24 hours on The Road

Postingan kali ini saya akan bercerita tentang mudik saya tahun ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya dan keluarga memang biasa mudik ke rumah Eyang di Solo (*damn I really miss that place). Desa tempat eyang tinggal bernama desa kaliwungu. Yah… sekitar satu jam dari solo, kalo naik mobil pastinya. Dan butuh kira-kira 7 km dari jalan raya menuju ke desa ini. Kebayang kan gimana “desa”-nya?

Dari kecil keluarga saya memang telah membiasakan saya dan kakak saya untuk pulang mudik ke Kaliwungu. Jadi yang namanya perjalanan jauh naik mobil pribadi bukan masalah lagi buat saya. Dari mulai minum antimo, udel di tensoplas, tidur dari mulai berangkat-tiba, muntah setiap ada tikungan,  udah pernah saya rasain semuanya. Hingga saya dewasa dan mulai merasa jarak Jakarta-Solo seperti dari Citos ke PIM. Dekeeet banget! Papa yang udah dua puluh tahun lebih biasa menyetir mobil Jakarta-Solo juga udah nyante banget.  Sopir-sopir truk mah lewaaat…. bahkan kadang mereka sering saling menyapa di perjalanan seperti sahabat karib.

Entah apa yang membuat saya berpikir bahwa tradisi mudik di Indonesia ini betul-betul unik. Bayangin aja, pada waktu yang sama orang-orang ramai-ramai meninggalkan kota besar untuk ke desa. Mau macet, boros, jauh, tetep aja dijabanin. Mau naik kereta ayam, mobil sendiri, bus atau pesawat tetep dibela-belain. Para pemudik ibarat para pejuang kemerdekaan yang siap berperang. Tapi satu kendaraan yang selalu saya dan sekeluarga tunggu-tunggu pada sat perjalanan mudik. BAJAJ. Apa??? Bajaj?? Yups, hampir setiap kali perjalanan mudik, kami bertemu dengan si Bajaj edan itu yang nggak mau ketinggalan ikut bermacet-macetan di jalanan (FYI, Bajaj itu cuma ada di Jakarta). Bajaj ajaib itu menjadi tontonan yang lumayan menghibur disela-sela kemacetan. Saya nggak kebayang gimana rasanya mudik dari Jakarta-Solo naik bajaj. Saya aja yang naik mobil sendiri udah salting mereeng sana, mereeng sini, tengkurep, nungging, pokoknya ribet cari posisi enak secara perjalanannya lumayan lama bo. Gimana mereka yang naik bajaj, ya? Pasti lebih heboh dan seru!

Mudik kali ini merupakan mudik yang paliiing paaaanjaaang dan laaaammaaaa…… kenapa??? Karena baru kali ini saya merasakan berada di dalam mobil selama 24 jam. Biasanya jarak Jakarta-Solo cuma 12 jam. Kami berangkat pukul 23.00 hari kamis dan baru nyampe di rumah Eyang pukul 23.00 hari jumatnya. TEPAAT! perlu diulangi lagi?TEPAT! jam sebelas malem. Mana waktu itu lagi puasa. Dan hal yang paling menyedihkan saat itu adalah, pada saat kami tiba di daerah Subang Jawa-Barat. Sini biar saya deskripsikan keadaan disana saat itu. Siang itu jam 11 siang, dan mobil kami nggak jalan sama sekali di daerah itu selama hampir 5 jam. Mana matahari terik banget. Belum lagi pemandangan kiri-kanan jalan yang sangat menyedihkan. Jangan harap kalian melihat hamparan sawah hijau, gunung, dan perkebunan yang segar. Sejauh mata memandang, tema background kita adalah KUNING. Ya, kuning gersang, tandus, pohon-pohon tanpa daun, tanaman kering kerontang semakin membuat kering tenggorokkan yang belum tersentuh air semenjak saur tadi. Udah gitu banyak banget tukang-tukang jualan yang saya bayangkan memiliki tanduk dan buntut panjang menawarkan potongan semangka merah, ice cream, dan es kelapa muda… Tidaaak!!! tenang chiel… sabar…sabar… ini cobaan. Yang lebih mengerikan, lagi tenang-tenang mengantri ditegah kemacetan, eeh… ada aja mobil-mobil yang nggak tau diri menyerobot2 dari sebelah kanan, yang nggak sabaran pengen duluan padahal malahan membuat jalanan semakin macet. JAHANAAAM!!! (sabar chiel….sabaaar…Ya Allah, maafkan aku.) Papa yang punya cadangan kesabaran cukup banyak cuma mengetuk stir mobil sambil berkata pelan, “Aduh, udah tau macet kok masih ada yang tega gitu sih?” hey, Pa, bukan gitu caranya, ucap saya dalam hati. Tapi gini, “Brengsek!!! Manusia apa bukan sih? Dasar Tolol! Nggak punya otak ya, lo? Lo pikir ini jalanan nenek moyang lo? Nggak pernah diajarin cara ngantri ya? Main sradak-sruduk aja! Nggak punya Etika!JAHANAAM!!!” huahahaha…. untung kata-kata itu nggak sampai keluar dari mulut saya, Jadinya saya cuma senyam-senyum aja membayangkan seandainya jalanan ini nggak macet, seandainya tukang-tukang jualan itu nggak pamer dagangan, seandainya….seandainya…seandainya…

Comments are Closed