Pulau Bali

Tiga orang lelaki menculik saya ke Bali. Ini perjalanan paling pegel yang pernah ada. Karena untuk pertama kalinya saya dan teman-teman memilih menggunakan bus dari terminal rawamangun menuju Bali. Kebayang kan gimana rasanya?

Jalan-jalan Bali ini sebenernya nggak ada tujuan spesifik. Rencananya cuma pengen berpetualang aja. Dateng ke tempat-tempat ‘unik’ di Bali. Pengen tau desa-desa pengrajin yang konon tersebar di berbagai wilayah di Bali. (…read more)

 

PULAU BALI (part1)

Saat kaki saya menyentuh tanah dewata, aroma udara pantai langsung menyusup melalui celah-celah pakaian saya. Meskipun ini bukan pertama kalinya saya mengunjungi pulau dewata, namun nuansa Bali masih saja membuat saya terkagum-kagum.

“Tanah di Bali itu hidup. Masyarakat Bali percaya bahwa kami hidup bersama-sama dengan alam Bali,” ucap Bli Nyoman, teman saya di Bali, sambil menemani kami (Saya dan kedua orang teman saya) berjalan-jalan.

Pantas saja setiap kali saya ke Bali, pastilah saya merasa mendapatkan nuansa yang berbeda. Terakhir kali saya ke sana hanya dengan modal nekat. Naik kendaraan semurah-murahnya, penginapan seminim-minimnya, dan makan sengirit-ngiritnya. Cuma satu yang saya tuju. Kedamaian, kegembiraan, dan kepuasan karena berhasil tiba di tempat itu dengan selamat tanpa harus keluar begitu banyak biaya. Ternyata anggapan kalau ke Bali udah pasti MUAHAAL banget, tidak sepenuhnya benar. Itu semua tergantung bagaimana kita me-manage uang kita. Untung ke Bali kali ini nggak separah kemarin. Kali ini saya bersyukur dapat tiket gratisan. Hahaha…

Ketika tiba di pantai Kuta, hal pertama yang saya lakukan adalah DUDUK! Hahaha…. Itulah cara saya untuk mencoba membaca keadaan sekitar. Duduk berjam-jam sambil memerhatikan orang-orang di sekeliling saya…

Bali masih tetap indah seperti saat pertama kali saya menginjakan kaki disana. Semoga itu tak akan berubah sampai kapanpun. (…read more)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *