Kota Bandar Lampung

Ferri merapat ke dermaga. Saya dan ketiga teman saya nampak kelelahan berada di dalam mobil setelah beberapa jam diatas kapal ferri. Sambil menunggu antrian kendaraan keluar dari ferri, saya sempat mendengar suara cacing perut saya yang berteriak-teriak meminta makan.

“Kita langsung makan dulu aja,” ucap salah satu teman saya melihat hari sudah mulai gelap. Saya pun langsung setuju. Lagian cacing-cacing di perut saya juga sudah mulai bertindak anarkis.

Mobil berjalan santai melewati jalanan panjang yang disebut dengan Lintas Sumatra. Bentuk jalanan tersebut sangat berbeda dengan jalan-jalan yang ada di Jakarta. Jalanan tersebut tak banyak belokkan atau gang-gang seperti di Jakarta. Kami berempat sempat bingung harus kearah mana karena kalau sampai terlewat satu belokkan saja, sudah pasti akan jauh kembalinya.

“Lampu merah kedua belok kanan,” ucap seorang teman asal lampung memberi tahu arah lewat Hp.

Kami langsung menguruti jalanan panjang tersebut. Agak lama hingga akhirnya kami menemukan sebuah lampu lalu-lintas (lampu merah). Seketika kami langsung ragu. Ini lampu merah keberapa? Jangan-jangan lampu merah kedua sudah terlewat. Tapi perasaan sebelumnya tidak ada lampu merah. Tapi mana mungkin? Kita sudah berjalan hampir berkilo-kilometer masa lampu merahnya hanya satu?

Akhirnya kami baru menyadari ketika salah satu teman saya kembali menelepon untuk meminta petunjuk, “Hahaha… kalau di Lampung, lampu merahnya jauh-jauh. Nggak kayak di Jakarta. Makanya jangan heran.” (…read more)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *