Manusia Subjektif

20130328-011135.jpg

Entah kenapa saya terlahir ke dunia menjadi sosok yang sangat subjektif. Disaat orang-orang berteriak agar bertindak secara objektif, saya dengan santainya berjalan menurut pola pikir saya sendiri. Saya tak peruli penampilan, saya tak peduli kelakuan, bahkan saya tidak pernah peduli dengan apa yang orang lain lakukan dan pikirkan tentang saya. Selama saya tidak merasa keluar jalur, saya tak perduli pemikiran orang lain. Prinsip saya waktu itu hanya satu: Gue nggak ganggu elo. Jadi elo jangan coba-coba ganggu gue!

Saya senang mengkritik, sinis dan menertawai orang yang berbeda pandangan dengan saya. Meskipun saya hanya melakukannya dalam hati karena saya menganggap percuma menghabiskan tenaga yang susah payah saya kumpulkan dengan tidur hanya tiga jam setiap harinya. Saya tak peduli orang mau bilang saya pengecut. Ya, saya memang menyebalkan.
Mungkin hal itu terpengaruh dari buku-buku yang saya baca sewaktu sekolah dulu. Saya menyukai buku sejarah, biografi, politik, sastra, filsafat dan semua bentuk non-fiksi yang sedikit banyak membuat saya berpikir ‘agak’ ekstrim dibandingkan dengan anak seusia saya. Selain itu juga karena buku-buku itu yang ada di lemari milik kakek yang kerap kali saya lihat.

Akhirnya sewaktu saya SD-SMP, saya tumbuh menjadi anak kecil yang invisible. Dianggap geek karena tak banyak omong, dan strange saat saya mulai bicara yang tidak mudah dipahami. Saya juga sering diperlakukan tidak adil oleh orang-orang diluar sana. Orang tua saya pun tahu kalau saya tak punya teman dekat karena saya sulit mempercayai seseorang. Terutama Mama saya yang sering khawatir dengan pikiran saya yang semakin lama semakin aneh dan beliau dengan supermom-nya membela saya habis-habisan ketika saya mulai tertindas. Dulu saya sering mengurung diri di dalam lemari, mencoret-coret atap rumah dengan krayon, dan berdiri terbalik dengan kepala dibawah. Saya sangat membenci lingkungan sekolah saya yang selalu membuat saya berpikir agar cepat keluar bagaimanapun caranya. Saya merasa hidup sangatlah membosankan. Saya dipaksa untuk bangun pagi-berangkat sekolah-les-pulang. Begitu setiap harinya. Sampai-sampai saya berpikir bahwa hidup tak lebih hanya sebatas lahir-sekolah-bekerja-mati.

Maka ketika saya SMP, saya senang menciptakan ‘dunia’ saya sendiri. Saya senang membuat cerita indah yang saya karang sendiri yang tidak terjadi dalam kehidupan saya. Dunia sempurna. Sehingga saya memiliki dua dunia berbeda yang hanya saya sendiri yang memahaminya. Dunia hitam dan putih.

Seiring waktu berjalan, saya bersyukur karena saya bertemu dengan orang-orang dengan beragam profesi, pemikiran dan pandangan hidup yang berbeda. Membuat saya sadar kalau saya tidak sendiri di dunia ini. Ketika saya beranjak dewasa, saya mulai menyadari kalau saya tidak boleh terus-terusan hidup dengan pikiran-pikiran saya sendiri tanpa mampu dipahami orang lain. Kalau terus begitu, dalam beberapa tahun kedepan pasti saya sudah berada di salah satu kamar di RSJ.

Akhirnya saya mulai bisa terbuka dengan beberapa orang yang umurnya berbeda jauh dengan saya. Saya menceritakan seluruh pendapat saya tentang kehidupan. Kebencian, ketidakadilan, dan ketakutan saya. Saya juga memiliki sahabat yang luar biasa setia menemani saya baik ketika saya berdiri atau hancur. Saya mulai berani mengkritik dan memberikan pendapat saya. Awalnya memang sulit. Karena ada beberapa yang tidak bisa menerima begitu saja. Tapi sebenarnya itu tergantung dari bagaimana cara kita menyampaikan pendapat tersebut. Dari situ saya menyadari kalau perubahan bisa terjadi kalau ada seseorang yang berani. Berani mengemukakan pendapat, berani mengambil resiko, dan berani mempertanggung jawabkannya. Jangan hanya protes tanpa berani bicara. Justru dengan adanya saling keterbukaan, maka segala masalah dapat lebih mudah diatasi dengan pertukaran pikiran yang cerdas.

Sekarang ini saya hanya tersenyum ketika saya bertemu dengan orang-orang yang dengan semangat membara mengkritik, mencaci-maki, dan menjatuhkan seseorang tanpa sedikitpun memberikan solusi yang baik. Buat apa kita mengkritik orang kalau kita sendiri tak tau apa yang harus diperbaiki. Saya sering sekali bertemu dengan orang-orang seperti itu. Tapi saya bersyukur karena saya sudah cukup paham bagaimana menanggapi mereka. Saya juga bersyukur karena saya dapat menjadi manusia yang lebih toleran terhadap perilaku dan ucapan seseorang. Terkadang Mama saya menangis melihat saya diperlakukan tidak adil oleh orang lain. Dulu mungkin saya masih terlalu lemah dan hanya mampu pasrah menerima. Tapi saat ini saya bisa berkata pada Mama, “Tenang, Mah. Anakmu ini sudah punya cukup cadangan tenaga untuk bertahan agar tidak roboh.”




Comments are Closed