Idealism vs commercialism

Saya bukan orang yang ahli dalam hal idealisme dan komersialisme. Saya hanyalah seorang perempuan yang mencoba melakukan segala sesuatunya secara seimbang dalam kehidupan.  Saya tak pernah mau jadi hitam seutuhnya. Saya pun tak pernah mau jadi putih seutuhnya. Saya ingin abu-abu. Saya ingin netral. Karena saya menyadari tak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini. Meski saya menyadari kalau saya selalu berusaha untuk berjalan menuju putih seutuhnya. Tapi putih menurut siapa dan dari kacamata siapa? Hanya diri saya yang bisa menjawabnya.
Baru-baru ini saya menghadiri sebuah acara musik Indie di  salah satu wilayah di Jakarta. Saya memang senang menghadiri acara musik seperti ini. Karena saya melihat kebebasan ekspresi yang terpancar jelas disana. Tidak terkekang dan tidak terintimidasi. Saya pun bebas datang kesana tanpa harus repot-repot dandan berjam-jam atau memilih baju yang bisa terlihat oke disana. Selain itu juga karena ada beberapa band yang memang saya dan teman-teman ingin tonton. Jadi berangkatlah saya dan tiga orang teman saya ke tempat tersebut naik Kopaja.
Tiba di tempat acara, saya disapa dengan lautan orang-orang berpakaian hitam. Saya dan ketiga teman saya yang memang lumayan sering datang ke acara sejenis langsung bertemu dengan teman-teman kami disana.
“Hey!” seseorang menepuk pundak saya. Saya menengok dan mendapati seorang kawan yang merupakan salah satu vokalis band indie tersenyum lebar kearah saya. Saya pun langsung sumringah melihatnya karena setelah dipikir-pikir sudah lama juga saya tak bertemu dengannya.
“Band lo manggung juga?” tanya saya ditengah hingar-bingar musik.
“Iya. Lo pasti baru dateng deh? Makanya nggak ngeliat gue manggung.”
Saya mengangguk. “Elo pasti gokil deh di panggung. Gue udah bisa bayangin kok,” ucap saya sambil nyengir. Kami berdua pun langsung tertawa.
“Masih nulis novel?”
Mendadak bayangan novel stabillo pink terlintas di pikiran saya. “Masih, lah. Kenapa? Mau tukeran profesi sama gue? Gue jadi vokalis, elo jadi penulis. Hahaha…,” ujar saya sambil tertawa. Teman saya itu adalah salah satu orang yang terheran-heran ketika tahu saya menjadi penulis novel teenlit. “Orang kayak elo nulis novel begituan?” itulah ucapannya pertama kali. Apalagi ketika ia tau kalau novel pertama saya berwarna pink. “Pinky? Huahaha…. bukannya elo nggak suka warna pink?” itu juga kata-katanya waktu itu.
“Terus nulis ya, Chiel…,” ucapnya pelan.
Saya menatap wajahnya dengan heran. “Hey, kenapa elo jadi mellow gitu?”
“Kalo bukan karena elo, mungkin cowok kayak gue nggak akan pernah suka baca novel. Lo percaya nggak kalau novel elo adalah novel pertama yang gue baca tuntas.”
“Alaaah… bilang aja elo mau nyenengin gue doang. Lo baca karena yang nulis temen elo sendiri. Biar elo bisa bebas nyela-nyela gue, kan?”
“Yeee…Beneran, Chiel! Secara nggak langsung misi yang pernah elo bilang ke gue, berhasil gue rasa. Yaah… setidaknya untuk orang seperti gue. Gue jadi suka baca. Gue awali dari baca novel lo, ” jawabnya. “Menurut gue, kalau kita mau sukses, semua harus berjalan seimbang. Antara idealisme dan komersialisme harus bisa seimbang.”
“Pasti bentar lagi elo mau nyela gue, deh!” ucap saya masih penuh curiga. “Cela gue aja terus. Gue udah kebal! Hahaha…”
Saya tertawa. Sebenarnya dalam hati saya berpikir keras. Saya mengingat saat pertama kali saya menerbitkan novel. Saya  sudah bisa memprediksi kalau nanti pasti akan banyak pro dan kontra. Saya pun bilang ke Mama, “Mah, nanti pasti bakalan ada yang suka dan nggak suka sama novel aku. Mama tenang aja ya. Aku udah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi.”
Cuma satu yang saya inginkan saat itu. Saya ingin meningkatkan minat baca di Indonesia. Itulah idealisme saya. Saya tak perduli apakah nanti akan ada orang yang mencaci, menjelek-jelekkan atau bahkan menjatuhkan novel saya. Saya tahu betul kalau novel saya sangat ringan dibaca. Dengan bahasa seadanya, khas anak muda dan dengan cerita cinta yang ringan juga. Mungkin dengan adanya novel-novel ringan, orang akan lebih senang membaca. Dimulai dari yang ringan dulu. Kemudian akan meningkat ke bacaan yang lebih berat. Berkembang terus dan terus. Buat saya, kesuksesan sebuah novel bukan karena laku-tidaknya novel tersebut. Itu hanyalah sebuah bonus semata. Kesuksesan sebuah novel menurut saya adalah ketika pesan atau tujuan dari novel tersebut dapat berhasil sampai dengan baik ke pembaca. Saya pun senang ketika banyak sekali penulis-penulis yang bermunculan dengan gaya berbeda-beda. Hal itu membuat masyarakat semakin senang ke toko buku karena banyaknya pilihan bacaan. Semoga minat baca dan ilmu pengetahuan di Indonesia dapat semakin berkembang.
“Mungkin… gue kepikiran untuk jadi penulis,” ucap teman saya tiba-tiba.
Saya tersenyum, “Mungkin…. gue juga kepikiran untuk jadi vokalis kok.”
“Kita tukeran aja, gimana?”

Comments are Closed