Trip dadakan ke Pantai Krui

Source: Arief “Cendol”

Ajakan jalan pertama kali terlintas dari pesan singkat di LINE oleh salah satu teman saya. Ade namanya.
“Cil, jalan ke Krui yuK!”
Awalnya saya sempat ragu lantaran teman saya yang lain ada yang juga mengajak ke pulau berbeda.
“Tunggu De, gue mau mastiin dulu temen gue jadi ke pari apa enggak?”
setelah kalimat balasan dari saya itu, saya langsung mencoba menghubungi teman saya yang satu lagi.

Namanya jodoh nggak akan kemana. Teman saya yang satu lagi ternyata masih ragu tentang rencana nge-trip-nya itu. So, jadilah saya mengiyakan ajakan Ade.

Dengan menggunakan tas carrier andalan saya, pulang kantor saya langsung meluncur ke stasiun Gambir, meeting point yang sudah kami tetapkan. Rencananya kami mau naik Damri sampai Lampung.
Ade sudah datang lebih awal dan dengan ‘sinting’nya dia menyapa saya sambil asik makan pancake duren. Emang rada-rada dah tuh cewek hahaha… piss, De!

Tiba di Lampung, kami langsung dijemput oleh Pak supir yang siap dengan mobilnya. Karena kami tiba pagi banget, jadinya Pak supir merekomendasikan tempat sarapan yang enak dan murah di Lampung (saya lupa nama tempatnya. Pokoknya posisinya di pinggir lapangan bola gitu).

Satu hal yang menarik ketika kami makan adalah pengamen berganti-gantian datang. Ada yang anak kecil, sampai kakek tua. Tapi ada yang lucu dari kesemua pengamen tersebut: Mereka menyanyikan lagu yang sama!

Selesai makan, kami langsung berangkat menuju Krui. Buat kalian yang mabok jalan darat, siap-siap aja menegak Antimo. Karena jalanan menuju Krui itu bisa sekitar 8 jam dari Bandar Lampung dan nggak semua jalan mulus macam jalan tol. Beberapa jalan (bahkan sebagian besar) berliku-liku dan jelek. Apa lagi di daerah bukit barisan yang jalannya terkenal banyak tikungan sempit dan ‘patah’. Tikungan di sekitar Bukit Barisan terkenal dengan nama kelokan ular. Karena bentuknya yang menyerupai ular berjalan. Apesnya, perjalanan melewati bukit barisan kali ini dibumbui dengan aroma bunga bangkai yang memang lagi musimnya berkembang. Kebayang kan gimana rasanya?

Kalau kalian nggak kuat dengan lamanya perjalanan darat dari Pelabuhan Bakaheuni ke Krui, kalian bisa naik pesawat Susi Air dari Jakarta yang memang sudah bekerjasama dengan pemerintah kabupaten Lampung Barat untuk beroperasi menuju bandara Serai-Krui.

Balik lagi ke cerita saya, akhirnya Perjalanan jauh yang harus kami tempuh terbayar ketika kami tiba di Tanjung Setia, Krui. Gini ya, untuk kalian yang mau ke pulau Krui, saya kasih rekomendasi penginapan yang oke banget buat kalian. Namanya Lovina Krui Surf. Pemiliknya baik dan ramah banget namanya Mas Yoris dan Mbak Siska. Keramahan mereka bikin saya dan teman-teman merasa seperti di rumah sendiri. Nyaman banget!
Ini website Lovina: www.lovinakruisurf.com.

Pemandangan pantai Krui (source: Cendol)
source: Cendol

Krui terkenal dengan ombaknya yang ciamik. Jadi rata-rata orang yang datang ke Krui adalah untuk surfing. Makanya pemandangan turis-turis mancanegara yang mondar-mandir sambil bawa papan selancar akan sering kalian jumpai di sini.

Tapi yang bikin asik lagi, di pesisir pantainya bisa buat berenang-renang karena kedalamannya yang cuma sebatas pinggang saya. Meskipun dangkal, ikan-ikan lucu dan bintang laut hidup di sana hingga kalian bisa memegang binatang itu macam di Sea World Ancol. Asik kaaan…

Keindahan pantai Krui sayangnya nggak bisa kami nikmati lama-lama. Niat dari awal memang cuma transit di Krui. Karena pagi-pagi kami bangun harus langsung siap-siap menuju pulau pisang.Cerita tentang Pulau Pisang akan saya ceritakan di post terpisah ya…Biar banyak postingannya hahaha… see ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *