Jalan-jalan

Saya suka jalan-jalan. Semua teman saya tahu itu. Saya merasa begitu bahagia ketika kaki saya menapak di tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya dan bertemu dengan orang-orang dengan budaya serta etnis yang berbeda. Rasa lelah selama perjalanan seakan hilang seketika berganti dengan perasaan bahagia yang tiada tara. Semakin jauh kaki ini melangkah, semakin besar kekaguman saya atas segala ciptaan-Nya. Dan semakin besar juga rasa syukur saya karena telah diberikan kesempatan untuk lahir di dunia untuk melihat keindahannya.

10726686bromo118


Waktu kecil saya memiliki sebuah mimpi untuk bisa menjejakkan kaki ke berbagai belahan dunia. Saya tau tidak mudah untuk anak seperti saya yang tergolong dari kelas ekonomi yang biasa-biasa saja mampu melakukan itu. Tapi Tuhan Maha Pemurah. Saya disadarkan bahwa semua orang memiliki kesempatan. Kesempatan untuk meraih mimpi dan cita-citanya selama kita memiliki semangat dan usaha untuk meraihnya.

Saat ini saya memiliki prinsip baru, dari pada tabungan saya habis untuk belanja dan membeli barang-barang baru, lebih baik saya sisihkan uang saya untuk suatu hari nanti saya bisa berpergian ke tempat-tempat impian saya dan memperoleh pengalaman baru yang menakjubkan…

Maka di sini saya ingin membagi pengalaman saya ketika mengunjungi tempat-tempat menakjubkan itu. Beberapa diantaranya adalah hasil dari berbagai workshop dan talkshow yang saya lakukan di berbagai tempat di Indonesia. Saya nggak sabar ingin segera bercerita pada kalian. Karena disana, saya juga bertemu dengan teman-teman baru yang nggak akan saya lupakan. Kalau ada diantara kalian yang punya referensi tempat yang OK buat dikunjungi, silahkan kirim commentnya ya…. thanks….

dsc00530twintower


ANYER OH ANYER - Banten

n1413393899_30326417_6583211n1413393899_30326415_3974494n818411091_1547657_5619555n818411091_1547662_5403349n818411091_1547657_5619555n1413393899_30324872_2785364


Liburan di bulan April lalu saya dan tema-teman berlibur ke Anyer. Sebenarnya rencana menghabiskan liburan di pantai sudah lama sekali saya dan teman-teman inginkan. Maklum, teman-teman dan saya khususnya jarang sekali yang namanya pergi ka pantai. (Ndeso lo, Cil!) Selain karena saya takut ketahuan kalau ternyata saya adalah putri duyung (hah?!?), saya juga suka pusing-pusing kalau melihat air terlalu lama. Awalnya kami merencanakan ke Bali. tapi karena beberapa hal yang salah satunya adalah lagi ‘bokek’, maka liburan akhirnya kami alihkan ke pantai Anyer.

Sebenarnya saya dan teman-teman agak kecewa karena tidak semua teman kami bisa ikut. Padahal kami ingin sekali liburan kali ini bisa berkesan mengingat kebanyakan dari kami telah lulus kuliah dan kemungkinan nanti akan sibuk dengan pekerjaan dan rutinitas masing-masing yang sulit untuk diganggu gugat waktunya. Tapi ada mau dikata?Tapi liburan ke Anyer kemarin benar-benar mengesankan. Untuk pertama kalinya saya berani berenang di pantai. Biasanya hanya berani main-main pasir di pinggirnya saja. Itupun nggak kena air sama sekali. Palingan bikin istana-istana pasir sama anak-anak kecil hehehe…

swbut

Rembulan di atas Pure- Bali, 2007

pantai

Saat kaki saya menyentuh tanah dewata, aroma udara pantai langsung menyusup melalui celah-celah pakaian saya. Meskipun ini bukan pertama kalinya saya mengunjungi pulau dewata, namun nuansa Bali masih saja membuat saya terkagum-kagum.

“Tanah di Bali itu hidup. Masyarakat Bali percaya bahwa kami hidup bersama-sama dengan alam Bali,” ucap Bli Nyoman, teman saya di Bali, sambil menemani kami (Saya dan kedua orang teman saya) berjalan-jalan.

Pantas saja setiap kali saya ke Bali, pastilah saya merasa mendapatkan nuansa yang berbeda. Terakhir kali saya ke sana hanya dengan modal nekat. Naik kendaraan semurah-murahnya, penginapan seminim-minimnya, dan makan sengirit-ngiritnya. Cuma satu yang saya tuju. Kedamaian, kegembiraan, dan kepuasan karena berhasil tiba di tempat itu dengan selamat tanpa harus keluar begitu banyak biaya. Ternyata anggapan kalau ke Bali udah pasti MUAHAAL banget, tidak sepenuhnya benar. Itu semua tergantung bagaimana kita me-manage uang kita. Untung ke Bali kali ini nggak separah kemarin. Kali ini saya bersyukur dapat tiket gratisan. Hahaha…

Ketika tiba di pantai Kuta, hal pertama yang saya lakukan adalah DUDUK! Hahaha…. Itulah cara saya untuk mencoba membaca keadaan sekitar. Duduk berjam-jam sambil memerhatikan orang-orang di sekeliling saya…

Bali masih tetap indah seperti saat pertama kali saya menginjakan kaki disana. Semoga itu tak akan berubah sampai kapanpun.

swbut

Gajah Mati Meninggalkan Gading

Lampung, 2005

Ferri merapat ke dermaga. Saya dan ketiga teman saya nampak kelelahan berada di dalam mobil setelah beberapa jam diatas kapal ferri. Sambil menunggu antrian kendaraan keluar dari ferri, saya sempat mendengar suara cacing perut saya yang berteriak-teriak meminta makan.

“Kita langsung makan dulu aja,” ucap salah satu teman saya melihat hari sudah mulai gelap. Saya pun langsung setuju. Lagian cacing-cacing di perut saya juga sudah mulai bertindak anarkis.

Mobil berjalan santai melewati jalanan panjang yang disebut dengan Lintas Sumatra. Bentuk jalanan tersebut sangat berbeda dengan jalan-jalan yang ada di Jakarta. Jalanan tersebut tak banyak belokkan atau gang-gang seperti di Jakarta. Kami berempat sempat bingung harus kearah mana karena kalau sampai terlewat satu belokkan saja, sudah pasti akan jauh kembalinya.

“Lampu merah kedua belok kanan,” ucap seorang teman asal lampung memberi tahu arah lewat Hp.

Kami langsung menguruti jalanan panjang tersebut. Agak lama hingga akhirnya kami menemukan sebuah lampu lalu-lintas (lampu merah). Seketika kami langsung ragu. Ini lampu merah keberapa? Jangan-jangan lampu merah kedua sudah terlewat. Tapi perasaan sebelumnya tidak ada lampu merah. Tapi mana mungkin? Kita sudah berjalan hampir berkilo-kilometer masa lampu merahnya hanya satu?

Akhirnya kami baru menyadari ketika salah satu teman saya kembali menelepon untuk meminta petunjuk, “Hahaha… kalau di Lampung, lampu merahnya jauh-jauh. Nggak kayak di Jakarta. Makanya jangan heran.” …

swbut


Ikan Untuk Sekolah Anakku

Kampung Nelayan, 2003

kjg

Aroma Ikan hampir membuat saya muntah ketika saya tiba di daerah Penggusuran Muara Angke. Tapi lama kelamaan saya mulai terbiasa dengan bau amis tersebut. Kaki saya perlahan-lahan melewati lantai yang terbuat dari bambu yang jujur membuat saya agak-agak was-was melewatinya. Masalahnya dibawahnya persis adalah lautan yang entah seberapa asin rasa airnya karena bau asinnya begitu menyengat di hidung saya.

Saya dan teman-teman disambut hangat oleh para nelayan disana. Mereka tak sungkan-sungkan bercerita sambil menyuguhkan kami segelas teh hangat dan kacang.

“Beginilah kehidupan kami para nelayan..” ucap salah satu dari mereka sambil tersenyum.

Saya mendekati salah satu nelayan yang terlihat paling pendiam dan ’sedikit’ sangar. Dari tadi teman-teman saya agak ragu untuk mendekati beliau. Tapi waktu itu saya dengan cueknya mengajak ngobrol beliau. Ternyata beliau sangat ramah dan menyenangkan. Dari beliau saya belajar bahwa jangan pernah mengeluh dengan keadaan. Yang penting adalah bagaimana kita bekerja keras untuk orang-orang yang kita cintai. Dengan prinsip hidup seperti itu, beliau telah mampu menyekolahkan anak-anak beliau hingga lulus sarjana. Ya dari hasil mencari ikan itu…

swbut

Hidup adalah Perjuangan

Tebing Citatah, 2002

Bus Jakarta-Bandung berjalan pelan melewati deretan tebing-tebing marmer. Hari sudah gelap. Saya pun sudah lelah berdiri selama berjam-jam diatas bus karena tak ada tempat duduk yang kosong. Ketika bus melipir ke kiri, saya dan teman-teman pun bersiap untuk turun. Tas Carier saya dekatkan ke pintu keluar supaya nanti saya tidak kerepotan membawanya. Ketika teman saya meminta sang supir untuk berhenti, saya pun langsung bergegas keluar bus.

g

Jalanan becek saat kaki saya menyentuh tanah. Memang tadi sempat hujan saat di perjalanan. Aroma tanah basah dan udara dingin memancing saya untuk menghirup nafas dalam-dalam. Entah kenapa saya sangat menyukai aroma tanah sehabis hujan seperti saat ini. Tanah di daerah ini licin karena terbuat dari batu marmer. Makanya nggak herah kalau lokasi memanjat ini dekat dengan pabrik pengolahan marmer.

Karena hari sudah malam, maka kami membuka tenda dan langsung istirahat. Paginya, kami langsung bersiap untuk memanjat. Asli! Saya sangat exited sekali saat itu. Saya betul-betul merasakan sensasi ketika kaki saya menapak pada celah tebing, ketika tangan saya perlahan mencari celah untuk menarik tubuh saya keatas. Damn! I love that sensation. Apalagi ketika saya bisa berhasil mencapai puncak tebing. Betapa bangga hati saya.

Memanjat tebing ibarat sebuah kehidupan. Kalau kita nggak hati-hati, atau salah langkah, ya kita akan tergelincir. Sukur-sukur kalau masih ada pijakan atau pegangan yang menolong kita untuk kembali memanjat. Kalau enggak?Pastinya kita akan terjatuh dan nggak bisa sampai ke puncak. Hidup memang sebuah perjuangan. Perjungan untuk meraih sebuah mimpi dan cita-cita….

d

swbut

Mah, Aku Sampai di Puncak

Gunung Gede, 2006

Hari ini saya nekat berangkat menuju Gunung Gede bersama teman-teman kampus. Awalnya saya sempat ragu mengingat akhir-akhir ini banyak sekali persoalan-persoalan yang belum terselesaikan. Tas three day pack yang nyaris menyerupai carier di punggung saya terasa lebih berat karena seakan masalah di dalam pikiran saya ikut numpang diatasnya. Tapi ternyata, alam mampu membuat saya merasa diri saya lebih tenang. Dan saya pun dapat kembali ke kota dengan perasaan yang jauh lebih baik.

Saya memang mencintai gunung, tebing dan lautan. Mungkin memang karena Mama dulu juga suka naik gunung. Jadinya ketularan deh…

Tapi yang jelas, setiap kali saya naik gunung atau wisata alam, saya selalu mendapatkan pengalaman berharga yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Dan satu hal yang saya sadari adalah bahwa Tuhan Maha Besar karena telah menciptakan alam yang luar biasa indahnya. Dan saya bersyukur bisa menikmati keindahan itu…

n747062737_386318_68346369_1155962172351_1026621181_30466488_127238_njn747062737_386319_7050

swbut

Pejantan Tangguh- Jogjakarta, 2006

Kaki saya lemas. Badan saya keringat dingin ketika saya mendengar teman saya menyebutkan nama tempat yang harus saya kunjungi di Jogja. Meskipun itu sebuah sekolah, tapi baru kali ini saya dag-dig-dug ketika mendengar namanya.

“Kamu diundang ke De Britto Jogja untuk workshop.”

Entah bagaimana ekspresi saya waktu itu. As we know, de britto adalah nama sekolah khusus cowok yang terkenal di Jogjakarta. Berbagai bayangan melintas di pikiran saya. Apakah saya harus datang sambil memakai ikat kepala dan sepatu boots seperti pejuang-pejuang jaman kemerdekaan? Atau haruskah saya menyamar sebagai lelaki seperti Hillary Swank di film Boys don’t cry? Gimana kalau saya ditimpukin sepatu? Gimana kalau mereka bete, marah dan cuek bebek? God! What should I do?

Tiba di pintu gerbang sekolah, mata saya berkeliling mengamati keadaan sekitar. Sejauh ini aman-aman saja. Sepi. Sunyi senyap. Bahkan sama sekali tidak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan. Oooh, mungkin tidak ada yang tertarik dengan kedatangan saya. Seorang penulis teenlit. Novel yang biasanya dianggap identik dengan kaum hawa. Bagus deh. Amaaan… Yes! Yes! Fiuuuh!

Saat saya turun dari mobil pun, hanya ada seorang guru yang menghampiri saya. Wajah guru itu yang sangat ramah membuat saya sedikit lebih tenang. Tenang ciel…. Tarik nafas…. Tahan… Rileks….. saya terus-terusan menenangkan diri dalam hati.

“Mbak-mbak udah ditunggu, lho…,” ucap Pak guru tersebut sambil tersenyum bersahabat.

Saya dan ketiga teman saya mengikuti Pak Guru tersebut menuju sebuah pintu. Suasana disekitarnya terlihat masih adem-ayem aja. Nggak ada tanda-tanda bakalan ada acara workshop disana.

Pak Guru tersebut memegang gagang sebuah pintu. Kemudian tanpa ragu ia membuka pintu tersebut dan…

KOMPAS GRAMEDIA FAIR- Balikpapan, 2009

6213_1188129139942_1129725728_613937_674453_n

5900_1129693035742_1029702494_30386505_5048133_n

BAI Conference - Kuala Lumpur, 2009

p70906572Perjalanan saya ke Kuala Lumpur kali ini merupakan perjalanan yang paling membuat saya bahagia. Kenapa? Ehm, jadi begini ceritanya. Waktu itu saya membuat skripsi untuk tugas akhir kampus, karena kebetulan saya mengambil jurusan marketing dan kebetulan saya memang tertarik dengan dunia periklanan, jadinya saya memutuskan untuk membuat skripsi dengan judul Makna Simbolik, respon konsumen, dan interpretasi terhadap iklan. Kebetulan iklan yang waktu itu saya pilih adalah iklan Indomie versi Satu Selera. Saya memang suka sekali dengan iklan yang menunjukan tentang kebudayaan indonesia.

Nah, waktu itu saya memilih Pak Adi sebagai dosen pembimbing saya. Singkat cerita, saya akhirnya bisa lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Hohoho… nggak sia-sia mondar-mandir nyari bahan, baca-baca banyak referensi dll. Nah, ternyata Pak Adi mengirimkan skripsi saya tersebut ke BAI Congress Malaysia. Dan syukur Alhamdulillah, ternyata skripsi saya itu diterima oleh mereka dan mereka mengundang saya dan Pak Adi ke Luala Lumpur. Kebetulan karena ada beberapa dosen perbanas yang juga ikut dalam kongres, jadinya Pak Adi berangkat bareng dengan rombongan dosen yang lain. Sedangkan saya, berangkat sendirian. Ini merupakan pertama kalinya saya berpergian ke luar Indonesia sendirian. Tanpa teman dan keluarga. Alhasil, selama 5 hari di Malaysia, setelah kongres,saya memutari Kuala Lumpur seorang diri. Untungnya saya kenalan dengan teman dari Malaysia di airport. Dia cukup membantu saya dalam mencari tempat-tempat dahsyat di KL. Dan yang lebih menyenangkan lagi, perjalanan kali ini saya berkenalan dengan banyak teman yang berasal dari berbagai negara. Hohoho… pengen lagiiiii “ngecesss….

Note: Thank’s buat Pak Adi yang telah membuat nama saya bisa terdaftar di BAI Conference 2009. Yah, meskipun saya nggak ngebantu apa apa huhuhu… Makasih banyak Pak!

p70706421p70706411p7090650

SuperbHosting.net provides affordable managed dedicated server solutions.
Bengaluru Property | Sioux Falls, South Dakota Cash Advance | Oklahoma City Cash Advance