Kota Yogyakarta

Beberapa waktu yang lalu saya jalan-jalan ke kota Jogjakarta. Awalnya sih mau riset sana-sini untuk novel saya terakhir dari tetralogi novel yang saya buat. Tapi ternyata banyak hal-hal seru yang terjadi di Jogja.Check this out!
(…read more)

 

PEJANTAN TANGGUH, JOGJA 2006

Kaki saya lemas. Badan saya keringat dingin ketika saya mendengar teman saya menyebutkan nama tempat yang harus saya kunjungi di Jogja. Meskipun itu sebuah sekolah, tapi baru kali ini saya dag-dig-dug ketika mendengar namanya.

“Kamu diundang ke De Britto Jogja untuk workshop.”

Entah bagaimana ekspresi saya waktu itu. As we know, de britto adalah nama sekolah khusus cowok yang terkenal di Jogjakarta. Berbagai bayangan melintas di pikiran saya. Apakah saya harus datang sambil memakai ikat kepala dan sepatu boots seperti pejuang-pejuang jaman kemerdekaan? Atau haruskah saya menyamar sebagai lelaki seperti Hillary Swank di film Boys don’t cry? Gimana kalau saya ditimpukin sepatu? Gimana kalau mereka bete, marah dan cuek bebek? God! What should I do?

Tiba di pintu gerbang sekolah, mata saya berkeliling mengamati keadaan sekitar. Sejauh ini aman-aman saja. Sepi. Sunyi senyap. Bahkan sama sekali tidak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan. Oooh, mungkin tidak ada yang tertarik dengan kedatangan saya. Seorang penulis teenlit. Novel yang biasanya dianggap identik dengan kaum hawa. Bagus deh. Amaaan… Yes! Yes! Fiuuuh!

Saat saya turun dari mobil pun, hanya ada seorang guru yang menghampiri saya. Wajah guru itu yang sangat ramah membuat saya sedikit lebih tenang. Tenang ciel…. Tarik nafas…. Tahan… Rileks….. saya terus-terusan menenangkan diri dalam hati.

“Mbak-mbak udah ditunggu, lho…,” ucap Pak guru tersebut sambil tersenyum bersahabat.

Saya dan ketiga teman saya mengikuti Pak Guru tersebut menuju sebuah pintu. Suasana disekitarnya terlihat masih adem-ayem aja. Nggak ada tanda-tanda bakalan ada acara workshop disana.

Pak Guru tersebut memegang gagang sebuah pintu. Kemudian tanpa ragu ia membuka pintu tersebut dan…
Mendadak sorak-sorai terdengar memenuhi antero aula. Puluhan bahkan mungkin ratusan lelaki berada di dalam ruangan tersebut. Jantung saya nyaris copot waktu itu. Tapi untungnya mereka asik-asik. Jadinya saya nggak jadi grogi. Justru seneng berada ditengah-tengah cowok-cowok ganteng dan pinter seperti mereka ahhahaha…. Thanks ya, You Guys ROCK!

(…read more)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *