Dan Tuhan pun geleng-geleng kepala melihat Umatnya…

“Hah?! Lo sholat,Chiel?”
“Emang gue terlihat seperti Atheis, ya?”

Itu adalah pertanyaan teman saya ketika saya izin sholat maghrib ditengah-tengah sebuah acara musik metal di GOR Bulungan beberapa tahun silam. Pertanyaan itu masih jelas teringat di pikiran saya.Karena menurut saya lucu.Kenapa sih masih banyak yang berpendapat kalau orang dengan penampilan reigius,berjubah putih,bersorban,dan berjenggot sudah pasti level ibadahnya lebih tinggi dibandingkan orang yang menggunakan kaos bergambar tengkorak,jeans sobek-sobek?lucu kan?keimanan seseorang itu kan nggak bisa diukur dari pakaian yang dipakai kan, Genk!

Tapi akhir-akhir ini justru terjadi pergeseran makna terhadap sebuah penampilan.Yang sayangnya dibentuk oleh oknum manusia itu sendiri. Dan yang menyedihkan, justru terjadi di agama yang saya yakini. Orang yang menggunakan atribut islam banyak dicurigai, ditakuti, bahkan parahnya dikira teroris. Padahal penampilan itu seharusnya memberikan sebuah kedamaian dan kenyamanan bagi orang-orang disekelilingnya.

Saya pernah mengalami yang namanya dicurigai di negara orang.Sebetulnya wajar karena saya tiba di sana belom lama setelah tragedi 11 sept terjadi. Ketika sampai di bandara San Fransisco, saya dan dua orang teman saya diberikan jalur berbeda dengan turis-turis lain. Hanya karena identitas saya berasal dari Indonesia dan beragama Islam. Saya bertiga masuk ‘secondary inspection’ dimana saya harus melepas sepatu dan masuk ruangan khusus yang berisi blower. Kemudian barang-barang saya diperiksa sampai ke debu yang ada di sepatu saya. Tapi untungnya mereka memperlakukan kami dengan sangat baik dan menerangkan alasan2 mereka. Padahal dalam hati saya ngomong, “Nggak kebayang ada berapa banyak orang muslim yang harus mengalami hal yang mungkin jauh lebih parah dari saya, karena aksi terorisme keji itu.”

Saya termasuk orang yang sangat terbuka dalam hal keyakinan. Saya menganut islam. Namun saya bersahabat dengan teman-teman yang memiliki keyakinan berbeda. Kami saling toleransi dan tolong menolong. Sehingga saya suka sedih dengan pemberitaan media massa yang menayangkan ‘justru’ sikap fanatisme sempit yang menjurus kepada kekerasan dan mengintimidasi agama tertentu.Dari situ timbul sebuah perrtanyaan..

“Apakah pelaku kekerasan dengan mengatasnamakan agama itu meyakini kalau Tuhan adalah satu-satunya yang berkuasa di alam raya ini?Sehingga hanya Dia yang berhak menghukum manusia.Kalau mereka meyakini hal itu, lalu kenapa mereka merasa cukup suci untuk menghukum manusia lainnya dengan membunuh orang-orang yang (menurut mereka) berdosa?”

Menyedihkan sekali karena islam dijadikan sebuah pembenaran dalam kekerasan dan pembunuhan. Berteriak menyebut nama Tuhan ketika selesai merampas, membunuh atau mengintimidasi orang. Ahkk! Tuhan pasti geleng-geleng kepala di atas sana. Ingat, Tuhan itu nggak perlu dibela. Emangnya manusia, pengennya dibelain mulu biar menang? (Nah!)

Tapi saya juga tak setuju kalau agama lain menjadikan islam sebagai agama sesat yang bukan berasal dari Tuhan karena aksi terorisme yang terjadi. Sekali lagi, itu bukan masalah agama yang dianut, yang salah itu orangnya. Kejahatan bisa dilakukan oleh siapapun.Bukan hanya orang islam. Kalau kalian masih berpikir begitu, selamat, berarti kalian termasuk orang-orang yang masih memiliki fanatisme sempit.

Inget salah satu quotes film “Cin(t)a” :
“Kenapa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda kalau Dia hanya ingin disembah dengan satu cara?”

Tapi ngomong-ngomong pernahkan kalian mengetahui kalau manusia yang telah membunuh orang terbanyak adalah Adolf Hitler. Hitler membakar 6 juta orang Yahudi. Joseph Staline menewaskan 20 juta manusia, termasuk 14,5 juta yang mati kelaparan. Mao Tse Tsung Cina menewaskan 14-20000000 manusia. Benito Mussolini dari Italia menewaskan 400.000 manusia. Maximilin Robespierre selama revolusi Perancis banyak yang kelaparan dan disiksa hingga 200.000 orang mati dan mengeksekusi 40.000 orang. Asoka dalam salah satu pertempuran Kalingga menewaskan lebih dari 100.000 orang. Apakah mereka semua dari Muslim?tidak. Kelebihan mereka cuma satu, mereka tidak pernah mengatasnamakan agama dalam melakukan kejahatan tersebut (silahkan mikir).

Ngomongin agama emang selalu sensitif. Orang-orang pasti berpikir bahwa agamanyalah yang paling benar,paling oke. Sebenernya nggak ada yang salah dengan dialog dan perbedaan pendapat antar agama.Supaya terjadi pemahaman dan sikap saling toleransi antar umat beragama.Kalau dikit-dikit ngamuk, dikit-dikit kesinggung mah nggak bakalan maju-maju. Seharusnya sih, kalau orang memiliki keyakinan yang tinggi terhadap agamanya, ibadahnya rajin, dll, seharusnya punya management hati yang jauh lebih baik.

Jadi teringat ucapan salah satu teman saya yang pernah ngomong gini…
“Ibarat kancut gue dan kancut elo. Gw dan elo sama-sama nyaman dengan kancut kita masing-masing. Gue dan elo merasa kalau kancut kita yang paling keren, paling mahal, paling wangi, paling bersih dan paling nyaman. Meskipun kancut gue paling baik (menurut gue), kalo gue kasih kancut gue buat elo, pasti elo nggak mau. Begitu pula sebaliknya. Elo nggak mau kan, pake kancut gue?Sama kayak gue nggak mau pake kancut elo. Gue juga nggak bisa maksa elo untuk pake kancut gue.Elo juga pasti gitu. Kalau udah gitu, mendingan kita jaga kancut kita baik-baik. Cuci yang bersih biar makin nyaman dipake dan tahan lama.”




Comments are Closed