3 Months later

Hiyaaa…. sudah lama sekali saya nggak update blog ini. Jujur, I really miss you guys….hiks…hiks… (dasar cengeng!)

Mungkin untuk postingan saya kali ini lebih baik saya menceritakan sekilas tentang hal-hal yang terjadi atau hal-hal yang saya rasakan selama tiga bulan belakangan ini. Yah, itung-itung sebagai tanda permintaan maaf saya karena sudah meninggalkan kalian selama itu *maaf. Beberapa mungkin saya agak lupa *hehehe…maaf lagi. Tapi saya akan berusaha mengingat semuanya (udah mau cerita sekilas doang, masih banyak yang lupa lagi! Dasar nggak niat! Hahaha…)

Ehem! Okay, saya minum dulu.

Sudah. Saya tarik nafas panjaaaaaang. Saya mulai memejamkan mata, menghembuskan nafas dan….mulai.

JANUARY
Yup, awal tahun. Mendadak semua menjadi lebih rusuh dan ribet. Kerjaan di kantor semakin buaaanyaaak. Belum lagi deadline deadline tulisan yang bikin saya semakin kusut. Tapi dibalik itu semua, novel saya yang keempat, “Cinderella Rambut Pink” terbit juga di bulan ini. Yiiipiieee…..

January ini bikin saya introspeksi diri. Banyak hal yang harus dirubah menurut saya. Dari mulai pola hidup, pola makan, pendidikan, sampai pekerjaan. Benar kata mama, saya mulai gila kerja. Dalam sehari saya bisa menghabiskan 12 jam lebih di kantor. Kamar kos saya lebih sering menjadi tempat numpang tidur. Jangka waktu saya pulang ke rumah untuk bertemu keluarga dalam 5 bulan terakhir bisa dihitung pakai jari. Dan baru saya sadari kalau saya telah kehilangan banyak hal karena itu.  Yah, meskipun seringkali saya selalu menyangkal di depan mama.
Saat seperti inilah yang membuat waktu terasa amat sangat berharga bagi saya. Bukan waktu, tapi lebih tepatnya adalah moment. Ya, kadang meskipun hanya beberapa menit saja mengobrol dengan teman-teman atau keluarga, buat saya merupakan saat yang paling membahagiakan ditengah kepenatan saya dengan pekerjaan yang nggak ada habisnya. Makanya sering kali saya nyolong-nyolong waktu untuk sekedar minum kopi sambil ngobrol dengan teman-teman, main ke kampus saya, atau menelepon mama hanya untuk mengobrol ngalor ngidul.
Kalian tau nggak, kenapa ada orang yang umurnya sama dengan kita, tapi dia jauh lebih sukses dari kita? Sah-sah aja kalau kalian jawab  hal itu merupakan faktor keberuntungan. Tapi bagi saya, itu bukan hanya sebuah keberuntungan. Sukses atau enggaknya seseorang, itu tergantung bagaimana seseorang mampu memanfaatkan waktu yang sudah diberikan oleh Tuhan. Setiap orang kan punya jatah waktu yang sama kan? 1 hari 24 jam?
Saya tahu nggak seharusnya saya terus mengeluh soal waktu bekerja. Toh ini adalah pilihan saya. Dan saya juga yang ngelakuin. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana membuat semuanya menjadi menyenangkan. Membuat saya nggak harus kehilangan banyak hal. Mungkin saya harus punya management waktu yang lebih baik supaya semuanya bisa berjalan seimbang. Ok, saya sedang membaca buku tentang itu…. 😉
Ngomong-ngomong, saya pernah membahas masalah workaholic dengan teman-teman saya. Diantara semua komentar, ada salah seorang teman saya yang melontarkan pendapat agak berbeda. Dia bilang, saya bukan sedang mengejar ‘sesuatu’. Tapi saya sedang lari dari ‘sesuatu’.
“Mungkin tanpa elo sadari, lo punya trauma yang nggak bisa hilang. Makanya lo berusaha untuk ngalihin pikiran lo ke pekerjaan,” lanjut teman saya itu
Pernyataannya itu membuat saya berpikir keras. Saya sadar, ada banyak hal di masa lalu yang membuat saya selalu sedih kalau mengingatnya kembali. Tapi kayaknya hal itu udah lama saya kubur dalam-dalam. Mungkin teman saya memang ada benarnya. Saya memang sedang lari dari ‘sesuatu’. Tapi apa?


pb060088

FEBRUARY
Damn! Why I really hate this month. Saya membenci february. Entah kenapa dunia percintaan saya justru buruk di bulan ini. Saya pernah patah hati di bulan february. Saya pun pernah mengakhiri hubungan dengan pacar saya di bulan ini. Disaat orang-orang yang sedang kasmaran sangat menunggu-nunggu bulan ini karena bertepatan dengan hari valentine’s day. Saya malahan bete hahaha…

Again…

Nggak ada yang special di hari valentine buat saya. Rasanya sudah lama sekali saya tidak merasakan jalan berdua denga pacar saya hanya untuk iseng melihat-lihat orang lain pacaran (*pasangan yang aneh). Mungkin saya juga sudah hampir  lupa gimana rasanya punya pacar. Gimana rasanya diperhatikan, dilindungi, dan disayangi oleh seseorang yang kita sayang. Rasanya juga sudah lama sekali saya tidak berdandan cantik dan berusaha berjalan pelan agar langkah saya bisa sejajar dengan pacar saya saat kami jalan berdua.Kangen… (hueek!) ah sudahlah!

“Elo lebih seru ditemenin, Cil. Disayang. Bukan dipacarin.”

Itu ucapan salah seorang teman terbaik saya ketika saya dan teman-teman sedang mengobrol dengan secangkir kopi di pinggir jalan. Entah apa maksud perkataannya. Tapi ucapan mabuknya itu sanggup membuat saya mengingat banyak hal. Banyak hal yang sering membuat saya sedikit miris karena merasa menjadi korban diskriminasi orang-orang yang doyan berteriak, “Woy! Gue nggak jomblo lagi nih!”

Kejadian ini sering kali terjadi dalam hidup saya. ketika kebahagiaan bercampur dengan ke-“bete”-an. Okay, okay, saya akan sebutkan beberapa diantaranya:

1. Saya selalu senang ketika sebuah undangan pernikahan teman saya dikirimkan ke saya. Biasanya saya langsung senyum- senyum sendiri dan dalam hati berkata, “Huahaha… akhirnya married juga nih orang!”

Tapi….. pasti saya langsung panik. Dan deretan pertanyaan meloncat-loncat di kepala saya,

“Pake baju apa?” Ya, saya akan jujur kalau saya nggak punya baju pesta yang ‘cantik’. Lemari saya penuh dengan baju ‘aneh-aneh’ yang nggak mungkin saya pakai ke pesta pernikahan tapi lebih cocok untuk nakut-nakutin anak TK hahaha…

“Sepatunya apa?” Okay, okay, ini kejujuran saya yang kedua. Saya punya beberapa high heels. Tapi jalan saya bisa berubah jadi robot kalau memakainya. Sumpah deh, saat ini saya sedang berusaha keras belajar menggunakan high heels untuk berjalan normal seperti cewek- cewek model di catwalk.

“Angpaonya berapa?” Ini nih yang lumayan susah. Saya suka takut kekecilan untuk masalah yang satu ini.

“Berangkatnya sama siapa?” hiks… ini yang paling bete. Di undangan pasti ditulis, ‘Dyan and Partner’ . Saat inilah saya suka ngerayu-ngerayu bahkan kalau perlu nyogok kakaksematawayangsayayangsupernyebelin untuk mengantarkan saya.

Okay, setelah semuanya sudah beres dan kakaksematawayangsayayangsupernyebelin sudah berhasil saya rayu-rayu, kebetean saya belom selesai sampai disini. Entah ada magnet apa, entah ada angin dari mana, setiap kali sesi melempar buket bunga dari pengantin, aneh bin ajaib, saya selalu mendapatkannya. Atau paling enggak tuh bunga jatuh tepat di depan kaki saya. Waktu pertama kali sih saya masih buat seru-seruan. Jadi saya seneng2 aja disuruh naik keatas panggung buat dapet hadiah. Tapi lama-lama tengsin juga karena biasanya di panggung akan ditanya, “Udah punya calon?”  secara hadiah yang dikasih biasanya buat pasangan. Trus kalau saya jawab belum, pasti si MC langsung basa-basi promosi di ruangan itu. Sial!

But anyway, ketika saya menulis postingan ini, status di fb salah satu teman saya secara kebetulan berubah. Membuat saya mengacungkan 2 jempol untuknya, “you can’t hurry love…you just have to wait..”  like this! :)

Baru-baru ini juga, di bulan april, saya datang ke kawinan salah seorang teman saya. Ternyata ribet banget ya jadi cewek kalau mau dateng ke kawinan temen dadakan. Gara-gara buru-buru, kepala  saya kejedot pintu mobil, nggak sempet milih baju, make-up asal2an, rambut nggak diapa-apain, belum lagi nenteng highheels yang bikin kaki lecet dan tas kecil yang nggak guna.

Untungnya ada bunga hasil nyopotin gorden yang berhasil membuat rambut saya terlihat mendingan, baju hasil modifikasi sendiri yang lumayan lah buat dibawa kondangan.. hehehe….

“Hey mom, akhirnya anakmu ini berhasil jadi cewek”


MARET
Awal maret, saya mengalami yang namanya Jetlag. Apa itu jetlag, menurut wikipedia, jetlag adalah sebuah kondisi psikologis akibat perubahan ritme circadian. Perubahan tersebut disebabkan oleh kerja shift, perjalanan melewati meridian, atau panjangnya hari yang berubah. Kondisi ini dipercayai sebagai akibat dari terganggunya putaran terang/gelap yang mengubah periode ritme circadian tubuh. Dia dapat diperburuk oleh faktor lingkungan.

akibat yang ditimbulkan jet lag ialah:
* Lesu
* Grogi
* Mual
* Sakit kepala
* Insomnia atau pola tidur yang sangat tidak teratur
* Dehidrasi dan kehilangan nafsu makan
* Mudah terganggu
* Tidak rasional
Yaps, saya mengalami semuanya. Meskipun dibayarin kantor, tapi saya harus naik-turun pesawat berkali-kali karena memegang event-event yang berbeda di luar kota. Dari mulai Bandung, Jogja, dan Surabaya. Dan bukan sulap bukan sihir, hal itu saya lakukan hanya dalam jangka waktu kurang dari sebulan.Fiuuh! Saya sampai hafal gerakan pramugari ketika memperagakan alat keselamatan pesawat hahaha…
Oiya, bulan maret ini saya bantu-bantu temen saya jadi crew film lho…. Hohoho syenangnya… kapan-kapan ajak-ajak lagi ya, Mas. Jadi  yang megang kabel juga nggak apa-apa kok. Asal jangan disuruh nulis aja 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *