Masih adakah diskriminasi di dunia ini?

Baru-baru ini saya senang membaca buku-buku tentang sejarah yang berhubungan dengan perjuangan kaum wanita. R.A Kartini, Cut Nyak Dien, Anne Frank dan Mother Theresa. Saat tangan saya menutup lembar terakhir buku tersebut, pikiran  saya langsung menerawang jauh kedalam diri saya. Pernah tidak ya, saya mengalami diskriminasi gender selama saya hidup? Masih adakah diskriminasi di dunia ini?

pahlawan

Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang beberapa waktu belakangan ini sempat berputar-putar di pikiran saya. Dulu sebelum seorang wanita asal Jepara yang terkenal dengan nama Raden Ajeng Kartini muncul, derajat kaum wanita Indonesia dianggap selalu berada di bawah kaum lelaki. Hal tersebut dapat terlihat dari segi pendidikan, pekerjaan, bahkan hak untuk memilih pasangan hidup. Image perempuan yang selalu berada di dapur melekat kuat di hampir seluruh masyarakat Indonesia. Saya yang terlahir di lingkungan keluarga Jawa asli (solo) juga amat kental dengan image tersebut.
Tapi jaman sekarang apakah diskriminasi gender masih ada? Melihat saat ini bukan tidak mungkin seorang supir taksi adalah seorang wanita, kenek metro mini, seorang buruh bangunan juga seorang wanita, bahkan seorang pimpinan pun seorang wanita. Saya lebih setuju kalau saat ini bukanlah diskriminasi gender yang mendominasi. Tapi justru diskriminasi orang jelek! Bukannya saya sirik dengan para wanita-wanita cantik di luar sana karena menurut saya kecantikan menjadi sangatlah relatif melihat semakin maraknya ahli-ahli kecantikan dan kosmetik-kosmetik yang dapat dengan mudah merubah penampilan seseorang hanya dalam waktu singkat.
Diskriminasi orang jelek? Rasanya aneh mendengar kata tersebut. Tapi jujur saja saya mengalaminya sendiri haha… Saya amat sangat bersyukur dengan fisik yang saya miliki saat ini. Meskipun saya memiliki kulit kecokelatan, postur tubuh pendek dan bentuk badan yang sangat jauh dibandingkan dengan para model di catwalk. Tapi setidaknya saya terlahir normal. Memiliki mata, hidung, mulut, telinga, tangan, kaki, dan semua anggota tubuh yang terdapat pada manusia normal. Dan saya bersyukur.
Tapi dulu sangat sulit bagi saya untuk bisa ‘dianggap’ di lingkungan saya secara lebih manusiawi. Saya selalu dianggap remeh dan ‘kecil’. Saya harus bekerja ekstra keras. Saya harus melakukan sesuatu yang luar biasa untuk bisa sedikit dianggap. Berbeda sekali dengan perempuan-perempuan yang ditakdirkan memiliki fisik sempurna, putih, cantik dan kaya meskipun kami sama-sama manusia. Hanya dengan jentikkan tindakkan baik, mereka akan dianggap telah melakukan tindakan yang super duper baik. Sangat diskriminatif. Tapi justru hal tesebut yang membuat otak saya terus-menerus bekerja untuk membuat sesuatu yang lebih kreatif dan luar biasa dengan modal seadanya. Saya lebih bisa menghargai diri saya sendiri dan memahami arti kerja keras. Saya tak mau terus menjadi looser. Saya harus jadi winner.
Saya sering berpikir bahwa sebagian besar orang yang dianggap looser lebih dikarenakan oleh faktor lingkungan yang memaksanya menjadi sosok seperti itu.  Mana mungkin ada seseorang yang mau dirinya dianggap looser. Saya berteman dengan banyak orang-orang seperti itu. Beberapa diantara mereka malah berperilaku semakin aneh, rela dijadikan bahan tertawaan hanya untuk membuat dirinya dianggap di lingkungannya.  Kecuali jika memang profesi mereka adalah seorang komedian. Itu lain ceritanya.
Sebagai seseorang yang pernah merasakan hal yang sama, saya mati-matian berkata bahwa mereka  harus belajar menganggap diri mereka jauh lebih berharga. Dan orang-orang itu tak berhak memperlakukan mereka seperti itu.  Segala sesuatu bisa terjadi jika kita dapat menggenggam dunia kita sendiri dan jangan pernah membiarkan orang lain menguasai diri kita, merebut dunia dari genggaman kita. Jangan mau jadi korban diskriminasi fisik. Karena… kita semua adalah spesial. Dan setiap orang berhak untuk menjadi pemenang.




Comments are Closed