Jaga diri lo baik-baik

“Elo tau PT?”
Saya menggelengkan kepala. PT? Apaan tuh? Perseroan terbatas? Dalam hati saya masih bertanya-tanya. Cukup aneh anak SMP seperti saya waktu itu untuk berteman dekat dengan orang-orang yang menurut sebagian orang tua adalah orang yang tidak jelas, tidak bermasa depan, dan harus dijauhi dari anak-anak mereka bagaimanapun caranya.
“PT itu singkatan dari Putau. Sejenis heroin,” jawab teman saya dengan wajah seperti biasanya. Mata cekung, kulit hitam layaknya penyanyi R&B, dan badan kurus tinggi. Entah kenapa saya tidak pernah merasa takut dengannya. Meskipun umurnya berbeda jauh dan image-nya dimata orang-orang di lingkungan saya lumayan buruk.
Saya memandangnya dalam diam, menunggu reaksi dia selanjutnya.
“Bentuknya serbuk putih kayak begini. Kalau make bisa langsung nge-fly,” ucapnya sambil menunjukkan sebuah serbuk menyerupai gerusan kapur tulis.
Saya mulai cemas. Apa maksud teman saya berbicara seperti itu pada saya? Jangan-jangan dia mulai ingin mempengarhi saya untuk menggunakan benda-benda tersebut. Tapi saya tak percaya kalau dia bisa tega melakukan itu pada saya.
Saya tau betul dia orang seperti apa. Korban ketidak perdulian orang tua, korban diskriminasi sosial, tak pernah lepas dari alcohol dan drunk people disekelilingnya, selalu dipandang sinis dan sebelah mata oleh orang-orang, dan beberapa kaum borjuis memandangnya sebagai preman, pemalak, atau apalah namanya. Tapi setiap kali saya pulang sekolah dan menyempatkan diri datang ke warung tempat tongkrongannya dengan teman-teman, dia berubah menjadi sosok yang sangat bijaksana. Kami mampu mengobrol berjam-jam lamanya, saling tukar pikiran, bernyanyi-nyanyi dengan gitar dan terkadang saling menasehati. Saya pun kenal dengan semua teman-temannya di tongkrongan tersebut yang kerap kali mengajak saya bermain basket.
“Ngapain elo ngasih tau gue?”
Ia memegang kepala saya, “Kalau elo ditawari orang benda model beginian, jangan pernah elo sentuh apalagi elo ambil. Lo bilang orangnya sama gue.”
Saya merasakan keseriusan pada nada suaranya. Dari sejak pertama kali saya mengenal dia, dia memang selalu memperlakukan saya seperti itu. Ia pernah memukuli teman lelaki saya hanya karena teman saya mencoba mengajak saya merokok. Ia pun pernah hampir berkelahi dengan temannya sendiri ketika temannya ingin memalaki saya. Ia juga pernah mencarikan tempat yang aman untuk saya ketika terjadi tawuran antar kelompoknya. Bahkan dia orang pertama yang membuat saya dapat melakukan three-point dalam permainan basket, mengecoh kiper ketika bermain sepak bola, dan  mengajari saya bagaimana cara melindungi diri dari orang-orang jahat. Saya merasa memiliki kakak yang baik. Kadang ia pun memanggil saya dengan sebutan adik.
“Udah mau lulus, ya?” tanyanya suatu hari ketika saya menunjukkan raport saya padanya sewaktu kenaikkan kelas. Ia lalu tersenyum pada saya. “Bagus deh. Sekolah yang rajin ya. Jangan bandel. Mudah-mudahan elo jadi orang sukses.”
“Hehe… thanks, ya…” saya menyengir sambil meninju-ninju lengannya. Saya tak pernah menyangka kalau itu adalah hari terakhir saya dapat melihatnya.
Sore hari terjadi perkelahian besar-besaran di depan sekolahan saya. Semua siswa berusaha dilindungi oleh satpam sekolah dengan disuruh masuk kedalam sekolah.  Teman-teman satu sekolah saya berusaha berlindung kedalam ruang-ruang kelas. Justru saya yang diam-diam berusaha melihat keluar dengan memanjat pagar samping sekolah.  Kejadian itu masih saya ingat dengan jelas sampai detik ini. Saya melihat orang-orag berkelahi dengan brutalnya. Beberapa orang adalah anak tongkrongan yang saya kenal. Saya melihat ada yang dilempar botol kepalanya, ada yang dijambak rambutnya, dan lain-lain. Balok kayu nampak jelas di tangan beberapa orang dan dengan mudahnya diarahkan ada tubuh teman-teman saya. Saya memandang dalam diam sambil berusaha melindungi diri di balik tembok sekolah.
Saat itu ketika suara sirine polisi bergema, saya terpaku melihat teman saya yang selama ini baik terhadap saya digelandang oleh dua orang polisi. Wajahnya tampak lelah dan marah. Saya ingat air mata saya tak terbendung lagi ketika ia sempat menengok kearah saya dengan wajah datar tanpa berkata apa-apa. Seakan ia menegaskan kepada saya kalau saya harus menjaga diri dan ia sebenarnya tak mau saya melihat itu semua.
Sejak kejadian itu, teman saya tak pernah terlihat lagi. Tongkrongan pun mulai sepi. Kabar yang saya dengar, teman saya itu di penjara. Satpam sekolah selalu mengata-ngatai teman saya itu setiap kali saya bertanya tentangnya.  Saya tak perduli. Tau apa dia soal teman saya? Saya pun meluapkan kesedihan saya pada Mama. Selama ini Mama memang tak pernah melarang saya untuk berteman dengan siapapun. Asalkan saya tau batas-batasnya. Beliau sangat  percaya pada saya. Itu yang membuat saya selalu berusaha untuk tidak mengecewakannya.
Waktu berjalan sangat cepat. Saya pun sudah hampir menyelesaikan jenjang SMU. Suatu hari ketika saya hendak pulang ke rumah, di dalam bus kota, saya melihat sosok yang begitu familiar di pikiran saya. Saya melihat teman saya itu mengamen di dalam bus yang sama. Ketika mata kami beradu pandang, entah kenapa ia berusaha menghindar. Saya pun ragu ingin menyapanya. Ragu karena takut salah orang, dan ragu karena takut ia sudah lupa dengan saya.
Tapi ketika ia turun di tempat yang sama dengan saya, saya berhasil meyakinkan diri saya kalau orang itu memang dia. Berarti dia sudah keluar dari penjara. Tapi kenapa ia begitu buru-buru menyeberangi jalan dan berlalu dari hadapan saya? Saya berusaha memanggil namanya berkali-kali. Tapi ia tak mendengar. Ia nampak menaiki bus lain. Apa dia benar-benar sudah melupakan saya?
Terlepas dari itu semua, saya begitu bersyukur telah mengenalnya. Ia membuat saya untuk belajar menilai seseorang bukan dari penampilan dan bukan dari image orang lain. Tapi dari cara seseorang memperlakukan kita. Kalau selama ini ia bersikap baik kepada kita, persetan dengan orang-orang yang membenci dia. Saya juga bersyukur kalau saat ini dia masih mau berusaha untuk mencari nafkah dengan halal. Tidak memalak, tidak mengemis, dan tidak mencuri. Saya berdoa semoga Tuhan selalu melindungi segala niat baiknya. Niat baik seseorang yang ingin berubah menjadi lebih baik…




Comments are Closed