Dari saya untuk Bumi Indonesia

20120503-062343.jpg

“My name’s Dyan Nuranindya. And I’m from Indonesia.”

Ruangan itu mendadak hening. Semua mata tertuju pada saya yang bertubuh mini, berambut hitam dan berkulit cokelat ini. Pandangan mereka terlihat aneh. Seakan saya ini makhluk dari belahan planet antah berantah yang terdampar di bumi. Sempat dengan bodohnya saya meyakinkan diri bahwa saya memang tidak pergi terlalu jauh dari bumi. Bahwa 12 jam perjalanan dengan pesawat udara tidak sampai membuat saya mendarat di planet Mars.

“Are you from Indonesia? How come? Well, I mean are you really from that place?”

Saya menganggukkan kepala yakin. Kemudian dengan cueknya saya bercerita tentang negara saya. Tentang ribuan pulau yang dimiliki, kekayaan alam, budaya, sumber daya manusia, dan semua yang pernah saya baca dan tau tentang Indonesia. Bahkan sesekali saya menggambar di papan tulis di ruangan tersebut untuk memberikan bayangan kepada mereka (padahal jujurnya saya bingung menjelaskannya dalam bahasa Inggris jadi ya saya gambar aja huahahaha….)

Lalu dengan sekali kedipan mata, mendadak hampir seluruh manusia yang berada di ruangan tersebut mengacungkan tangan, berebut menghujani saya dengan pertanyaan. Dalam hati sayapun menjawab, “mati gue!”

Kaki saya bergerak-gerak waktu itu. Ini bukan pertama kalinya untuk saya berdiri di hadapan puluhan orang dari rumpun yang berbeda. Sebelumnya, saya dan kedua orang teman dari Indonesia juga pernah mengalami hal yang sama. Dari warna bola mata mereka yang berada di dalam ruangan itu saja, saya bisa tahu kalau mereka dari negara yang berbeda. Berbagai pertanyaan yang mereka ajukan nyaris membuat saya setengah miris dalam hati. Gila banget sih? Masa segitu buruknya citra Indonesia dimata dunia? Negara teroris, miskin, kriminalitas tinggi, korupsi, dll.

“Ok, mungkin apa yang kalian ketahui tentang Indonesia memang benar terjadi di Indonesia. Tapi kan hampir semua negara memiliki permasalahan yang kurang-lebih sama?”

Entah kenapa saat itu saya begitu bangga terhadap diri saya sebagai orang Indonesia. Saya begitu bangga diberikan kepercayaan untuk membela negara saya dihadapan mereka.Di negara superior itu. Setidaknya saya mampu membuka mata dan pikiran positif mereka terhadap Indonesia. Walaupun efeknya mungkin gak terlalu besar. Setidaknya saya sudah berusaha berbuat ‘sesuatu’ untuk Indonesia. Meskipun setelah itu saya kembali teringat hal-hal yang pernah saya baca dan yang pasti akan membuat pangeran diponegoro, cut nyak dien, teuku imam bonjol dan pahlawan lainnya geleng-geleng kepala: tawuran antar sekolah, pembantaian,penjualan pulau, banjir karena sampah yang overload,korupsi, narkoba, dan sebagainya dan lain-lain.

Saya jadi mikir,apa sebenernya semua masalah yang terjadi di negara kita ini adalah karena pola pikir kita sendiri yang justru menganggap kalo Indonesia negara kaya raya. Makanya kebanyakan masyarakatnya jadi males ngapa-ngapain. Tau hutan kita di babat, satwa kita ditangkepin, pulau kita dijual, dan lainnya sebagainya, apa coba yang kita lakuin?….. duduk manis nonton beritanya di tv. Hey guys, do something! C’mon… Gak usah muluk-muluk terbang ke kalimantan dan ngeluarin jurus2 karate ke para penebang liar itu. Lakukan aja apa yang bisa kamu lakuin.Jangan boros kalau pake kertas misalnya.

Please guys, stop untuk menganggap negara kita negara kaya. Kekayaan yang negara kita miliki pasti lama kelamaan habis kalau kita sebagai warga negara hanya mampu berpikir konsumtif bukan produktif. Belum lagi banyak orang-orang yang egois sehingga menggunakan kekayaan Indonesia untuk ketamakan dan kepentingan pribadi. Jangan sampai mental generasi-generasi penerus bangsa ini dibangun menjadi mental pemalas. Mental yang hanya menunggu belas kasihan orang untuk memberi.Kasihan banget sih loooo….ahahaha…*maluuu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *