Monkey Loves Banana

36863_423334574840_793749840_4249719_2899333_n

Monyet memang menyukai pisang, saya pun menyukai pisang. Tapi sayangnya saya bukan monyet. Saya hanya seorang manusia yang menyukai makanan seperti para monyet. Pisang.

Kadang saya senang mengisi otak saya dengan berbagai pertanyaan mengenai suatu objek sambil berusaha sebisa mungkin saya temukan jawabannya. Dan kebetulan lagi, objek saya kali ini adalah pisang. Yup, pisang dalam arti sebenarnya. Buah pisang.
Saya bengong menatap sesisir pisang diatas meja. Mama saya yang berada disebelah saya jelas heran melihat muka saya yang menatap pisang seperti menatap cowok ganteng. Mama pun langsung berkata,
“Udah kalau mau, makan aja. Jangan diliatin gitu.”

Saya pun menggelengkan kepala. Karena sebenarnya memang saya lagi nggak mood makan itu pisang. Saat itu saya hanya sedang berpikir banyak mengenai pisang dihadapan saya itu. Melihat stiker yang tertempel di pembungkus plastik pisang itu, jelas bahwa pisang tersebut bukan pisang asli Indonesia. Kalau nggak salah, merek itu berasal dari Amerika Latin. Kalau dibandingin sama pisang Ambon, rasa pisang bule itu mah kalah jauuuuh banget. Pisang lokal tetap yang paling oke.

36863_423334589840_793749840_4249722_3200221_n

Tapi di toko buah-buahan tadi, nggak ada satupun pisang lokal yang dijual disana. Heran. Perasaan kalau saya melewati kebun kosong, pastilah pohon yang paling banyak tumbuh disana adalah pohon pisang. Belum lagi pisang-pisang Indonesia terkenal manis dan beraneka ragam. Tapi kenapa justru pisang kita hilang dari pergaulan kalangan elite pisang? Semua pisang yang dijual di toko itu adalah import. Yang percaya atau tidak, buah tersebut telah mengalami sistem pengawetan yang ribet karena harus dibawa dari Amerika Latin ke Indonesia (ini sekedar asumsi saya). What the hell…?

Saya jadi teringat kata-kata salah satu dosen saya. Beliau pernah menyayangkan kenapa di Indonesia ini lebih banyak menghasilkan ST(sarjana tekhnik) dibandingkan dengan seorang yang memiliki keahlian tekhnik. Banyak ST yang pada akhirnya bekerja di sektor non-tekhnik karena masih kurangnya lapangan pekerjaan di bidang tersebut atau ketatnya persaingan. Padahal kalau pemerintah atau lembaga-lembaga pendidikan bisa menjamin pekerjaan buat mereka di sektor yang tepat, pastilah beberapa tahun kedepan Indonesia akan menjadi negara yang disegani oleh bangsa-bangsa lain.

Misalnya masalah pisang ini. Well, saya yakin kok kalau petani pisang di Indonesia ini sebenarnya cuma kebentur masalah dana untuk berani bersaing. Mereka nggak memiliki tekhnologi yang oke untuk pisang-pisang mereka. So, kenapa nggak memanfaatkan insinyur-insinyur lokal untuk bekerjasama membangun infrastruktur yang bagus untuk perkebunan pisang kita? Dan kenapa nggak pemerintah memberikan perlindungan dan pendidikan untuk mereka para petani supaya memiliki pengetahuan ekonomi yang oke juga? Supaya suatu saat nanti kita akan melihat pisang ambon joget-joget di Amerika Latin. Amiiiin…

Ngomong-ngomong, kalo dilihat-lihat, pisang itu kayak manusia yah. Macem-macem. Ada yang luarnya kuning memikat, dalemnya amit-amit paitnya. Ada juga yang luarnya kuning bopeng-bopeng item, tapi dalemnya maniiiis banget. Ada lagi yang luarnya ijo butuk, dalemnya paiiiit juga. Tapi masih ada lho, pisang yang luarnya kuning bercahaya dan dalemnya manis bukan main. Biasanya yang kayak gini harganya paling mahal nih… Nyam…nyam…

Manusia kan juga gitu. Ada yang dari luarnya cakep, tapi kelakuannya jelek. Ada juga yang diluarnya jelek banget, tapi hatinya malaikat. Eh… ada lagi yang dari luarnya jelek, kelakuannya juga buruk. Nah, yang terakhir ini nih yang paling asik. Dari luarnya keren mampus, dalam hatinya malaikat banget. Dan lagi-lagi orang yang seperti ini nih, yang paling banyak punya fans dan temen dimana-mana.

So, kalian kebagian jadi pisang yang seperti apa???

Nb: Kenapa pisang bentuknya selalu bengkok ya???ada yang tau?*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *