Bolehkah saya melukaimu?

20120616-113050.jpg

Bolehkah saya melukaimu?

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri pernikahan salah satu sahabat saya.Salah satu moment yang paling saya suka sepanjang hidup saya.Melihat sahabat saya menemukan pasangan hidupnya.Itu sangat keren…
Perasaan yang sama selalu muncul ketika moment ijabqobul berlangsung.Selama beberapa menit saya pasti akan menundukkan kepala, memanjatkan doa untuk teman saya,sambil meneteskan air mata haru bahagia.Saya sangat mengagumi moment kebahagiaan yang terjadi di depan mata saya.Karena itu membuat saya merasa beruntung bisa menyaksikan itu semua.Beberapa kali saya mendatangi moment ijabqobul,dan saya selalu mengucapkan doa yang sama.Doa yang menjadi harapan saya.Karena konon malaikat berkumpul ketika moment itu berlangsung….

Saya pernah bilang kalau saya pengagum cinta. Saya pengagum kebahagiaan. Saya senang melihat pasangan renta yang bergandengan tangan memasuki sebuah restauran,saya senang melihat seorang ibu yang menyusui anaknya,saya senang melihat seorang cowok yang kegirangan karena sang cewek bersedia menjadi pasangannya….dan seterusnya dan sebagainya…

Suatu ketika saya disadari oleh ucapan mama, “Dek,kamu ada masalah?” pertanyaan mama itu didasari atas sikap saya yang menurut mama sangat tertutup dari kecil.Semua selalu terlihat baik-baik saja. Saya memang jarang mengeluh, jarang marah2, dan jarang curhat dalem. Setiap kali ada masalah,bahkan masalah yang besar sekalipun, kadang saya hanya diam dan ujung-ujungnya sakit. Tapi sampai saya tiba-tiba mengeluh, marah2, atau curhat dalem sama seseorang… Itu tandanya orang itu berharga buat saya.Orang itu punya arti besar. Itu artinya saya sangat sayang padanya….saya percaya, saya rela terlihat bodoh dan lemah di depannya.

Tapi nggak semua orang mengerti itu. Bodohnya saya, mereka justru terluka dengan sikap saya itu. Beberapa bahkan membalasnya dengan perilaku yang jauuuuuh lebih sadis dan diluar akal sehat karena merasa sikap saya itu harus dihadapi dengan perilaku yang akan menyiksa saya lahir-batin. Padahal bukan itu yang saya harapkan.Saya cuma mau dia menenangkan saya biar saya nggak merasa sendiri.Itu aja. Dan itu nggak akan lama.Tapi yang lebih sering terjadi justru sebaliknya.

Hal itu pada akhirnya membuat saya sangat tertutup walaupun sikap yang saya tunjukan terkesan blak-blakan.Tapi saya nggak akan membocorkan masalah yang saya hadapi.Karena percuma juga.Saya jadi mengerti bagaimana perasaan seorang pelawak.Orang nggak pernah perduli apakah dia punya masalah berat di rumahnya, orang nggak mau tahu jumlah uang di dompetnya, bahkan orang nggak pernah berpikir kalau ia sakit hati ketika seseorang mengejeknya terlalu sadis. Orang tak pernah perduli.Yang mau orang tahu adalah si pelawak selalu lucu, selalu baik-baik saja, selalu bisa menghibur. Titik.

Saya tahu sikap saya yang justru curhat, marah-marah, mengeluh, justru sama orang yang saya sayang adalah sifat buruk.Tapi itu satu-satunya obat untuk menenangkan hati saya. Jadi…Maaf, bolehkah saya melukaimu?Karena kamu orang yang saya sayang….

20120616-112955.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *