Garuda di Dada

Piala AFF tahun ini membuat saya seperti mendapatkan sebuah kuliah kepribadian gratis. Mungkin sepak bola adalah satu-satunya olahraga yang sempat membuat saya bercita-cita menjadi seorang ‘cowok’ saat duduk di bangku sekolah dasar. Dan membuat Mama sempat nyaris berteriak “Oh My God, what’s wrong with my girl?” wkwkwk….

Ajax Amsterdam adalah tim sepak bola pertama yang saya sukai waktu itu. Kalau tidak salah usia saya masih delapan tahun pada masa itu.
Entah energi apa yang ada di dalam olahraga itu, tapi saya sangat senang melihat sebuah kerjasama tim, semangat, kekecewaan,penyesalan dan kebahagiaan di setiap pertandingan sepakbola. Hingga disaat murid2 cewek sibuk mengaku haid setiap pelajaran olahraga, saya justru asik menjadi striker, bermain bola dengan murid cowok. Saat itulah saya merasa tersisihkan ketika kedua tim cowok itu tidak ingin ada seorang cewek bergabung di tim mereka ?.

Ketika SMP, saya juga masih menyukai sepak bola. Namun tim kesukaan saya ketika itu bukan lagi Ajax melainkan Juventus.Karena pada saat itu Juve memiliki pemain-pemain yg sangat bagus menurut saya. Bukan saja di bagian depan, namun dari setiap lini pertahanan. Untuk masalah pemain, saya termasuk yang cukup objektif. Saya akan mengakui jika pemain yang saya sukai/tidak saya sukai bermain bagus. Prinsip saya, tampang ganteng nggak selalu main bagus juga, kan?
Bahkan saat itu saya menjadi penggemar fanatik Juventus. Segala atribut yg saya miliki bertema Juventus. Bahkan saya selalu mengumpulkan kliping dan menggambar strategi permainan di setiap pertandingannya. Bola sepak pun ada di dalam kamar saya beserta dengan kaos bernomer punggung 9 yang pada saat itu dimiliki oleh Fillipo Inzaghi. Hingga kamar saya waktu itu lebih terlihat ‘cowok’ dibandingkan dengan kamar kakak saya yang memang laki-laki tulen:p.

Kurniawan dwi yulianto dan Bambang Pamungkas adalah dua pemain yang membuat saya mulai perduli dengan persepakbolaan di tanah air. Saya sering menonton permainan mereka di beberapa kali pertandingan. Tetapi saya sempat kehilangan mereka disaat persepakbolaan Indonesia kembali surut. Dan anehnya bukan sepenuhnya karena permainan Timnas yang kurang baik. Tapi justru karena ulah supporter yang cukup memalukan menurut saya. Rusuh! Ya, hanya itu kata yang selalu diidentikan dengan persepakbolaan di tanah air. Rusuh!

“Jangan pergi-pergi dulu, ada sepakbola di stadion,” itulah kata-kata klise para Ibu, termasuk orang tua saya, kepada anaknya pada saat itu. Seakan pertandingan sepak bola bukanlah sebuah kompetisi sportifitas melainkan sebuah perang yang wajib dihindari.

Piala AFF tahun ini membawa perubahan besar di dunia persepakbolaan Tanah Air. Mendadak semua orang tahu bola. Mendadak semua orang menyerbu atribut supporter, dan mendadak orang-orang dari segala lapisan masyarakat, dari segala usia berbondong-bondong mendatangi Gelora Bung Karno untuk menonton Timnas berlaga. Ada apa dengan Timnas kita saat ini?
Mungkin pertanyaan saya terjawab ketika untuk pertama kalinya saya melihat penampilan Timnas di laga pertamanya di piala AFF. Jujur, saya menontonnya saat kebetulan acara favorit saya di stasiun tv lain sedang iklan:P Dan ketika itu pula untuk pertama kalinya saya menonton kembali penampilan Timnas setelah bertahun-tahun saya malas menonton.
Saat itu saya bengong. Edan!Berapa lama saya meninggalkan mereka dan mendadak Timnas bisa menjadi secanggih ini? Semua lini mengisi tempatnya dengan maksimal. Ini baru namanya tim, Bung! Ini yang selama ini saya harapkan di dalam Sepakbola Indonesia. Tidak ada yang namanya bintang tunggal. Semua adalah Bintang. Dan ini luar biasa.

Sejak hari itu, saya mengikuti penampilan Timnas di laga-laga berikutnya di piala AFF. Saya memerhatikan setiap detail pertandingan mereka sama ketika saya memerhatikan Juventus bertanding. Sehingga saya dapat dengan jujur mengatakan seandainya ada pemain yang bermain kurang maksimal. *Yeah, penonton memang hanya bisa mengkritik. So sorry for that..

Namun semakin kedepan, saya justru semakin kurang nyaman dengan media yang over exposed terhadap Timnas hingga sampai mengutak-utik masalah pribadi pemain. Banyak juga orang-orang yang sengaja menggunakan Timnas sebagai sarana kepentingan pribadi. Come on people, kenapa sih kita nggak bisa membiarkan semua ini berjalan apa adanya?kenapa sih, kita nggak bisa menjaga agar sepakbola, Timnas, dan olahraga-olahraga lain menjadi sebuah kegembiraan tersendiri untuk Bangsa Indonesia ditengah kekalutan politik, kemiskinan, dll. Kita semua bisa melihat kan, ketika Timnas berlaga, semua orang (tak terkecuali para pemulung, petani, pengusaha, mahasiswa, hingga presiden) pun turut merasakan kegembiraan tersebut dengan menonton untuk menyuport Timnas. Meninggalkan sejenak kepusingan dan kekalutan dunia. Bahkan nonton bareng menjadi ajang solidaritas, toleransi dan reuni untuk warga Indonesia. Please jangan hilangkan kegembiraan itu. Jangan rusak semua itu hanya untuk kepentingan pribadi.

Anyway, diluar itu semua banyak sekali pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kemajuan Timnas Indonesia ini.

#Menumbuhkan Nasionalisme Bangsa Indonesia#
Well, dulu mungkin orang lebih bangga menggunkan atribut negara lain. Tapi sekarang orang-orang nggak malu menggunakan lambang garuda di dada. Belum lagi lagu Garuda di Dadaku yang eksisnya mengalahkan lagu nya Peterpan 😀

#Membantu Perekonomian#
Sekarang lihat aja ke pasar Tanah Abang, dan di kaki lima, kalian pasti akan melihat banyak Garuda dan warna merah-putih di baju yang diserbu pembeli. Otomatis kejayaan Timnas membantu para pedagang kecil untuk meningkatkan pendapatan mereka. Bukannya itu artinya membantu perekonomian rakyat kecil ya?

#Bangsa Indonesia belajar untuk sportif#
Okey, banyaknya supporter Indonesia yang datang ke GBK memang membuat lawan ketar-ketir. As you see, mereka nggak berbuat ulah kepada pihak lawan. Justru malah banyak yang minta foto bareng di hotel *hekk! Dan pastinya, supporter Indonesia bisa menunjukkan kalau kalah-menang bukan masalah. Yang penting adalah rasa Persatuan dan Kesatuannya itu yang membuat sebuah pertandingan bermakna atau tidak.

#Image persepakbolaan Indonesia menjadi baik#
Yes, piala AFF kemarin membuat banyak orang yang semula hanya jadi tukang protes di televisi mendadak datang memenuhi GBK untuk menonton pertandingan Timnas. Dan Ibu-ibu, ABG, bahkan anak-anak tidak takut lagi untuk datang menonton langsung pertandingan sepak bola. Artinya, timbul sebuah harapan baru di dalam diri Bangsa Indonesia saat ini. Harapan bahwa Bangsa ini masih bisa bangkit dari ketepurukan. Masih ada kemungkinan yang akan terjadi. Dan ini berlaku untuk semua aspek dalam kehidupan ini. Tidak hanya di sepak bola saja. Intinya adalah sebelum kita menginjak garis finish, mau bagaimanapun kondisinya, kita masih mempunyai harapan untuk sukses menjadi pemenang.

Mungkin sebuah kekalahan memang meyakitkan, tapi bukankah setiap orang pernah merasa kalah?pernah gagal?Kebanyakan orang memang bersemangat jika memperoleh kemenangan. Tapi lebih banyak orang yang sulit menerima kekalahan dan cenderung mundur. Tapi sesungguhnya tanpa disadari, cara kita menghadapi kekalahanlah yang bisa menentukan seseorang itu merupakan pemenang atau bukan.

Untuk perubahan yang terjadi di negara Indonesia tercinta ini, ijinkan saya untuk berdiri dan bertepuk tangan kepada Timnas Indonesia sebagai ungkapan rasa terima kasih saya kepada mereka. Bagaimanapun, kerja keras kalian yang awalnya hanya untuk meningkatkan persepakbolaan Indonesia di mata dunia, ternyata justru mampu memberikan dampak luar biasa di negara ini. Unity in diversity begitu kental terasa didalam Timnas. Tak ada lagi perbedaan usia, tidak ada lagi perbedaan suku, tidak ada lagi perbedaan agama, semua membaur menjadi sebuah ikatan tim yang solid. Yang bersama-sama bekerja maksimal untuk membela negara. Dan saya tidak akan rela membiarkan kebahagiaan kalian di lapangan dirusak oleh orang-orang egois diluar sana. Orang-orang yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.

Meskipun piala AFF belum berhasil kita dapatkan, tapi percayalah, kalian telah memberikan contoh kepada seluruh warga negara Indonesia bahwa semua orang bisa menjadi pahlawan dibidangnya masing-masing. Semua orang bisa ikut mengharumkan negeri ini. Perjuangan tidaklah harus mengangkat senjata dan tetesan darah di medan perang. Perjuangan tidaklah harus seperti yang dilakukan oleh para pahlawan nasional kita. Tapi perjuangan bisa dilakukan dengan senjata kita sendiri, dan di medan perang kita sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Timnas pada final AFF kemarin… “They fight like warriors!!!”

nb: Thanks untuk Mas Bambang Pamungkas atas tulisan blognya yang luar biasa. You’re still my hero,.. our legend.

One Commentto Garuda di Dada

  1. Andhika says:

    Dukung Timnas Indonesia!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *