Jangan Panggil Saya Penulis

habiburrahman_el_shirazy_022boim-n-his-books022522philman-hariwijaya

golagong_belajar_menulis_01fira-basuki2anggrek7dalberthiene_endah_003

“Eh penulis…”

“Ssssttt… jangan panggil gw kayak gitu. Gue maluuu…”

“Kenapa???”

Berikut adalah sapaan klise teman-teman saya yang selalu saya balas dengan jawaban yang klise juga. Malu.Sudah nggak keitung berapa banyak yang bertanya-tanya kepada saya kenapa saya selalu malu jika dipanggil dengan sebutan ‘penulis’. Untuk menjawab teka-teki itu, dalam postingan kali ini saya akan menjelaskan alasannya kepada kalian.

Kenapa saya jadi seorang penulis?

Hmmm… jangankan kalian. Saya pun heran kenapa saya bisa jadi seorang penulis.

Dari kecil saya suka menggambar dan menyanyi. Bahkan bertahun-tahun saya dimasukan les vokal oleh orang tua saya. Hasilnya? Saya justru jadi penulis. Bukannya menjadi penyanyi seperti Agnes Monica atau Rossa.

Saya juga tidak menjadi penggambar meskipun cukup lama juga saya ikutan kursus menggambar selepas sekolah sewaktu SD.  Lagi-lagi saya malahan jadi penulis.

Tak pernah terbesit sekalipun dalam pikiran saya untuk dapat menerbitkan sebuah novel yang bisa dibaca oleh orang banyak. Apalagi sampai diterbitkan di Singapur dan Malaysia. Itu benar-benar aneh!

Cita-cita saya dari kecil memang sering berubah-ubah dan cukup aneh-aneh menurut saya. Saya pernah bercita-cita ingin menjadi dokter spesialis kejiwaan. Saya juga ingin sekali menjadi pembalap motor. Dan bahkan saya pernah berpikir untuk berprofesi menjadi supir traktor karena papa saya dengan isengnya membelikan saya mainan traktor berwarna kuning waktu saya kecil. Tapi pernahkah saya berpikir untuk menjadi seorang penulis? Jawabannya, tidak.

Dari kecil, saya lebih sering menjadi penikmat buku. Saya selalu menikmati setiap kali saya berimajinasi ketika membaca sebuah buku. Mas Hilman, Mbak Fira  Basuki, Kang Abik, Mas Boim, Mbak Albertiene Endah, Pakde Teguh Esha, Mas Gola Gong, Bunda Helvy dll. Mereka adalah orang-orang yang pada waktu itu sering saya nikmati buku-bukunya. Saya adalah pengagum karya-karya mereka. Saya pun teringat ketika sewaktu SMP saya dengan takutnya meminta tanda tangan Mbak Fira Basuki ketika beliau sedang mengadakan jumpa pengarang disana. Saya juga teringat ketika saya menangis karena salah satu koleksi buku Lupus saya hilang entah kemana.

Semua berawal ketika saya membuka buku harian saya. Dari situ saya berpikir, ternyata saya, kamu, dia, dan mereka punya cerita masing-masing dalam kehidupan ini dan masing-masing punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah. Lalu kenapa kita nggak bertukar cerita?Kenapa banyak diantara kita yang terlalu egois nggak mau menceritakan bagaimana menyelesaikan, mencari, mendapat dan mempertahankan hal-hal yang kita raih kepada orang lain agar orang lain juga bisa maju, bisa berkembang?

Saya memang sengaja memajang foto penulis-penulis Indonesia yang memang saya kagumi (disamping masih banyak lagi penulis hebat lain yang saya baca dan kagumi karya-karya mereka yang tidak bisa saya pajang semua foto-fotonya disini.) karena saya menganggap mereka termasuk pahlawan yang membantu saya untuk berpikir lebih maju. Berpikir bagaimana saya bisa menuangkan ide, pikiran dan pendapat agar saya bisa share ke orang lain seperti yang telah mereka lakukan terhadap saya. Pembaca karya mereka. Dengan satu harapan agar kita bisa berpikir lebih kreatif, cerdas dan maju. Mereka mampu membuat saya yang hanya seorang anak sekolah biasa yang penakut, berani untuk berekspresi dan berani maju untuk berkarya. Dan entah sudah berapa juta orang diluar sana yang juga mengalami perubahan besar karena mereka. Para penulis.

Jadi kenapa saya musti malu jika ada teman saya yang memanggil saya dengan sebutan PENULIS?

Saya malu karena saya merasa belum ada apa-apanya dibandingkan dengan penulis-penulis lain diluar sana (beberapa diantaranya yang saya sebutkan tadi) yang luar biasa hebat dan telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia kepenulisan. Ya, saya merasa belum pantas untuk disebut sebagai seorang penulis jika dibandingkan dengan mereka. Tapi yang jelas, saya merasa terhormat kalau ada diantara teman-teman saya yang memanggil dengan sebutan PENULIS.

Sebuah kejadian yang nggak akan pernah saya lupakan akan saya ceritakan di akhir postingan saya kali ini. Kejadian ini terjadi hanya beberapa bulan setelah novel pertama saya terbit.

Suatu sore saya tengah duduk di pinggir trotoar dengan salah satu teman saya. Kami sedang membicarakan tentang sastra di Indonesia. Di tengah-tengah obrolan kami, saya berkata:

“Tulisan gue ringan banget untuk jadi bacaan. Gue khawatir banget akan terjadi pengkotak-kotakan sastra. jadinya malahan saling menjatuhkan. Padahal kan harapan gue, orang-orang bisa menjadikan toko buku jadi sarana rekreasi yang sangat menarik karena masyarakat punya banyak pilihan bacaan saat ke toko buku.”

Tiba-tiba kami melihat seorang lelaki berpakaian santai, bersandal jepit dan dengan tas selempang di bahu mendekati kami. Teman saya mengenalkan saya dengan lelaki tersebut. Saya memanggilnya dengan sebutan Pak de. Teman saya itu menceritakan kepada lelaki itu, “Dicil ini baru nerbitin novel remaja.”

Kalian tau apa efek dari kalimat teman saya itu? Lelaki tersebut mendadak bersemangat. Ia merangkul saya. Dan sebuah kata-katanya yang keluar dari bibirnya membangkitkan semangat saya, “Bagus kamu menulis. Terus menulis. Jangan sampai putus. Jangan pernah takut berkarya. Anak muda sekarang harus berani berkarya. Berani maju. Saya senang ada anak muda yang berani.”

Terima kasih Tuhan, engkau mempertemukan saya dengan lelaki sederhana yang rendah hati itu yang mau membagi pengalamannya kepada penulis amatiran seperti saya. Ya, saya tidak akan melupakan pertemuan singkat saya dengan Pakde Teguh Esha, Penulis Ali Topan Anak Jalanan yang saya kagumi. Dan Tuhan juga sangat baik memberikan kesempatan kepada saya untuk bertemu, mengobrol, bahkan satu panggung dengan penulis-penulis hebat yang beberapa fotonya saya pajang diatas. Mas Hilman, Mbak Fira  Basuki, Kang Abik, Mas Boim, Mbak Albertiene Endah, Mas Gola Gong, Bunda Helvy TR dll

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *