Jangan dipendam jauh2. Ngegalinya susah!

20120316-124447.jpg

Saya punya kebiasaan memendam perasaan marah atau kecewa. Kebiasaan yang bagi sebagian orang dianggap luar biasa tapi justru lebih sering mencelakakan saya.Saya jadi sering disakiti sama orang yang justru amat sangat saya sayangi.Memang, semakin saya menyayangi seseorang,semakin tinggi kadar saya memendam perasaan hanya untuk membuat dia selalu bahagia… membuat dia nyaman…

Banyak sahabat saya yang marah karena kebiasaan buruk saya itu.Bagi mereka itu terlalu berlebih.Sama saja bunuh diri.

Bunuh diri?Mungkin saja. Saya pernah punya pacar yang amat sangat saya sayangi.Suatu hari saya tahu kalau dia selingkuh. Selingkuh dengan seseorang yang kebetulan juga saya kenal.Yang justru ada di otak saya saat itu adalah bagaimana saya harus menahan kemarahan saya agar pacar saya itu tetap nyaman bersama saya.Saya ingin dia mengaku sendiri tanpa harus saya sudutkan yang membuat hubungan saya-dia menjadi nggak tenang. Tapi ternyata, dia nggak pernah ngaku sampai detik dimana kami memutuskan untuk putus. Dan saya tidak tega untuk mengungkit2nya.

Kalau sudah begitu, saya lebih sering mencari tempat sepi dan menangis sendiri. Tapi nggak lama.Karena setelah itu saya harus kembali menghadapinya dengan topeng dewa saya.Alias cengar-cengir seakan nggak terjadi apa-apa.Kalian boleh sebut saya muna. Tapi trust me, itu saya lakukan karena saya nggak mau membuat suasana nggak asik.Saya nggak mau menyakiti orang lain. Itu cara saya mengatasi rasa sakit hati.

Saya benci pertengkaran.Saya benci permusuhan.Saya nggak suka adu urat untuk nyelesaiin masalah. Mungkin karena saya tidak suka bicara dengan intonasi tinggi yang bisa menyebabkan saya langsung drop menangis, atau paling parah:mimisan. Saya paling nggak suka orang membentak saya ketika marah. Karena membentak itu tidak manusiawi. Tegas dan bentak itu berbeda.

Di keluarga, saya juga lebih sering jadi penengah ketika terjadi adu urat disana. Saya dianggap bisa berkepala dingin menyelesaikan masalah tanpa emosi.Omongan saya kadang nyelekit walau tanpa intonasi tinggi.Saya mulai sadar kegunaan saya berada di tengah2 keluarga ini.

Tapi ini bukan berarti saya nggak bisa marah. Saya bisa marah.Tapi terlalu brutal untuk diceritakan.Marah saya lebih pantas disebut mengamuk.Keluarga saya pernah melihat saya marah dan mereka ketakutan setengah mati.Habis itu saya menyesal telah membuat mereka ketakutan. Tapi itu jarang terjadi.Sekarang saya lebih sering jatuh sakit,demam tinggi, ketika hati dan pikiran saya terlalu tersakiti atau emosi tinggi.

Saya percaya keajaiban ada saat seseorang yang saya sayangi memeluk saya dan membiarkan saya menangis sepuasnya.Harga mati untuk peluapan emosi saya yang sulit keluar. Itu salah satu doa sahabat-sahabat saya.Yaitu suatu hari nanti saya akan menemukan lelaki yang siap memeluk saya ketika saya emosi atau sakit hati untuk membiarkan saya menangis sepuasnya.Thanks buat doanya ya, dear…

Saya capek… Nahan perasaan itu menghabiskan energi saya…

Please bantu saya meluapkannya….

Yeah, mungkin ini alasan Tuhan kenapa saya jadi penulis:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *