Ini soal tanggung jawab

Seorang teman menelepon saya hari itu.Perasaan heran langsung muncul di pikiran saya.Tumben banget dia nelpon?ade apee dunia?telepon itulah yang akhirnya membuat saya berada di tempat ini.Di atap kos-kosan teman saya. Saya memandangi cowok di sebelah saya heran.Tubuhnya terlihat lebih kurus. Sejak saya tiba, dia udah nangkring di atap kosannya, menghabiskan berpuntung-puntung rokok, dan menegak sebotol vodka.Pandangannya menerawang jauh.
“Yaelah, masih gini-gini aja lo!” sapa saya sambil membawa secangkir cofemix yang saya beli di warung sebelah.
Dia cuma nyengir.Sambil kembali menghisap rokoknya dalam-dalam.

Pathetic.Itu yang bisa saya ucapkan dalam hati ketika melihat teman saya itu. Sosok yang dulu begitu diidolakan banyak orang karena kecanggihannya bermain gitar,sosok yang dulu begitu sombong karena kecerdasan otaknya, digilai perempuan,dan doyan mem-bully karena kekuasaannya di sekolah.Tapi sekarang… Nothing.Semua korban-korbannya seakan membalaskan semua dendam padanya.Tertawa-tawa karena kondisinya saat ini yang…..nothing.

“Cariin gue kerja, Chiel.”
“Lha, kerjaan lo?”
“Kerja tetap maksud gue.Bukan kerja serabutan.”
Saya menghela nafas panjang.Kemudian menatapnya. “Kenapa?”
Dia menegak minumannya. Kemudian berjalan ke sudut atap.
Dalam hati saya mulai berguman, ‘duh! Kalau sampai teman saya begini,berarti masalahnya berat banget.’
“Cewek gue hamil,Chiel. Anak gue.”
Kaget.Sekaget-kagetnya. Tapi semua ekspresi saya tahan sebisa mungkin.Saya cuma diam.
“Gue salah. Biasalah, kebawa pergaulan anak mude jaman sekarang”
Dengan intonasi yang datar, saya bertanya, “Trus?Lo maunya gimana?”
“Gue akan tanggung jawablah.Gue dan cewek gue udah ngomong sama bokap-nyokap gue…”

Dalam hati saya amat sangat respect dengan keputusan yang diambil teman saya.Itu yang namanya lelaki.Dia bukan cowok bajingan yang ninggalin ceweknya, lepas tanggung jawab setelah tahu ceweknya hamil. Dan butuh keberanian luar biasa untuk mengakui semuanya.Itu yang saya salut dari dia.Meskipun nggak bisa dibenarkan juga perilaku “ngehamilin’ anak orang sebelum nikah.Gimana kalau jadi orang tuanya, pasti shock sampe ubun2.But anyway, itu pilihannya dia kan booo…ngapain saya ikut campur hidupnya die.Macem hidup saya bener aja ahaha… Hush!

“Hidup lo sempurna banget ya, Chiel..” ujarnya tiba-tiba.Bikin saya kaget sekaligus heran.
“Yassalaaam!!! kalo hidup gue sempurna, gue nggak mungkin ada di sini cuma untuk liatin elo mabok.Gue pasti udah naik ferari dan jalan-jalan ke Raja Ampat.Huahaha…” jawab saya.

Tapi dia diam saja.Kayaknya dia lagi nggak mau bercanda. “Menurut gue, semua orang punya kesempurnaan masing-masing dalam hidup.Yang penting tuh bersyukur.Kesempurnaan itu dinilai dari seberapa banyak kita mensyukuri hidup kita.Yakanyakan?”
“Tapi hidup lo rapih, Chiel. Ya..meskipun kelakuan lo rada sableng.” Dia nyengir sesaat.Kemudian kembali menghisap rokoknya.
“Ah.. lo gak tau aja klo hidup gue berantakan juga kayak muke lo!” jawab saya sambil cengengesan.
“Gw salah banget, Chiel.”
“Udah deeeh, nggak usah nyalahin diri lo mulu.Ini udah kejadian gitu.Pertama,elo udah ngaku salah.Kedua,elo udah tanggung jawab.Ketiga,lo udah mikirin masa depan buat elo dan keluarga baru lo nanti.Nah, tinggal elo melakukan tugas lo dengan baik sebagai kepala keluarga nanti sebagai bentuk menebusan dosa lo.Dan ini…musti berhenti ini…”ujar saya sambil mengambil botol minumannya.

Saya menatap teman saya. Saya tahu dia bandel amit-amit dari jaman dia sekolah dulu.Rusuh, asal, berantakan. Tapi hey… Malam ini saya melihat sebuah kedewasaan didirinya.Saya bukan orang tua dia yang berhak menghakimi atas perilakunya. Tapi, menurut saya, inti dari semua itu kan masalah tanggung jawab.Tanggung jawab dari sebelum dia melakukan, dan setelah dia melakukan. Tanggung jawab antara dirinya dan orang-orang yang berkaitan, serta tanggung jawab dengan Tuhan pastinya. Ketika ia dan ceweknya telah pasang badan untuk bertanggung jawab, apa yang harus dipermasalahkan?malu?malu itu bukannya bagian dari tanggung jawab juga?Toh semuanya udah terlanjur kan?mau nggak mau ya harus dihadapi. Kita hidup di dunia ini aja akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat nanti yakanyakan?maaf saya sok tau… Tapi… Entahlah.Saya cuma berkomentar.Yang jelas, semua orang punya prinsip dan jalan hidup masing-masing.

Kejadian ini sudah setahun yang lalu terjadi.Dan teman saya ini telah memiliki anak yang luarbiasa lucunya.Dan saya bangga luar biasa karena dia telah berubah menjadi sosok ayah yang baik untuk anaknya.Maaf, saya menceritakan kisah ini semata-semata untuk menarik pelajaran berharga soal tanggung jawab:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *