Perempuan vs Masakan

Akhir-akhir ini saya lagi doyan banget masak. Bukan mau gaya-gayaan, tapi karena akhir-akhir ini saya seringkali ditinggal Mama ke Solo. Jadinya mau nggak mau, saya masak supaya asupan makanan bergizi tetap ada *bergizi tapi beracun ahaha… *tawa setan*

Anyway, kalau udah ditinggal di rumah sendirian gini, baru kerasa deh pentingnya bisa masak makanan. Tujuan utamanya sih biar ngirit. Daripada setiap hari musti jajan ke luar rumah. Beneran deh, masak itu bisa bikin kita menghemat pengeluaran sehari-hari.Sekali masak, bisa untuk 3x makan.Bahkan bisa disimpen untuk esok harinya..

Topik postingan kali ini saya dapatkan ketika saya sedang metik toge buat masak soto. Nggak penting juga kalau harus saya ceritakan proses pemetikan toge itu. Kecuali kalau kalian benar-benar nggak tahu apa itu toge!hah?!?

Ok, postingan ini bukan soal dunia pertogean. Bukan juga soal resep memasak soto. Apalagi soal asal kata toge. Di postingan ini, saya mau membahas soal kesetaraan gender (beraaat sooobb! haha).

Terus terang saya lumayan seneng ketika perlahan banyak muncul koki-koki cowok macho yang jago masak.Selama berabad-abad lamanya, masakan selalu identik dengan kaum perempuan. Dimana memasak dianggap sebagai tugas kodrati seorang perempuan. Dan kalau sampai ada perempuan yang tidak bisa memasak dianggap sebuah kesalahan besar dan patut dicatat di dalam buku daftar dosa. Perempuan yang tidak bisa memasak dianggap tidak bisa menjadi ibu dan istri yang baik. What the hell is???

Bahkan iklan-iklan bumbu masak di televisi kadang terlalu berlebihan menunjukkan figur seorang ibu dalam keluarga. Figur ibu dalam iklan kebanyakan adalah ibu yang penyabar, manis, cantik, dan jago masak. Bukannya ibu yang harus berlelah-lelah bersihin rumah,pakai daster, memarahi anaknya supaya bangun pagi, lalu berangkat bekerja ke kantor. Tau sih, kalo iklan memang dibuat untuk memenuhi impian masyarakat ‘normal’.Tapi…hey… ini bukti kalau masyarakat kita sangat patriarki. Banyak iklan yang membawa kesan kalau ibu di rumah nggak bisa masak lezat, maka keluarga akan berantakan. Et dah busyeett… perselingkuhan itu bukan terjadi karena masakan ibu gak enak dimakan. Anak-anak doyan maen juga bukan karena masakan.Catet ya..haha!

Sadar apa enggak, budaya patriarki memang udah dibentuk dari kita kecil. Dulu, waktu kecil, saya selalu dibelikan alat masak-memasak, yang setelah saya sadari sekarang, merupakan simulasi stereotype pekerjaan perempuan ketika dewasa. Dan melarang kakak saya main masak-masakan dengan membelikannya pistol-pistolan yang entah kenapa dari dulu saya lebih tertarik dengan mainan kakak saya itu.See, stereotype itu pada dasarnya adalah hasil bentukan lingkungan.

Balik lagi ke masalah anggapan bahwa memasak dalah tugas kodrati perempuan. Meskipun saat ini perempuan sudah mulai keluar dari wilayah dapur, yaitu bisa berkarier membantu mencari nafkah, atau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh laki-laki, tapi label kodrati perempuan masih belum bisa hilang. Padahal, bayangkan saja bekerja membantu mencari nafkah, mengurus rumah dari beres-beres sampai memasak, dan mengurus anak bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan hanya dengan menjentikan jari. Emangnya pemberian waktu dalam satu hari antara laki-laki dan perempuan itu berbeda?Sama Jeung, tetap 24 jam!

Perempuan masih dianggap harus menguasi ‘rumah’ dan menyelesaikan semua tugasnya tanpa keluhan. Karena lagi lagi, dianggap sebagai kodratnya. Okay, fine kalo memang begitu. Tapi yang selama ini membuat para kaum feminis berkoar-koar adalah… kalau perempuan diberikan perluasan gerak ke luar ‘rumah’, jadi sepantasnya laki-laki juga harus mau memperluas geraknya ke dalam ‘rumah’. Itu baru yang namanya kesetaraan gender. Dapur bukan lagi wilayah tabu untuk laki-laki. Sama halnya dengan sopir taksi yang tak tabu lagi jika seorang perempuan.

Dan perlu kita sadari, kalau memasak itu bukanlah tugas kodrati perempuan. Tapi merupakan sebuah kebiasaan yang ‘alangkah lebih baiknya’ bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia. Yaitu makan. Kalau nggak bisa masak,nggak dosa. Memasak itu masalah skill. Makanya banyak kursus-kursus masak betebaran di mana-mana. Sama kayak kursus menjahit, kursus bahasa inggris, dll. Kodrat perempuan itu adalah untuk mengandung dan melahirkan. Tolong bedakan mana skill dan mana kodrat yaps… Selama ini nggak ada kan, kursus mengandung dan melahirkan di dunia ini?

Nb: ngomong-ngomong, memasak itu ternyata menyenangkan lho… bisa bikin relaks. Pantes aja disebutnya ‘seni memasak’. Karena unsur-unsur yang ada di dalam sebuah seni ada juga di dalam memasak.Hmmm… besok masak apa ya… ada ide?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *