Behind The Scene-Tetralogi Soda

Udah lama banget ya, saya berencana untuk cerita alasan saya menulis tetralogi Soda. Terus terang,nulis novel Canting Cantiq, Cinderella Rambut Pink, dan Rock’n Roll onthel ini bener-bener seru!
Percaya atau enggak, dalam tetralogi ini, bukan pembaca aja yang belajar sesuatu dari novel ini, tapi saya pun ikut belajar banyak hal dari pembuatan novel-novel ini.

Ide awalnya adalah karena saya sedih banget melihat kurangnya rasa toleransi di negara kita ini.Dari mulai masalah ras,agama,suku, dan lainnya. Kalau ada orang yang berpenampilan,berpendapat, atau berperilaku ‘berbeda’ dari orang kebanyakan,maka mereka dianggap “nggak layak hidup” alias dikucilkan dari pergaulan. Bahkan yang paling apes adalah jadi bahan bully.Padahal kan belum tentu mereka lebih jelek dari yang ngebully.Ya kan…

Bukan cuma itu aja, saya sedih juga ketika tahu banyak banget remaja Indonesia yang justru dengan lantang bilang kalau mereka benci banget sama Indonesia.Dan banyak juga yang lebih suka sama hal-hal yang berbau luar negeri ketimbang buatan Indonesia.Padahal kualitas produk buatan Indonesia juga gak kalah oke. Emang sih,hal itu sah-sah aja.Tapi jangan ngeluh kalo ekonomi Indonesia nggak maju-maju.Piss Jo!

Dari alasan-alasan itu, akhirnya saya mikir, “Kayaknya gw harus ngelakuin sesuatu untuk Bangsa ini!” tapi apa? Saya kan bukan politikus atau pejabat yang punya pengaruh besar buat negeri ini. Saya mikir mayan lama dan…..Taraaaa!!! Ternyata jawabannya justru ada di depan mata kepala saya sendiri.

“Hey,Im a writer! So write it!”

Pertanyaan terbesar saya sewaktu mulai menulis ini adalah, “Apa novel saya ini bisa diterima sama anak-anak muda saat ini?” as we know, novel saya sebelumnya mengusung logo teenlit yang selalu berkesan “light” dengan warna-warna cover stabilo dimana didalamnya berisi tulisan sangat ringan dan cerita yang berada di lingkup yang familier dengan anak muda. Pakem-pakem itu akan sedikit berubah kalau saya beneran menulis tetralogi ini…

Berani???

Saya cuma berpikir sejenak, selanjutnya…Hantem aja ah!
Yap,saya hantem segala ketakutan saya.Lagian,saya yakin pembaca-pembaca saya cukup keren untuk bisa menerima hal-hal baru di dunia teenlit.Jadinya saya pede aja.Masalah suka atau enggak urusan belakangan.Yang jelas, saya pengen belajar dan pengen pembaca novel saya juga ikut belajar ketika mereka membaca. Sadeeess!

Jadilah saya riset kiri-kanan. Banyak-banyak baca buku tentang Indonesia dan mencari tokoh-tokoh yang punya penampilan dan perilaku unik di luar sana. Yang bisa mewakilkan jiwa dan emosi anak-anak muda Indonesia yang sangat beragam. Beberapa diantara perilaku kecil tokoh-tokoh dalam tetralogi ini memang saya ambil dari diri saya sendiri…yaaakkk buka kartuuuu!!!

Dan saya pilihlah setting tempat tokoh-tokoh tersebut di dalam sebuah kos-kosan. Soalnya kos-kosan itu tempat yang paling identik sama anak muda yang lagi sekolah atau kuliah yang berasal dari kota-kota berbeda.Dari situlah toleransi di bangun :).Kos-kosan Soda (nama kos-kosan di novel saya) mewakili sebuah keluarga, bahkan bisa juga sebuah negara.Dimana isinya berbeda-beda, tapi tetap berada dalam satu kesatuan. Memiliki seorang pemimpin yang bijaksana bernama Eyang Santoso (pemilik kos-kosan Soda) yang sangat mencintai dan peduli terhadap pendidikan di Indonesia.

Cerita dari masing-masing novel memang membawa tema tentang semangat anak muda Indonesia dari berbagai segi.Karena Indonesia itu luas,Jeung! Banyak yang bisa kalian ceritakan.Dari sejarahnya, budayanya, keindahan alamnya, dan seterusnya dan sebagainya. Dari Sabang sampai Merauke.

Novel ini adalah salah satu bentuk kontribusi saya untuk Indonesia. Mudah-mudahan tetralogi ini bisa dibeli juga oleh penerbit luar untuk di translate menjadi bahasa asing.Seperti yang terjadi di dua novel saya sebelumnya, Dealova dan Rahasia Bintang.Amiiinn….

So, apa yang bisa kamu lakukan untuk Indonesia?lakukan dari sekarang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *