Becoming Mom

Diantara semua keluarga, saya memang yang paling sering membuat jantung mama saya dag-dig-dug. Saya yang paling sering dicariin ketika pulang sekolah nggak langsung pulang. Saya yang paling banyak punya temen yang ‘aneh-aneh’ menurut orang tua saya. Saya juga yang sering pulang berdarah-darah, lecet sana, lecet sini, karena main sepatu roda, main sepak bola, manjat pager, jatuh, nyangkut di kawat, kesrempet mobil, nyemplung got, dll. Tapi anehnya, saya juga anak mama yang ‘hampir’ semua kegiatan yang saya pengen selalu diiyakan keinginannya. Makanya nggak heran kalau waktu saya kecil hampir semua ekskul dan les saya ikutin. Dari mulai nyanyi, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, Matematika, Ngaji, Gambar, dan seterusnya dan sebagainya. Cukup panjang kalau saya harus menuliskan semuanya disini. Yang paling membuat mama dengan berat hati mengiyakan, yaitu ketika saya memutuskan untuk masuk kelompok pecinta alam yang membuat saya mulai mencintai gunung-gunung indah dan tebing-tebing tinggi. Itu pula yang membuat saya nyaris nggak dikenali oleh beliau setiap kali saya pulang naik gunung atau manjat tebing karena saya berubah seperti tikus kecil kecemplung got. Satu hal yang membuat saya kesal saat itu ialah ketika hampir setiap jam mama selalu menghubungi saya lewat hp untuk menanyakan hal yang sama, “Lagi ngapain, Dek?” again and again… Kalau sampai saya tidak mengangkat teleponnya, atau membalas smsnya, Mama akan mengomel panjaaaang dan lebaaaaarr….. “Kenapa teleponnya nggak diangkaat!! Kamu tau nggak, Mama khawatir! (Mama, please deh. Anak mama sudah besar. Sudah bisa jaga diri sendiri! Sloww…)

Hingga sebuah kejadian membuat saya menyadari alasan mama melakukan itu semua. Saat itu saya sedang melakukan pekerjaan saya sebagai LO sebuah event. Saya harus mengurus 10 orang perempuan cantik yang belum pernah saya kenal sebelumya. Setelah sebulan penuh saya berulang-ulang membaca profil mereka satu persatu sebelum tidur, melihat foto mereka, mencoba membaca kharakter mereka, dan berulang kali menghubungi mereka, inilah saat yang paling mendebarkan buat saya. Saya menjemput mereka semua di bandara. Saya menggigit ujung bibir saya, berharap kalau mereka tiba dengan selamat. Di otak saya saya mengulang nama-nama mereka, mengingat profil dan foto mereka satu persatu. Saya hafal betul di luar kepala. Saya harus pastikan kalau mereka, kesepuluh-sepuluhnya, tiba dengan selamat. Sumpah! meskipun saya belum pernah melahirkan, tapi mungkin rasanya nggak jauh beda dengan itu. Dengan bantuan saudara, saya bisa masuk kedalam bandara hingga ruang tunggu bagasi. Saya nggak mau 10 orang calon ‘anak’ saya kebingungan. Mereka harus save. Saya HARUS ada disana. Hati saya cukup lega ketika saya melihat wajah salah satu dari mereka yang cukup saya kenali. Kemudian muncul yang lain dibelakangnya. Mulut saya langsung komat-kamit menghitung jumlah mereka. 1..2..3..4..wait…wait….APA?!? EMPAT??? HARUSNYA KAN LIMA!!! (well, dari 10 orang memang 6 orang berangkat dari Jakarta. Yang satu lagi, nanti saya ceritakan… sabar…) Saya mulai panik. Saya menarik nafas panjang.

Untungnya beberapa saat kemudian hp saya berbunyi. Saya melihat nama di layar hp saya adalah nama dari salah satu perempuan cantik itu. Saya pun langsung buru-buru angkat.

“Halo…” jawab saya.

“Mbak Dyan, aku udah sampai. Aduuh…. yang lainnya pada cantik-cantik banget gitu, Mbak. Aku jadi malu nih….”

Saya menengok kesebelah saya dan langsung kembali berbicara di telepon, “Hey2, aku ada di sebelah kamu…hahaha….”

Well saya sempat lega untuk beberapa saat. Mungkin memang mereka terpisah tempat duduknya. Tapi rasa lega itu nggak lama. Karena saya kembali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu saat hp saya berbunyi. Tanpa melihat layar hp, sayapun langsung mengangkatnya, “Halo???”

“Mbak Dyan, aku ketinggalan pesawat…”

Mendadak wajah saya pucat seketika. Tubuh saya gemetar. Entah kenapa kepala saya tiba-tiba senut-senut. God! Satu orang ‘anak’ saya tertinggal pesawat! Padahal beberapa menit yang lalu salah satu dari mereka menelepon saya kalau mereka sudah berada di dalam pesawat. SAYA HARUS GIMANA!!!

Saya sadar, Mama juga pernah mengalami hal yang sama saat suatu hari saya bilang kalau saya ditinggal oleh teman-teman saya sendirian di jalanan jam sebelas malem. Seketika itu Mama langsung menjemput saya dengan rasa cemas. Meskipun ketika bertemu saya tetep kena omel x) Seandainya jarak itu bukanlah Jogja-Jakarta, mungkin saya akan melakukan hal yang sama dengan mama. Menjemputnya. Tapi haloo…itu Jogja-Jakarta!!! Air mata saya hampir tumpah saat itu. Tapi saya sadar kalau itu nggak akan menyelesaikan masalah. Lebih baik saya mencari jalan agar ‘anak’ saya itu sampai di Jogja bagaimanapun caranya. Akhinya saya menelepon semua maskapai penerbangan yang ada menuju Jogja. Entah kenapa semuanya penuh, waiting list karena sekarang sedang liburan. Saya kembali menelepon ‘anak’ saya itu, memintanya untuk memberikan hp-nya pada petugas maskapai karena saya ingin berbicara. Saya memohon pada petugas maskapai penerbangan agar memasukan ‘anak’ saya ke penerbangan berikutnya. Lagi-lagi dia bilang waiting list. Damn! Saya memohon untuk memasukan nama ‘anak’ saya sebagai prioritas karena dia tertinggal rombongan. Petugas tersebut mengiyakan. Saya tak perduli berapa banyak orang yang telah dia iyakan saat itu. Saya hanya mencoba menenangkan diri.

Saya bilang pada ‘anak’ saya, “Aku coba bantuin kamu disini. Aku pengen banget kamu ada disini. Please kamu juga harus berusaha disana…,” jujur dari dalam hati. Saya berusaha setenang mungkin. Padahal sebenarnya saya nyaris putus asa.

Mungkin nggak banyak orang yang sanggup mengerti apa yang saya rasakan saat itu. Saya nggak akan rela kalau salah satu sari mereka ada yang nggak hadir. Gimana saya bisa rela? Sebulan penuh saya berulang-ulang membaca profil mereka satu persatu sebelum tidur, melihat foto mereka, mencoba membaca kharakter mereka dan berulang kali menghubungi mereka hingga saya hafal betul suara mereka. Saya sanggup menghafal profil mereka dan sanggup merasa telah mengenal mereka lamaaa sekali. Saya juga berusaha memasangkan teman satu kamar yang nyaman untuk mereka dengan berusaha menditeksi karakter mereka masing-masing layaknya psikolog agar mereka tidak merasa sendiri….

Mama sering kali lupa makan saat sibuk mengurus segala keperluan keluarganya. Seperti ditampar, ya saya sampai lupa makan saat itu. Saya tidak perduli. Sebelum saya melihat mereka LENGKAP, saya tidak akan tenang. Mereka HARUS ada disini lengkap dengan selamat.

Singkat cerita, dengan kecerdasannya, ‘anak’ saya itu bisa sampai ke Jogja. Thanks God! Saya menjemputnya di bandara. Betapa bahagianya saya ketika melihat ia muncul dari balik pintu bandara. Saya jadi teringat mama. Mungkin perasaan itu yang mama rasakan ketika mama melihat saya sampai ke rumah dengan selamat setelah sebelumnya saya menelepon untuk mengabarkan kalau saya jatuh dan berdarah di sekolah. Karena hari masih siang, saya langsung membawanya ke tempat membatik untuk bergabung dengan teman-temannya.

Tiga hari itu saya memang sangat lelah. Setiap menit saya harus selalu memastikan kalau 10 ‘anak’ saya itu baik-baik saja. Tapi entah kenapa saya merasa bahagia tanpa beban. Tiga hari itu membuat saya belajar banyak hal tentang mama. Saya cemas ketika salah satu dari mereka ada yang hilang, pucat, bahkan sakit. Saya amat sangat khawatir kalau mereka merasa tidak bahagia. Untungnya mereka nggak minta yang aneh2. Jadinya saya ikhlas-ikhlas aja mengabulkan segala permintaan mereka. Bangun jam empat pagi dengan menggigil (maklum kulit saya tipis bgt!) untuk mengetuk pintu kamar mereka satu-persatu, membangunkan mereka untuk siap-siap dimake-up, mengantarkan air putih saat mereka kehausan, dan menemani saat mereka ingin jalan-jalan ke malioboro. Saya juga belajar untuk lebih sabar. Mungkin kesabaran saya hanya seperberapa dari kesabaran yang dimiliki Mama dalam mengurus saya yang superkeras kepala dan bandel ini. Saya begitu bangga ketika mereka tampil diatas panggung, berbicara di depan ratusan mata, ketika make-up diwajah mereka melekat sempurna, ketika mereka tampak cantik dengan kebaya mereka. Mereka tampil hebat. Saya tak perduli seberapa lelahnya saya, seberapa dekil dan kucelnya saya saat itu. Ya, Mah, anakmu yang keras kepala ini begitu cegeng saat itu. Betapa bodohnya anakmu ini baru menyadari sekarang bagaimana perasaan seorang Ibu. Bagaimana perasaan Mama mengurus aku….

Saya memang tidak bisa meceritakan secara detail seluruh rangkaian kisah ini. Meskipun saya amat sangat ingin menceritakannya. Dulu mungkin saya tidak begitu ambil pusing dengan yang namanya menikah dan punya anak. Tapi sejak saat itu, saya jadi ingin cepat-cepat menikah dan punya anak. Saya ingin menjadi seorang Ibu. Saya ingin seperti Mama… Terima Kasih untuk semua orang yang turut andil dalam cerita ini. Berkat kalian, saya bisa belajar banyak hal. Belajar bahwa kesabaran akan muncul dengan sendirinya saat kita ikhlas melakukan sesuatu untuk orang yang kita sayangi. Dan satu hal yang saya sadari, Saya Amat Sangat Menyayangi Mama Saya dan saya sangat menyayangi kalian…..Luv U Mom and Luv U too girls…. :)

Comments are Closed