat kios-kios yang menjual kerajinan tangan yang bisa dijadikan oleh-oleh.

Ngomong-ngomong soal teman baru saya yang bernama Harla, sewaktu kami berada di loket masuk, cewek itu cukup dikenal oleh orang-orang di sana. Nggak taunyaaa…. Ke’tekesu’ tuh tempat bermainnya waktu kecil. Hahaha…

 

 

Puas foto-foto di Ke’tekesu’ kami melanjutkan perjalanan ke Kambira. Lagi-lagi ke makam. Tapi makam kali ini beda. Karena di Kambira ini adalah makam khusus bayi yang meninggal dan belum tumbuh gigi. Cara penguburannya juga unik. Jenazah bayi tersebut mereka simpan di dalam lubang sebuah pohon yang bernama pohon Tarra. Menurut penjelasan penduduk sekitar, pohon Tarra ini dipilih karena memiliki getah yang banyak sehingga dipercaya dapat menjadi pengganti air susu ibu.

Pohon Tarra tempat menyimpan jenazah bayi

 

Di Kambira, saya bertemu dengan seorang bocah Toraja bernama Hachi. Awalnya dia malu-malu ketika saya tanya. Tapi begitu dia berani menjawab pertanyaan dari saya, Hachi sangat ramah dan mengajak saya memasuki rumahnya untuk melihat pemandangan dari atas.

Bersama hachi- bocah Toraja yang ramah

 

Perjalanan kami lanjutkan ke wilayah Toraja lebih ke atas (ingat kan, kalau saya bilang bentuk jalanan Toraja hampir seperti di Puncak-Bogor?). Tujuan kami selanjutnya adalah situs Megalitikum Bori. Di tengah perjalanan, saya melihat patung seekor kerbau dengan motif tubuh yang unik.

“Ini kerbau paling mahal.” Tiba-tiba Harla berkata.

Saya pernah membaca di salah satu artikel majalah tentang makna seekor kerbau bagi masyarakat Toraja. Kerbau memang hewan yang disakralkan bagi masyarakat Toraja. Termasuk sebagai takaran status sosial. Makanya nggak heran di rumah-rumah adat Toraja sering kita lihat kepala kerbau yang digantung-gantung di depan rumah.

“Kerbau jenis Saleko harganya bisa sampai milyaran,” lanjut Harla, membuat saya tersedak.

“Serius?” Saya nyaris tak percaya. Harga kerbau bisa sama kayak harga rumah?

Harla mengangguk. Penjelasannya cukup masuk akal. Ciri kerbau tersebut memang cukup unik. Tanduknya kuning, terdapat lingkaran putih di bola mata, serta kulitnya berwarna hitam dan putih. Kerbau jenis Saleko tersebut memang hanya ada di Toraja dan jumlahnya sudah mulai sedikit. Kenapa? Karena dua kerbau Saleko jika dikawinkan belum tentu menghasilkan anak berjenis Saleko juga. Uniknya, Saleko justru terkadang muncul karena perkawinan dua sapi biasa.

Udara yang masih gerimis-gerimis manja membuat perjalanan ke Bori sedikit terganggu lantaran kabut tebal. Supir kami pun sudah bilang dari awal kalau kami nggak usah terlalu berharap bisa berfoto karena hujan mulai terasa deras. Mungkin biar kami nggak kecewa. Benar saja, sampai di lokasi, hujan masih belum berhenti. Akhirnya kami turun dari mobil dan berteduh di sebuah pos sederhana tak jauh dari situs. Di pos tersebutlah saya berkenalan dengan seorang biker yang sedang melakukan touring bersama teman-temannya dari Jogja. Tiba-tiba dengan baik hatinya dia menawarkan diri,

“Mbak, mau saya fotoin di sana nggak?” tanya dia.

“Nanti aja, Mas. Masih hujan,” jawab saya.

Tiba-tiba dia menunjuk ke salah satu titik sambil berkata, “Mbak kalau mau lari ke sebelah sana. Nah, nanti saya foto dari atas. Saya udah biasa nganterin orang. Di situ posisi paling bagus untuk foto.”

Mendengar pernyataan dia, langsung saya ambil kamera, serahkan ke dia, dan saya berlari menerobos hujan ke posisi yang ia tujukkan tadi. Dan benar saja, sesaat setelah saya kembali ke pos, saya melihat hasil jepretannya yang ciamik. Thank you mas-mas biker yang sudah berbaik hati menawarkan ide briliannya.

Jam  lima sore kami sudah selesai keliling-keliling dan kembali ke penginapan untuk istirahat. Besoknya jam enam pagi kami sudah bersiap kembali ke Makassar.

Oke, untuk kalian yang mau ke Tana Toraja, ada beberapa tips dari saya yang mungkin bisa kalian gunakan:

  1. Jangan lupa bawa kamera (ini udah pasti ya…)
  2. Kalau kalian dari Makassar, kalian harus sewa mobil plus drivernya. Karena perjalanan dari Makassar ke Toraja itu sekitar 8 jam dan banyak melewati wilayah-wilayah yang ‘agak’ rawan. Terutama kalau jalan malam. Dengan menyewa driver yang mengerti wilayah-wilayah tersebut dan budaya daerah, setidaknya bisa mengurangi resiko.
  3. Sebisa mungkin bawa orang yang mengerti Toraja karena banyak hal menarik yang berhubungan dengan budaya serta adat istiadat yang bisa kalian pelajari di sana.
  4. Di Toraja banyak penginapan-penginapan kecil model homestay. Jadi buat kalian yang budget-nya minim, kalian bisa rada ngirit.
  5. Please behave di setiap objek wisatanya yang kebanyakan adalah makam leluhur. Meskipun judulnya objek wisata, bukan berarti kalian boleh sembarangan ngambil foto sama tulang belulang/tengkorak di sana. Hormati mereka.
  6. Untuk kalian yang muslim, musti banyak cari referensi tempat makan yang halal dan tempat ibadah. Karena cukup sulit menemukan di sana.
  7. Sebetulnya dalam 2 hari kalian bisa saja menghabiskan objek wisata yang ada di Toraja. Jadi kalian bisa sangat menghemat waktu.

Sekian cerita saya tentang Tana Toraja. Postingan berikutnya saya akan membahas tentang tempat-tempat yang pernah saya kunjungi lainnya. Kalau kalian punya pertanyaan tentang perjalanan ke Toraja, silahkan tulis di-comment-nya ya… Sebisa mungkin saya jawab. Thank youuu…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *