My Wonderful Life

now browsing by tag

 
 

Lelaki ideal di mata saya adalah titisan Gatot Kaca

20120723-235538.jpg

http://plixi.com/p/39995731

Waktu kecil, kalau ditanya siapa lelaki ideal di mata saya, pasti saya akan langsung menjawab papa.Ya, waktu kecil saya menganggap papa sebagai titisan Gatot Kaca yang sangat sakti. Papa bisa semuanya. Dari mulai urusan masak memasak, main musik, olahraga, benerin mobil, sampai urusan keuangan kantor. Dan yang lebih membuat saya sangat mengiodolakan beliau, papa sangat sayang pada keluarganya. Hal itu saya buktikan melalui ucapan mama dimana mama tak pernah meragukan kesetiaan papa dalam situasi terburuk sekalipun.

Saya pun tumbuh menjadi anak kecil yang sangat manja dan ‘bau keringet’ papa. Yang akan selalu berlindung di balik punggung papa ketika mama memarahi saya.

Penampilan papa juga cukup menarik di mata saya.Tubuhnya tinggi-tegap,hasil dari mantan atlet volly DKI yang masih tersisa. Pakaiannya selalu rapih dan wangi. Membuat saya kecil nyaman duduk di pangkuannya sambil sok-sokan ikut membaca koran yang sedang beliau baca. Padahal jujur saja,saya belum bisa membaca pada waktu itu. Papa juga penyabar. Jarang sekali melihat dia marah.Tutur katanya halus. Mampu meredamkan emosi orang-orang di hadapannya.

Tapi semakin dewasa, saya semakin menyadari kalau papa adalah manusia biasa. Papa bukanlah titisan om Gatot Kaca yang sakti itu. Papa bukanlah super hero. Papa juga punya banyak kekurangan. Dan pastinya pernah melakukan kesalahan. Pada satu ketika beliau memeluk saya di hari ulang tahun saya dengan mata berkaca-kaca, dan mengucapkan sebuah kalimat, ”Maafin papa,dek.” kata maaf yang tak pernah saya tahu maknanya.Karena buat saya,papa tetap sosok lelaki yang saya kagumi.

Pada saat itulah, saya tahu bahwa tak seharusnya saya memasang kriteria berlebih tentang lelaki ideal di mata saya pada sosok papa…

Ketika SMU, saya baru berani yang namanya pacaran. Itu juga karena mencairnya kriteria lelaki ideal di mata saya. Nggak ada patokan khusus mengenai cowok yang menjadi pacar saya. Asalkan saya suka, yaudah suka aja. So, mulailah perjalanan cinta saya *jiaaahh…priikiitieeww!

Cowok-cowok datang dan pergi.. ada yang baik,ada juga yang jahatnya luar biasa.Ada yang alim,ada juga yang begajulan.Ada yang kalem kayak kuburan, ada juga yang terlalu pecicilan sampai bikin pusing.Ada yang hitam dan yang putih. Nggak ada yang mampu membuat orang bisa menebak yang mana tipe cowok saya sebenarnya.Karena semua beda-beda. Berwarna.Pada akhirnya saya begitu lelah dengan warna-warni itu…

”Lo kayaknya musti nyari cowok yang bukan ‘elo’ banget.” begitu kata teman saya suatu hari.
”Gue takut pilih-pilih. Tuhan aja nggak pernah milih-milih sayang sama makhluknya. Kenapa gue harus milih-milih?emang yang Tuhan siapa sih,sebenernya?”
”Hidup itu pilihan kan, Cil.. Lo harus punya kriteria.Ini urusan masa depan lo.Sisa umur lo yang akan lo bagi dengan cowok yang sama.”

Saya jadi berpikir sejenak. Ketika usia saya di atas 25 tahun, memang ternyata tanpa saya sadari, saya punya kriteria sendiri mengenai cowok ideal di mata saya.Yang entah kenapa nggak pernah saya jadikan patokan dalam memilih pasangan. Padahal penting untuk menentukan cowok yang nanti akan menemani saya meminum cappucino hangat di teras rumah sambil menatap langit. Dimana saya akan membaca buku, dan dia akan membaca apapun yang ia sukai di sebelah saya, lalu kami saling bertukar informasi tentang apa yang kami baca. Bercerita banyak hal tentang hari…tentang masa depan…

Saya menyukai cowok yang penyayang. Cowok yang sayang dengan anak kecil itu seksi di mata saya.Mau itu sama adiknya,anaknya,anak tetangga,siapapun. Saya juga menyukai cowok yang tak terlalu banyak bicara tapi sanggup membuat saya yang cerewet ini terdiam ketika sebuah kalimat meluncur dari bibirnya. Dia yang nantinya akan saya berikan ribuan senyuman dan kecupan hangat setiap hari. Dia yang akan saya masakin setiap hari, dan dia yang akan membiarkan saya menangis sejadi-jadinya di pelukannya hanya untuk memastikan kalau everything is gonna be ok…

Ah… sepertinya dia tak pantas lagi disebut cowok. Dia lelaki. Lelaki yang akan memangku anak saya nanti sambil membaca koran. Dan si kecil dengan sok taunya ikut membaca. Lelaki yang akan membuat anak saya berlindung dibalik tubuhnya ketika saya memarahinya, menganggap bahwa papanya adalah om Gatot Kaca.Dia, lelaki ideal di mata saya…

Tapi yang namanya jodoh kan siapa yang tahu?Saya sih lebih cenderung pasrah.Kalo jodoh kan nggak bakalan kemana.Tapi yang jelas, keyakinan saya adalah… semakin kita terpuruk dan patah hati karena orang yang selama ini kita kira jodoh kita, tapi ternyata bukan.Maka anggap saja jodoh kita yang telah dipersiapkan Tuhan itu pasti keren sangat….dia lagi didandanin untuk siap ketemu sama kita….

Jadi ingat kata-kata mama…
“Carilah “partner in life” jangan sekedar “husband”. Yang tahu siapa Tuhannya. Dan cari yang setia, jangan yang tukang main cewek.” That’s it!

Perkenalkan,saya asli Solo

20120723-004440.jpg

Banyak yang heran ketika mereka mengetahui kalau saya orang Jawa asli. Apalagi pas saya bilang kalau saya keturunan Solo. Banyak dari mereka yang langsung pingsan (Maaf.kalau ini saya agak lebay :)). Mungkin karena gaya berbicara saya yang cerewet dan banyak menggunakan bahasa ‘slang’ dalam komunikasi sehari-hari. Selain itu juga karena saya nggak betah diem lama-lama. Pengennya selalu loncat sana-sini, cerita banyak hal, dan tertawa terbahak-bahak.
Percayalah, saya orang Jawa asli. Papa-Mama saya orang Solo. Segaris dari mulai nenek moyang saya. Saya telahir di lingkungan keluarga Solo yang bisa dibilang ‘Solo banget!’. Budaya Jawa begitu melekat di diri saya. Bagaimana saya menghormati orang yang lebih tua, bagaimana saya mempertahankan harga diri sebagai wanita, dan bagaimana saya melakukan rutinitas sehari-hari. Banyak pakem-pakem dari Solo yang masih saya anut meskipun saya tinggal di kota metropolitan Jakarta. Kota dimana wanita terpaksa harus ‘macho’ karena tuntutan lingkungan. Jakarta keras, Sob!

Saya cucu yang bisa dibilang sing pretingsing. Cucu yang banyak maunya, suka aneh-aneh, dan paling ‘asal’ diantara cucu-cucu cewek yang lainnya. Saya yang punya hobi naik gunung, panjat tebing, suka musik-musik death metal yang agak melenceng dari garis seorang putri Solo. Saya pun senang memakai pakaian cowok yang kebesaran di tubuh saya, celana sobek-sobek, segala atribut tengkorak, tertawa terbahak-bahak, cerita panjang-lebar, dan punya kebiasaan buruk ngacak-acak rambut belakang saya ketika sedang grogi atau berpikir keras. Teman-teman saya juga lebih banyak cowok.

Tapi jangan salah, saya sanggup berbahasa Jawa halus (karena itu yang saya lakukan jika berbicara dengan keluarga di Solo), saya bisa menari Jawa, menembang Jawa, dan pengetahuan saya mengenai cerita pewayangan paling enggak, bisa dapet nilai tujuh :). Dan harus saya akui, saya sangat mencintai budaya Jawa dan sangat ingin mendalaminya.

Meskipun bisa dibilang hidup saya sudah sangat ‘kota’ karena 26 tahun tinggal di Jakarta, saya tak pernah melupakan hal-hal penting yang selalu diingatkan oleh mama:
Perempuan harus bisa nrimo. Belajar ikhlas menerima segala sesuatunya (termasuk klo suaminya berwajah pas-pasan?:)). Perempuan itu harus bisa masak (well, meskipun acak-acakan. At least saya tahu bedanya kunyit, garam, dan jahe :)). Harus tahu bagaimana melakukan konsep ‘prihatin’ yang sebenarnya dalam kehidupan (Macam Bapak Presiden, Mah?) dan sebagainya…
Terus terang, lama tinggal di Jakarta membuat saya banyak melihat realita yang terjadi di tengah masyarakat. Khususnya remaja. Pakem-pakem yang ada dari budaya nenek moyang perlahan luntur dimakan jaman. Hanya dengan mengatasnamakan kata ‘modern’. Saya mungkin lebih liberal. Apa yang menurut saya masih masuk akal digunakan saat ini, ya saya gunakan. Kalau enggak, pasti ada perubahan yang jauh lebih baik sebagai penggantinya. Dan pastinya butuh penjelasan yang baik kepada orang tua-orang tua kita yang masih menganut budaya lama.
Dulu, mama saya paling nggak bisa melihat anak perempuannya berteman dengan banyak cowok, pulang larut malam, tertawa terlalu keras, dan paling protes ketika saya memutuskan untuk tidak kerja kantoran di bank selepas kuliah. Karena menurutnya, dari turun temurun keluarga saya tidak membiasakan anak-anaknya seperti itu. Butuh proses yang panjang untuk membuat mama memahami semuanya. Dari mulai memperkenalkan teman-teman cowok saya ke mama, mengajak mama ke kantor saya jika ada kesempatan, dan menunjukan prestasi yang bisa saya capai dengan tidak bekerja kantoran di bank. Dan sekarang, perlahan beliau sudah mulai bisa memahami. Well, kepercayaan itu penting. Dan lebih penting lagi adalah tanggung jawab pada diri kita sendiri untuk nggak menyia-nyiakan kepercayaan itu.

Oiya bicara soal wanita Jawa dari garis keturunan keluarga saya (gak tau ya, apakah di keluarga lain juga sama atau enggak), ada satu hal yang masih saya kagumi dan nyaris membuat saya terheran-heran. Masalah ilmu kebatinan. Dulu masyarakat Jawa menganut keyakinan yang disebut dengan kejawen. Dimana merupakan sebuah alkulturasi antara keyakinan dan agama yang ada saat itu masuk ke wilayah Jawa. Eyang juga dulu menganut kejawen sebelum murni masuk islam. Kejawen berkaitan erat dengan ilmu kebatinan yang *entahbagaimana* masih dimiliki oleh eyang putri sampai saat ini.

Oke, saya akan bercerita sedikit (kalau kalian bosan, silahkan berhenti membaca, key. Kalau masih ‘on’ mariih baca kalimat selanjutnya:) Percaya nggak percaya, eyang putri memiliki batin yang kuat untuk bisa merasakan jika seseorang yang beliau sayangi dalam bahaya. Itu karena kebiasaannya waspada semenjak eyang putri menikah muda dengan eyang kakung yang pada masa itu merupakan seorang priyai di desa. Karena saat itu adalah masa perang, maka eyang kakung adalah tokoh yang lumayan diincar oleh musuh. Sering kali terjadi penjebakan dimana eyang kakung diundang untuk menghadiri berbagai acara yang ternyata adalah strategi musuh untuk menangkap eyang kakung. Dan disitulah peran eyang putri. Beliau mampu merasakan melalui batinnya ketika suaminya dalam bahaya (ini yang namanya cinta,sob! *tsah!). Ketika itu terjadi, eyang putri akan melakukan segenap cara untuk menghambat eyang kakung mendatangi tempat tersebut. Hingga usaha musuh menjebak eyang kakung selalu gagal.

Mama pernah bercerita, ketika jaman perang, rumah eyang kakung sering kali didatangi oleh mata-mata yang ingin memberikan informasi kepada musuh. Waktu itu mama masih sangat kecil. Tapi mama mengingat jelas bagaimana eyang putri dan eyang kakung melindungi keluarga mereka. Ketika batin eyang putri merasakan bahaya, beliau akan berdiam diri, memanjatkan doa kepada Tuhan agar diberikan perlindungan. Pada saat itu banyak yang bilang kalau orang-orang jahat yang ingin mendekati rumah eyang tidak mampu mencapai rumah. Mereka hanya berputar-putar disekeliling kebun kayak orang bingung. Canggih ya? :))

Atau pernah juga mama bercerita ketika situasi desa lagi nggak aman, which dimana-mana suara tembakan. Ketika musuh menyantroni rumah eyang, eyang kakung membawa eyang putri dan mama kecil ke salah satu sudut rumah. Eyang kakung memejamkan mata, meminta perlindungan pada Tuhan, dan…. >>> mama ingat betul apa yang terjadi ketika itu. Musuh mondar-mandir di depan mereka membawa senjata. Tapi amazing…. nggak ada satupun yang bisa melihat eyang kakung, eyang putri, dan mama. Mereka invisible… (aseli,saya mendengarkan mama bercerita seperti sedang menonton sebuah adegan film x-men. Hahaha….).

Pelajaran yang bisa dipetik adalah… yess, keyakinan pada Tuhan itu penting banget untuk melindungi kita di dunia ini. Mama bilang, bahwa apa yang dilakukan eyang itu bukanlah sebuah ilmu, atau kekuatan yang dimiliki seorang manusia. Eyang adalah orang biasa tanpa kelebihan apa-apa. Itu bukanlah sebuah kelebihan. Tapi sebuah kepasrahan luarbiasa yang dilakukan seorang manusia kepada Tuhan. Ya, pasrah pada Tuhan. Eyang sadar betul bahwa keluarganya dalam bahaya. Kekuatannya sebagai manusia tidak bisa untuk melindungi dirinya dan keluarganya, mengalahkan musuh yang jumlahnya banyak dan bersenjata lengkap. Maka, satu-satunya jalan adalah pasrah. Pasrah bahwa hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Bahwa ada kekuatan Maha Dahsyat yang bisa mengalahkan ribuan peluru sekalipun. Yang memberikan keputusan akhir atas apa yang akan terjadi…..

Saat ini, jaman sudah semakin maju. Tapi banyak kebiasaan-kebiasaan dan adat istiadat nenek moyang kita yang masih bisa kita gunakan dan lestarikan. Karena sebenarnya, ada banyak makna dan moral yang bisa kita pelajari dari apa yang dilakukan oleh nenek moyang kita terdahulu…. yeah, everything happens for a reason, rite?

Akhirnya, saya mau bilang…. saya wanita Jawa, asli Solo. Kamu?

My Little Teacher

20120629-205150.jpg

Buat kalian yang follow twitter saya, pasti kalian udah tahu anak tetangga saya yang sering saya masukan fotonya di banyak twit saya.Postingan kali ini saya mau cerita tentang dia…
Mungkin kalau disuruh menyebutkan siapa salah satu orang yang berjasa terhadap naluri keibuan saya,saya akan menjawab dia.Well, secara nggak langsung, dia adalah guru saya.My little teacher…
Dia adalah berkah di keluarganya.Gimana nggak berkah, dia dan kakaknya beda 20 tahun.Ibunya nyaris berusia 50 tahun ketika melahirkan dia.Karena ibu-bapaknya kerja,dan kakak-kakaknya kuliah, sehari-harinya dia lebih sering berada di rumah dengan pembantu rumah tangganya.

Anak itu begitu pintar.Pemikirannya jauh diatas rata-rata anak seusianya yang baru 3 thn.Dia senang bertanya tentang banyak hal secara mendetail.Kalau nggak sabaran, pasti bawaannya emosi nanggepin segala ucapannya.Tapi anehnya, saya seneng-seneng aja menjawab setiap kali dia bertanya apapun sesuka hatinya.
Pagi hari, dengan wajah baru bangun tidur dan piyama yang dikenakannya, dia naik ke kamar saya untuk membangunkan saya yang sedang bermimpi.Dia pasti membuka pintu kamar dan berteriak, “Mbak Dyan Banguuuuun!!!!”
Biasanya saya langsung beranjak dari tempat tidur dan memeluk dia.Dia balas memeluk saya dengan erat sekali.Habis itu saya mengajaknya bermain apapun yang ada di kamar saya.Dan dia mulai bertanya banyak hal…saya suka:)

Sekitar pukul 8 pagi, biasanya saya menyuruhnya mandi.Dia susah sekali disuruh mandi.Biasanya saya akali dengan bilang, “kita main air yuuk”.Sering kali dia meminta saya yang memandikannya.Entahlah.Dia nggak terlalu nyaman dengan pembantu di rumahnya sepertinya.So, jadi saya mengambil pakaian ganti dan peralatan mandi di rumahnya, dan merebus air hangat untuknya.Dia sangat penurut ketika saya memandikan,menyabuni,mengeramasinya.Setelah selesai,saya handuki dia dan saya gendong keluar kamar mandi.Sekarang saya sudah mulai telaten membedakinya dengan talc,minyak telon,mengenakan pempers,kaos dalam,pakaian, dan menyisir rambutnya.Dulu waktu awal-awal justru dia yang mengajari saya bagaimana memasangkan pempers.Dia merebahkan dirinya dan memberikan instruksi pada saya, “ini di tempel sini Mbak Dyan…ini yang ada gambarnya di depan, bla..bla..bla..”

Habis mandi, saya kembali menemaninya bermain.Dia biasanya mengambil mainan di rumah dan membawanya ke rumah saya.Sambil main,saya sering membuatkannya bubur sehingga bisa saya suapi sambil bermain.Setelah perutnya kenyang, biasanya dia minum banyak obat dan vitamin.Sangat menyenangkan karena dia nggak membenci obat:)

Sekitar pukul 10, biasanya dia udah capek.Dia akan meminta gendong saya, menempelkan kepalanya di pundak saya dan bilang, “Mbak Dyan…mau bobo…” maka saya antarkan dia pulang hingga tempat tidur.Dia senang menonton tv hingga terlelap.Sweet-nya, sebelum bobo dia seringkali memeluk saya, mencium pipi saya dan berkata, “Aku sayang Mbak dyan…”

Kalau dia sudah bobo, biasanya saya siap-siap untuk pergi.Saya nggak bisa pergi kalau dia masih bersama saya.Entahlah.Suka nggak tega ninggalinnya.Dia jarang sekali menangis. Kalau sampai menangis,biasanya itu karena hal yang sangat fatal.Pernah satu kali dia menjerit menangis malam hari.Pembantunya datang ke rumah saya dan bilang, “Mbaka dyan,maaf…itu faw kakinya berdarah kena beling.Dia teriak-teriak manggil-manggil Mbak Dyan…” saya langsung cemas ketika itu.Dan benar saja…darah berceceran dimana-mana.

Itulah sekilas cerita tentang anak tetangga saya.Saya begitu sayang dengannya.Mungkin juga karena saya menyukai anak kecil.Tapi secara nggak langsung, dia sudah menjadi guru buat saya.Mengajarkan saya bagaimana bersabar…..bagaimana mengurus anak.Saya meyakini kalau semua orang adalah guru di kehidupan.Semua orang bisa memberikan pelajaran berharga untuk kita. Termasuk seorang anak kecil berusia 3 tahun yang telah menjadi guru bagi cewek cuek nan kece ini hehehe…

Menangislah bila harus menangis

Akhir-akhir ini saya sering sekali menangis. Meskipun saya orang yang sangat melankolis, tapi saya jarang sekali menangis di hadapan orang lain. Mungkin ini karena didikkan mama yang cukup keras sewaktu saya kecil. Mama benci sekali melihat anaknya menangis. Sampai beliau melihat saya menangis, mama akan semakin marah. Atau parahnya meninggalkan saya begitu saja. Sehingga waktu kecil, saya sering kali ngumpet dia atas genteng rumah, di dalam lemari, di bawah kasur, hanya untuk menangis. Tanpa suara pastinya. Dan believe me, rasanya nggak enak.

Bagian leher saya sering sekali bengkak dan merasa sakit ketika saya terlalu banyak menahan tangis. Dan akhirnya saya anggap biasa. Biasanya efek itu akan berlanjut pada kepala pusing luar biasa (dulu mimisan) dan saya hanya bisa mengatasinya dengan mencoba tidur. Efek yang sama ketika saya sedang marah berlebihan dan nggak bisa diluapkan. Saya sadar betul semua keanehan di tubuh saya adalah efek dari emosi yang berlebihan. Ya, semua yang berlebihan memang selalu nggak baik.

Saya juga pernah nggak bisa bangun dari tempat tidur tanpa alasan yang jelas. Yang saya tahu tulang punggung saya sakit dan batuk nggak sembuh-sembuh selama dua minggu. Ketika diperiksa…. jreng…jreng…. analisa dokter adalah…
“Makanya kalau nangis jangan ditahan-tahan. Itu tulang kamu ketarik tuh. Kalau batuknya, mungkin juga karena ingus yang kamu tarik masuk dan menggumpal di dalam.”

Hekk?!? Heran. Bisa gitu ya? Ketika kejadian itu, saya sampai pernah suatu kali bertanya, apakah saya akan mati dengan cara seperti ini? #abaikan.
Dan harus saya bilang, bahwa untuk kesekian kalinya, lagi-lagi Tuhan sedang membolak-balik hati saya. Pedang panjang sedang menghujam ke segala sisi hidup saya. Keluarga, pendidikan, percintaan, pertemanan, keuangan…. nyaris semuanya. Saya heran, biasanya saya punya pelarian yang oke untuk membuat segalanya berjalan seimbang. Misalnya, disaat ada masalah keluarga, saya bisa lari ke pacar. Atau ketika keuangan sedang sekarat, pendidikan saya hantem. Kali ini…. saya capek. Capek semua… semua… semuanya… dan saya tahu ujungnya. Saya sakit 😀

Saya pernah dibawa ke seorang teman yang kebetulan psikiater. Saya diajak ngobrol panjang-lebar. Entah kenapa dihadapannya, saya bisa menangis sampai sesegukkan (aseli ini lebay bgt saya.Malu-maluin sumpah!). Dia bilang, “Kadang elo harus dibuat nggak sadar supaya lo bisa sedikit jahat sama orang. Karena menurut gue, ketika elo sadar, lo bertindak terlalu baik sehingga kadang nggak masuk diakal. Dan itu juga yang pada akhirnya bikin lo mudah untuk disakiti lagi dan lagi…”

Guys, learning dari cerita saya ini adalah…. belajarlah untuk bisa mengungkapkan apa yang kamu rasakan. Kalau perlu nangis, ya nangis aja. Kalau mau marah, ya marah aja. Jangan kayak saya. Asli, sampai detik ini saya masih berusaha belajar gimana caranya melakukan itu. Mungkin saya harus ketemu orang yang rela saya caci maki dan lihat saya nangis kejer buat terapi ahahaha…. mendingan peluk saya aja deh (*jiah) 😛 Dan percaya apa enggak…. leher saya sedang bengkak ketika saya mengetik ini. Saya ingin sekali menangis…. sangat.

Catatan kecil di tempat tidur

20120616-182803.jpg

Kamu tau, cuma perasaan yang bisa bikin kita sakit…”

Ucapan seorang teman pada suatu ketika..Saya teringat ucapannya di motor waktu itu ketika saya terbaring lemah di tempat tidur.Ya, saya sakit saat ini.Saya tahu deadline tesis ini betul-betul membuat semua pikiran dan tubuh saya melupakan banyak hal.Saya lupa makan, lupa berinteraksi, lupa memikirkan hati…saya lupa. Sudah beberapa hari saya ditinggal di rumah sendirian.Mama-Papa pergi ke luar kota.Kakak saya memang sudah nggak tinggal di rumah ini semenjak menikah.Dan saya…sendiri.
Saya tahu kalau suatu saat saya akan tumbang.Bukan hanya karena fokus mengerjakan tesis ini.Tapi kepala saya juga penuh dengan segala macam pikiran.Betul kata dia, tenaga saya sudah terbiasa menghadapi tekanan.Fisik saya cukup kuat untuk bertahan.Tapi memang perasaan yang membuat saya tumbang.

Malam itu saya menangis di kamar saya.Kepala saya pusing, saya habis muntah.Saya tahu ini karena saya lupa makan dan beberapa hari terus menatap layar monitor.Dan saya baru menyadarinya ketika ini terjadi.Sampai saya berpikir,kalau tiba-tiba saya mati hari itu,mungkin butuh berhari-hari sampai mayat saya ditemukan:P
Saya menangis bukan karena tumbangnya fisik saya.Tapi karena saya lagi tertekan.Saya kangen *tutup muka pake tangan*.Entah pantas atau enggak saya mengakui hal itu. Karena saya merasa sedang melakukan self abuse.Karena saya tahu orang yang saya kangenin nggak merasakan hal yang sama.Kalau dia juga merasakan,pasti dia akan mencari saya,atau setidaknya menanyakan keberadaan saya.Tapi saya tahu kalo saya nggak seberharga itu.Saya aja yang ge-er ahahaha…

Malam sebelumnya,saya sangat uring-uringan. Saya kangen,tapi saya cemburu.Saya pengen dia ada di sebelah saya.Saya pengen melihat mukanya dari dekat.Muka nyebelinnya tapi selalu bikin saya ketawa.Muka yang setiap bertatapan selalu saya doakan agar tersenyum.Karena dia terlihat cakep kalo tersenyum.Hey,buat apa saya cemburu?toh dia sudah terbiasa dikelilingi wanita-wanita cantik di luar sana.Memberikan harapan-harapan yang mungkin sama seperti yang dia berikan pada saya.Kalau dia jadi pacar saya,apa saya bisa tenang?Apa jangan-jangan dia cuma pura-pura jadi pacar saya biar memberikan jarak pada wanita-wanita lain?lho,jadinya saya cuma dimainin dong?Trus gimana?trus kenapa?trus…trus…trus…?

Okay, cukup sekian berkhayalnya ya,Dyan.Sekarang dia sedang sibuk membubuhkan tanda tangan pada dada gadis-gadis itu.Saatnya matiin tv.Kepala saya pusing sekali.Demam ini nggak turun-turun.Tapi benar kata teman saya, cuma perasaan yang bisa bikin saya sakit.Ya, saya memang sedang kangen…… Sekian.