My Comment

now browsing by tag

 
 

Ini soal tanggung jawab

Seorang teman menelepon saya hari itu.Perasaan heran langsung muncul di pikiran saya.Tumben banget dia nelpon?ade apee dunia?telepon itulah yang akhirnya membuat saya berada di tempat ini.Di atap kos-kosan teman saya. Saya memandangi cowok di sebelah saya heran.Tubuhnya terlihat lebih kurus. Sejak saya tiba, dia udah nangkring di atap kosannya, menghabiskan berpuntung-puntung rokok, dan menegak sebotol vodka.Pandangannya menerawang jauh.
“Yaelah, masih gini-gini aja lo!” sapa saya sambil membawa secangkir cofemix yang saya beli di warung sebelah.
Dia cuma nyengir.Sambil kembali menghisap rokoknya dalam-dalam.

Pathetic.Itu yang bisa saya ucapkan dalam hati ketika melihat teman saya itu. Sosok yang dulu begitu diidolakan banyak orang karena kecanggihannya bermain gitar,sosok yang dulu begitu sombong karena kecerdasan otaknya, digilai perempuan,dan doyan mem-bully karena kekuasaannya di sekolah.Tapi sekarang… Nothing.Semua korban-korbannya seakan membalaskan semua dendam padanya.Tertawa-tawa karena kondisinya saat ini yang…..nothing.

“Cariin gue kerja, Chiel.”
“Lha, kerjaan lo?”
“Kerja tetap maksud gue.Bukan kerja serabutan.”
Saya menghela nafas panjang.Kemudian menatapnya. “Kenapa?”
Dia menegak minumannya. Kemudian berjalan ke sudut atap.
Dalam hati saya mulai berguman, ‘duh! Kalau sampai teman saya begini,berarti masalahnya berat banget.’
“Cewek gue hamil,Chiel. Anak gue.”
Kaget.Sekaget-kagetnya. Tapi semua ekspresi saya tahan sebisa mungkin.Saya cuma diam.
“Gue salah. Biasalah, kebawa pergaulan anak mude jaman sekarang”
Dengan intonasi yang datar, saya bertanya, “Trus?Lo maunya gimana?”
“Gue akan tanggung jawablah.Gue dan cewek gue udah ngomong sama bokap-nyokap gue…”

Dalam hati saya amat sangat respect dengan keputusan yang diambil teman saya.Itu yang namanya lelaki.Dia bukan cowok bajingan yang ninggalin ceweknya, lepas tanggung jawab setelah tahu ceweknya hamil. Dan butuh keberanian luar biasa untuk mengakui semuanya.Itu yang saya salut dari dia.Meskipun nggak bisa dibenarkan juga perilaku “ngehamilin’ anak orang sebelum nikah.Gimana kalau jadi orang tuanya, pasti shock sampe ubun2.But anyway, itu pilihannya dia kan booo…ngapain saya ikut campur hidupnya die.Macem hidup saya bener aja ahaha… Hush!

“Hidup lo sempurna banget ya, Chiel..” ujarnya tiba-tiba.Bikin saya kaget sekaligus heran.
“Yassalaaam!!! kalo hidup gue sempurna, gue nggak mungkin ada di sini cuma untuk liatin elo mabok.Gue pasti udah naik ferari dan jalan-jalan ke Raja Ampat.Huahaha…” jawab saya.

Tapi dia diam saja.Kayaknya dia lagi nggak mau bercanda. “Menurut gue, semua orang punya kesempurnaan masing-masing dalam hidup.Yang penting tuh bersyukur.Kesempurnaan itu dinilai dari seberapa banyak kita mensyukuri hidup kita.Yakanyakan?”
“Tapi hidup lo rapih, Chiel. Ya..meskipun kelakuan lo rada sableng.” Dia nyengir sesaat.Kemudian kembali menghisap rokoknya.
“Ah.. lo gak tau aja klo hidup gue berantakan juga kayak muke lo!” jawab saya sambil cengengesan.
“Gw salah banget, Chiel.”
“Udah deeeh, nggak usah nyalahin diri lo mulu.Ini udah kejadian gitu.Pertama,elo udah ngaku salah.Kedua,elo udah tanggung jawab.Ketiga,lo udah mikirin masa depan buat elo dan keluarga baru lo nanti.Nah, tinggal elo melakukan tugas lo dengan baik sebagai kepala keluarga nanti sebagai bentuk menebusan dosa lo.Dan ini…musti berhenti ini…”ujar saya sambil mengambil botol minumannya.

Saya menatap teman saya. Saya tahu dia bandel amit-amit dari jaman dia sekolah dulu.Rusuh, asal, berantakan. Tapi hey… Malam ini saya melihat sebuah kedewasaan didirinya.Saya bukan orang tua dia yang berhak menghakimi atas perilakunya. Tapi, menurut saya, inti dari semua itu kan masalah tanggung jawab.Tanggung jawab dari sebelum dia melakukan, dan setelah dia melakukan. Tanggung jawab antara dirinya dan orang-orang yang berkaitan, serta tanggung jawab dengan Tuhan pastinya. Ketika ia dan ceweknya telah pasang badan untuk bertanggung jawab, apa yang harus dipermasalahkan?malu?malu itu bukannya bagian dari tanggung jawab juga?Toh semuanya udah terlanjur kan?mau nggak mau ya harus dihadapi. Kita hidup di dunia ini aja akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat nanti yakanyakan?maaf saya sok tau… Tapi… Entahlah.Saya cuma berkomentar.Yang jelas, semua orang punya prinsip dan jalan hidup masing-masing.

Kejadian ini sudah setahun yang lalu terjadi.Dan teman saya ini telah memiliki anak yang luarbiasa lucunya.Dan saya bangga luar biasa karena dia telah berubah menjadi sosok ayah yang baik untuk anaknya.Maaf, saya menceritakan kisah ini semata-semata untuk menarik pelajaran berharga soal tanggung jawab:)

Hidup itu balap karung

20120817-153826.jpg

Hidup itu kadang lucu.
Seperti balap karung.
Perlombaan yang paling saya suka ketika 17 Agustus.

Kita dipaksa bergerak cepat mencapai tujuan akhir.
Padahal kaki terpasung dalam karung
Tidak seperti balap lari. Semua bisa berlari dengan bebas.
Balap karung tidak.

Tapi tidak harus berlari.
Kalau bisa melompat, melompatlah.
Kadang kita terjatuh, tapi tak membuat kita enggan berdiri.
Dan melompat kembali.
Dengan semangat baru.
Semangat yang lebih besar… dari sekedar berlari.

Jangan hiraukan penonton yang hanya tertawa melihat kita kesusahan.

Keterbatasan tak membuat kita enggan berlomba.
Keterbatasan tetap bisa membuat kita mencapai garis akhir
Walau dengan melompat. Bukan berlari.

Tapi melompat membuat kita bersemangat
Melompat membuat kita terlihat lebih tinggi dari dia yang berlari
Melompat membuat kita tahu artinya bekerja keras
Melompat membuat kita terus melaju ke depan.

Melompatlah terus…. melompatlah lebih tinggi

Hingga sampai di tujuan kita
Dan menjadi pemenang

Dirgahayu Indonesiaku…

Dan Tuhan pun geleng-geleng kepala melihat Umatnya…

“Hah?! Lo sholat,Chiel?”
“Emang gue terlihat seperti Atheis, ya?”

Itu adalah pertanyaan teman saya ketika saya izin sholat maghrib ditengah-tengah sebuah acara musik metal di GOR Bulungan beberapa tahun silam. Pertanyaan itu masih jelas teringat di pikiran saya.Karena menurut saya lucu.Kenapa sih masih banyak yang berpendapat kalau orang dengan penampilan reigius,berjubah putih,bersorban,dan berjenggot sudah pasti level ibadahnya lebih tinggi dibandingkan orang yang menggunakan kaos bergambar tengkorak,jeans sobek-sobek?lucu kan?keimanan seseorang itu kan nggak bisa diukur dari pakaian yang dipakai kan, Genk!

Tapi akhir-akhir ini justru terjadi pergeseran makna terhadap sebuah penampilan.Yang sayangnya dibentuk oleh oknum manusia itu sendiri. Dan yang menyedihkan, justru terjadi di agama yang saya yakini. Orang yang menggunakan atribut islam banyak dicurigai, ditakuti, bahkan parahnya dikira teroris. Padahal penampilan itu seharusnya memberikan sebuah kedamaian dan kenyamanan bagi orang-orang disekelilingnya.

Saya pernah mengalami yang namanya dicurigai di negara orang.Sebetulnya wajar karena saya tiba di sana belom lama setelah tragedi 11 sept terjadi. Ketika sampai di bandara San Fransisco, saya dan dua orang teman saya diberikan jalur berbeda dengan turis-turis lain. Hanya karena identitas saya berasal dari Indonesia dan beragama Islam. Saya bertiga masuk ‘secondary inspection’ dimana saya harus melepas sepatu dan masuk ruangan khusus yang berisi blower. Kemudian barang-barang saya diperiksa sampai ke debu yang ada di sepatu saya. Tapi untungnya mereka memperlakukan kami dengan sangat baik dan menerangkan alasan2 mereka. Padahal dalam hati saya ngomong, “Nggak kebayang ada berapa banyak orang muslim yang harus mengalami hal yang mungkin jauh lebih parah dari saya, karena aksi terorisme keji itu.”

Saya termasuk orang yang sangat terbuka dalam hal keyakinan. Saya menganut islam. Namun saya bersahabat dengan teman-teman yang memiliki keyakinan berbeda. Kami saling toleransi dan tolong menolong. Sehingga saya suka sedih dengan pemberitaan media massa yang menayangkan ‘justru’ sikap fanatisme sempit yang menjurus kepada kekerasan dan mengintimidasi agama tertentu.Dari situ timbul sebuah perrtanyaan..

“Apakah pelaku kekerasan dengan mengatasnamakan agama itu meyakini kalau Tuhan adalah satu-satunya yang berkuasa di alam raya ini?Sehingga hanya Dia yang berhak menghukum manusia.Kalau mereka meyakini hal itu, lalu kenapa mereka merasa cukup suci untuk menghukum manusia lainnya dengan membunuh orang-orang yang (menurut mereka) berdosa?”

Menyedihkan sekali karena islam dijadikan sebuah pembenaran dalam kekerasan dan pembunuhan. Berteriak menyebut nama Tuhan ketika selesai merampas, membunuh atau mengintimidasi orang. Ahkk! Tuhan pasti geleng-geleng kepala di atas sana. Ingat, Tuhan itu nggak perlu dibela. Emangnya manusia, pengennya dibelain mulu biar menang? (Nah!)

Tapi saya juga tak setuju kalau agama lain menjadikan islam sebagai agama sesat yang bukan berasal dari Tuhan karena aksi terorisme yang terjadi. Sekali lagi, itu bukan masalah agama yang dianut, yang salah itu orangnya. Kejahatan bisa dilakukan oleh siapapun.Bukan hanya orang islam. Kalau kalian masih berpikir begitu, selamat, berarti kalian termasuk orang-orang yang masih memiliki fanatisme sempit.

Inget salah satu quotes film “Cin(t)a” :
“Kenapa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda kalau Dia hanya ingin disembah dengan satu cara?”

Tapi ngomong-ngomong pernahkan kalian mengetahui kalau manusia yang telah membunuh orang terbanyak adalah Adolf Hitler. Hitler membakar 6 juta orang Yahudi. Joseph Staline menewaskan 20 juta manusia, termasuk 14,5 juta yang mati kelaparan. Mao Tse Tsung Cina menewaskan 14-20000000 manusia. Benito Mussolini dari Italia menewaskan 400.000 manusia. Maximilin Robespierre selama revolusi Perancis banyak yang kelaparan dan disiksa hingga 200.000 orang mati dan mengeksekusi 40.000 orang. Asoka dalam salah satu pertempuran Kalingga menewaskan lebih dari 100.000 orang. Apakah mereka semua dari Muslim?tidak. Kelebihan mereka cuma satu, mereka tidak pernah mengatasnamakan agama dalam melakukan kejahatan tersebut (silahkan mikir).

Ngomongin agama emang selalu sensitif. Orang-orang pasti berpikir bahwa agamanyalah yang paling benar,paling oke. Sebenernya nggak ada yang salah dengan dialog dan perbedaan pendapat antar agama.Supaya terjadi pemahaman dan sikap saling toleransi antar umat beragama.Kalau dikit-dikit ngamuk, dikit-dikit kesinggung mah nggak bakalan maju-maju. Seharusnya sih, kalau orang memiliki keyakinan yang tinggi terhadap agamanya, ibadahnya rajin, dll, seharusnya punya management hati yang jauh lebih baik.

Jadi teringat ucapan salah satu teman saya yang pernah ngomong gini…
“Ibarat kancut gue dan kancut elo. Gw dan elo sama-sama nyaman dengan kancut kita masing-masing. Gue dan elo merasa kalau kancut kita yang paling keren, paling mahal, paling wangi, paling bersih dan paling nyaman. Meskipun kancut gue paling baik (menurut gue), kalo gue kasih kancut gue buat elo, pasti elo nggak mau. Begitu pula sebaliknya. Elo nggak mau kan, pake kancut gue?Sama kayak gue nggak mau pake kancut elo. Gue juga nggak bisa maksa elo untuk pake kancut gue.Elo juga pasti gitu. Kalau udah gitu, mendingan kita jaga kancut kita baik-baik. Cuci yang bersih biar makin nyaman dipake dan tahan lama.”

Derajat wanita di jalanan Ibukota

Saya gadis kecil (saya lebih suka disebut begitu) berumur 26 tahun, berkulit sawo matang, berpenampilan asal, berwajah biasa-biasa saja, dengan bentuk tubuh juga biasa-biasa saja. Sejauh yang saya sadari, tidak ada yang menarik dari sosok saya secara fisik. Tapi sepertinya bukan hanya masalah fisik yang membuat sesorang melakukan pelecehan di jalanan.Tapi lebih kepada situasi dan kondisi yang memungkinkan.

Postingan ini, kemungkinan akan muncul kata-kata yang agak vulgar. Weeitts… jangan mikir ngeres dulu. Please coba rubah persepsi tabu di kepala kalian dulu untuk membaca postingan ini. Karena ini menyangkut keamanan dan keselamatan para kaum hawa di ibukota. Untuk kalian yang belum berumur 18+, lebih baik kalian skip dulu membaca postingan ini dan kembali lagi ketika umur kalian sudah menginjak 18+ ahahaha… piss…

Belakangan ini di koran-koran marak dengan berita mengenai pelecehan seksual di kendaraan umum.Beberapa pelaku berhasil di tangkap.Tapi tak sedikit pula yang berhasil ngibrit dan meninggalkan jejak berupa korban yang menangis histeris.Berikut adalah pelaku-pelaku yang pernah saya temui.Karena kebetulan saya lebih sering menggunakan kendaraan umum dari pada kendaraan pribadi. Dan frekuensi saya berada di luar ruangan jauh lebih besar.

1. Apa kalian tahu eksibisionis? Berdasarkan detikhealth.com, eksibisionis adalah kelainan di mana seseorang gemar memamerkan organ pribadi kepada lawan jenis dengan tujuan mendapatkan kepuasan pribadi. Pada pria, penderita menemukan kepuasan ketika wanita terkejut melihat genitalnya. Sementara pada wanita, penderita menemukan kepuasan ketika melihat pria terangsang saat melihat alat kelamin, payudara, atau pantatnya.
Entah benar atau enggak, menurut saya eksibisionis adalah salah satu perilaku pelecehan seksual. Saya memposting ini karena kebetulan saya beberapa kali bertemu dengan para eksibisionis itu.

– Saya sedang berada di bus umum bersama 4 orang teman saya.Kebetulan saya duduk di bangku yang dekat dengan jalan.Padahal bus itu tidak terlalu ramai dan ada banyak tempat duduk kosong.Tapi ada seorang pria yang justru berdiri di samping saya.Posisi tubuhnya menghadap ke bahu saya.Awalnya saya nggak ‘ngeh’ kalau dia menempel2 bahu saya.Karena saya sibuk mengobrol dengan teman sebangku saya.Namun karena semakin mepet,saya mulai merasa kalau orang itu sengaja menempelkan ‘maaf’ bagian genitalnya ke bahu saya.Saya mendorongnya sekali sambil ngomong, “Sanaan kenapa,mas?tuh banyak bangku kosong!!” tapi pria itu nggak menggubris sama sekali.Diam aja sambil berlagak clingak-clinguk. Dia agak menjauh.Kemudian saya kembali mengobrol dengan teman saya.Eh… Pria itu kembali mengulangi aksinya.Saya mulai kesal dan mendorong lebih keras “Eh,brengsek! Lo jangan macem2,ya!” bentak saya. Dan pria itu pun kucluk2 turun.

– Pernah juga saya sedang berjalan di dekat kampus.Saya melihat sebuah mobil sedan hitam terparkir di pinggir jalan. Kacanya terbuka lebar. Ketika saya lewat,saya dengar seseorang memanggil dr dalam mobil itu.Otomatis saya menengok dan melihat cowok dalam mobil itu bergerak-gerak aneh, memegang kelaminnya, sambil menatap saya. Sinting! Saya ngeloyor aja pergi pura-pura gak liat.Malay!

-Ada lagi kejadiannya di angkot dimana seorang lelaki yang duduk di depan saya pura-pura tidur, namun sengaja mempertontonkan alat kelaminnya.Kontan aja saya turun dari angkot.Sakit jiwa!

-Pernah juga seorang cowok berpenampilan bersih, membawa tas selempang berdiri di sebelah tempat duduk saya.Saya nggak mikir aneh-aneh.Cuma pas saya sekilas nengok ke arahnya.Cowok itu menatap saya aneh banget.Cowok itu turun duluan sebelum saya turun.Dan seorang penumpang bilang ke saya,’Mbak, tadi cowok yang itu liatin mbak terus sambil goyang-goyangin kelaminnya di balik tas.” WTH?!?

-Pernah juga ada seorang cowok yang mengambil kesempatan ketika bus transjakarta lagi penuh-penuhnya.Tuh cowok sengaja merapatkan tubuhnya ke punggung saya.Saya dorong berkali-kali.Tapi tetep aja dia nempel-nempel.Untungnya saya buru-buru turun.

-Pernah juga saya lagi duduk di bus.Trus pas lagi macet macetnya, saya merasakan tengkuk saya ketiup angin pelan.Awalnya saya diem aja karena saya pikir cuma angin lewat.Nggak tauya cowok yang duduk di belakang saya sengaja mengendus bagian belakang kepala saya.Kontan saya jijik dan langsung turun karena pas saya nengok cowok itu pura2 melihat keluar jendela.Shit!
Itu baru masalah pelecehan seksual secara fisik.Belum lagi saya pernah mengalami pelecehan seksual secara verbal.

-Saya sedang ikut posko banjir di Bulungan.Karena banyak korban banjir yang harus dievakuasi malam itu, jadinya saya menginap di pos.Padahal hari belum terlalu malam.Sekitar jam 8-an.Dan waktu itu pakaian yang saya kenakan cukup sopan.Celana panjang jeans dan jaket hitam. Ceritanya saya membeli sikat gigi di warung terdekat. tiba-tiba pas lagi jalan, ada mobil feroza yang mengikuti saya.Si pengendara mobil buka kaca.Saya pikir orang mau nanya alamat.Jadi ketika dia memanggil saya, saya sempat menghentikan langkah saya.Dan apa yg dia bilang?? “Mbak, mau kencan semalem?” Anjriittt! Langsung aja, *maaf saya acungin jari tengah dan mobil itu langsung di dobrak sama teman-teman bulungan saya yang kebetulan sedang jaga.Ngaciiir deh tuh mobil.

-Saya sedang makan di salah satu warung padang bersama seorang teman saya.Saya melihat beberapa orang bapak-bapak yang duduk di meja sebelah kami.Awalnya sih santai aja, tapi ketika mereka dengan frontal menatap ke kami berdua.Saya mulai risih.Apalagi ketika mereka mulai ketawa2 aneh.Mereka keluar lebih dulu.Kemudian ketika saya keluar dari warung tersebut, saya dihampiri oleh seorang laki2 muda. Dan sinting, cowok itu ngomong gini, “Mbak, bos saya lagi nyari cewek perawan untuk dipacarin.Kalo mbak mau…” belum sempat dia meneruskan kalimatnya, saya udah ngeloyor pergi.Jijik setengah mati.

Itulah beberapa kisah yang pernah saya alami. Kejadian-kejadian kayak gitu mengingatkan para cewek untuk bersikap lebih tegas dan lebih berani kalau di jalanan.Sukur-sukur punya sabuk hitam karate biar bisa langsung nendang cowok-cowok model yang saya ceritakan di atas tadi. Jalanan Jakarta memang kurang bersahabat bagi kaum hawa.Seharusnya kalau kalian melihat perlakuan orang-orang seperti tadi,sudah sepantasnya pelaku dibuat jera.Supaya nggak ketagihan mengulangi perilaku kayak gitu.

Dari beberapa artikel yang saya baca, berikut tips menghadapinya.
1. Selalu berhati-hati dimanapun berada.Sebisa mungkin jangan jalan sendirian

2. Kenali situasi. Waspada sama orang-orang yang mencurigakan.Misalnya orang yang ngeliatin kamu terus dengan wajah mesum ahaha….

3. Tetep biasa. Pura-pura nggak lihat aja. Melengos.

4.Lawan kalau berani. “ Kata-katai saja! Bilang kalau anu-nya jelek,item,dekil,kecil,cupu! Pasti dia langsung nglimpruk kecewa!

5.Kasih tahu orang-orang sekitarnya biar pelaku malu6.Berdoa.Ini yang paling penting

Perempuan vs Masakan

Akhir-akhir ini saya lagi doyan banget masak. Bukan mau gaya-gayaan, tapi karena akhir-akhir ini saya seringkali ditinggal Mama ke Solo. Jadinya mau nggak mau, saya masak supaya asupan makanan bergizi tetap ada *bergizi tapi beracun ahaha… *tawa setan*

Anyway, kalau udah ditinggal di rumah sendirian gini, baru kerasa deh pentingnya bisa masak makanan. Tujuan utamanya sih biar ngirit. Daripada setiap hari musti jajan ke luar rumah. Beneran deh, masak itu bisa bikin kita menghemat pengeluaran sehari-hari.Sekali masak, bisa untuk 3x makan.Bahkan bisa disimpen untuk esok harinya..

Topik postingan kali ini saya dapatkan ketika saya sedang metik toge buat masak soto. Nggak penting juga kalau harus saya ceritakan proses pemetikan toge itu. Kecuali kalau kalian benar-benar nggak tahu apa itu toge!hah?!?

Ok, postingan ini bukan soal dunia pertogean. Bukan juga soal resep memasak soto. Apalagi soal asal kata toge. Di postingan ini, saya mau membahas soal kesetaraan gender (beraaat sooobb! haha).

Terus terang saya lumayan seneng ketika perlahan banyak muncul koki-koki cowok macho yang jago masak.Selama berabad-abad lamanya, masakan selalu identik dengan kaum perempuan. Dimana memasak dianggap sebagai tugas kodrati seorang perempuan. Dan kalau sampai ada perempuan yang tidak bisa memasak dianggap sebuah kesalahan besar dan patut dicatat di dalam buku daftar dosa. Perempuan yang tidak bisa memasak dianggap tidak bisa menjadi ibu dan istri yang baik. What the hell is???

Bahkan iklan-iklan bumbu masak di televisi kadang terlalu berlebihan menunjukkan figur seorang ibu dalam keluarga. Figur ibu dalam iklan kebanyakan adalah ibu yang penyabar, manis, cantik, dan jago masak. Bukannya ibu yang harus berlelah-lelah bersihin rumah,pakai daster, memarahi anaknya supaya bangun pagi, lalu berangkat bekerja ke kantor. Tau sih, kalo iklan memang dibuat untuk memenuhi impian masyarakat ‘normal’.Tapi…hey… ini bukti kalau masyarakat kita sangat patriarki. Banyak iklan yang membawa kesan kalau ibu di rumah nggak bisa masak lezat, maka keluarga akan berantakan. Et dah busyeett… perselingkuhan itu bukan terjadi karena masakan ibu gak enak dimakan. Anak-anak doyan maen juga bukan karena masakan.Catet ya..haha!

Sadar apa enggak, budaya patriarki memang udah dibentuk dari kita kecil. Dulu, waktu kecil, saya selalu dibelikan alat masak-memasak, yang setelah saya sadari sekarang, merupakan simulasi stereotype pekerjaan perempuan ketika dewasa. Dan melarang kakak saya main masak-masakan dengan membelikannya pistol-pistolan yang entah kenapa dari dulu saya lebih tertarik dengan mainan kakak saya itu.See, stereotype itu pada dasarnya adalah hasil bentukan lingkungan.

Balik lagi ke masalah anggapan bahwa memasak dalah tugas kodrati perempuan. Meskipun saat ini perempuan sudah mulai keluar dari wilayah dapur, yaitu bisa berkarier membantu mencari nafkah, atau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh laki-laki, tapi label kodrati perempuan masih belum bisa hilang. Padahal, bayangkan saja bekerja membantu mencari nafkah, mengurus rumah dari beres-beres sampai memasak, dan mengurus anak bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan hanya dengan menjentikan jari. Emangnya pemberian waktu dalam satu hari antara laki-laki dan perempuan itu berbeda?Sama Jeung, tetap 24 jam!

Perempuan masih dianggap harus menguasi ‘rumah’ dan menyelesaikan semua tugasnya tanpa keluhan. Karena lagi lagi, dianggap sebagai kodratnya. Okay, fine kalo memang begitu. Tapi yang selama ini membuat para kaum feminis berkoar-koar adalah… kalau perempuan diberikan perluasan gerak ke luar ‘rumah’, jadi sepantasnya laki-laki juga harus mau memperluas geraknya ke dalam ‘rumah’. Itu baru yang namanya kesetaraan gender. Dapur bukan lagi wilayah tabu untuk laki-laki. Sama halnya dengan sopir taksi yang tak tabu lagi jika seorang perempuan.

Dan perlu kita sadari, kalau memasak itu bukanlah tugas kodrati perempuan. Tapi merupakan sebuah kebiasaan yang ‘alangkah lebih baiknya’ bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia. Yaitu makan. Kalau nggak bisa masak,nggak dosa. Memasak itu masalah skill. Makanya banyak kursus-kursus masak betebaran di mana-mana. Sama kayak kursus menjahit, kursus bahasa inggris, dll. Kodrat perempuan itu adalah untuk mengandung dan melahirkan. Tolong bedakan mana skill dan mana kodrat yaps… Selama ini nggak ada kan, kursus mengandung dan melahirkan di dunia ini?

Nb: ngomong-ngomong, memasak itu ternyata menyenangkan lho… bisa bikin relaks. Pantes aja disebutnya ‘seni memasak’. Karena unsur-unsur yang ada di dalam sebuah seni ada juga di dalam memasak.Hmmm… besok masak apa ya… ada ide?