Saya dan Kamera

Saya menyukai foto. Ya, saya menganggap kalau moment itu nggak bisa diulang. Jadi kalau kita abadikan moment tersebut dalam sebuah gambar, pasti akan mempermudah kita untuk mengingatnya. Saya sadar kalau setiap foto memiliki cerita. Bayangkan saja kalau mata kita adalah sebuah kamera, sudah ada berapa cerita disana. Makanya saya tak pernah lupa membawa camera pocket di tas saya untuk mengabadikan moment-moment yang saya lihat sehari-hari.

Tapi entah sudah berapa lama saya takut kalau difoto seorang diri. Kebanyakan foto-foto baru saya yang sedang sendiri, itu adalah hasil jepretan iseng temen-temen saya ketika saya tidak menyadarinya atau memang karena saya ingin memfoto suatu objek yang berada di dekat saya. Saya bukan hanya takut, tapi saya tidak pede difoto.

Kejadian ini terjadi beberapa waktu yang lalu, saat seseorang yang saya sayangi membanding-bandingkan foto saya dengan foto seorang cewek seumuran saya. Mulai saat itu saya takut difoto sendiri. Kenapa? karena orang itu mulai memperhatikan fisik saya lebih mendetail. Saya kurang inilah, itulah. Mendingan beginilah, begitulah. Saya jadi merasa seperti itik buruk rupa. Masih untung saya agak cuek. Tapi gimana kalau saya sensitif?mungkin saat ini saya sudah operasi plastik seperti michael jackson. Yiiii…hiiii!!!

Saya memang tidak terlalu nyaman diperhatikan sangat detail oleh seseorang karena saya nggak pernah mau berpura-pura jadi orang lain agar terlihat tanpa ‘cacat’. Saya ingin jadi diri saya sendiri. Maaf, saya amat sangat bersyukur dengan fisik saya meskipun saya nggak sekeren Angelina Jolie…hahaha…

Anyway, seorang teman tanpa saya sadari iseng memotret saya ketika saya sedang bersamanya. Padahal sebelumnya saya menolak mentah-mentah ketika saya tahu ia mau memotret saya. Sayang kameranya kalo musti motret cewek jorok dan asal-asalan seperti saya. Wajah saya juga nggak indah. Belum lagi saya nggak fotogenic. Tapi ketika foto-foto itu ia berikan ke saya, ia menuliskan kalimat-kalimat pendek dibawahnya. Membuat saya mulai berpikir… ternyata bukan orang yang difoto yang penting. Tapi MOMENT ketika objek itu difotolah yang menjadikan sebuah foto itu bernilai atau tidak…

Thanks banget buat Mas Iil Prasetio yang sudah berbaik hati memotret makhluk aneh bernama Dyan Nuranindya ini. Untung kameramu nggak rusak habis motret aku mas…mas…ck..ck..ck…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *