CAROUSEL

CAROUSEL

By: Dyan Nuranindya

Aku mengenalnya di taman rekreasi ini. Lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Waktu dimana aku memakan lolipop warna-warni yang entah beracun atau tidak. Aku tak pernah peduli waktu itu. Aku hanya suka warnanya yang berbeda-beda. Bagiku rasa permen sama saja. Seindah atau seburuk apapun bentuknya.
Dari kecil aku menyukai warna. Ibuku adalah pelukis tuna rungu yang jatuh cinta kepada seorang pantomin di taman rekreasi. Pantomin itu yang kemudian menjadi ayahku. Mereka jatuh cinta dalam keheningan yang bermakna. Mereka jatuh cinta di tengah teriakan histeris pengunjung yang berada di jet coaster dan tawa anak-anak kecil di atas komedi putar. Mereka menciptakan teritori sendiri seperti medan magnet yang tak kasat mata.
Taman rekreasi ini adalah rumahku. Keluarga kami tinggal di sebuah bilik kecil di belakang wahana rumah boneka. Wahana yang sejak kecil menjadi tempat favoritku bermain. Aku senang berlama-lama di dalam wahana tersebut ketika taman rekreasi tutup. Memerhatikan detail pakaian¬pakaian boneka yang ada di sana, Terkadang aku melucuti pakaiannya untuk aku kenakan di tubuhku. Kemudian aku berdansa dan bernyanyi-nyanyi mengelilingi rumah boneka. Itu salah satu dari sekian banyak hal yang membuatku bahagia.
Taman rekreasi ini membuatku enggan untuk beranjak dewasa. Aku ingin selalu menjadi anak-anak. Aku pun tak tertarik dengan dunia di luar sana. Dunia di luar taman rekreasi ini. Aku sering mendengar betapa menyeramkannya kehidupan di luar sana. Betapa orang bisa saling membunuh dan menyakiti hati sesama manusia dengan mudahnya. Tak pernah sedikit pun aku tetarik untuk melangkahkan kaki keluar dari gerbang taman bermain ini. Padahal itu hal yang sangat mudah. Tapi taman rekreasi ini terlalu menyenangkan untuk ditinggalkan barang sedetik pun. Di sini tak pernah ada derita. DI sini hanya ada kebahagiaan.
Lalu dia hadir. Dia hadir memberikan rona baru di dunia warna-warniku. Dia yang sering berada di antara tumpukkan sampah-sampah minuman
kaleng, makanan ringan, dan koran-koran yang ditinggalkan pengunjung taman rekreasi. Aku membencinya. Karena ia merusak pandanganku. Ia merusak warna-warni indah yang tertangkap oleh pupil mataku. Ia satu¬satunya warna gelap yang nampak menonjol karena berada di tengah-tangah keceriaan warna lain.
Aku tahu umurnya tidak berbeda jauh dengan diriku. Tapi aku enggan berteman dengannya. Apalagi menyapanya. Kata ayah, ia adalah anak dari Jono, si pesulap berkumis panjang itu. Aku tak peduli. Lebih tepatnya, aku tak tertarik.
Lebih dari dua puluh tahun aku tak pernah tahu namanya. Akupun jarang melihatnya lagi karena kesibukkanku menjadi penari karnaval membuat waktuku banyak tersita.
Kini ia berdiri di hadapanku. Ya, anak itu. Anak yang lebih dari dua puluh tahun silam mengganggu pandanganku. Ia menatapku seolah-olah aku ini salah satu boneka yang dipajang di wahana rumah boneka. Saat inilah aku menyadari bahwa dia telah berubah seratus delapan puluh derajat. Ia tidak lagi merusak pandangan warna-warniku. Ia tidak lagi berwarna gelap. Ia terang. Bahkan matanya…. tunggu, baru kali ini aku mengetahui kalau ia memiliiki warna mata seindah itu. Hazelnut.
“Masih ingat?” dia mencoba bertanya.
Aku diam saja. Aku malah sibuk dengan pakaianku. Pakaian yang aku kenakan terlalu kekecilan kali ini. Membuatku susah bernafas. Petugas bagian wardrobe salah memesan ukuran untukku. Sial! Dan sekarang aku kelihatan bodoh di depan cowok tampan itu dengan pakaian mirip sekali dengan kelinci-kelinci wanita di majalah Playboy. Ini adalah penampilan terburukku selama aku menjadi penari karnaval. Perhitunganku sempat salah. Sehingga kakiku terkilir di tengah pertunjukkan. Rasanya sakit bukan main. Untungnya berhasil aku tahan hingga pertunjukkan usai.
“Boleh saya bantu?” Cowok itu tiba-tiba mengulurkan tangannya sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
Aku sedikit ragu. Namun kemudian aku meraih telapak tangannya.
“Aku Nico,” ucap cowok itu sambil menggiring tanganku ke lengannya.
“Aku…”
“Fiona,” potong cowok di hadapanku.
Keningku berkerut. “Dari mana kamu tahu namaku Fiona?”
Nico tertawa kecil. Memerlihatkan deretan gigi-giginya yang rapi. “Siapa yang tidak tahu Fiona, anak semata wayang pelukis dan pantomin yang melegenda di taman rekreasi ini.” Nico memberikan jeda pada kalimatnya. Sebelum akhirnya ia kembali berkata, “Aku sudah tahu kamu nyaris seumur hidup aku.”
“Oya? Lalu kenapa kita baru sekarang kita berkenalan?”
Nico kembali tersenyum. Kemudian ia berkata, “Karena memang seharusnya begitu. Kita berkenalan di saat kita telah beranjak dewasa. Kita berkenalan ketika aku telah siap untuk berkenalan denganmu. Kita berkenalan saat kita telah mampu untuk memikirkan hal yang lebih… serius.”
“Maksud kamu?” aku bertanya heran. Seheran-herannya.
Cowok itu hanya tersenyum. Perlahan ia membantuku duduk di salah satu kursi di sudut taman. Terlihat tangannya memainkan sebuah kunci. Seperti sulap, kunci itu dapat melayang beberapa saat di tangannya. Ia tersenyum. “Apa kamu punya impian?”
Aku meggelengkan kepala. Satu dari sekian banyak pertanyaan bodoh menurutku. Seumur hidup tinggal di dunia warna-warni tak pernah membawaku ke sebuah impian. Dunia nyataku jauh lebih indah dari sekedar impian.
Nico memandang jauh. Seakan memikirkan hal yang cukup… serius. “Taman rekreasi ini masih sama. Tak ada yang berubah. Termasuk kamu,” ucapnya sambil kemudian menatap ke arahku dengan mata hazelnut-nya. “Sepuluh tahun yang lalu aku memberanikan diri keluar dari pintu taman rekreasi ini. Aku ingin melihat dunia luar. Dan aku baru mendapatkan satu kesimpulan dari mulutmu.”
“Apa?”
“Dunia di luar sana sangat keras. Sulit mencapai sebuah kebahagiaan. Manusia harus melewati kemarahan, kesedihan, penderitaan, dan sebagainya. Kalau menyerah… Puff! tidak akan memperoleh apa-apa,” ucap Nico sambil menunjukkan kemampuannya menghilangkan kunci tadi dari tangannya.
Aku merinding mendengar kalimat yang terlontar dari mulut cowok itu.
“Tapi itu yang menjadi pembeda antara di luar sana dengan di dalam taman ini. Di luar, setiap orang memiliki impian, cita-cita. Tapi di sini…” Cowok itu tak melanjutka kalimatnya.
“Aku nggak tertarik dengan dunia luar. Semua terdengar menyeramkan.”
“Tapi kamu harus merasakannya.”
“Untuk apa?”
“Untuk merasakan kebahagiaan yang sebenarnya.” Nico mengusap kedua tangan. Kemudian ia melepaskannya perlahan hingga muncul kain warna-warni dari telapak tangannya. Hah! Sepertinya lelaki itu mewarisi kemampuan sulap ayahnya. Dan saat ini dia sedang pamer.
“Aku bahagia di sini!”
“Tapi kebahagiaanmu semu. Apa kamu pernah membayangkan kalau taman bermain ini ditutup dan kamu terpaksa pergi dari sini?”
Aku menggelengkan kepalaku. Aku tak pernah sekalipun berpikir demikian. Aku tak siap. Karena itu artinya kiamat bagiku.
Lelaki itu menggenggam tanganku. Ia tersenyum. Tatapannya seakan memancarkan keyakinan luar biasa. Seperti menyalurkan energi keberanian ke seluruh aliran darahku. “Ikut aku.”
“Kemana?”
“Keluar.”
“Aku…”
“Aku cuma butuh satu hal dari kamu.”
“Apa?”
Nico mengibaskan kain warna-warni di tangannya. Dalam sekejap kain tu berubah menjadi setangkai mawar merah. Ia menyerahkannya padaku. “Percaya saja denganku.”
*** Bau asap kendaraan membuatku ingin muntah. Udara begitu panas di sini. Debu-debu membuat wajahku seperti mengenakan bedak abu-abu.
Nico tak pernah sekalipun melepas genggaman tangannya. Kami berjalan kaki melewati trotoar yang padat dengan pedagang kaki lima, rel kereta api yang padat dengan rumah-rumah kumuh di kanan-kirinya, jembatan penyebrangan manusia yang juga dilewati motor, hingga mal-mal
mewah yang penuh dengan barang-barang indah dengan harga selangit. Seperti berada di bumi dengan ruang kehidupan yang berbeda.
Aku terheran-heran melihat banyak sekali pengemis-pengemis tanpa kaki, tanpa tangan, atau dengan membawa bayi bergelimpangan di jalan raya. Tempat kendaraan-kendaraan lalu-lalang dengan kecepatan tinggi. Seakan nyawanya ada 1000.
Aku pun melihat laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan bernyanyi-nyanyi dengan kecrekan dari warung ke warung.
Tiba-tiba seekor monyet mendekatiku. Hampir saja aku menjerit karena kaget. Namun rantai di lehernya menarik hewan itu kembali pada sang pemilik. Sepertinya ia kesakitan. Aku pernah dengar kalau itu namanya Topeng Monyet. Di mana monyet dijadikan alat untuk mencari uang. Tak terbayang bagaimana sadisnya mereka melatih monet-monyet tersebut.
Dari semua yang aku lihat, ada satu hal yang membuatku sangat ketakutan. Sekelompok anak sekolah dengan pakaian seragam saling menghadang. Batu-batu melayang di udara. Mereka membawa benda-benda tajam di tangan. Ada yang membawa bambu panjang. Mengingatkanku pada atraksi sirkus di Taman Rekreasi.
Nico sigap melindungiku.Ia buru-buru menarik tubuhku masuk ke dalam sebuah bus yang mengantarkan kami kembali ke rumahku. Ke Taman Rekreasi. Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam. Terheran-heran hingga tak mampu mengeluarkan kata. Aku tak mau lagi keluar. Aku begitu takut. Tapi kenapa aku begitu percaya pada lelaki di hadapanku ini?
***
Caraousel…
Aku selalu suka permainan ini. Waktu kecil komedi putar ini terlihat begitu besar, begitu indah. Aku senang menaikinya walau hanya seorang diri. Karena permainan ini tak akan membawaku kemana-mana. Dia akan berputar di tempat. Aku akan terus berada di tempat yang sama hingga aku merasa bosan dan berhenti memainkannya.
Tapi ketika aku beranjak dewasa, aku mulai merasa kesepian. Hingga hal-hal yang membuatku bahagia tidak lagi terasa menyenangkan.
Dia yang menyadarkanku kalau kebahagiaan tak selalu abadi. Kebahagiaan yang sesungguhnya harus selalu kami ciptakan sendiri. Agar hidup tak membosankan. Karena dunia nyata membuat kita mampu merasakan bahagiaan yang berbeda-beda melalui caranya masing-masing.
Dan seindah atau seburuk apapun tempat kau berada, akan selalu menyenangkan ketika bersama orang yang tepat. Orang yang akan mengajarimu tentang pahit manisnya kehidupan. Melepaskanmu dari belenggu zona nyaman. Menggenggam tanganmu untuk menghadapi dunia luar yang penuh dengan tantangan baru mencapai kebahagiaan-kebahagiaan nyata bersama. Dan aku menemukan dia…
“Apa kamu siap menjalani sisa hidup di luar sana bersamaku?” tanya Nico sambil membuka telapak tanganku. Ia menutupnya dengan telapak tangan miliknya. Dalam hitungan detik sesuatu yang manis ada diantara telapak tangan kami. Sebuah cincin pengikat janji suci.
Aku tersenyum. Tak mampu berkata-kata.
“Aku janji nggak akan melepaskan kamu.”
“Aku percaya itu,” jawabku yakin. Dalam hati aku tak sabar menghadapi kejutan-kejutan mendebarkan di luar sana. Di luar kebahagiaanku selama ini. Meninggalkan Taman Rekreasi.
Nico menjentikkan jarinya. Tiba-tiba seekor kuda putih berlari menghampiri kami. Unicorn. Ya, kami membawa salah satu kuda terbaik di Carousel keluar Taman Rekreasi. Membiarkannya bebas, tak lagi terbelenggu oleh lingkaran jalur yang sama. Pergi menuju kehidupan nyata yang penuh dengan hal-hal ajaib. Kami menyebutnya dengan…
Miracle..
SELESAI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *