Dewasa itu nggak seru!

20120408-221657.jpg

20120408-221626.jpg

Kalau diinget-inget, lucu ya, sewaktu kita balita, kita terobsesi dengan sekolah. Pengen banget cepet-cepet masuk sekolah. Kayaknya menggendong tas di punggung dan berjalan menggunakan seragam sekolah membuat kita merasa bangga bukan main.
Lalu ketika kita sudah menginjak bangku sekolah, kayaknya pengen buru-buru naik kelas. Pengen buru-buru ganti warna seragam. Kalau yang bersekolah di sekolah negeri, pengen buru-buru ganti seragam putih-merah, jadi putih-biru,lalu kemudian menginginkan mengenakan seragam yang
(menurut saya pribadi) merupakan seragam paling keren dan kece seantero level pendidikan: Putih-abu2 (priiikiiitiiiww).

Saat menulis postingan ini saya sedang berpikir sesuatu yang selama ini nyaris nggak pernah saya pikirkan karena saking enjoynya saya dengan hidup yang saya jalani.Mau baik ataupun buruk, semuanya saya anggap sebagai perjalanan hidup yang seru!

Tiba-tiba saya sampai pada satu kesimpulan, “Hey,Man, gue udah dewasa sekarang. Im adult now.” Sudah boleh nyetir mobil sendiri,sudah boleh nonton film yang ada tanda 17+ nya, udah nggak bakalan dibilang sok tau kalau kasih pendapat ke orang, udah bisa punya credit card atas nama sendiri,udah boleh pacaran dengan lawan jenis, dan kalaupun saya pacaran dengan lelaki yang berbeda usia puluhan tahun diatas saya pun pacar saya itu tidak akan dianggap fedofilia. Yess,Im adult. Yang mengartikan kalau saya juga sudah pantas untuk menikah dan memiliki anak. Menikah dengan orang yang tepat pastinya

Saya menyadari kalau apa yang saya sebutkan pada kalimat-kalimat awal postingan ini sudah pernah saya jalani semuanya. Mengenyam pendidikan dari bangku TK hingga jenjang kuliah sudah saya hadapi dengan gagah berani (ehm!)

Tapi ketika berada di usia saya saat ini, saya merasa begitu enggan menjadi dewasa. Saya pengen terus jadi anak-anak. Orang dewasa begitu ribet. Begitu serius. Gampang tersinggung, Dan sangat membosankan. Karena itu yang saya rasakan ketika berusaha sekuat tenaga untuk menjadi dewasa.
Saya lebih suka memakai pakaian sesuka saya tanpa harus ribet mikirin ‘apa saya sudah cukup oke dengan pakaian ini?’
Saya juga lebih suka tampil apa adanya tanpa harus pura-pura menjadi orang lain seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang dewasa di luar sana.
Saya juga sangat suka bercanda, bersenang-senang, tertawa sepuasnya, lari sana-sini,belajar-belajar seru tanpa harus serius, kenalan banyak orang tanpa harus membedakan apapun,bermain-main dengan mainan koleksi saya,dll.
Saya juga sangat manja. Saya begitu senang dimanja.Saya senang dipeluk-peluk, dicium sayang,dan seterusnya dan sebagainya.

Tapi faktanya, saya kangen itu semua. Karena di usia saya saat ini,kadang saya nggak selalu bisa menikmati sisi anak-anak saya. Saya dituntut untuk jadi dewasa.Dituntut untuk jadi jaim. Dan itu sangat nggak enak 🙁

Kenal dengan banyak orang dewasa membuat saya menarik satu kesimpulan kalau nggak semua orang dewasa yang berpenampilan dan berperilaku dewasa itu sanggup berpikir dewasa. Dan nggak semua orang dewasa yang berperilaku dan berpenampilan anak-anak itu punya pikiran anak-anak juga. Kadang penampilan dan perilaku itu nggak menjamin seseorang mampu berpikir dewasa. Orang banyak yang semakin tua. Tapi orang yang semakin berpikir dewasa itu dikit banget. Tua itu pasti,dewasa itu pilihan Genk!

Kadang berpenampilan dan berperilaku dewasa itu memang penting untuk kamu lebih dihargai oleh orang-orang tertentu. Tapi kalau kamu merasa nggak nyaman, ya kamu musti bisa milah-milah dimana kamu harus nampak lebih dewasa dan dimana kamu bisa meloncat-loncat sesuka hati. Nggak usah malu kalau dibilang gaya kamu kayak anak kecil. Itu tandanya kamu adalah orang dewasa yang seru! Which suatu saat nanti ketika menikah dan punya anak, kamu akan dianggap sebagai orang tua yang seru. Dan patut berbangga karena anak kamu akan bilang, ”Orang tua gue asik gilaaaa…!” :)) <—pembelaan diri.

So, lets Play and happy ever after!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *