Seven Days

20120515-154207.jpg

Saya pikir saya mati rasa. Begitulah yang saya rasakan ketika berencana menulis novel cinta layaknya novel pertama dan kedua saya.Semua seperti datar-datar saja.Nggak ada perasaan menggebu-gebu,nggak ada emosi,ataupun rasa bahagia.Semuanya ‘lempeng’.Mungkin ini yang namanya mati rasa.Terlau banyak luka,terlalu banyak sakit di hati saya.Sehingga yaah… datar-datar aja ngadepin semuanya.

Hingga tiba-tiba pikiran absurd itu muncul. “Gimana kalau gue jadi volunteer di sasana tinju untuk jadi target latihan pukulan?Atau gimana kalau saya buka lagi lembaran-lembaran luka dengan mantan pacar saya?atau… Bisakah saya membayar seorang cowok hanya untuk pacaran dengan saya?”

Semua itu hanya untuk satu tujuan.Saya ingin hati saya bekerja dengan baik.Saya ingin merasakan sesuatu dengan lebih ‘dalem’ jangan ‘ lempeng’ aja.

Hingga ketika saya merebahkan diri, saya melihat dia ada disana. Berdiri dihadapan saya dengan berkata, “Gue mau jadi pacar lo.”
Saya kaget bukan main.Kenapa cowok ini tiba-tiba dengan sukarela mau jadi pacar saya? Saya bertanya, “Kenapa?”
“Karena gue pengen menolong elo”
“Apa perlu gue bayar?”
Dia langsung menggelengkan kepalanya.”Gue tulus mau nolong elo.”

Oke,ketika sebuah kesepakatan terjadi dengan serbagai embel-embel rules yang mengikat,dia menarik saya memasuki dunia cintanya yang begitu sempurna.Dia bebaskan saya tertawa,berlari,atau bercerita sesuka saya.Dia perlakukan saya dengan sangatindah.Bahkan terlalu indah sampai kata terima kasih pun tak cukup jika dibandingkan dengan apa yang dia lakukan untuk saya. Ya, saya jatuh cinta dengan dia yang ~entah datang dari mana~ menjadi pacar saya untuk tujuh hari ke depan.

Tujuh hari begitu penuh cerita. Tujuh hari begitu penuh rasa. Ia menggenggam tangan kecil saya.Menggoyang-goyangkannya ke depan dan ke belakang menyusuri jalanan malam ibukota yang penuh lampu-lampu indah. Saya menarik tangannya tiba-tiba untuk mengajaknya berlari menyeberangi jalan.Dia terkejut,sedikit mengeluh karena lelah,namun dia tersenyum aneh kemudian. Dan saya hanya bisa tertawa lebar melihat ekspresinya yang begitu lucu.

Dengan sekali kedipan mata, kami tiba di tempat yang berbeda. Bukan di jalan malam ibukota. Tapi di sebuah arena bermain yang begitu luas. Ada badut-badut,ada musik-musik,orang-orang menari,tertawa,saling bergandengan,bersuka ria.Kami ada di sana dan ikut bahagia.Mereka menyambut dan menarik kami kedalam arena mereka, dan kami pun bersenang-senang. Dari kejauhan saya melihat sepasang patung kelinci raksasa sedang menatap kami. Tersenyum.

Senja berubah menjadi malam. Ia menggenggam tangan saya. Kali ini kami berlari bersama. Kami berlari sekencang-kencangnya menuju titik paling ujung di jalan itu. Dengan nafas beradu,langkah kaki cepat, dan semua mata ingin tahu yang berada di sepanjang jalan yang kami lalui, kami tertawa lebar.

Saya melihat ia menjentikkan jari. Dan kami kembali berada di tempat yang berbeda, Bukan sebuah jalanaan ibukota, bukan pula sebuah arena bermain yang mengasyikan. Tapi kami berada di sebuah ruangan kecil yang entah berada dimana. Ketika tersadar,saya melihat dia tepat di depan saya.Tersenyum indah seperti biasa. Jantung saya berdetak cepat. Tiba-tiba ia menarik tubuh saya, merengkuhnya.Saya hanyut kedalam sensasi wangi tubuhnya.Saya bisa merasakan detak jantungnya yang seirama. Dan disanalah semuanya terjadi. Ia mencium saya. Membawa saya berfantasi.Semua begitu nyaman.Begitu dalam. Semakin lama semakin dalam dan kami terhanyut. Saya rasa ini sayang… kamu?

Tik…tik…tik…

Sebuah suara membuyarkan sensasi itu. Saya tak menyadari kalau sudah cukup lama ia memeluk tubuh saya, menghujani saya dengan ciumannya yang memabukkan.Tiba-tiba sebuah ketakutan menyertai saya.Memenuhi hampir seluruh aliran darah saya. Saya terdiam menatapnya. Membuatnya sedikit bingung.
“Ada suara detiknya…” ucap saya.
“Kenapa?” jawabnya.
Saya melirik pada kalender di dinding. Hari minggu. Ya, ini hari minggu.Tepat tujuh hari saya bersamanya.Tepat tujuh hari ia menjadi pacar saya. Itu tandanya…
“Waktunya….” saya kembali berkata cemas.
Ia menyadari apa yang sedang terjadi. Tiba-tiba tangannya menggapai jam di meja dan menghantamnya sekuat tenaga tanpa mampu saya halangi. PRANG!!!

“JANGAAANN!!!”

Blup!

Saya membuka mata saya perlahan. Kening saya berkerut. Saya menatap sekeliling, mencari-cari dia. Tapi dia tak ada di sana. Ah, ternyata saya hanya bermimpi. Mimpi yang terlalu indah di siang bolong. Dia hanyalah sebuah ilusi yang memberikan sensasi tersendiri dalam mimpi saya. Dia tak nyata.Bahkan kami belum sempat mengetahui nama kami masing-masing.Ah itu tak perlu.

Saya beranjak menuju meja di sudut ruangan, membuka laptop, dan mulai menulis… Ya, mimpi itu memberikan mood yang sangat bagus untuk saya menulis.Membuat perasaan saya mulai bekerja dengan sangat baik. Saya mampu merasakan sesuatu. Saya nggak mati rasa. Saya menulis dulu ya, teman-teman…. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *