Pesan dari seorang besar

Saya terjaga.

Dua orang lelaki berbadan tegap berdiri di hadapan saya.Mengenakan kemeja batik dengan motif sama.Ia menatap saya tajam. Salah satu menyebutkan nama panjang saya dengan jelas, yang saya jawab dengan anggukan kepala.

“Ikut kami.Ada yang ingin bertemu dengan Anda.” ujar salah satu dari mereka sambil memberikan kode agar saya mengikuti mereka.

Saya bangkit dari tempat duduk saya.Sejenak saya memerhatikan pantulan tubuh saya lewat cermin besar yang terpajang disana. Saya mengenakan celana jeans,jaket dengan capuchon, dan sepatu converse andalan saya.Kemudian saya memerhatikan sekeliling.Dimana ini?sepertinya saya nggak mengenal tempat ini.Sebuah rumah kuno yang sangat besar dengan perabotan serba Indonesia. Ada wayang, gamelan, tifa, kain ulos, sasando, dll. Saya seperti berada di sebuah museum.

Di salah satu sudut ruangan, terpajang foto sangsaka merah-putih yang tengah berkibar dengan gagah di puncak Mahameru.

Langkah saya terhenti ketika kedua pria tadi meminta saya berhenti di depan sebuah pintu kayu besar dengan ukiran khas Jepara.Sebuah kalimat pendek terucap di bibir salah satu pria tersebut sebelum ia membukakan pintu kayu tersebut untuk saya..”Waktu kamu lima belas menit.”

Dan….. Gelap.

Pintu dibelakang saya kembali tertutup ketika saya memasuki ruangan tersebut. Ruangan itu agak temaram.Mirip seperti ruang kerja. Dengan banyak sekali foto-foto yang terpajang disana.Di tengah ruangan terdapat sebuah kursi. Dan meja kecil dengan secangkir minuman yang masih panas.Saya tahu dari asap yang masih mengepul dari cangkir tersebut. Hmmm… Cappucino.Ya, itu pasti Cappucino.Saya hafal betul baunya. Karena itu minuman favorit saya.

Sebuah televisi menyala di ruangan tersebut. Bulu kuduk saya berdiri ketika melihat apa yang ditampilkan dalam televisi tersebut. Televisi itu memutar cuplikan-cuplikan wajah-wajah bangsa Indonesia ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya. Wajah seorang atlet Indonesia yang menangis ketika lagu Indonesia Raya berkumandang, getaran suara lagu tersebut yang dinyanyikan oleh lautan manusia di Gelora Bung Karno, anak-anak sekolah yang sedang mengikuti upacara bendera, dan para pendaki gunung yang berhasil menancapkan sangsaka merah-putih di puncak gunung tertinggi di dunia. Semua menyanyikan lagu Indonesia Raya.Dengan khidmad.Bahkan dengan tangan di dada…

Dan di ruangan itu… saya menitikkan air mata…entahlah.

Tiba-tiba saya menyadari kalau saya tidak sendirian di ruangan itu.Ada seorang pria yang sejak tadi mengamati saya. Duduk di kursi merah tak jauh dari sana.Ia melihat gerak-gerik saya yang (kemungkinan) sangat konyol karena kayak orang udik.Saya menengok ke arah pria itu dan sekujur tubuh saya mendadak gemetar bukan main. “Anda….”

Pria tersebut tersenyum hangat. Beliau hanya menganggukkan kepalanya.Seperti tahu apa yang ada di pikiran saya. “Mari duduk.Sudah ada Cappucino di meja.Kamu suka Cappucino, bukan?Santai saja.”

Saya meyakinkan diri kalau ini adalah mimpi.Ini nggak nyata.Mana mungkin saya yang bukan siapa-siapa ini berada di satu ruangan dengan orang seperti beliau?Ini pasti mimpi. Tapi meskipun mimpi, kenapa tubuh saya gemetar hebat?kenapa jatung saya berdetak begitu kencang? Apa kalian tahu siapa pria yang ada di hadapan saya saat ini?
“Pak Presiden, maaf saya….”
“Jangan panggil saya dengan sebutan itu.Saya bukan lagi presiden. Nama saya… Soekarno.”

Saya menatap beliau, memerhatikan senyuman berkharisma dari presiden pertama RI itu. Sosok yang selama ini hanya saya dengar dan baca dari buku-buku sejarah, ada di hadapan saya.Ya, nggak salah lagi, sosok itu sangat berkharisma.Pantas saja beliau begitu dipuja, begitu dikagumi…

“Apa yang ingin kamu tanyakan ke saya?” tanyanya. Lagi-lagi, ia seperti membaca apa yang ada di pikiran saya. “Tanyakan apapun yang ada di kepalamu.Jangan habiskan waktu. Kamu hanya tinggal punya 10 menit untuk bertemu saya.”
“Maaf, apa Bapak sangat sibuk?” pertanyaan bodoh pertama yang keluar dari mulut saya.
Beliau kembali tersenyum. “Saya hanya punya waktu terbatas.Ada jutaan pemuda Indonesia yang harus saya temui. Sebelum semuanya terlambat.”
“Terlambat?”
Pria itu menganggukkan kepalanya.Kemudian dengan lantang ia berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu saat ini akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” ucapnya tegas sambil menunjuk kearah saya.

Saya terdiam. Pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya mengalir deras mendadak hilang seketika di kepala saya.Mungkin saya terlalu kaget, grogi, atau… Takut.

“Tidak usah takut. Saya manusia biasa. Dulu ketika menjadi presiden, saya juga mengalami sakit. Mengalami jatuh terpuruk. Tapi derita saya itu dapat dijadikan sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.”

“Saya bukan takut dengan Bapak… Saya takut dengan diri saya sendiri. Saya takut tidak bisa memberikan apa-apa untuk Bangsa ini. Saat ini banyak teman-teman saya yang putus asa dengan bangsa ini…” ucap saya sambil berpikir keras.Dalam kepala saya sangat random.

“Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun. Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.”

“Permasalahan negara ini banyak sekali, Pak…. ”

“Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong”

Tiba-tiba sebuah pertanyaan spontan keluar dari bibir saya.Mungkin terdengar kurang sopan. “Pak, apa yang ingin Bapak lakukan dengan saya?dengan seluruh pemuda Indonesia?”

Beliau tersenyum hangat.Sesaat menganggukkan kepalanya. “Saya hanya ingin kalian tidak melupakan sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.”

Saya terdiam. Berusaha mencerna maksud perkataan beliau.Tiba-tiba saya teringat sesuatu. “Pak, apakah Bapak tahu yang terjadi dengan bangsa Indonesia saat ini?”

Beliau menganggukkan kepalanya.Senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

“Apakah kamu mengetahui pidato yang pernah saya sampaikan pada 29 Juli 1956 di Semarang?”
Saya menggelengkan kepala.Jujur. Mana saya hafal pidato beliau satu persatu?

Beliau tidak kecewa. Ia tetap tersenyum, kemudian dengan sekali hentakkan, televisi di ruangan tersebut menampilkan beliau sedang berpidato sebagai Presiden Republik Indonesia.

Saya membalikkan badan, menatap ke layar televisi.Menyimak setiap detail kata-kata dalam pidatonya…

“Saudara-saudara, saya pernah ceritakan di negara-negara barat, hal artinya manusia, hal artinya massa, massa.

Bahwa dunia ini dihidupi oleh manusia. Bahwa manusia didunia ini, Saudara-saudara, “basically” – pada dasar dan hakekatnya – adalah sama; tidak beda satu sama lain. Dan oleh karena itu, manusia inilah yang harus diperhatikan. Bahwa massa inilah akhirnya penentu sejarah, “The Makers of History”. Bahwa massa inilah yang tak boleh diabaikan ~ dan bukan saja massa yang hidup di Amerika, atau Canada, atau Italia, atau Jerman, atau Swiss, tetapi massa diseluruh dunia.

Sebagai tadi saya katakan: Bahwa “World Prosperity”, “World Emancipation”, “World Peace”, yaitu kekayaan, kesejahteraan haruslah kekayaan dunia : bahwa emansipasi adalah harus emansipasi dunia; bahwa persaudaraan haruslah persaudaraan dunia ; bahwa perdamaian haruslah perdamaian dunia ; bahwa damai adalah harus perdamaian dunia, berdasarkan atas kekuatan massa ini.

Itu saya gambarkan, saya gambarkan dengan seterang-terangnya. Saya datang di Amerika,- terutama sekali di Amerika – Jerman dan lain-lain dengan membawa rombongan. Rombongan inipun selalu saya katakan : Lihat, lihat , lihat, lihat!! Aku yang diberi kewajiban dan tugas untuk begini : Lihat, lihat, lihat!! – Aku membuat pidato-pidato, aku membuat press-interview, aku memberi penerangan-penerangan; aku yang berbuat, “Ini lho, ini lho Indonesia, ini lho Asia, ini lho Afrika!!”

Saudara-saudara dan rombongan : Buka mata, Buka mata! Buka otak! Buka telinga

Perhatikan, perhatikan keadaan! Perhatikan keadaan dan sedapat mungkin carilah pelajaran dari pada hal hal ini semuanya, agar supaya saudara saudara dapat mempergunakan itu dalam pekerjaan raksasa kita membangun Negara dan Tanah Air.

Apa yang mereka perhatikan, Saudara-saudara? Yang mereka harus perhatikan, bahwa di negara-negara itu – terutama sekali di Amerika Serikat – apa yang saya katakan tempo hari disini ” Hollandsdenken ” tidak ada.
“Hollands denken” itu apa? Saya bertanya kepada seorang Amerika.
Apa “Hollands denken” artinya, berpikir secara Belanda itu apa?
jawabnya tepat Saudara-saudara, “That is thinking penny-wise, proud, and foolish”, katanya.
“Thinking penny-wise, proud and foolish”. Amerika, orang Amerika berkata ini, “Thinking penny-wise” artinya Hitung……..satu sen……..satu sen……..lha ini nanti bisa jadi dua sen apa `ndak?…….. satu sen……..satu sen………

“Thinking penny-wise”………”Proud” : congkak, “Foolish” : bodoh.

Oleh karena akhirnya merugikan dia punya diri sendirilah. Kita itu, Saudara-saudara, 350 tahun dicekoki dengan “Hollands denken” itu. Saudara-saudara, kita 350 tahun ikut-ikutan, lantas menjadi orang yang berpikir “penny-wise, proud and foolish” Yang tidak mempunyai “imagination”, tidak mempunyai konsepsi-konsepsi besar, tidak mempunyai keberanian – Padahal yang kita lihat di negara-negara lain itu, Saudara-saudara, bangsa bangsa yang mempunjai “imagination”, mempunyai fantasi-fantasi besar: mempunyai keberanian ; mempunyai kesediaan menghadapi risiko ; mempunyai dinamika.
Washington Monument, didirikan tahun 1884
George Washington Monument misalnya, tugu nasional Washington di Washington, Saudara-saudara : Masya Allah!!! Itu bukan bikinan tahun ini ; dibikin sudah abad yang lalu, Saudara-saudara. Tingginya! Besarnya! Saya kagum arsiteknya yang mempunyai “imagination” itu, Saudara-saudara.
Bangsa yang tidak mempunyai : imagination” tidak bisa membikin Washington Monument. Bangsa yang tidak mempunyai “imagination”………ya, bikin tugu, ya “rongdepo”, Saudara-saudara. Tugu “rong depo” katanya sudah tinggi, sudah hebat.
“Pennj-wise” tidak ada, Saudara-saudara. Mereka mengerti bahwa kita – atau mereka – jikalau ingin menjadi satu bangsa yang besar, ingin menjadi bangsa yang mempunyai kehendak untuk bekerja, perlu pula mempunyai “imagination”,: “imagination” hebat, Saudara-saudara.

Perlu jembatan? Ya, bikin jembatan……tetapi jangan jembatan yang selalu tiap tiap sepuluh meter dengan cagak. Saudara-saudara, ya , umpamanya kita di sungai Musi…….Tiga hari yang lalu saya ini ditempatnya itu lho Gubernur Sumatera Selatan – Pak Winarno di Palembang – Pak Winarno, hampir hampir saja berkata dengan sombong, menunjukkan kepada saya “ini lho Pak! Jembatan ini sedang dibikin, jembatan yang melintasi Sungai Musi” – Saya diam saja -”Sungai Ogan” – Saya diam saja, sebab saya hitung-hitung cagaknya itu. Lha wong bikin jembatan di Sungai Ogan saja kok cagak-cagakan !!

Kalau bangsa dengan “imagination” zonder cagak, Saudara-saudara !!
Tapi sini beton, tapi situ beton !! Satu jembatan, asal kapal besar bisa berlalu dibawah jembatan itu !! Dan saya melihat di San Fransisco misalnya, jembatan yang demikian itu ; jembatan yang panjangnya empat kilometer, Saudara-saudara ; yang hanya beberapa cagak saja.

Satu jembatan yang tinggi dari permukaan air hingga limapuluhmeter; yang kapal yang terbesar bisa berlayar dibawah jembatan itu. Saja melihat di Annapolis, Saudara-saudara, satu jembatan yang lima kilometer lebih panjangnya, “imagination”, “imagination” “imagination”!!! Ciptaan besar!!!

Jembatan raksasa Golden Gate di San Francisco,sudah berdiri sejak tahun 1937
Kita yang dahulu bisa menciptakan candi-candi besar seperti Borobudur, dan Prambanan, terbuat dari batu yang sampai sekarang belum hancur ; kita telah menjadi satu bangsa yang kecil jiwanya, Saudara-saudara!! Satu bangsa yang sedang dicandra-cengkalakan didalam candra-cengkala jatuhnya Madjapahit, sirna ilang kertaning bumi!! Kertaning bumi hilang, sudah sirna sama sekali. Menjadi satu bangsa yang kecil, satu bangsa tugu “rong depa”.

Candi raksasa Borobudur di Indonesia, sudah berdiri sejak abad 9 Masehi!
Saya tidak berkata berkata bahwa Grand Canyon tidak cantik. Tapi saya berkata : Tiga danau di Flores lebih cantik daripada Grand Canyon. Kita ini, Saudara-saudara, bahan cukup : bahan kecantikan, bahan kekayaan. Bahan kekayaan sebagai tadi saya katakan : “We have only scratched the surface ” – Kita baru `nggaruk diatasnya saja.
Kekayaan alamnya, Masya Allah subhanallahu wa ta’ala, kekayaan alam.

Saja ditanya : Ada besi ditanah-air Tuan? – Ada, sudah ketemu :belum digali. Ya, benar! Arang-batu ada, Nikel ada, Mangan ada, Uranium ada. Percayalah perkataan Pak Presiden. Kita mempunyai Uranium pula.

Kita kaya, kaya, kaya-raya, Saudara-saudara : Berdasarkan atas “imagination”, jiwa besar, lepaskan kita ini dari hal itu, Saudara-saudara.
Gali ! Bekerja! Gali! Bekerja! Dan kita adalah satu tanah air yang paling cantik di dunia

Dan televisi di ruangan tersebut mati. Suasana ruangan kembali temaram. Saya menengok ke belakang. Ternyata beliau telah pergi. Entah kemana.
Saya berjalan menuju meja kecil yang terdapat secangkin Cappucino di atasnya. Secarik kertas bertanda tangan beliau tergeletak di sana.Saya membacanya…

“Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan. Dan minum Cappucino ini selagi hangat.”

Dan saya terbangun.
Lagu Indonesia Raya berkumandang di layar televisi kamar saya.
Kalender dinding menunjukkan tanggal 17 Agustus 2012.

Dirgahayu Indonesiaku.

Nb: Kisah ini hanya fiksi belaka. Kata-kata Soekarno saya ambil dari pidato-pidato beliau di berbagai sumber:)

One Commentto Pesan dari seorang besar

  1. Savana says:

    Nice Story, saya pribadi termasuk pengagum Soekarno karena sifat Nasionalis yang beliau punya, terlepas dari kekurangan yang beliau punya, Rindu Sosok Bung Karno di Negeri Tercinta Indonesia ini.. MERDEKA..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *