Fragmen

FRAGMEN
A story by: Dyan Nuranindya

Hidup itu …
… adalah sebuah perjalanan panjang yang harus dilalui manusia. Manusia tidak ada yang pernah tahu kapan hidup akan berakhir. Mungkin saja hari ini…. Jam ini…. Menit ini…. Atau….
“AAAKKKHHH!!!!”
BRUUUKKK!!!
Sebuah teriakan bersamaan dengan jatuhnya seorang lelaki dari lantai dua sebuah kos-kosan di bilangan Jakarta. Suasana pagi yang tadinya ramai dengan anak-anak kecil yang berlarian gembira, burung-burung pipit yang berkicau, dan suara gesekan sapu di halaman mendadak sunyi senyap. Mungkin shock dengan peristiwa yang baru saja terjadi.
Mata lelaki itu terpejam. Tubuhnya tengkurap, tak bergerak sama sekali. Rambutnya basah oleh keringat. Apa dia terpeleset? Atau mungkin… seseorang telah mendorongnya?
Tiba-tiba sebuah suara membuyarkan kesunyian itu. Suara dari kamar kos yang berada di lantai bawah tepat dimana lelaki itu terkapar di depan pintunya, “Woy, woy, bangun lo, Nyet!”
“Tooo!! Uang kos bulan ini mana, heh!” Seorang wanita paruh baya berlari menghampiri. Dengan rokok di tangannya, ia memukul lelaki yang tergeletak itu dengan sapu lidi bekas menyapu halaman. Ia adalah sang pemilik kos-kosan.
Tubuh lelaki yang ternyata bernama Narto itu masih belum bergerak. Wajahnya terlihat pucat pasi. Persis seperti vampir di film action Cina. Tangannya mengepal. Membuat urat-uratnya terlihat jelas.
Tak berapa lama, Narto membuka matanya perlahan, menatap cowok pemilik kamar kos bawah yang tadi berusaha membangunkannya. “Gimana acting gue, Yo? Ada peningkatan nggak?”
Satrio, nama cowok pemilik kamar kos itu menatap Narto sambil tersenyum. Kemudian ia menunjukkan ibu jarinya, membuat Narto sedikit GR. Namun tak berapa lama ibu jarinya berbalik arah ke bawah. Dan ia pun kembali melanjutkan aktivitasnya, memasukkan pakaian-pakaiannya ke ransel.
“Ah, tai!” Narto mengumpat. Ia kemudian beranjak dari posisinya.
“Eh, mana uang kos bulan ini?!” wanita disebelahnya masih kekeuh menagih.
“Aduh sabar dong, Mi…. nanti kalau saya berhasil acting terjun sampai mirip banget kayak mati, saya langsung bayar tiga bulan LUNAS!”
“Ah, itu kata-kata lo tiga bulan yang lalu, To! Tetep aja tiga bulan nunggak!” ucap wanita itu sambil menghisap rokoknya dengan cepat. “Awas lo! Kalau bulan ini kagak bayar lagi, gue usir lo dari kosan gue!”
Namanya Narto. Pemuda asli dari Jombang. Menurut Satrio, Narto satu-satunya orang yang telah mengalami mati berkali-kali. Pekerjaannya sebagai stuntman di film memaksanya untuk selalu menghadapi kematian. Kadang dalam jarak yang terbilang tipis. Ia tak takut mati, karena tak pernah merasakan mati. Tapi ia takut hidup. Meskipun ia tahu kalau mau tak mau hidup itu harus dihadapi. Apapun resikonya. Begitu katanya.
“Kamu beneran mau naik Semeru?Cuacanya lagi nggak bagus, lho.” tanya seorang gadis manis berbalut pakaian kasual yang sedang duduk di sudut meja di kamar kos Satrio. Sejak tadi ia memerhatikan pacarnya yang sibuk packing barang di ransel.
“Kamu kawatir banget? Nggak ada yang bisa memprediksi alam lagi. Kadang ganas, kadang lembut. Sama kayak hidup,” ucap Satrio .“Jadi nggak seharusnya kita takut selama kita udah merasa safety.”
“Tapi….”
“Aku pergi ya, sayang…. Kamu pegang aja kunci kosan aku. Kalau kamu keluar, taro di tempat biasa.” Satrio mengangkat ransel, mengusap lembut kepala pacarnya, dan sekali lagi mendaratkan kecupan di keningnya.
***
Suara peluit yang memekakkan telinga menyadarkan Satrio pada sebuah realita kasat mata. Seakan menariknya pada sebuah dimensi kehidupan. Kereta ekonomi jurusan Jakarta-Malang perlahan beranjak dari stasiun, membawa raganya pada sebuah perjalanan panjang. Di atas rel yang tak terlihat di mana ujungnya.
Gerbong kereta itu terlihat penuh. Membuat kereta tanpa AC itu terasa pengap. Tak biasanya. Biasanya kereta penuh pada liburan panjang. Apa sebegitu parahkah kondisi ibukota saat ini? Hingga banyak orang yang nekat menghabiskan dua hari liburnya untuk menjauh dari peradaban ibukota hanya untuk mencari sebuah kedamaian? Tapi… tunggu, apa jangan-jangan memang tidak ada lagi sebuah kedamaian di ibukota. Pantas saja semakin banyak orang-orang gila berkeliaran di Jakarta.
Satrio duduk tepat di hadapan seorang gadis berkacamata yang sejak tadi tekun membaca sebuah buku. Ah… paling novel percintaan. Aneh. Kenapa hampir semua cewek di dunia ini lebih suka berfantasi dengan dunia cinta yang sifatnya semu? Bukankah banyak cowok-cowok ganteng berkeliaran di sekeliling mereka? Satrio misalnya…
“Hai…” Satrio mencoba menyapa gadis itu ramah.
Gadis itu tak menjawab sama sekali. Menengok pun tidak.
Senyum lebar yang semula terbentuk di bibir Satrio perlahan lenyap. Salah tingkah. Ia langsung menyadari apa yang sedang terjadi ketika ia melihat earphone terpasang di telinga gadis itu. Cowok itu pun langsung mengangguk.
Kursi seberangnya ditempati oleh pasangan suami istri dengan empat orang anak. Sejak dari Jakarta, ketiga anaknya cukup berisik. Lari kesana-kemari, berteriak-teriak, bahkan terkadang melempari kulit kacang sisa cemilan mereka hingga mengotori lantai gerbong. Berisik sekali!
Satrio beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju toilet di ujung gerbong. Posisi tempat duduknya yang berada di tengah gerbong membuatnya harus berjalan melewati beberapa tempat duduk di depannya. Ketika tiba di pintu toilet, ia langsung membukanya dan…
“Anjing!” buru-buru pintu toilet itu ia tutup kembali. Itu hanyalah sebuah ungkapan reflek yang keluar dari mulutnya. Satrio beralih ke sambungan antar gerbong. Dilihatnya seorang lelaki berjaket hitam sedang duduk di lantai sambil menghisap rokok dalam-dalam.
Satrio duduk sejajar dengan lelaki berjaket itu. Ia mengambil bungkus rokok pada saku jaketnya dan mengambil satu batang. Rokok telah terjepit di kedua bibirnya. Tangannya lalu merogoh-rogoh kantong celana dan jaketnya. Mencari sesuatu.
Secercah cahaya api keluar dari sebuah korek api gas di hadapannya. Satrio langsung menengok pada lelaki berjaket yang tengah menawarkannya api itu. “Makasih, Mas,” ujar Satrio sambil membakar rokoknya. Asap langsung mengepul ketika ia menghembuskan nafasnya.
“Toilet di kereta seperti ini memang nggak manusiawi, Mas,” ucap lelaki berjaket sambil tersenyum geli. Ia menggelengkan kepalanya.
Satrio tertawa kecil menanggapi ucapan cowok itu. “Iya. Kotor sekali, Mas.”
Dari balik pintu kereta terlihat deretan pepohonan berganti menjadi petak-petak sawah, kemudian berubah menjadi deretan rumah-rumah kecil di sepanjang jalan.
“Mas, mau pulang ke Malang atau….”
Satrio mengetuk rokoknya pada sebuah sudut, membuat abunya berjatuhan. “Rencananya saya mau naik semeru, Mas…”
“Wah…wah… hebat!” cowok itu tersenyum lebar pada Satrio. Entahlah. Mungkin hanya sekedar basa-basi belaka atau memang tulus.
“Udah lama tinggal di Jakarta, Mas?” Satrio balik bertanya.
“Saya kerja di Jakarta sudah hampir lima belas tahun lebih. Saya ini hanya lulusan SD. Waktu merantau dari Malang, saya belum bisa apa-apa. Dan belum kebayang bentuk Jakarta seperti apa. Saya cuma modal nekat. Jadi apa saja saya kerjakan waktu itu. Dari yang buruk seperti mencopet, sampai menjadi pegawai seperti sekarang ini. Dulu awal-awal saya sempat tidur di emperan toko. Sekarang alhamdulillah sudah bisa mengontrak rumah meskipun kecil.”
Satrio menyimak cerita cowok itu. “Sudah berkeluarga?”
Cowok berjaket itu tersenyum lebar, “Alhamdulillah, anak dua.” Lelaki itu menerawang jauh. “Bener kata orang, kalau belum tinggal di Jakarta, belum tau rasanya berjuang untuk hidup.”
Satrio menghisap rokoknya yang semakin pendek. Ya, hidup adalah perjuangan. Kira-kira itulah hukum yang diajarkan oleh kaisar Constantinus kepada rakyatnya ketika ia menjadi kaisar Romawi. Itu yang Satrio baca di buku.
Sesaat kemudian ia menengok ke arah Satrio. “Bagi saya….hidup itu adalah perubahan. Baik-buruk, sedih-bahagia, kaya-miskin, itu semua adalah perubahan. Kalau nggak ada perubahan, buat apa kita hidup?”
Satrio terdiam. Ia berpikir dalam hati. Ia mulai ragu dengan pandangan dirinya dalam memaknai hidup selama ini. Cowok di hadapannya nyaris mematahkan berbagai filosofinya tentang hidup.
“Hidup itu kan nggak pernah bisa diulang ataupun mundur. Sama seperti kereta ini. “ Tiba-tiba sebuah pertanyaan meluncur dari mulut lelaki berjaket itu. “ Menurut Mas, hidup itu apa?”
***
Satrio terjaga dari tidurnya di kereta karena cahaya keemasan yang menyusup melalui jendela kereta. Matahari sore itu begitu menyilaukan mata. Membuat kulitnya seketika terbakar.
“Karcis! Karcis!” Seorang petugas kereta berpakaian biru mendatangi kursi Satrio. Dari tulisan di dadanya, terbaca jelas nama lelaki itu. Sabar. Nama yang sangat kontras dengan perangainya yang justru terlihat tak sabaran.
Satrio berusaha mencari-cari karcis keretanya. Ketika menemukan kertas yang dicarinya berada pada saku belakang celananya, ia langsung memberikannya pada petugas.
Gadis di hadapannya tak bergeming. Ia masih serius membaca. Padahal petugas kereta itu berkali-kali menagih karcis padanya. Sampai-sampai Satrio harus mengibaskan tangan di depan wajah gadis itu, baru ia sadar. Tapi anehnya, gadis itu kembali sibuk dengan novel di tangannya. Sebegitu menarik kah cerita novel itu?
“Hai…” Satrio kembali mencoba menyapa gadis itu untuk kedua kalinya. Tapi tetap saja tak berhasil membuat gadis itu memalingkan wajah ke arahnya. Apakah ia berpikir bahwa lelaki di hadapanya orang jahat? sehingga tak pantas di tanggapi seandainya ia mengajaknya bicara.
Satrio kembali mengibaskan tangannya di depan gadis itu. Untuk kali ini sang gadis menengok ke arahnya. “Boleh kenalan?” Satrio bertanya sambil mengulurkan tangannya. Berharap gadis itu membalasnya.
Gadis itu tersenyum manis sambil mengangguk. Kemudian ia menjabat tangan Satrio. Tiba-tiba ia terlihat sibuk mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Kemudian diambilanya sebuah buku kecil dan bolpoin dari sana.
Satrio memerhatikan gadis itu yang nampak menulis beberapa kalimat dalam buku kecil itu. Kemudian ia membacanya ketika gadis itu menunjukkan, “Oooh… nama kamu Intan.”
Kemudian bibirnya terbuka, mengeluarkan satu dua kalimat yang sulit dipahami oleh orang kebanyakan. Namun entah kenapa Satrio mampu memahaminya.
“Kamu minta saya bicara pelan-pelan?” tanya Satrio berusaha memahami ucapan gadis itu.
Gadis itu mengangguk senang dan langsung menuliskan kembali dua kalimat di dalam buku catatannya.
“Maaf, saya tidak bisa mendengar. Saya memahaminya lewat gerakan bibir.” Satrio membacanya. Kemudian ia berpaling ke arah gadis itu. “Nggak apa-apa, nggak perlu minta maaf,“ ujar Satrio sambil tersenyum ramah.
Dibalik cahaya senja, Satrio dan Intan menikmati sisa perjalan itu dengan mengobrol, bercanda, dan saling bercerita. Dengan cara yang cukup aneh menurut kebanyakan orang. Tapi nampaknya mereka tak peduli.
Hingga tak terasa mereka tiba di kota Malang. Udara dingin kota Malang langsung menyusup melalui celah-celah pakaian Satrio ketika kakinya melangkah keluar dari gerbong kereta yang padat itu. Ditengah hiruk-pikuk stasium kereta, matanya menangkap sosok Intan yang tengah berpelukan bahagia kakek-neneknya.
Satrio juga melihat sosok lelaki berjaket yang menemaninnya mengobrol di lorong sambungan kereta. Ia terlihat dijemput oleh istri dan kedua orang anaknya.
Dan Satrio….
Ada yang mengganjal di hatinya. Entah kenapa ia ingin kembali ke Jakarta. Seperti sebuah bisikan yang entah dari mana asalnya. Dengan keyakinan penuh ia berlari ke loket penjualan tiket kereta terlihat di ujung stasiun.
“Satu tiket untuk ke Jakarta. Kereta paling cepat ya, Mbak…”
***
Hidup itu adalah sebuah kepingan-kepingan puzzle yang sulit untuk dimengerti. Terkadang kita lelah, dan berhenti di tengah jalan sebelum puzzle itu tersusun lengkap. Tapi selalu ada rasa penasaran kalau kita belum menyelesaikan susunan puzzle itu.
“Satrio!”
Sebuah suara membuyarkan tanda tanya besar di benak Satrio.
“Lo katanya ke Malang, Sat?” tanya pria penjaga warung ketika Satrio kembali ke kosannya.
“Emang sih, tapi balik lagi.”
“Kenapa?” tanya pria itu penasaran. Namun kemudian ia buru-buru menarik lagi ucapannya. “Ah, nggak penting. Elo kan emang suka nggak jelas.” Dengan sekali tarikan nafas pria itu mulai mengabarkan hal yang cukup mengejutkan bagi Satrio. “Sat, Narto meninggal, Sat. Tadi malem. Jatoh di lokasi syuting. Tadi pagi jenazahnya langsung dibawa ke rumahnya di Jombang. Anak-anak banyak yang ikut.”
“Hah?!? Narto?!?” Satrio berkata tak percaya dengan baru saja di dengarnya. Narto akhirnya merasakan mati yang sesungguhnya. Apa ia ketakutan saat ini? Sama seperti ketika ia mengatkan kalau dirinya takut hidup?
Setelah mendapatkan keterangan, dengan cepat Satrio menuju kamar kosnya. Tangannya meraba-raba bagian atas pintu untuk mencari kunci kamarnya. Tempat biasa Satrio dan pacarnya, Dewi, menyimpan kunci. Tidak ada. Itu tandanya Dewi membawa kuncinya. Reflek tangan Satrio menekan gagang pintu kosnya dan… “Apa-apaan ini?”
“Satrio???”
“Keluar lo semua dari kamar gue!” ucap Satrio sepersekian detik ketika ia melihat apa yang sedang terjadi di kamar kosnya. Dewi sedang berciuman dengan seorang cowok yang asing baginya.
“Sat, aku bisa jelasin semua…”
“KELUAR!!!”
Segenap emosi yang meraung-raung di dirinya membuatnya mengeluarkan bentakkan pertama pada pacarnya. Teriakan Satrio terdengar seantero kos-kosan. Sebuah pertanyaan melayang dipikirannya. Tentang arti hidup ini.
Tak pernah ada jawaban pasti. Karena hidup adalah sebuah rahasia. Biarkan semua mengalir apa adanya. Sampai jantung ini tak berdetak lagi… Sampai raga ini terlepas dan terbang menuju tempat terakhir di alam raya ini….

SELESAI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *