Nama lo kepanjangan, Boo!

Banyak orang yang bilang kalau saya nerd, aneh. Karena betah seharian berada di dalam kamar hanya untuk membaca, belajar, atau menghafal hal-hal yang nggak penting lainnya (kadang saking nggak pentingnya, hal-hal yang penting malah malas saya hafal ahaha). Saya bukan pembaca buku yang baik. Karena sering tiba-tiba ketiduran pas lagi baca. Makanya butuh berhari-hari kalau mau nyelesaiin membaca satu novel. Bahkan novel yang tipis sekalipun (Hah!Penulis macam apa kamu!!!). But anyway, saya termasuk orang yang menganggap bahwa kecerdasan lebih kece dari kepintaran. Ah, you know what I mean, galz!

img_0713

Kemarin saya sempat emosi ketika salah satu sahabat saya, cewek, cerita kalau dia baru saja diputusin pacarnya karena cowoknya menganggap bahwa dia ‘kurang ‘ pintar lantaran sahabat saya itu memilih untuk tidak melanjutkan kuliah karena dia lebih menyukai pendidikan non-formal yang menurutnya lebih bisa mengolah ketrampilannya. Itu pilihannya yang patut dihargai. Dan kenyataannya dia memang sangat sukses dengan pilihannya itu.

Kalian boleh menganggap saya terlalu feminis atau apapun. Dan bukan saya menganggap kalau pendidikan formal (kuliah) tidak terlalu penting untuk cewek, tapi saya akan emosi kalau ada orang yang menjatuhkan orang lain hanya karena tingkat pendidikan dan harta. Atau yang lebih parahnya terlalu pamer title seperti yang terjadi belakangan ini (you know lah;).

“Cewek yang mengambil pendidikan setinggi-tingginya dan jadi wanita karier, itu adalah HAK-nya bukan kewajiban. Kewajibannya ya mengurus keluarga dan mengurus suami. Pendidikan tinggi dan karier itu cuma BONUS buat suaminya sebenarnya. Dan pacar kamu seharusnya malu merendahkan kamu dengan masalah pendidikan cewek. Karena seharusnya dia yang berusaha meraih pendidikan setinggi-tingginya untuk bekal masa depan dia ketika berkeluarga. Masa iya dia nanti mau bergantung sama istrinya. Enak di dia nggak enak di kamu! ”

Itu kata-kata yang saya ucapkan pada sahabat saya dengan penuh emosi. Saya selalu semangat 45 kalau disuruh nyemangatin cowok-cowok biar bisa meraih pendidikan tinggi gimana pun caranya. Kakak saya salah satu korban saya hehe… emang faktanya sekarang, semakin tinggi pendidikan seseorang, maka dia akan semakin dihargai. Tapi intinya kan, titel itu memang nggak menjamin kehidupan jadi lebih baik. Tapi titel bisa membuat kita punya pilihan dan peluang yang lebih banyak. Semua tergantung dari orangnya masing-masing. Dan inget, belajar itu nggak ada batasnya, Genk!

nerd1

Percuma juga kalau titel di namanya panjang kayak kereta api tapi orangnya males-malesan dan gampang putus asa ya sampe bego nggak bakalan sukses. Beda banget sama orang yang nggak punya titel tapi dia pekerja keras dan pantang menyerah. Dia pasti akan lebih sukses. Tapi paling gokil kalau berjalan seimbang. Titel panjang, semangat oke, dan nggak gampang nyerah. Asal jangan justru kebalikannya hahaha….

Saya sangat appreciate dan salut sama orang yang berhasil meraih pendidikan tinggi. Karena emang meraih pendidikan tinggi nggak segampang ngomong. Ada banyak faktor yang bikin itu semua nggak bisa diraih. Salah satunya ya masalah biaya pastinya. Tapi selama ada kemauan, semuanya pasti bisa terlaksana. Bisa dengan kerja part-time (seperti yang dilakukan sepupu saya. Dan seriously dia bisa lulus sarjana dari hasil kerja part-timenya ini) atau mencari beasiswa dimana-mana.

Setahu saya, kalau di Amerika ada yang namanya sistem pinjaman untuk mahasiswa. Dimana mahasiswa itu meminjam dana untuk biaya kuliah pada kampus mereka yang sudah kontrak dengan sebuah perusahaan tempat mahasiswa itu bekerja. Jadi setiap kali mahasiswa itu dapat gaji, akan langsung dipotong untuk melunasi pinjaman mereka. Sebenernya sistem ini bisa bikin mahasiswa jadi mandiri dan belajar kerja keras. Tapi nggak tau kenapa sistem ini jarang banget di negara kita. Takut pada ngabur kali ye…haha…

So, menurut kalian titel di nama itu penting nggak, sih? Mungkin kutipan ini bisa jadi jawabannya.
“Kalau titel professor di nama saya diambil, saya juga nggak apa-apa. Karena ilmunya kan ada di otak, bukan di titel.” – B.J Habibie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *