Posted by admin on Jun 22, 2010 in
Uncategorized

REST IN PEACE X-BANNER
November 2009 - Juni 2010
Saya terjaga ketika suara Papa membangunkan saya dengan sebuah kalimat, “Dek, Banner mati..” tanpa mengulet ataupun duduk terlebih dahulu, saya langsung bergegas menuju rumah kelinci saya, X-Banner. Dan saya terpaku melihat kelinci kesayangan saya ketika itu. Ia terbujur kaku dengan mata terbuka. Ya, Banner telah mati….
Mungkin memang sudah waktunya dia harus pergi. Padahal sebulan sebelumnya ia sempat sakit parah, sampai-sampai setiap malam saya dan keluarga harus mengelus-ngelus tubuhnya karena ia kejang-kejang. Kami juga harus menyuntik tubuhnya ke dokter hewan untuk menangkal virus jahat yang menyiksanya. Dokter bilang ia terkena scabies dan sudah sangat fatal. Setiap kali ia kejang, saya selalu mengelus tubuhnya sambil berkata, “Banner, tahan ya sayang….”
Ia berhasil bertahan untuk hidup melawan penyakitnya. Bahkan tubuhnya sudah kembali gemuk. Tapi entah apa penyebabnya, pagi itu Tuhan mengambilnya. My Lovely X-Banner. Bahkan saya pun tidak melihat gejalanya. Tiba-tiba saja ia telah terbujur kaku di rumahnya meninggalkan saya dan si’item’, kelinci perempuan yang kakak saya beli untuk dijadikan pasangannya. Rest In Peace My dear X-Banner…
Berikut adalah si ‘item’, pacar X-banner yang sedang berduka dan saya hibur dengan memberikannya beberapa boneka untuk bermain….
Tags: My Craziest Things
Posted by admin on Dec 28, 2009 in
Uncategorized

Perkenalkaan kelinci baru sayaaa…. X-BANNER!!!
Huahaha… nama yang aneh untuk seekor kelinci. Sebelumnya saya mau cerita dulu asal muasal si banner.
Jadi ceritanya, waktu itu kantor saya membeli seekor kelinci untuk keperluan pemotretan untuk sebuah event. Rencananya hasil foto itu nanti akan diedit untuk digunakan sebagai materi publikasi (id card, X-banner, dll) karena untuk materi publikasi tersebut kita butuh foto yang high resolution. Nah, setelah sesi foto berakhir, terjadi percakapan sadis diantara teman-teman:
teman 1: “Kita masukin gudang aja, nggak usah dikasih makan biar mati pelan-pelan. Habis siapa yang mau ngurus?”
teman 2: “Kita potong aja. Bikin sate kelinci.”
teman 3: “Udah, taro aja di kurungan. Di diemin juga lama-lama mati”
teman 4: “Dilepas aja. Ntar juga paling ilang atau ketabrak mobil.”
Mendengar komentar-komentar sadis dari teman-teman, tanpa ragu saya pun langsung berkata, “NGGAK! MENDINGAN GUE BAWA PULANG!” padahal dalam hati saya sempet ragu juga. Saya kan ngekos. Kalau saya pergi kerja, siapa yang ngurus? Tapi saya nggak perduli. Yang penting kelinci itu harus saya bawa pulang!
Okay, sebelum saya bawa pulang, saya mencari kardus bekas di gudang kantor saya. Kemudian saya buatin kelinci itu rumah-rumahan biar dia lebih nyaman. Setelah itu saya telpon mama…
saya : “Mah, aku punya hadiah untuk mama. Ada yang bisa ngambil nggak, di kosan aku?”
Besoknya, si X-banner dibawa mama ke rumah. Setidaknya saya lebih lega karena kelinci itu ada yang bisa mengurus karena mama saya selalu berada di rumah. Awalnya saya agak khawatir juga sih, karena dirumah saya ada 16 ekor kucing. Gimana kalo si X-banner malahan jadi santapan kucing-kucing saya???
Tapi ternyata perkiraan saya salah. Karena terjadi persahabatan yang sedikit aneh menurut saya….hahaha…



Tags: My Craziest Things
Posted by admin on Nov 29, 2009 in
Uncategorized

Hujan lagi. Sudah lama sekali saya tidak menikmati hujan. Ini terjadi karena banyak aktivitas saya yang berada di dalam ruangan sehingga jarang sekali saya merasakan titik-titik air membasahi tubuh saya.
Saya bukan penyuka hujan. Kulit saya yang tipis dan tak pernah kuat dengan hawa dingin selalu gemetar jika musin hujan tiba. Tapi entah kenapa, saya selalu senang berlari menerobos hujan, membiarkan sekujur tubuh saya basah kuyup. Hingga sampai pada satu titik dimana saya tertawa bahagia dan bangga telah berhasil menerobos hujan. Saya mencintai sensasi itu.
Itu bukan pelarian. Itu sebuah harapan. Sebuah keberanian untuk menghadapi rintangan dalam waktu cepat. Saya ingat moment-moment ketika saya nekat berlari menerobos hujan. Salah satunya ketika saya mengetahui orang yang saya sayangi membohongi saya, ketika saya mencintai orang yang salah dan ketika saya diperlakukan tidak adil oleh orang-orang. Ya, ketika hati saya luar biasa sakit. Mungkin hujan adalah perisai terhebat untuk menutupi betapa sakitnya saya, betapa marahnya saya dan saya biarkan air mata saya bercampur dengan air hujan.
Tapi tak selamanya begitu. Saya juga pernah berlari menerobos hujan dengan bahagia. Ya, ketika saya jatuh cinta, ketika saya bersyukur dengan kehidupan saya, dan ketika saya berhasil mendapatkan apa yang saya impikan. Saya berlari menerobos hujan.
Seperti sore ini. Saya terjebak disebuah warung karena hujan lebat. Badan saya sudah mulai menggigil kedinginan. Tapi saya tak perduli. Saya melangkahkan kaki saya, mengatur nafas, tersenyum dan…. saya mulai berlari. Oh Tuhan, saya rindu sensasi ini. Saya rindu merasakan detak jantung saya yang berdenyut kencang. Guyuran hujan, cipratan air akibat langkah kaki saya, tidak ada orang, tidak ada mata yang melihat…. saya begitu bahagia. Mungkin ini scene terbaik dalam film saya. Mungkin ini capture terbaik dalam foto saya. Mungkin ini saat dimana nanti “dia”, ada di ujung jalan menanti saya. Ya, dia ada disana. The Gift. Someone yang nantinya akan bersama saya… Yes, Im The rainy girl.
Tags: My Craziest Things
Posted by admin on Nov 26, 2009 in
Uncategorized


-Membuat orang-orangan dari lilin-
Tags: My Craziest Things
Posted by admin on Mar 27, 2009 in
Uncategorized
Baru-baru ini saya senang membaca buku-buku tentang sejarah yang berhubungan dengan perjuangan kaum wanita. R.A Kartini, Cut Nyak Dien, Anne Frank dan Mother Theresa. Saat tangan saya menutup lembar terakhir buku tersebut, pikiran saya langsung menerawang jauh kedalam diri saya. Pernah tidak ya, saya mengalami diskriminasi gender selama saya hidup? Masih adakah diskriminasi di dunia ini?

Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang beberapa waktu belakangan ini sempat berputar-putar di pikiran saya. Dulu sebelum seorang wanita asal Jepara yang terkenal dengan nama Raden Ajeng Kartini muncul, derajat kaum wanita Indonesia dianggap selalu berada di bawah kaum lelaki. Hal tersebut dapat terlihat dari segi pendidikan, pekerjaan, bahkan hak untuk memilih pasangan hidup. Image perempuan yang selalu berada di dapur melekat kuat di hampir seluruh masyarakat Indonesia. Saya yang terlahir di lingkungan keluarga Jawa asli (solo) juga amat kental dengan image tersebut.
Tapi jaman sekarang apakah diskriminasi gender masih ada? Melihat saat ini bukan tidak mungkin seorang supir taksi adalah seorang wanita, kenek metro mini, seorang buruh bangunan juga seorang wanita, bahkan seorang pimpinan pun seorang wanita. Saya lebih setuju kalau saat ini bukanlah diskriminasi gender yang mendominasi. Tapi justru diskriminasi orang jelek! Bukannya saya sirik dengan para wanita-wanita cantik di luar sana karena menurut saya kecantikan menjadi sangatlah relatif melihat semakin maraknya ahli-ahli kecantikan dan kosmetik-kosmetik yang dapat dengan mudah merubah penampilan seseorang hanya dalam waktu singkat.
Diskriminasi orang jelek? Rasanya aneh mendengar kata tersebut. Tapi jujur saja saya mengalaminya sendiri haha… Saya amat sangat bersyukur dengan fisik yang saya miliki saat ini. Meskipun saya memiliki kulit kecokelatan, postur tubuh pendek dan bentuk badan yang sangat jauh dibandingkan dengan para model di catwalk. Tapi setidaknya saya terlahir normal. Memiliki mata, hidung, mulut, telinga, tangan, kaki, dan semua anggota tubuh yang terdapat pada manusia normal. Dan saya bersyukur.
Tapi dulu sangat sulit bagi saya untuk bisa ‘dianggap’ di lingkungan saya secara lebih manusiawi. Saya selalu dianggap remeh dan ‘kecil’. Saya harus bekerja ekstra keras. Saya harus melakukan sesuatu yang luar biasa untuk bisa sedikit dianggap. Berbeda sekali dengan perempuan-perempuan yang ditakdirkan memiliki fisik sempurna, putih, cantik dan kaya meskipun kami sama-sama manusia. Hanya dengan jentikkan tindakkan baik, mereka akan dianggap telah melakukan tindakan yang super duper baik. Sangat diskriminatif. Tapi justru hal tesebut yang membuat otak saya terus-menerus bekerja untuk membuat sesuatu yang lebih kreatif dan luar biasa dengan modal seadanya. Saya lebih bisa menghargai diri saya sendiri dan memahami arti kerja keras. Saya tak mau terus menjadi looser. Saya harus jadi winner.
Saya sering berpikir bahwa sebagian besar orang yang dianggap looser lebih dikarenakan oleh faktor lingkungan yang memaksanya menjadi sosok seperti itu. Mana mungkin ada seseorang yang mau dirinya dianggap looser. Saya berteman dengan banyak orang-orang seperti itu. Beberapa diantara mereka malah berperilaku semakin aneh, rela dijadikan bahan tertawaan hanya untuk membuat dirinya dianggap di lingkungannya. Kecuali jika memang profesi mereka adalah seorang komedian. Itu lain ceritanya.
Sebagai seseorang yang pernah merasakan hal yang sama, saya mati-matian berkata bahwa mereka harus belajar menganggap diri mereka jauh lebih berharga. Dan orang-orang itu tak berhak memperlakukan mereka seperti itu. Segala sesuatu bisa terjadi jika kita dapat menggenggam dunia kita sendiri dan jangan pernah membiarkan orang lain menguasai diri kita, merebut dunia dari genggaman kita. Jangan mau jadi korban diskriminasi fisik. Karena… kita semua adalah spesial. Dan setiap orang berhak untuk menjadi pemenang.
Tags: My Craziest Things