Berlari untuk Entah…

Kantung plastik berisi makanan itu tergeletak begitu saja di meja.Saya tutupi dengan kain agar nggak terlalu terlihat.Setidaknya oleh mata saya.Karena saya tak mau mengingat itu…

Hari itu hujan. Aroma tanah basah tercium jelas di hidung saya.Kekawatiran menyelimuti diri saya.Bukan karena hujan.Tapi karena dia. Dia mengabari saya kalau sedang tidak enak badan. Segala deadline yang harus saya selesaikan minggu ini mendadak buyar.Saya mulai nggak fokus.Gambling antara menyamperi dia atau menyelesaikan deadline ini dulu.Deadline ini juga nggak kalah penting, merupakan pertaruhan masa depan saya.Pijakan terakhir saya.
Saya melihat jam di dinding kamar. Butuh waktu yang lama untuk datang ke rumahnya.Dan lagi-lagi, hari itu hujan…

Ternyata perasaan kawatir dan kangen saya lebih dominan.Berbekal jaket tebal, dan syal. Saya mampir ke mini market terdekat.Membeli makanan sehat untuk dibawa ke tempatnya.Dia suka lupa makan hingga larut malam.Jadi saya beli lumayan banyak.Supaya setidaknya dia bisa menyimpan makanan untuk ganjel perut.

Hari sudah malam.Saya nekat naik bus ke tempatnya.Kebetulan masih ada angkot yang lewat jam segini.Kantong plastik di tangan, saya pegang kuat-kuat.Saya gulung atasnya agar isinya tak kena air hujan.Badan saya agak menggigil karena udara malam.Kulit saya yang tipis memang selalu begitu.Tapi nggak apa-apa.Karena saya tahu apa yang saya lakukan.Saya berlari menuju ketenangan,menuju kebahagiaan. Bertemu dia adalah adalah kebahagiaan.Setidaknya kekawatiran saya akan kondisinya bisa berkurang.Saya hafal betul wajahnya jika sakit.Aneh.Aneh karena dia terbiasa terlihat baik-baik saja.Dan saya nggak suka melihat dia aneh.

Jaket hitam saya lembab.Mungkin karena air hujan yang sempat mengguyur tubuh saya ketika saya mengejar angkot.Rambut saya juga basah.Dekil.Tapi saya betul-betul nggak perduli. Kalau boleh meminta,ingin sekali saya memeluknya nanti.Supaya hawa dingin di tubuh saya bisa bercampur dengan hawa panas tubuhya.Dan semua akan baik-baik saja….

Saya turun tepat di belokan rumahnya. Saya sempat menghela nafas panjang.Jantung saya berdetak lebih cepat.Sebentar lagi rasa kawatir, kangen, dan semuanya akan terbayar sudah. Mudah-mudahan dia sedang di rumah.Saya sengaja nggak meneleponnya dulu. Karena dia suka bohong kalau sakit. Saya tahu dia tak mau saya khawatir berlebihan.Jadi kadang ia suka bilang tak ada di rumah.

Hingga saya telah berdiri di depan rumahnya. Tapi sebelumnya, saya begitu haus. Saya membeli minuman di warung yang tak jauh dari rumahnya. Saya membeli teh botol nggak dingin.Aneh rasanya.Karena teh botol seharusnya dingin.Begitu menurut saya.Tapi tubuh ini udah betul-betul kedinginan.

Saya mengambil HP di tas, kemudian membuka contact. Saya mencari nama dia.Dan ketika saya ingin menekan nama di layar…..

Saya melihat dia keluar dari rumah. Saya tersenyum dari kejauhan. Ah…betapa saya kangen dengan sosok itu. Baru saja saya ingin berteriak memanggil namanya. Tapi tiba-tiba, sesuatu menahan saya.Entah energi apa itu. Tapi ia tak lagi sendiri di sana. Ada seorang wanita bersamanya.Dan mereka tampak begitu mesra.Saya melihat jelas kemesraan itu. Entahlah…saya tidak bisa lagi berpikir jernih.Yang saya tahu, wanita itu diajaknya masuk ke dalam rumahnya.Tubuh saya mendadak lemas.Ada dorongan kuat yang menahan saya agar tidak usah datang ke rumahnya.Tidak seharusnya saya berada disana.

“Pak, saya numpang duduk di sini sebentar, ya…” ucap saya pada penjaga warung yang terlihat aneh dengan sikap saya.
“Kenapa, Mbak?”
“Nggak apa-apa, Pak.Kepala saya agak pusing.Mungkin tadi sempet keujanan kayaknya.”jawab saya sambil tersenyum ke arahnya.

Beberapa menit,keputusan itu diambil.Saya berlari menerobos hujan.Saya tak perduli.Pokoknya saya ingin berlari.Berlari untuk….entah. Saya merasa Tuhan begitu baik saat itu.Ia menurunkan hujan sebagai perisai air mata saya yang mengalir deras.

Untung masih ada sisa pikiran yang normal pada saat itu. Dengan basah kuyup, saya kembali ke rumah.Dengan kantung plastik berisi makanan yang tadinya ingin saya berikan padanya.Jemari saya kaku karena sejak tadi memegang kantung plastik tersebut terlalu kuat.

Dan malam itu…
Saya terbaring lemas di tempat tidur.Badan saya meriang.Suhu tubuh saya mulai panas.Weekend yang seharusnya menyenangkan menjadi tidak berasa.Bukan hanya fisik saya yang di hantam.Tapi hati saya pun juga.Rahasia ini saya simpan rapat-rapat….hanya saya, penjaga warung, dan hujan yang tahu….Ah sudahlah…jadinya saya yang ikut-ikutan sakit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *