Lelaki ideal di mata saya adalah titisan Gatot Kaca

20120723-235538.jpg

http://plixi.com/p/39995731

Waktu kecil, kalau ditanya siapa lelaki ideal di mata saya, pasti saya akan langsung menjawab papa.Ya, waktu kecil saya menganggap papa sebagai titisan Gatot Kaca yang sangat sakti. Papa bisa semuanya. Dari mulai urusan masak memasak, main musik, olahraga, benerin mobil, sampai urusan keuangan kantor. Dan yang lebih membuat saya sangat mengiodolakan beliau, papa sangat sayang pada keluarganya. Hal itu saya buktikan melalui ucapan mama dimana mama tak pernah meragukan kesetiaan papa dalam situasi terburuk sekalipun.

Saya pun tumbuh menjadi anak kecil yang sangat manja dan ‘bau keringet’ papa. Yang akan selalu berlindung di balik punggung papa ketika mama memarahi saya.

Penampilan papa juga cukup menarik di mata saya.Tubuhnya tinggi-tegap,hasil dari mantan atlet volly DKI yang masih tersisa. Pakaiannya selalu rapih dan wangi. Membuat saya kecil nyaman duduk di pangkuannya sambil sok-sokan ikut membaca koran yang sedang beliau baca. Padahal jujur saja,saya belum bisa membaca pada waktu itu. Papa juga penyabar. Jarang sekali melihat dia marah.Tutur katanya halus. Mampu meredamkan emosi orang-orang di hadapannya.

Tapi semakin dewasa, saya semakin menyadari kalau papa adalah manusia biasa. Papa bukanlah titisan om Gatot Kaca yang sakti itu. Papa bukanlah super hero. Papa juga punya banyak kekurangan. Dan pastinya pernah melakukan kesalahan. Pada satu ketika beliau memeluk saya di hari ulang tahun saya dengan mata berkaca-kaca, dan mengucapkan sebuah kalimat, ”Maafin papa,dek.” kata maaf yang tak pernah saya tahu maknanya.Karena buat saya,papa tetap sosok lelaki yang saya kagumi.

Pada saat itulah, saya tahu bahwa tak seharusnya saya memasang kriteria berlebih tentang lelaki ideal di mata saya pada sosok papa…

Ketika SMU, saya baru berani yang namanya pacaran. Itu juga karena mencairnya kriteria lelaki ideal di mata saya. Nggak ada patokan khusus mengenai cowok yang menjadi pacar saya. Asalkan saya suka, yaudah suka aja. So, mulailah perjalanan cinta saya *jiaaahh…priikiitieeww!

Cowok-cowok datang dan pergi.. ada yang baik,ada juga yang jahatnya luar biasa.Ada yang alim,ada juga yang begajulan.Ada yang kalem kayak kuburan, ada juga yang terlalu pecicilan sampai bikin pusing.Ada yang hitam dan yang putih. Nggak ada yang mampu membuat orang bisa menebak yang mana tipe cowok saya sebenarnya.Karena semua beda-beda. Berwarna.Pada akhirnya saya begitu lelah dengan warna-warni itu…

”Lo kayaknya musti nyari cowok yang bukan ‘elo’ banget.” begitu kata teman saya suatu hari.
”Gue takut pilih-pilih. Tuhan aja nggak pernah milih-milih sayang sama makhluknya. Kenapa gue harus milih-milih?emang yang Tuhan siapa sih,sebenernya?”
”Hidup itu pilihan kan, Cil.. Lo harus punya kriteria.Ini urusan masa depan lo.Sisa umur lo yang akan lo bagi dengan cowok yang sama.”

Saya jadi berpikir sejenak. Ketika usia saya di atas 25 tahun, memang ternyata tanpa saya sadari, saya punya kriteria sendiri mengenai cowok ideal di mata saya.Yang entah kenapa nggak pernah saya jadikan patokan dalam memilih pasangan. Padahal penting untuk menentukan cowok yang nanti akan menemani saya meminum cappucino hangat di teras rumah sambil menatap langit. Dimana saya akan membaca buku, dan dia akan membaca apapun yang ia sukai di sebelah saya, lalu kami saling bertukar informasi tentang apa yang kami baca. Bercerita banyak hal tentang hari…tentang masa depan…

Saya menyukai cowok yang penyayang. Cowok yang sayang dengan anak kecil itu seksi di mata saya.Mau itu sama adiknya,anaknya,anak tetangga,siapapun. Saya juga menyukai cowok yang tak terlalu banyak bicara tapi sanggup membuat saya yang cerewet ini terdiam ketika sebuah kalimat meluncur dari bibirnya. Dia yang nantinya akan saya berikan ribuan senyuman dan kecupan hangat setiap hari. Dia yang akan saya masakin setiap hari, dan dia yang akan membiarkan saya menangis sejadi-jadinya di pelukannya hanya untuk memastikan kalau everything is gonna be ok…

Ah… sepertinya dia tak pantas lagi disebut cowok. Dia lelaki. Lelaki yang akan memangku anak saya nanti sambil membaca koran. Dan si kecil dengan sok taunya ikut membaca. Lelaki yang akan membuat anak saya berlindung dibalik tubuhnya ketika saya memarahinya, menganggap bahwa papanya adalah om Gatot Kaca.Dia, lelaki ideal di mata saya…

Tapi yang namanya jodoh kan siapa yang tahu?Saya sih lebih cenderung pasrah.Kalo jodoh kan nggak bakalan kemana.Tapi yang jelas, keyakinan saya adalah… semakin kita terpuruk dan patah hati karena orang yang selama ini kita kira jodoh kita, tapi ternyata bukan.Maka anggap saja jodoh kita yang telah dipersiapkan Tuhan itu pasti keren sangat….dia lagi didandanin untuk siap ketemu sama kita….

Jadi ingat kata-kata mama…
“Carilah “partner in life” jangan sekedar “husband”. Yang tahu siapa Tuhannya. Dan cari yang setia, jangan yang tukang main cewek.” That’s it!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *