Waktu yang Tepat

WAKTU YANG TEPAT
By: Dyan Nuranindya

Gelap.
Tidak ada cahaya…
Tidak ada suara…
Hampa…
Mati….
Dia terjaga dari tidurnya. Tidur yang begitu terasa lama. Tubuhnya berkeringat. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tahu ia tidak sedang bermimpi. Tapi….
Orang bebas memanggil dirinya siapa pun. Kadang ada yang memanggilnya Nyet, Njing, Bro, Cuy, apapun sesuka hatinya. Seakan dia makhluk yang terlahir tanpa nama. Apalah arti sebuah nama. Tapi dia bernama. Setidaknya sebuah kata yang menunjukkan identitasnya pernah tertulis di papan boks bayi di sebuah rumah sakit. Galang. Ya, namanya Galang. Lelaki bertubuh tegap bidang dengan wajah yang layak dimasukkan di layar kaca. Dan membuat seluruh kaum hawa di bumi ini bertekuk pasrah di hadapannya.
Galang menyadari ada yang aneh di kamarnya. Ya, ia yakin dia terbangun di kamarnya. Kamar yang telah puluhan tahun menjadi wilayah kekuasaannya. Ia tidak mungkin salah. Tapi ia heran kenapa segala sesuatunya di kamar ini menjadi janggal? Mana poster Marlyn Manson yang terpampang besar di tengah-tengah kamar itu? Mana juga komputer canggihnya dimana dia selalu memajang foto-foto wanita setengah telanjang di sana? Lalu… bau apa ini? Kenapa baunya begitu berbeda? Bau bedak bayi. Bukan bau asap rokok yang selalu memenuhi kamarnya karena ketergantungannya pada benda itu. Kemana juga botol-botol minuman koleksinya?
Galang beranjak dari tempat tidurnya dan mencoba menatap sekelilingnya. Ya, ini kamarnya. Tapi bukan kamarnya sekarang. Ini kamarnya waktu kecil. Kamar yang penuh kebahagiaan. Di mana ia bebas melakukan apapun sesuka hatinya. Mencoret-coret tembok, meloncat-loncat, menendang-nendang bola, berteriak, ataupun menangis.
Ia menengok pada jam di pergelangan tangannya dan meilhat tanggal dan waktu yang terlihat disana. 22 Maret 2010. Pukul 16.00.
Dengan cepat Galang berlari pada kaca kamarnya yang biasa ia letakkan di sudut lemari. Ia terkejut menatap bayangannya di cermin. Ia melihat dirinya sendiri di cermin. Tapi bukan tubuhnya yang sekarang. Tapi dirinya saat masih kecil. Saat ia memiliki kamar dengan perabotan yang ia lihat saat ini. Ia menyentuh wajahnya sendiri dengan panik dan berteriak sekencang-kencangnya. “AAAAKKKKKHHHH!”
“Seharusnya kamu nggak panik.” Sebuah suara mengagetkannya. Membuatnya melonjak dan langsung merapat ke tembok.
“Ma-mama…?” tanyanya ragu ketika menyadari siapa orang yang baru saja mengagetkannya.
Wanita di depannya tersenyum hangat. Menatapnya dengan penuh kelembutan seperti biasanya. Tatapan yang selalu dibalas benci oleh Galang karena ia merasa Mamanya terlalu ikut campur urusannya. Terlalu melarang apapun yang dilakukannya. Terlalu kampungan untuk memahami pergaulan anak lelaki satu-satunya itu. Terlalu penuh rasa curiga…
Tapi entah kenapa saat ini ia begitu butuh tatapan itu. Ia begitu butuh senyuman hangatnya. Dan… Hey, kenapa keriput di wajah Mama menghilang? Kenapa ia terlihat sangat cantik dan memesona saat itu?
“Kita ketemu lagi, ya… “
“Ketemu lagi?” Galang masih heran.
“Kamu ingat rumah ini? Kamar ini? Kamu ingat perempuan yang sedang bermain ayunan di taman itu?” tanya Mama sambil menatap teduh ke luar jendela kamar dan menunjukkan arah dengan dagunya.
Galang buru-buru mendekat ke jendela. Masih dengan wajah waspada karena ketakutan luar biasa yang menjalar di dirinya. Matanya tak lepas dari wajah Mama. Ia menengok ke luar jendela, sama seperti yang dilakukan oleh Mamanya. Ya, dia melihat seorang perempuan cantik bermain ayunan. Wajahnya tersenyum bahagia.
“Chyntia…” Galang tahu betul siapa cewek itu. Ia ingat betul dengan mantan pacarnya yang memiliki tingkat sabaran di atas rata-rata. Mantan pacarnya yang selalu membuatnya bahagia, tak pernah mengeluh, dan mudah sekali memaafkannya. Padahal Galang tahu betapa brengseknya dia saat bersama Chyntia. Betapa banyak wanita-wanita lain selain gadis itu di sekelilingnya yang dengan bangga berhasil ia pacari. Dia berikan harapan-harapan palsu hanya untuk sebuah jawaban, aku mau tidur sama kamu.
“Dia jodoh kamu.”
Galang menengok kearah Mamanya, kaget dengan ucapan wanita itu barusan. Tahu apa Mama soal jodohnya?
“Kamu ingat bagaimana kamu memutuskan hubungan dengannya?” Mama tersenyum. Kemudian ia melanjutkan kalimatnya, “Kamu datang di hari ulang tahunnya dalam keadaan mabuk berat. Dan kamu berikan ucapan selamat ke dia sekaligus kata putus.” Getaran suara Mama begitu terasa penuh emosi. “Apa kamu tahu kalau pada saat itu Chyntia justru ingin memperkenalkan kamu ke orang tuanya? Kamu bayangkan betapa malu dan kecewanya dia saat itu?”
Gejolak penyesalan terasa di hatinya. Ia tersungkur. Entah kenapa Galang merasa semua di dalam dirinya terlepas dari kontrolnya. Seluruh perasaan seperti tidak memiliki tameng yang cukup kuat. Topeng dewa yang biasa ia kenakan untuk menutupi perasaannya seperti hilang ditelan bumi. Ia menjadi tak berdaya. Begitu ringkih. Ia merasa mamanya dapat membaca apapun yang ada di pikirannya saat itu.
“Tanpa kamu pernah sadari, banyak orang yang tak pernah lelah untuk membelamu bagaimana pun perlakuanmu pada mereka. Dan Cynthia… Nggak usah menyesal. Karena dia sudah menjadi milik kamu saat ini…”
“Ma-maksud Mama?”
“Kamu sedang berada di surgamu, Nak… kamu berada di tempat terindah ketika kamu berada di dunia. Kamu di surgamu. Apa yang kamu lihat saat ini adalah saat di mana kamu merasa paling bahagia di dunia. Kenyataan yang tak pernah kamu sadari dan syukuri sebelumnya.”
Surga? Bukankah katanya surga adalah tempat dimana penuh sungai-sungai, tanah subur, pelangi dan kebahagiaan? Apa semua itu hanya khayalan manusia semata? “A-aku…”
Mama tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya pelan… “Ya, kamu sudah meninggal. Tuhan sudah mempertemukan kita di waktu yang paling tepat.”
***
Galang terbangun dari tidurnya. Untuk beberapa saat ia terdiam. Mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Matanya menatap sekeliling kamarnya.
“Fuiiih…” ucapnya lega ketika menyadari keberadaannya. Ia di kamarnya. Ya, kamarnya yang sekarang. Dimana terdapat poster Marlyn Manson yang terpampang besar di tengah-tengah kamar, komputer yang penuh dengan foto-foto wanita setengah bugil, dan botol-botol minuman koleksinya. “Alhamdulillah…” what?!? Wow! Sudah lama sekali ia tidak mengucapkan kata-kata itu. Tapi mendadak kata-kata itu meluncur dengan sendirinya tanpa ia sempat berpikir lagi.
Ia tersentak ketika mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Belum sempat ia membuka pintu, seorang lelaki berwajah mirip dirinya, mengenakan baju hitam-hitam, menongolkan kepalanya.
“Galang! Buruan kamu siap-siap! Ibumu sudah mau dibawa ke pemakaman. “
Galang terdiam. Detak jantungnya kembali bergerak cepat. Ia menengok pada jam di pergelangan tangannya dan meilhat tanggal dan waktu yang terlihat disana. 22 Maret 2010. Pukul 14.00.
Seakan sebuah kilat menyambar di kepalanya. Dalam hatinya ia mulai menyebut kasta tertinggi dari seluruh jagat raya ini. Tuhan. Ia ketakutan. Tubuhnya berkeringat. Kalau mimpi itu benar, berarti dia hanya memiliki waktu selama dua jam untuk tetap bernafas.
Galang mencoba meyakinkan dirinya kalau apa yang ia lihat tadi hanyalah sebuah mimpi. Itu hanyalah sebuah ketakutan dia . Dan mungkin hanya sebuah ilusi karena Mama yang baru saja dipanggil lebih dulu. Ah, sudah lupakan saja….
***
Suasana pemakaman berlangsung khidmat. Orang-orang berbondong-bondong datang untuk mengantarkan jenazah Mama dari Galang sampai ke peristirahatannya yang terakhir. Pernah ada yang bilang, seseorang yang punya hati baik selama di dunia akan terlihat dari banyaknya orang yang datang sewaktu pemakaman. Dan inilah yang terlihat. Mama orang baik…
Sepanjang pemakaman, Galang terus-terusan berpikir bagaimana dia mati nanti? Apakah ia akan masuk surga? Ataukah dia masuk neraka? Apa justru ia tak akan diterima keduanya karena memang tak ada tempat yang pantas untuk dirinya…
Tiba-tiba matanya menangkap sosok yang begitu menenangkan hatinya. Seorang gadis cantik tengah berjalan ke arahnya… “Chyntia.”
“Turut Berdukacita, ya…,” ucap gadis itu lembut sambil memeluk Galang. Seakan segala sakit hatinya dimasa lalu telah meluap pergi. Rasanya begitu damai, begitu tenang.
“Thanks, Chyn..,” jawab Galang. Kemudian ia menatap gadis itu. “ Sama siapa kesini?”
“Sendiri.”
“Aku anter pulang ya….”
Chyntia terdiam sejenak. Kemudian ia menganggukkan kepalanya. Pantulan cahaya matahari senja membuat mata indahnya nampak berbinar.
Mobil sedan hitam itu melaju kencang dibalik rimbunan pepohonan. Galang memang terbiasa membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Chyntia tahu betul kebiasaan Galang. Ia hafal bagaimana cara cowok itu membawa mobil. Bagaimana ia selalu memegang kemudi dengan tangan kirinya, sementara matanya menatap lurus ke jalanan di depannya. Sorot mata elang yang begitu tajam. Tapi kali ini begitu berbeda. Karena Galang memegang kemudi dengan tangan kanannya. Meski kecepatannya masih tetap di atas rata-rata.
“Kamu kenapa nggak pernah takut sih, kalau aku bawa mobil kayak gini?”
Chyntia menengok kearah Galang. Ia menatap cowok itu dalam. “Aku nggak pernah takut.”
“Kenapa?”
“Karena… aku percaya kamu. Aku cuma butuh sebuah keyakinan untuk menyetujui itu.”
“Apa yang kamu yakini?”
Chyntia terdiam sejenak. Ia menatap Galang teduh. “Aku nggak pernah ngerti. Tapi aku selalu yakin kalau kamu jodoh aku. Cuma mungkin, dulu bukan waktu yang tepat untuk kita berjodoh.”
Galang terdiam. Seutas senyum tersungging di bibirnya. Perlahan ia menyentuh tangan Chyntia. Menggenggam erat tangan gadis itu. Memberikan kehangatan semampu ia bisa… “Chyn, maafin… aku… aku pikir ini saatnya aku bilang itu..”
“LANGIIIT AWAAASS!!!”
DUAAARRRR!!!
***
Dan…. Gelap.
Tidak ada cahaya…
Tidak ada suara…
Hampa…
Mati….
-SELESAI-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *