My Fiction

now browsing by tag

 
 

Pesan dari seorang besar

Saya terjaga.

Dua orang lelaki berbadan tegap berdiri di hadapan saya.Mengenakan kemeja batik dengan motif sama.Ia menatap saya tajam. Salah satu menyebutkan nama panjang saya dengan jelas, yang saya jawab dengan anggukan kepala.

“Ikut kami.Ada yang ingin bertemu dengan Anda.” ujar salah satu dari mereka sambil memberikan kode agar saya mengikuti mereka.

Saya bangkit dari tempat duduk saya.Sejenak saya memerhatikan pantulan tubuh saya lewat cermin besar yang terpajang disana. Saya mengenakan celana jeans,jaket dengan capuchon, dan sepatu converse andalan saya.Kemudian saya memerhatikan sekeliling.Dimana ini?sepertinya saya nggak mengenal tempat ini.Sebuah rumah kuno yang sangat besar dengan perabotan serba Indonesia. Ada wayang, gamelan, tifa, kain ulos, sasando, dll. Saya seperti berada di sebuah museum.

Di salah satu sudut ruangan, terpajang foto sangsaka merah-putih yang tengah berkibar dengan gagah di puncak Mahameru.

Langkah saya terhenti ketika kedua pria tadi meminta saya berhenti di depan sebuah pintu kayu besar dengan ukiran khas Jepara.Sebuah kalimat pendek terucap di bibir salah satu pria tersebut sebelum ia membukakan pintu kayu tersebut untuk saya..”Waktu kamu lima belas menit.”

Dan….. Gelap.

Pintu dibelakang saya kembali tertutup ketika saya memasuki ruangan tersebut. Ruangan itu agak temaram.Mirip seperti ruang kerja. Dengan banyak sekali foto-foto yang terpajang disana.Di tengah ruangan terdapat sebuah kursi. Dan meja kecil dengan secangkir minuman yang masih panas.Saya tahu dari asap yang masih mengepul dari cangkir tersebut. Hmmm… Cappucino.Ya, itu pasti Cappucino.Saya hafal betul baunya. Karena itu minuman favorit saya.

Sebuah televisi menyala di ruangan tersebut. Bulu kuduk saya berdiri ketika melihat apa yang ditampilkan dalam televisi tersebut. Televisi itu memutar cuplikan-cuplikan wajah-wajah bangsa Indonesia ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya. Wajah seorang atlet Indonesia yang menangis ketika lagu Indonesia Raya berkumandang, getaran suara lagu tersebut yang dinyanyikan oleh lautan manusia di Gelora Bung Karno, anak-anak sekolah yang sedang mengikuti upacara bendera, dan para pendaki gunung yang berhasil menancapkan sangsaka merah-putih di puncak gunung tertinggi di dunia. Semua menyanyikan lagu Indonesia Raya.Dengan khidmad.Bahkan dengan tangan di dada…

Dan di ruangan itu… saya menitikkan air mata…entahlah.

Tiba-tiba saya menyadari kalau saya tidak sendirian di ruangan itu.Ada seorang pria yang sejak tadi mengamati saya. Duduk di kursi merah tak jauh dari sana.Ia melihat gerak-gerik saya yang (kemungkinan) sangat konyol karena kayak orang udik.Saya menengok ke arah pria itu dan sekujur tubuh saya mendadak gemetar bukan main. “Anda….”

Pria tersebut tersenyum hangat. Beliau hanya menganggukkan kepalanya.Seperti tahu apa yang ada di pikiran saya. “Mari duduk.Sudah ada Cappucino di meja.Kamu suka Cappucino, bukan?Santai saja.”

Saya meyakinkan diri kalau ini adalah mimpi.Ini nggak nyata.Mana mungkin saya yang bukan siapa-siapa ini berada di satu ruangan dengan orang seperti beliau?Ini pasti mimpi. Tapi meskipun mimpi, kenapa tubuh saya gemetar hebat?kenapa jatung saya berdetak begitu kencang? Apa kalian tahu siapa pria yang ada di hadapan saya saat ini?
“Pak Presiden, maaf saya….”
“Jangan panggil saya dengan sebutan itu.Saya bukan lagi presiden. Nama saya… Soekarno.”

Saya menatap beliau, memerhatikan senyuman berkharisma dari presiden pertama RI itu. Sosok yang selama ini hanya saya dengar dan baca dari buku-buku sejarah, ada di hadapan saya.Ya, nggak salah lagi, sosok itu sangat berkharisma.Pantas saja beliau begitu dipuja, begitu dikagumi…

“Apa yang ingin kamu tanyakan ke saya?” tanyanya. Lagi-lagi, ia seperti membaca apa yang ada di pikiran saya. “Tanyakan apapun yang ada di kepalamu.Jangan habiskan waktu. Kamu hanya tinggal punya 10 menit untuk bertemu saya.”
“Maaf, apa Bapak sangat sibuk?” pertanyaan bodoh pertama yang keluar dari mulut saya.
Beliau kembali tersenyum. “Saya hanya punya waktu terbatas.Ada jutaan pemuda Indonesia yang harus saya temui. Sebelum semuanya terlambat.”
“Terlambat?”
Pria itu menganggukkan kepalanya.Kemudian dengan lantang ia berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu saat ini akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” ucapnya tegas sambil menunjuk kearah saya.

Saya terdiam. Pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya mengalir deras mendadak hilang seketika di kepala saya.Mungkin saya terlalu kaget, grogi, atau… Takut.

“Tidak usah takut. Saya manusia biasa. Dulu ketika menjadi presiden, saya juga mengalami sakit. Mengalami jatuh terpuruk. Tapi derita saya itu dapat dijadikan sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.”

“Saya bukan takut dengan Bapak… Saya takut dengan diri saya sendiri. Saya takut tidak bisa memberikan apa-apa untuk Bangsa ini. Saat ini banyak teman-teman saya yang putus asa dengan bangsa ini…” ucap saya sambil berpikir keras.Dalam kepala saya sangat random.

“Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun. Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.”

“Permasalahan negara ini banyak sekali, Pak…. ”

“Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong”

Tiba-tiba sebuah pertanyaan spontan keluar dari bibir saya.Mungkin terdengar kurang sopan. “Pak, apa yang ingin Bapak lakukan dengan saya?dengan seluruh pemuda Indonesia?”

Beliau tersenyum hangat.Sesaat menganggukkan kepalanya. “Saya hanya ingin kalian tidak melupakan sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.”

Saya terdiam. Berusaha mencerna maksud perkataan beliau.Tiba-tiba saya teringat sesuatu. “Pak, apakah Bapak tahu yang terjadi dengan bangsa Indonesia saat ini?”

Beliau menganggukkan kepalanya.Senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

“Apakah kamu mengetahui pidato yang pernah saya sampaikan pada 29 Juli 1956 di Semarang?”
Saya menggelengkan kepala.Jujur. Mana saya hafal pidato beliau satu persatu?

Beliau tidak kecewa. Ia tetap tersenyum, kemudian dengan sekali hentakkan, televisi di ruangan tersebut menampilkan beliau sedang berpidato sebagai Presiden Republik Indonesia.

Saya membalikkan badan, menatap ke layar televisi.Menyimak setiap detail kata-kata dalam pidatonya…

“Saudara-saudara, saya pernah ceritakan di negara-negara barat, hal artinya manusia, hal artinya massa, massa.

Bahwa dunia ini dihidupi oleh manusia. Bahwa manusia didunia ini, Saudara-saudara, “basically” – pada dasar dan hakekatnya – adalah sama; tidak beda satu sama lain. Dan oleh karena itu, manusia inilah yang harus diperhatikan. Bahwa massa inilah akhirnya penentu sejarah, “The Makers of History”. Bahwa massa inilah yang tak boleh diabaikan ~ dan bukan saja massa yang hidup di Amerika, atau Canada, atau Italia, atau Jerman, atau Swiss, tetapi massa diseluruh dunia.

Sebagai tadi saya katakan: Bahwa “World Prosperity”, “World Emancipation”, “World Peace”, yaitu kekayaan, kesejahteraan haruslah kekayaan dunia : bahwa emansipasi adalah harus emansipasi dunia; bahwa persaudaraan haruslah persaudaraan dunia ; bahwa perdamaian haruslah perdamaian dunia ; bahwa damai adalah harus perdamaian dunia, berdasarkan atas kekuatan massa ini.

Itu saya gambarkan, saya gambarkan dengan seterang-terangnya. Saya datang di Amerika,- terutama sekali di Amerika – Jerman dan lain-lain dengan membawa rombongan. Rombongan inipun selalu saya katakan : Lihat, lihat , lihat, lihat!! Aku yang diberi kewajiban dan tugas untuk begini : Lihat, lihat, lihat!! – Aku membuat pidato-pidato, aku membuat press-interview, aku memberi penerangan-penerangan; aku yang berbuat, “Ini lho, ini lho Indonesia, ini lho Asia, ini lho Afrika!!”

Saudara-saudara dan rombongan : Buka mata, Buka mata! Buka otak! Buka telinga

Perhatikan, perhatikan keadaan! Perhatikan keadaan dan sedapat mungkin carilah pelajaran dari pada hal hal ini semuanya, agar supaya saudara saudara dapat mempergunakan itu dalam pekerjaan raksasa kita membangun Negara dan Tanah Air.

Apa yang mereka perhatikan, Saudara-saudara? Yang mereka harus perhatikan, bahwa di negara-negara itu – terutama sekali di Amerika Serikat – apa yang saya katakan tempo hari disini ” Hollandsdenken ” tidak ada.
“Hollands denken” itu apa? Saya bertanya kepada seorang Amerika.
Apa “Hollands denken” artinya, berpikir secara Belanda itu apa?
jawabnya tepat Saudara-saudara, “That is thinking penny-wise, proud, and foolish”, katanya.
“Thinking penny-wise, proud and foolish”. Amerika, orang Amerika berkata ini, “Thinking penny-wise” artinya Hitung……..satu sen……..satu sen……..lha ini nanti bisa jadi dua sen apa `ndak?…….. satu sen……..satu sen………

“Thinking penny-wise”………”Proud” : congkak, “Foolish” : bodoh.

Oleh karena akhirnya merugikan dia punya diri sendirilah. Kita itu, Saudara-saudara, 350 tahun dicekoki dengan “Hollands denken” itu. Saudara-saudara, kita 350 tahun ikut-ikutan, lantas menjadi orang yang berpikir “penny-wise, proud and foolish” Yang tidak mempunyai “imagination”, tidak mempunyai konsepsi-konsepsi besar, tidak mempunyai keberanian – Padahal yang kita lihat di negara-negara lain itu, Saudara-saudara, bangsa bangsa yang mempunjai “imagination”, mempunyai fantasi-fantasi besar: mempunyai keberanian ; mempunyai kesediaan menghadapi risiko ; mempunyai dinamika.
Washington Monument, didirikan tahun 1884
George Washington Monument misalnya, tugu nasional Washington di Washington, Saudara-saudara : Masya Allah!!! Itu bukan bikinan tahun ini ; dibikin sudah abad yang lalu, Saudara-saudara. Tingginya! Besarnya! Saya kagum arsiteknya yang mempunyai “imagination” itu, Saudara-saudara.
Bangsa yang tidak mempunyai : imagination” tidak bisa membikin Washington Monument. Bangsa yang tidak mempunyai “imagination”………ya, bikin tugu, ya “rongdepo”, Saudara-saudara. Tugu “rong depo” katanya sudah tinggi, sudah hebat.
“Pennj-wise” tidak ada, Saudara-saudara. Mereka mengerti bahwa kita – atau mereka – jikalau ingin menjadi satu bangsa yang besar, ingin menjadi bangsa yang mempunyai kehendak untuk bekerja, perlu pula mempunyai “imagination”,: “imagination” hebat, Saudara-saudara.

Perlu jembatan? Ya, bikin jembatan……tetapi jangan jembatan yang selalu tiap tiap sepuluh meter dengan cagak. Saudara-saudara, ya , umpamanya kita di sungai Musi…….Tiga hari yang lalu saya ini ditempatnya itu lho Gubernur Sumatera Selatan – Pak Winarno di Palembang – Pak Winarno, hampir hampir saja berkata dengan sombong, menunjukkan kepada saya “ini lho Pak! Jembatan ini sedang dibikin, jembatan yang melintasi Sungai Musi” – Saya diam saja -”Sungai Ogan” – Saya diam saja, sebab saya hitung-hitung cagaknya itu. Lha wong bikin jembatan di Sungai Ogan saja kok cagak-cagakan !!

Kalau bangsa dengan “imagination” zonder cagak, Saudara-saudara !!
Tapi sini beton, tapi situ beton !! Satu jembatan, asal kapal besar bisa berlalu dibawah jembatan itu !! Dan saya melihat di San Fransisco misalnya, jembatan yang demikian itu ; jembatan yang panjangnya empat kilometer, Saudara-saudara ; yang hanya beberapa cagak saja.

Satu jembatan yang tinggi dari permukaan air hingga limapuluhmeter; yang kapal yang terbesar bisa berlayar dibawah jembatan itu. Saja melihat di Annapolis, Saudara-saudara, satu jembatan yang lima kilometer lebih panjangnya, “imagination”, “imagination” “imagination”!!! Ciptaan besar!!!

Jembatan raksasa Golden Gate di San Francisco,sudah berdiri sejak tahun 1937
Kita yang dahulu bisa menciptakan candi-candi besar seperti Borobudur, dan Prambanan, terbuat dari batu yang sampai sekarang belum hancur ; kita telah menjadi satu bangsa yang kecil jiwanya, Saudara-saudara!! Satu bangsa yang sedang dicandra-cengkalakan didalam candra-cengkala jatuhnya Madjapahit, sirna ilang kertaning bumi!! Kertaning bumi hilang, sudah sirna sama sekali. Menjadi satu bangsa yang kecil, satu bangsa tugu “rong depa”.

Candi raksasa Borobudur di Indonesia, sudah berdiri sejak abad 9 Masehi!
Saya tidak berkata berkata bahwa Grand Canyon tidak cantik. Tapi saya berkata : Tiga danau di Flores lebih cantik daripada Grand Canyon. Kita ini, Saudara-saudara, bahan cukup : bahan kecantikan, bahan kekayaan. Bahan kekayaan sebagai tadi saya katakan : “We have only scratched the surface ” – Kita baru `nggaruk diatasnya saja.
Kekayaan alamnya, Masya Allah subhanallahu wa ta’ala, kekayaan alam.

Saja ditanya : Ada besi ditanah-air Tuan? – Ada, sudah ketemu :belum digali. Ya, benar! Arang-batu ada, Nikel ada, Mangan ada, Uranium ada. Percayalah perkataan Pak Presiden. Kita mempunyai Uranium pula.

Kita kaya, kaya, kaya-raya, Saudara-saudara : Berdasarkan atas “imagination”, jiwa besar, lepaskan kita ini dari hal itu, Saudara-saudara.
Gali ! Bekerja! Gali! Bekerja! Dan kita adalah satu tanah air yang paling cantik di dunia

Dan televisi di ruangan tersebut mati. Suasana ruangan kembali temaram. Saya menengok ke belakang. Ternyata beliau telah pergi. Entah kemana.
Saya berjalan menuju meja kecil yang terdapat secangkin Cappucino di atasnya. Secarik kertas bertanda tangan beliau tergeletak di sana.Saya membacanya…

“Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan. Dan minum Cappucino ini selagi hangat.”

Dan saya terbangun.
Lagu Indonesia Raya berkumandang di layar televisi kamar saya.
Kalender dinding menunjukkan tanggal 17 Agustus 2012.

Dirgahayu Indonesiaku.

Nb: Kisah ini hanya fiksi belaka. Kata-kata Soekarno saya ambil dari pidato-pidato beliau di berbagai sumber:)

The Place named ‘Gudang Sembilan”

20120724-214555.jpg

20120724-214602.jpg

Buat kalian yang udah pernah baca novel saya Rock’n roll Onthel, pasti familiar dengan tempat ini. Gudang sembilan. Tempat musisi jempolan adu kebolehan bermain musik:p

Setelah novel Rock’n Roll Onthel terbit, banyak dari pembaca saya yang nanya, ”Gudang Sembilan itu sebenernya ada nggak sih?” saya cuma bisa senyam-senyum aneh menjawab pertanyaan itu. Dan… inilah ide mengenai tempat kece bernama Gudang Sembilan di novel Rock’n Roll Onthel yang bikin penasaran….

Ketika menulis novel Rock’n Roll Onthel, saya telah berkeliling ke banyak tempat-tempat manggung di beberapa kota di Indonesia.Dari mulai panggung kecil di sebuah warung, hingga konser besar dengan ribuan penonton. Dari musik mainstream sampai musik-musik indie yang kadang juga cukup unik di telinga saya. Ha.Ha… Tapi kesemuanya nggak ada yang total mewakili bayangan Gudang Sembilan di benak saya.Tempat untuk para musisi baru dengan membawa musik baru sih banyak. Tempat berkumpulnya anak muda yang mencintai musik juga banyak. Tapi tempat yang ‘pyur’ menjadi ajang ekspresi dan memegang prinsip dasar demokrasi hampir nggak ada di Indonesia.Atau mungkin ada, tapi saya nggak sempat lihat hehe…

So, here we go, Gudang Sembilan yang ada di benak saya.

Pernah dengar yang namanya CBGB? CBGB adalah nama sebuah klub di kawasan Bowery, New York yang telah berdiri selama 32 tahun sebelum akhirnya terpaksa harus ditutup pada tahun 2005 (kalo nggak salah). CGBG adalah singkatan dari ‘Country,Blues Grass, dan Blues’. (Jangan terpatok pada namanya ya..genk!) Dari luar, klub itu terlihat sepi dan ngebosenin karena bentuknya mirip bangunan tua tanpa plang nama berlampu yang biasa ada pada klub-klub pada umumnya. Katanya, dulu gedung itu adalah komplek perumahan bagi imigran yang datang ke New York pada abad ke 19.

Tapi tetap aja para peminat musik dari seluruh dunia beramai-ramai datang ke klub itu. Ya, CBGB pernah dianggap sebagai kiblat musik dunia. Dan untuk orang-orang yang pernah datang ke tempat itu, CBGB adalah tempat lahirnya musik-musik baru, khususnya musik punk. Namun tahun 2005, CBGB tidak mungkin lagi menjadi tempat revolusi musik karena pemiliknya terbelit hutang hasil dari tunggakan sewanya yang belum dibayar secara lunas sejak tahun 1993.Padahal banyak band-band yang lahir dari CBGB seperti The Ramones, Public Enemy, Beastie Boys, House of pain. Dan pada dekade berikutnya tahun 90-an sampai 2000-an CBGB juga melahirkan band-band keren lainnya yang jauh dari mainstream. Seperti Warhols, Helmet, dan The Killers yang diberikan kesempatan untuk pertama kalinya menampilkan kebolehan mereka. Sebelum akhirnya musik mereka bisa sampai ke dalam iPod saya hueee…

Yang keren dari keberadaan CBGB, kerjasama antara musisi, media, dan berbagai elemen untuk mengembangkan musik-musik baru di Amerika jempolan banget. Beda banget deh sama di Indonesia yang masih seret kalau ada musik-musik yang agak keluar dari jalur mainstream (tau sendiri distribusi album indie di Indonesia kayak gmana). Ekspos media terhadap CBGB pada akhirnya juga membawa perhatian industri musik terhadap band-band dengan warna musik baru. Setelah mengorbitkan The Ramones, industri dan media di Inggris jadi ikut-ikutan Amrik memperhatikan band-band punk lokal Inggris seperti Sex Pistols dkk. Bahkan pada akhirnya di Inggris, musik punk berkembang menjadi sebuah fenomena kultural.

Itu dia sekilas tentang klub bernama CBGB, yang menjadi inspirasi saya membangun tempat bernama Gudang Sembilan di novel Rock’n Roll Onthel. Okay, memang ada sebuah tempat yang mirip banget dengan Gudang Sembilan di benak saya. Namanya udah pasti bukan Gudang Sembilan. Tapi konsep yang dibawa cukup mirip.Saya cuma bisa berdoa semoga tempat-tempat seperti ‘Gudang Sembilan’ nggak selalu berakhir seperti klub legendaris CBGB. Karena nggak ada batasan dalam berkarya, kan… asalkan nggak rusuh, saya rasa tempat kayak gitu bakalan jadi tempat alternatif hiburan yang asik buat yang suka musik….keep Rockin!

20120724-214613.jpg

20120724-214618.jpg

Berlari untuk Entah…

Kantung plastik berisi makanan itu tergeletak begitu saja di meja.Saya tutupi dengan kain agar nggak terlalu terlihat.Setidaknya oleh mata saya.Karena saya tak mau mengingat itu…

Hari itu hujan. Aroma tanah basah tercium jelas di hidung saya.Kekawatiran menyelimuti diri saya.Bukan karena hujan.Tapi karena dia. Dia mengabari saya kalau sedang tidak enak badan. Segala deadline yang harus saya selesaikan minggu ini mendadak buyar.Saya mulai nggak fokus.Gambling antara menyamperi dia atau menyelesaikan deadline ini dulu.Deadline ini juga nggak kalah penting, merupakan pertaruhan masa depan saya.Pijakan terakhir saya.
Saya melihat jam di dinding kamar. Butuh waktu yang lama untuk datang ke rumahnya.Dan lagi-lagi, hari itu hujan…

Ternyata perasaan kawatir dan kangen saya lebih dominan.Berbekal jaket tebal, dan syal. Saya mampir ke mini market terdekat.Membeli makanan sehat untuk dibawa ke tempatnya.Dia suka lupa makan hingga larut malam.Jadi saya beli lumayan banyak.Supaya setidaknya dia bisa menyimpan makanan untuk ganjel perut.

Hari sudah malam.Saya nekat naik bus ke tempatnya.Kebetulan masih ada angkot yang lewat jam segini.Kantong plastik di tangan, saya pegang kuat-kuat.Saya gulung atasnya agar isinya tak kena air hujan.Badan saya agak menggigil karena udara malam.Kulit saya yang tipis memang selalu begitu.Tapi nggak apa-apa.Karena saya tahu apa yang saya lakukan.Saya berlari menuju ketenangan,menuju kebahagiaan. Bertemu dia adalah adalah kebahagiaan.Setidaknya kekawatiran saya akan kondisinya bisa berkurang.Saya hafal betul wajahnya jika sakit.Aneh.Aneh karena dia terbiasa terlihat baik-baik saja.Dan saya nggak suka melihat dia aneh.

Jaket hitam saya lembab.Mungkin karena air hujan yang sempat mengguyur tubuh saya ketika saya mengejar angkot.Rambut saya juga basah.Dekil.Tapi saya betul-betul nggak perduli. Kalau boleh meminta,ingin sekali saya memeluknya nanti.Supaya hawa dingin di tubuh saya bisa bercampur dengan hawa panas tubuhya.Dan semua akan baik-baik saja….

Saya turun tepat di belokan rumahnya. Saya sempat menghela nafas panjang.Jantung saya berdetak lebih cepat.Sebentar lagi rasa kawatir, kangen, dan semuanya akan terbayar sudah. Mudah-mudahan dia sedang di rumah.Saya sengaja nggak meneleponnya dulu. Karena dia suka bohong kalau sakit. Saya tahu dia tak mau saya khawatir berlebihan.Jadi kadang ia suka bilang tak ada di rumah.

Hingga saya telah berdiri di depan rumahnya. Tapi sebelumnya, saya begitu haus. Saya membeli minuman di warung yang tak jauh dari rumahnya. Saya membeli teh botol nggak dingin.Aneh rasanya.Karena teh botol seharusnya dingin.Begitu menurut saya.Tapi tubuh ini udah betul-betul kedinginan.

Saya mengambil HP di tas, kemudian membuka contact. Saya mencari nama dia.Dan ketika saya ingin menekan nama di layar…..

Saya melihat dia keluar dari rumah. Saya tersenyum dari kejauhan. Ah…betapa saya kangen dengan sosok itu. Baru saja saya ingin berteriak memanggil namanya. Tapi tiba-tiba, sesuatu menahan saya.Entah energi apa itu. Tapi ia tak lagi sendiri di sana. Ada seorang wanita bersamanya.Dan mereka tampak begitu mesra.Saya melihat jelas kemesraan itu. Entahlah…saya tidak bisa lagi berpikir jernih.Yang saya tahu, wanita itu diajaknya masuk ke dalam rumahnya.Tubuh saya mendadak lemas.Ada dorongan kuat yang menahan saya agar tidak usah datang ke rumahnya.Tidak seharusnya saya berada disana.

“Pak, saya numpang duduk di sini sebentar, ya…” ucap saya pada penjaga warung yang terlihat aneh dengan sikap saya.
“Kenapa, Mbak?”
“Nggak apa-apa, Pak.Kepala saya agak pusing.Mungkin tadi sempet keujanan kayaknya.”jawab saya sambil tersenyum ke arahnya.

Beberapa menit,keputusan itu diambil.Saya berlari menerobos hujan.Saya tak perduli.Pokoknya saya ingin berlari.Berlari untuk….entah. Saya merasa Tuhan begitu baik saat itu.Ia menurunkan hujan sebagai perisai air mata saya yang mengalir deras.

Untung masih ada sisa pikiran yang normal pada saat itu. Dengan basah kuyup, saya kembali ke rumah.Dengan kantung plastik berisi makanan yang tadinya ingin saya berikan padanya.Jemari saya kaku karena sejak tadi memegang kantung plastik tersebut terlalu kuat.

Dan malam itu…
Saya terbaring lemas di tempat tidur.Badan saya meriang.Suhu tubuh saya mulai panas.Weekend yang seharusnya menyenangkan menjadi tidak berasa.Bukan hanya fisik saya yang di hantam.Tapi hati saya pun juga.Rahasia ini saya simpan rapat-rapat….hanya saya, penjaga warung, dan hujan yang tahu….Ah sudahlah…jadinya saya yang ikut-ikutan sakit.

Seven Days

20120515-154207.jpg

Saya pikir saya mati rasa. Begitulah yang saya rasakan ketika berencana menulis novel cinta layaknya novel pertama dan kedua saya.Semua seperti datar-datar saja.Nggak ada perasaan menggebu-gebu,nggak ada emosi,ataupun rasa bahagia.Semuanya ‘lempeng’.Mungkin ini yang namanya mati rasa.Terlau banyak luka,terlalu banyak sakit di hati saya.Sehingga yaah… datar-datar aja ngadepin semuanya.

Hingga tiba-tiba pikiran absurd itu muncul. “Gimana kalau gue jadi volunteer di sasana tinju untuk jadi target latihan pukulan?Atau gimana kalau saya buka lagi lembaran-lembaran luka dengan mantan pacar saya?atau… Bisakah saya membayar seorang cowok hanya untuk pacaran dengan saya?”

Semua itu hanya untuk satu tujuan.Saya ingin hati saya bekerja dengan baik.Saya ingin merasakan sesuatu dengan lebih ‘dalem’ jangan ‘ lempeng’ aja.

Hingga ketika saya merebahkan diri, saya melihat dia ada disana. Berdiri dihadapan saya dengan berkata, “Gue mau jadi pacar lo.”
Saya kaget bukan main.Kenapa cowok ini tiba-tiba dengan sukarela mau jadi pacar saya? Saya bertanya, “Kenapa?”
“Karena gue pengen menolong elo”
“Apa perlu gue bayar?”
Dia langsung menggelengkan kepalanya.”Gue tulus mau nolong elo.”

Oke,ketika sebuah kesepakatan terjadi dengan serbagai embel-embel rules yang mengikat,dia menarik saya memasuki dunia cintanya yang begitu sempurna.Dia bebaskan saya tertawa,berlari,atau bercerita sesuka saya.Dia perlakukan saya dengan sangatindah.Bahkan terlalu indah sampai kata terima kasih pun tak cukup jika dibandingkan dengan apa yang dia lakukan untuk saya. Ya, saya jatuh cinta dengan dia yang ~entah datang dari mana~ menjadi pacar saya untuk tujuh hari ke depan.

Tujuh hari begitu penuh cerita. Tujuh hari begitu penuh rasa. Ia menggenggam tangan kecil saya.Menggoyang-goyangkannya ke depan dan ke belakang menyusuri jalanan malam ibukota yang penuh lampu-lampu indah. Saya menarik tangannya tiba-tiba untuk mengajaknya berlari menyeberangi jalan.Dia terkejut,sedikit mengeluh karena lelah,namun dia tersenyum aneh kemudian. Dan saya hanya bisa tertawa lebar melihat ekspresinya yang begitu lucu.

Dengan sekali kedipan mata, kami tiba di tempat yang berbeda. Bukan di jalan malam ibukota. Tapi di sebuah arena bermain yang begitu luas. Ada badut-badut,ada musik-musik,orang-orang menari,tertawa,saling bergandengan,bersuka ria.Kami ada di sana dan ikut bahagia.Mereka menyambut dan menarik kami kedalam arena mereka, dan kami pun bersenang-senang. Dari kejauhan saya melihat sepasang patung kelinci raksasa sedang menatap kami. Tersenyum.

Senja berubah menjadi malam. Ia menggenggam tangan saya. Kali ini kami berlari bersama. Kami berlari sekencang-kencangnya menuju titik paling ujung di jalan itu. Dengan nafas beradu,langkah kaki cepat, dan semua mata ingin tahu yang berada di sepanjang jalan yang kami lalui, kami tertawa lebar.

Saya melihat ia menjentikkan jari. Dan kami kembali berada di tempat yang berbeda, Bukan sebuah jalanaan ibukota, bukan pula sebuah arena bermain yang mengasyikan. Tapi kami berada di sebuah ruangan kecil yang entah berada dimana. Ketika tersadar,saya melihat dia tepat di depan saya.Tersenyum indah seperti biasa. Jantung saya berdetak cepat. Tiba-tiba ia menarik tubuh saya, merengkuhnya.Saya hanyut kedalam sensasi wangi tubuhnya.Saya bisa merasakan detak jantungnya yang seirama. Dan disanalah semuanya terjadi. Ia mencium saya. Membawa saya berfantasi.Semua begitu nyaman.Begitu dalam. Semakin lama semakin dalam dan kami terhanyut. Saya rasa ini sayang… kamu?

Tik…tik…tik…

Sebuah suara membuyarkan sensasi itu. Saya tak menyadari kalau sudah cukup lama ia memeluk tubuh saya, menghujani saya dengan ciumannya yang memabukkan.Tiba-tiba sebuah ketakutan menyertai saya.Memenuhi hampir seluruh aliran darah saya. Saya terdiam menatapnya. Membuatnya sedikit bingung.
“Ada suara detiknya…” ucap saya.
“Kenapa?” jawabnya.
Saya melirik pada kalender di dinding. Hari minggu. Ya, ini hari minggu.Tepat tujuh hari saya bersamanya.Tepat tujuh hari ia menjadi pacar saya. Itu tandanya…
“Waktunya….” saya kembali berkata cemas.
Ia menyadari apa yang sedang terjadi. Tiba-tiba tangannya menggapai jam di meja dan menghantamnya sekuat tenaga tanpa mampu saya halangi. PRANG!!!

“JANGAAANN!!!”

Blup!

Saya membuka mata saya perlahan. Kening saya berkerut. Saya menatap sekeliling, mencari-cari dia. Tapi dia tak ada di sana. Ah, ternyata saya hanya bermimpi. Mimpi yang terlalu indah di siang bolong. Dia hanyalah sebuah ilusi yang memberikan sensasi tersendiri dalam mimpi saya. Dia tak nyata.Bahkan kami belum sempat mengetahui nama kami masing-masing.Ah itu tak perlu.

Saya beranjak menuju meja di sudut ruangan, membuka laptop, dan mulai menulis… Ya, mimpi itu memberikan mood yang sangat bagus untuk saya menulis.Membuat perasaan saya mulai bekerja dengan sangat baik. Saya mampu merasakan sesuatu. Saya nggak mati rasa. Saya menulis dulu ya, teman-teman…. 😀