Kemana Hati Akan Membawamu

58622_444486369840_793749840_4759492_3482662_n58622_444486374840_793749840_4759493_8308101_n

Malam itu, alunan suara musik jalanan menari bersama hembusan angin di malam hari. Membuat saya melupakan segala permasalahan yang terjadi di hidup saya. Saya hanya tau kalau setiap orang pasti punya masalah masing-masing dalam hidupnya. Tergantung bagaimana masing-masing orang tersebut menyikapi permasalahannya itu.

Hari itu saya dan teman-teman dari Gempita (Generasi Muda Pecinta Indonesia) dan teman-teman dari KOPS (Komunitas Pasar Senen) mengadakan acara bazaar pakaian murah untuk anak-anak jalanan yang bermukim di sekitaran stasiun senen. Semua pakaian kita jual dengan harga Rp.1000 yang hasil dari penjualan pakaian itu juga langsung kita sumbangkan kembali. Sebelumnya Gempita mengadakan jalan-jalan dan buka puasa bareng ke TMII dengan anak-anak jalanan.
Malam itu, selain bazaar, ada pula persembahan musik dan puisi dari seniman-seniman jalanan. Entah kenapa saya memang menyukai acara-acara seperti itu. Dimana kita bisa saling berbagi dan berbaur menjadi satu. Melupakan sejenak urusan harta dan tahta.

47924_444507129840_793749840_4760102_2310733_n

Ketika saya baru lulus kuliah, saya sadar betul betapa memudarnya nilai-nilai kemanusiaan didiri kita. Coba sadar apa enggak, saat kita lulus kuliah, kebanyakan dari kita menjadi sosok yang sangat matrealistis. Ingin mengejar karier dan uang sebanyak-banyaknya. Saya pun begitu. Tapi saat ini saya merasa hidup lebih santai. Ambisi saya tidak lagi segila dulu. Karena menurut saya rasa solidaritas nggak bisa dinilai dengan harta sebanyak apapun. Saya berpikir, buat apa kita sekolah tinggi-tinggi, kerja dengan jabatan yang bagus, atau punya kolam renang duit seperti paman Gober tapi kita nggak punya hati. Nggak punya rasa empati yang tinggi pada orang-orang disekeliling kita yang mungkin nasibnya nggak sebagus kita. Melihat orang yang berhasil kita bantu tersenyum tulus kearah kita, harganya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harta sebanyak apapun.

Sampai detik ini saya selalu berpikir, Tuhan seringkali menurunkan malaikat penolong dalam wujud yang berbeda. Kalau saya lagi susah, dan tiba-tiba salah satu dari kalian menolong saya. Mungkin tanpa kalian sadari, sebenarnya Tuhan sedang menjadikan kalian salah satu malaikatnya untuk menolong saya. Tuhan menitipkan kado dan pertolongan untuk saya melalui tangan kalian. Begitupun sebaliknya.

Saya teringat sebuah cerita dari salah satu teman saya. Dia bercerita bahwa pernah terjadi kecelakaan di Amerika ditengah-tengah orang banyak. Puluhan pasang mata melihat kejadian itu. Tapi sayangnya nggak ada satupun dari saksi mata yang menelpon 911, karena mereka saling menunggu dan saling beranggapan bahwa pasti ada salah satu dari mereka yang menelpon. Dan pada akhirnya si korban malah meninggal karena kehabisan darah dan karena nggak ada satupun saksi mata yang bertindak. Masing-masing hanya menonton.
Kalau misalkan saat itu satu orang saja berinisiatif untuk menelpon 911, pastilah kemungkinan korban itu bisa selamat.

Saat ini cerita itu masih saja saya ingat. Karena kisah itu real banget di dunia ini. Setiap kali ada kejadian, kebanyakan dari kita justru malah menonton dan menunggu bukannya bertindak. Sebetulnya nggak penting berapa banyak orang yang melihat kejadian itu. Yang terpenting adalah berapa banyak orang yang bisa tergugah hatinya untuk menolong orang yang membutuhkan. Saya berharap kalian salah satunya…

47211_444482934840_793749840_4759418_6900264_n

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *