Menangislah bila harus menangis

Akhir-akhir ini saya sering sekali menangis. Meskipun saya orang yang sangat melankolis, tapi saya jarang sekali menangis di hadapan orang lain. Mungkin ini karena didikkan mama yang cukup keras sewaktu saya kecil. Mama benci sekali melihat anaknya menangis. Sampai beliau melihat saya menangis, mama akan semakin marah. Atau parahnya meninggalkan saya begitu saja. Sehingga waktu kecil, saya sering kali ngumpet dia atas genteng rumah, di dalam lemari, di bawah kasur, hanya untuk menangis. Tanpa suara pastinya. Dan believe me, rasanya nggak enak.

Bagian leher saya sering sekali bengkak dan merasa sakit ketika saya terlalu banyak menahan tangis. Dan akhirnya saya anggap biasa. Biasanya efek itu akan berlanjut pada kepala pusing luar biasa (dulu mimisan) dan saya hanya bisa mengatasinya dengan mencoba tidur. Efek yang sama ketika saya sedang marah berlebihan dan nggak bisa diluapkan. Saya sadar betul semua keanehan di tubuh saya adalah efek dari emosi yang berlebihan. Ya, semua yang berlebihan memang selalu nggak baik.

Saya juga pernah nggak bisa bangun dari tempat tidur tanpa alasan yang jelas. Yang saya tahu tulang punggung saya sakit dan batuk nggak sembuh-sembuh selama dua minggu. Ketika diperiksa…. jreng…jreng…. analisa dokter adalah…
“Makanya kalau nangis jangan ditahan-tahan. Itu tulang kamu ketarik tuh. Kalau batuknya, mungkin juga karena ingus yang kamu tarik masuk dan menggumpal di dalam.”

Hekk?!? Heran. Bisa gitu ya? Ketika kejadian itu, saya sampai pernah suatu kali bertanya, apakah saya akan mati dengan cara seperti ini? #abaikan.
Dan harus saya bilang, bahwa untuk kesekian kalinya, lagi-lagi Tuhan sedang membolak-balik hati saya. Pedang panjang sedang menghujam ke segala sisi hidup saya. Keluarga, pendidikan, percintaan, pertemanan, keuangan…. nyaris semuanya. Saya heran, biasanya saya punya pelarian yang oke untuk membuat segalanya berjalan seimbang. Misalnya, disaat ada masalah keluarga, saya bisa lari ke pacar. Atau ketika keuangan sedang sekarat, pendidikan saya hantem. Kali ini…. saya capek. Capek semua… semua… semuanya… dan saya tahu ujungnya. Saya sakit 😀

Saya pernah dibawa ke seorang teman yang kebetulan psikiater. Saya diajak ngobrol panjang-lebar. Entah kenapa dihadapannya, saya bisa menangis sampai sesegukkan (aseli ini lebay bgt saya.Malu-maluin sumpah!). Dia bilang, “Kadang elo harus dibuat nggak sadar supaya lo bisa sedikit jahat sama orang. Karena menurut gue, ketika elo sadar, lo bertindak terlalu baik sehingga kadang nggak masuk diakal. Dan itu juga yang pada akhirnya bikin lo mudah untuk disakiti lagi dan lagi…”

Guys, learning dari cerita saya ini adalah…. belajarlah untuk bisa mengungkapkan apa yang kamu rasakan. Kalau perlu nangis, ya nangis aja. Kalau mau marah, ya marah aja. Jangan kayak saya. Asli, sampai detik ini saya masih berusaha belajar gimana caranya melakukan itu. Mungkin saya harus ketemu orang yang rela saya caci maki dan lihat saya nangis kejer buat terapi ahahaha…. mendingan peluk saya aja deh (*jiah) 😛 Dan percaya apa enggak…. leher saya sedang bengkak ketika saya mengetik ini. Saya ingin sekali menangis…. sangat.

4 thoughts on “Menangislah bila harus menangis

  1. @dyan.. sama bgt kasusnya kaya ak mbak..
    ak kalo mau nangis selalu ngumpet dan aebisa mungkin menahan suara. dan itu amat ga nyaman. dadaku sering sakit bgt. sanpe ke kepala n tenggorokanku..
    tp sampai saat ini jg saat sedih ak ga pernah bisa mengungkapkannya di hadapan orang lain. selalu sembunyi2 hanya untuk nangis…
    pengen deh suatu hari nanti ada org yg pengertian yg bisa ngadepin keanehanku ini..

  2. Kalau menahan nangis hanya karena masalah sepele, gapapa kan ya mbak? Lagian saya juga sering banget nahan nangis tapi sekaligus mikir. Gimana caranya biar masalah itu ga bikin aku mau nangis lagi. Malah kayak udah biasa sih kalau nahan nangis itu kepala serasa pusing dan kayak di tusuk-tusuk gitu deh mbak. Tapi suara hati lah yang sering bilang; gapapa lah, udah jangan nangis lagi, atau semua pasti akan baik-baik aja. Terus ya udah deh kadang masalah itu cair sendiri. Hehe. Eh, jadi curhat di sini. Maaf deh.

    1. Menangis itu wajar kok selama nggak berlebihan. Namanya juga manusia kan memang dikaruniai kemampuan untuk itu. Yang terpenting kita harus percaya kalau di dunia ini semuanya serba seimbang. Ada kebahagiaan dan kesedihan 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *