July, 2012

now browsing by month

 

Perempuan vs Masakan

Akhir-akhir ini saya lagi doyan banget masak. Bukan mau gaya-gayaan, tapi karena akhir-akhir ini saya seringkali ditinggal Mama ke Solo. Jadinya mau nggak mau, saya masak supaya asupan makanan bergizi tetap ada *bergizi tapi beracun ahaha… *tawa setan*

Anyway, kalau udah ditinggal di rumah sendirian gini, baru kerasa deh pentingnya bisa masak makanan. Tujuan utamanya sih biar ngirit. Daripada setiap hari musti jajan ke luar rumah. Beneran deh, masak itu bisa bikin kita menghemat pengeluaran sehari-hari.Sekali masak, bisa untuk 3x makan.Bahkan bisa disimpen untuk esok harinya..

Topik postingan kali ini saya dapatkan ketika saya sedang metik toge buat masak soto. Nggak penting juga kalau harus saya ceritakan proses pemetikan toge itu. Kecuali kalau kalian benar-benar nggak tahu apa itu toge!hah?!?

Ok, postingan ini bukan soal dunia pertogean. Bukan juga soal resep memasak soto. Apalagi soal asal kata toge. Di postingan ini, saya mau membahas soal kesetaraan gender (beraaat sooobb! haha).

Terus terang saya lumayan seneng ketika perlahan banyak muncul koki-koki cowok macho yang jago masak.Selama berabad-abad lamanya, masakan selalu identik dengan kaum perempuan. Dimana memasak dianggap sebagai tugas kodrati seorang perempuan. Dan kalau sampai ada perempuan yang tidak bisa memasak dianggap sebuah kesalahan besar dan patut dicatat di dalam buku daftar dosa. Perempuan yang tidak bisa memasak dianggap tidak bisa menjadi ibu dan istri yang baik. What the hell is???

Bahkan iklan-iklan bumbu masak di televisi kadang terlalu berlebihan menunjukkan figur seorang ibu dalam keluarga. Figur ibu dalam iklan kebanyakan adalah ibu yang penyabar, manis, cantik, dan jago masak. Bukannya ibu yang harus berlelah-lelah bersihin rumah,pakai daster, memarahi anaknya supaya bangun pagi, lalu berangkat bekerja ke kantor. Tau sih, kalo iklan memang dibuat untuk memenuhi impian masyarakat ‘normal’.Tapi…hey… ini bukti kalau masyarakat kita sangat patriarki. Banyak iklan yang membawa kesan kalau ibu di rumah nggak bisa masak lezat, maka keluarga akan berantakan. Et dah busyeett… perselingkuhan itu bukan terjadi karena masakan ibu gak enak dimakan. Anak-anak doyan maen juga bukan karena masakan.Catet ya..haha!

Sadar apa enggak, budaya patriarki memang udah dibentuk dari kita kecil. Dulu, waktu kecil, saya selalu dibelikan alat masak-memasak, yang setelah saya sadari sekarang, merupakan simulasi stereotype pekerjaan perempuan ketika dewasa. Dan melarang kakak saya main masak-masakan dengan membelikannya pistol-pistolan yang entah kenapa dari dulu saya lebih tertarik dengan mainan kakak saya itu.See, stereotype itu pada dasarnya adalah hasil bentukan lingkungan.

Balik lagi ke masalah anggapan bahwa memasak dalah tugas kodrati perempuan. Meskipun saat ini perempuan sudah mulai keluar dari wilayah dapur, yaitu bisa berkarier membantu mencari nafkah, atau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh laki-laki, tapi label kodrati perempuan masih belum bisa hilang. Padahal, bayangkan saja bekerja membantu mencari nafkah, mengurus rumah dari beres-beres sampai memasak, dan mengurus anak bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan hanya dengan menjentikan jari. Emangnya pemberian waktu dalam satu hari antara laki-laki dan perempuan itu berbeda?Sama Jeung, tetap 24 jam!

Perempuan masih dianggap harus menguasi ‘rumah’ dan menyelesaikan semua tugasnya tanpa keluhan. Karena lagi lagi, dianggap sebagai kodratnya. Okay, fine kalo memang begitu. Tapi yang selama ini membuat para kaum feminis berkoar-koar adalah… kalau perempuan diberikan perluasan gerak ke luar ‘rumah’, jadi sepantasnya laki-laki juga harus mau memperluas geraknya ke dalam ‘rumah’. Itu baru yang namanya kesetaraan gender. Dapur bukan lagi wilayah tabu untuk laki-laki. Sama halnya dengan sopir taksi yang tak tabu lagi jika seorang perempuan.

Dan perlu kita sadari, kalau memasak itu bukanlah tugas kodrati perempuan. Tapi merupakan sebuah kebiasaan yang ‘alangkah lebih baiknya’ bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia. Yaitu makan. Kalau nggak bisa masak,nggak dosa. Memasak itu masalah skill. Makanya banyak kursus-kursus masak betebaran di mana-mana. Sama kayak kursus menjahit, kursus bahasa inggris, dll. Kodrat perempuan itu adalah untuk mengandung dan melahirkan. Tolong bedakan mana skill dan mana kodrat yaps… Selama ini nggak ada kan, kursus mengandung dan melahirkan di dunia ini?

Nb: ngomong-ngomong, memasak itu ternyata menyenangkan lho… bisa bikin relaks. Pantes aja disebutnya ‘seni memasak’. Karena unsur-unsur yang ada di dalam sebuah seni ada juga di dalam memasak.Hmmm… besok masak apa ya… ada ide?

The Place named ‘Gudang Sembilan”

20120724-214555.jpg

20120724-214602.jpg

Buat kalian yang udah pernah baca novel saya Rock’n roll Onthel, pasti familiar dengan tempat ini. Gudang sembilan. Tempat musisi jempolan adu kebolehan bermain musik:p

Setelah novel Rock’n Roll Onthel terbit, banyak dari pembaca saya yang nanya, ”Gudang Sembilan itu sebenernya ada nggak sih?” saya cuma bisa senyam-senyum aneh menjawab pertanyaan itu. Dan… inilah ide mengenai tempat kece bernama Gudang Sembilan di novel Rock’n Roll Onthel yang bikin penasaran….

Ketika menulis novel Rock’n Roll Onthel, saya telah berkeliling ke banyak tempat-tempat manggung di beberapa kota di Indonesia.Dari mulai panggung kecil di sebuah warung, hingga konser besar dengan ribuan penonton. Dari musik mainstream sampai musik-musik indie yang kadang juga cukup unik di telinga saya. Ha.Ha… Tapi kesemuanya nggak ada yang total mewakili bayangan Gudang Sembilan di benak saya.Tempat untuk para musisi baru dengan membawa musik baru sih banyak. Tempat berkumpulnya anak muda yang mencintai musik juga banyak. Tapi tempat yang ‘pyur’ menjadi ajang ekspresi dan memegang prinsip dasar demokrasi hampir nggak ada di Indonesia.Atau mungkin ada, tapi saya nggak sempat lihat hehe…

So, here we go, Gudang Sembilan yang ada di benak saya.

Pernah dengar yang namanya CBGB? CBGB adalah nama sebuah klub di kawasan Bowery, New York yang telah berdiri selama 32 tahun sebelum akhirnya terpaksa harus ditutup pada tahun 2005 (kalo nggak salah). CGBG adalah singkatan dari ‘Country,Blues Grass, dan Blues’. (Jangan terpatok pada namanya ya..genk!) Dari luar, klub itu terlihat sepi dan ngebosenin karena bentuknya mirip bangunan tua tanpa plang nama berlampu yang biasa ada pada klub-klub pada umumnya. Katanya, dulu gedung itu adalah komplek perumahan bagi imigran yang datang ke New York pada abad ke 19.

Tapi tetap aja para peminat musik dari seluruh dunia beramai-ramai datang ke klub itu. Ya, CBGB pernah dianggap sebagai kiblat musik dunia. Dan untuk orang-orang yang pernah datang ke tempat itu, CBGB adalah tempat lahirnya musik-musik baru, khususnya musik punk. Namun tahun 2005, CBGB tidak mungkin lagi menjadi tempat revolusi musik karena pemiliknya terbelit hutang hasil dari tunggakan sewanya yang belum dibayar secara lunas sejak tahun 1993.Padahal banyak band-band yang lahir dari CBGB seperti The Ramones, Public Enemy, Beastie Boys, House of pain. Dan pada dekade berikutnya tahun 90-an sampai 2000-an CBGB juga melahirkan band-band keren lainnya yang jauh dari mainstream. Seperti Warhols, Helmet, dan The Killers yang diberikan kesempatan untuk pertama kalinya menampilkan kebolehan mereka. Sebelum akhirnya musik mereka bisa sampai ke dalam iPod saya hueee…

Yang keren dari keberadaan CBGB, kerjasama antara musisi, media, dan berbagai elemen untuk mengembangkan musik-musik baru di Amerika jempolan banget. Beda banget deh sama di Indonesia yang masih seret kalau ada musik-musik yang agak keluar dari jalur mainstream (tau sendiri distribusi album indie di Indonesia kayak gmana). Ekspos media terhadap CBGB pada akhirnya juga membawa perhatian industri musik terhadap band-band dengan warna musik baru. Setelah mengorbitkan The Ramones, industri dan media di Inggris jadi ikut-ikutan Amrik memperhatikan band-band punk lokal Inggris seperti Sex Pistols dkk. Bahkan pada akhirnya di Inggris, musik punk berkembang menjadi sebuah fenomena kultural.

Itu dia sekilas tentang klub bernama CBGB, yang menjadi inspirasi saya membangun tempat bernama Gudang Sembilan di novel Rock’n Roll Onthel. Okay, memang ada sebuah tempat yang mirip banget dengan Gudang Sembilan di benak saya. Namanya udah pasti bukan Gudang Sembilan. Tapi konsep yang dibawa cukup mirip.Saya cuma bisa berdoa semoga tempat-tempat seperti ‘Gudang Sembilan’ nggak selalu berakhir seperti klub legendaris CBGB. Karena nggak ada batasan dalam berkarya, kan… asalkan nggak rusuh, saya rasa tempat kayak gitu bakalan jadi tempat alternatif hiburan yang asik buat yang suka musik….keep Rockin!

20120724-214613.jpg

20120724-214618.jpg

Bahagia itu untuk dibagi

20120724-192423.jpg

20120724-192504.jpg

Ramadhan tahun lalu, ada dua agenda besar yang saya lakukan bersama teman-teman. Yang pertama, bersama teman-teman dari ‘Team Gokil’s’ haiyaaah…. namanya geblek banget yak? ahaha…. intinya, Team Gokil’s ini adalah teman-teman satu tongkrongan saya dulu. Terdiri dari cewek dan cowok. Yang dari dulu emang doyan banget sama namanya jalan-jalan nggak jelas ke museumlah, monaslah, dll. Berasa bukan warga Jakarta deh pokoknya hahaha….

Bersama Team Gokil, tahun lalu saya mengunjungi panti asuhan di kawasan kampung melayu untuk baksos. Jadi dari jam 8 malem, kami semua berkumpul di kampus, untuk sama-sama menuju panti asuhan.Awalnya kami mau ke dua panti asuhan. Tapi nggak lama setelah kami berangkat, kami mendapatkan kabar kalau panti asuhan kedua yang ingin kami kunjungi kebakaran. Jadilah kami membatalkan rencana semula dan menyerahkan donasi langsung ke pengurus panti kedua.

Perjalanan akhirnya kami lanjutkan ke kawasan monas. Rencananya mau sahur di monas biar bisa makan nasi bungkus sambil memandangi emas di puncak monas. Kali aja nasi bungkusnya bisa berubah jadi steak atau spaghetti and cheese;)) Karena kebetulan waktu itu udah jam sahur. Ternyata pintu monas tertutup semua. Jadilah para anak-anak badung ini memanjat pagar untuk masuk ke halaman monas (maafkan saya pak pengawas, tapi mumpung lagi puasa, selaw yah…ahahaha) Dan benar saja, akhirnya kami bisa makan nasi bungkus sambil ditemani emas di puncak monas dan emas-emas yang jualan aqua ahahaha…
Habis makan sahur, kita mengakhiri perjalanan ke masjid istiqlal. Buat sholat subuh pastinya. Masa iya buat motong kambing (kidding!)

Dan… agenda besar kedua, Ramadhan tahun lalu saya adalah dengan the one and only….teman-teman GEMPITA’s hehehe… yess, inget Gempita, kan? yang tahun sebelumnya lagi mengadakan buka puasa dan bazaar baju murah dengan anak-anak jalanan di kawasan senen?Nah, tahun lalu acara yang dilakukan adalah mengajak anak-anak panti asuhan untuk buka puasa, belanja perlengkapan sekolah, dan nonton bareng di Gandaria City. Jadi masing-masing orang akan jadi kakak asuh yang bertugas menemani adik-adik asuh dari panti untuk buka puasa, belanja, dan nonton.So,meluncurlah kita semua ke Gandaria City. Acaranya seru. Dan anak-anak semuanya senang!!!

Ini dia salah satu hal yang saya suka dari moment Ramadhan. Banyak kegiatan-kegiatan seru yang bisa dilakukan untuk membagi kebahagiaan kita dengan orang lain. Selain untuk ajang silaturahmi pastinya. Mengingat setahun ini masing-masing terlalu sibuk dengan urusan pribadinya. Tapi kenapa cuma Ramadhan? kenapa nggak setiap hari aja ya? Masa beramal harus nunggu bulan Ramadhan? hahaha… sebenarnya bukan masalah waktunya. Beramal sih idealnya wajib selama kita ada. Tapi alangkah lebih indahnya ketika moment ‘besar’ nya dilakukan ketika bulan suci Ramadhan. Dimana pahala yang diberikan akan dilipat gandakan. Dimana kita diingatkan untuk lebih perduli kepada sesama karena mungkin di tahun itu kita terlalu sibuk dengan egoisme kita. Terlalu sombong dengan atribut dunia kita. So, kalau mau beramal, ya beramal aja. Yang penting niat, kan?

Oiya, tahun ini saya dan teman-teman rencananya Gempita mau mengadakan baksos lagi. Kali ini kita bergabung dengan komunitas vespa yang namanya Vespa Antique Club. Cerita selengkapnya nanti saya share di blog ya… so stay tune! haiyaahhh….

20120724-192413.jpg

20120724-192405.jpg

Lelaki ideal di mata saya adalah titisan Gatot Kaca

20120723-235538.jpg

http://plixi.com/p/39995731

Waktu kecil, kalau ditanya siapa lelaki ideal di mata saya, pasti saya akan langsung menjawab papa.Ya, waktu kecil saya menganggap papa sebagai titisan Gatot Kaca yang sangat sakti. Papa bisa semuanya. Dari mulai urusan masak memasak, main musik, olahraga, benerin mobil, sampai urusan keuangan kantor. Dan yang lebih membuat saya sangat mengiodolakan beliau, papa sangat sayang pada keluarganya. Hal itu saya buktikan melalui ucapan mama dimana mama tak pernah meragukan kesetiaan papa dalam situasi terburuk sekalipun.

Saya pun tumbuh menjadi anak kecil yang sangat manja dan ‘bau keringet’ papa. Yang akan selalu berlindung di balik punggung papa ketika mama memarahi saya.

Penampilan papa juga cukup menarik di mata saya.Tubuhnya tinggi-tegap,hasil dari mantan atlet volly DKI yang masih tersisa. Pakaiannya selalu rapih dan wangi. Membuat saya kecil nyaman duduk di pangkuannya sambil sok-sokan ikut membaca koran yang sedang beliau baca. Padahal jujur saja,saya belum bisa membaca pada waktu itu. Papa juga penyabar. Jarang sekali melihat dia marah.Tutur katanya halus. Mampu meredamkan emosi orang-orang di hadapannya.

Tapi semakin dewasa, saya semakin menyadari kalau papa adalah manusia biasa. Papa bukanlah titisan om Gatot Kaca yang sakti itu. Papa bukanlah super hero. Papa juga punya banyak kekurangan. Dan pastinya pernah melakukan kesalahan. Pada satu ketika beliau memeluk saya di hari ulang tahun saya dengan mata berkaca-kaca, dan mengucapkan sebuah kalimat, ”Maafin papa,dek.” kata maaf yang tak pernah saya tahu maknanya.Karena buat saya,papa tetap sosok lelaki yang saya kagumi.

Pada saat itulah, saya tahu bahwa tak seharusnya saya memasang kriteria berlebih tentang lelaki ideal di mata saya pada sosok papa…

Ketika SMU, saya baru berani yang namanya pacaran. Itu juga karena mencairnya kriteria lelaki ideal di mata saya. Nggak ada patokan khusus mengenai cowok yang menjadi pacar saya. Asalkan saya suka, yaudah suka aja. So, mulailah perjalanan cinta saya *jiaaahh…priikiitieeww!

Cowok-cowok datang dan pergi.. ada yang baik,ada juga yang jahatnya luar biasa.Ada yang alim,ada juga yang begajulan.Ada yang kalem kayak kuburan, ada juga yang terlalu pecicilan sampai bikin pusing.Ada yang hitam dan yang putih. Nggak ada yang mampu membuat orang bisa menebak yang mana tipe cowok saya sebenarnya.Karena semua beda-beda. Berwarna.Pada akhirnya saya begitu lelah dengan warna-warni itu…

”Lo kayaknya musti nyari cowok yang bukan ‘elo’ banget.” begitu kata teman saya suatu hari.
”Gue takut pilih-pilih. Tuhan aja nggak pernah milih-milih sayang sama makhluknya. Kenapa gue harus milih-milih?emang yang Tuhan siapa sih,sebenernya?”
”Hidup itu pilihan kan, Cil.. Lo harus punya kriteria.Ini urusan masa depan lo.Sisa umur lo yang akan lo bagi dengan cowok yang sama.”

Saya jadi berpikir sejenak. Ketika usia saya di atas 25 tahun, memang ternyata tanpa saya sadari, saya punya kriteria sendiri mengenai cowok ideal di mata saya.Yang entah kenapa nggak pernah saya jadikan patokan dalam memilih pasangan. Padahal penting untuk menentukan cowok yang nanti akan menemani saya meminum cappucino hangat di teras rumah sambil menatap langit. Dimana saya akan membaca buku, dan dia akan membaca apapun yang ia sukai di sebelah saya, lalu kami saling bertukar informasi tentang apa yang kami baca. Bercerita banyak hal tentang hari…tentang masa depan…

Saya menyukai cowok yang penyayang. Cowok yang sayang dengan anak kecil itu seksi di mata saya.Mau itu sama adiknya,anaknya,anak tetangga,siapapun. Saya juga menyukai cowok yang tak terlalu banyak bicara tapi sanggup membuat saya yang cerewet ini terdiam ketika sebuah kalimat meluncur dari bibirnya. Dia yang nantinya akan saya berikan ribuan senyuman dan kecupan hangat setiap hari. Dia yang akan saya masakin setiap hari, dan dia yang akan membiarkan saya menangis sejadi-jadinya di pelukannya hanya untuk memastikan kalau everything is gonna be ok…

Ah… sepertinya dia tak pantas lagi disebut cowok. Dia lelaki. Lelaki yang akan memangku anak saya nanti sambil membaca koran. Dan si kecil dengan sok taunya ikut membaca. Lelaki yang akan membuat anak saya berlindung dibalik tubuhnya ketika saya memarahinya, menganggap bahwa papanya adalah om Gatot Kaca.Dia, lelaki ideal di mata saya…

Tapi yang namanya jodoh kan siapa yang tahu?Saya sih lebih cenderung pasrah.Kalo jodoh kan nggak bakalan kemana.Tapi yang jelas, keyakinan saya adalah… semakin kita terpuruk dan patah hati karena orang yang selama ini kita kira jodoh kita, tapi ternyata bukan.Maka anggap saja jodoh kita yang telah dipersiapkan Tuhan itu pasti keren sangat….dia lagi didandanin untuk siap ketemu sama kita….

Jadi ingat kata-kata mama…
“Carilah “partner in life” jangan sekedar “husband”. Yang tahu siapa Tuhannya. Dan cari yang setia, jangan yang tukang main cewek.” That’s it!

Perkenalkan,saya asli Solo

20120723-004440.jpg

Banyak yang heran ketika mereka mengetahui kalau saya orang Jawa asli. Apalagi pas saya bilang kalau saya keturunan Solo. Banyak dari mereka yang langsung pingsan (Maaf.kalau ini saya agak lebay :)). Mungkin karena gaya berbicara saya yang cerewet dan banyak menggunakan bahasa ‘slang’ dalam komunikasi sehari-hari. Selain itu juga karena saya nggak betah diem lama-lama. Pengennya selalu loncat sana-sini, cerita banyak hal, dan tertawa terbahak-bahak.
Percayalah, saya orang Jawa asli. Papa-Mama saya orang Solo. Segaris dari mulai nenek moyang saya. Saya telahir di lingkungan keluarga Solo yang bisa dibilang ‘Solo banget!’. Budaya Jawa begitu melekat di diri saya. Bagaimana saya menghormati orang yang lebih tua, bagaimana saya mempertahankan harga diri sebagai wanita, dan bagaimana saya melakukan rutinitas sehari-hari. Banyak pakem-pakem dari Solo yang masih saya anut meskipun saya tinggal di kota metropolitan Jakarta. Kota dimana wanita terpaksa harus ‘macho’ karena tuntutan lingkungan. Jakarta keras, Sob!

Saya cucu yang bisa dibilang sing pretingsing. Cucu yang banyak maunya, suka aneh-aneh, dan paling ‘asal’ diantara cucu-cucu cewek yang lainnya. Saya yang punya hobi naik gunung, panjat tebing, suka musik-musik death metal yang agak melenceng dari garis seorang putri Solo. Saya pun senang memakai pakaian cowok yang kebesaran di tubuh saya, celana sobek-sobek, segala atribut tengkorak, tertawa terbahak-bahak, cerita panjang-lebar, dan punya kebiasaan buruk ngacak-acak rambut belakang saya ketika sedang grogi atau berpikir keras. Teman-teman saya juga lebih banyak cowok.

Tapi jangan salah, saya sanggup berbahasa Jawa halus (karena itu yang saya lakukan jika berbicara dengan keluarga di Solo), saya bisa menari Jawa, menembang Jawa, dan pengetahuan saya mengenai cerita pewayangan paling enggak, bisa dapet nilai tujuh :). Dan harus saya akui, saya sangat mencintai budaya Jawa dan sangat ingin mendalaminya.

Meskipun bisa dibilang hidup saya sudah sangat ‘kota’ karena 26 tahun tinggal di Jakarta, saya tak pernah melupakan hal-hal penting yang selalu diingatkan oleh mama:
Perempuan harus bisa nrimo. Belajar ikhlas menerima segala sesuatunya (termasuk klo suaminya berwajah pas-pasan?:)). Perempuan itu harus bisa masak (well, meskipun acak-acakan. At least saya tahu bedanya kunyit, garam, dan jahe :)). Harus tahu bagaimana melakukan konsep ‘prihatin’ yang sebenarnya dalam kehidupan (Macam Bapak Presiden, Mah?) dan sebagainya…
Terus terang, lama tinggal di Jakarta membuat saya banyak melihat realita yang terjadi di tengah masyarakat. Khususnya remaja. Pakem-pakem yang ada dari budaya nenek moyang perlahan luntur dimakan jaman. Hanya dengan mengatasnamakan kata ‘modern’. Saya mungkin lebih liberal. Apa yang menurut saya masih masuk akal digunakan saat ini, ya saya gunakan. Kalau enggak, pasti ada perubahan yang jauh lebih baik sebagai penggantinya. Dan pastinya butuh penjelasan yang baik kepada orang tua-orang tua kita yang masih menganut budaya lama.
Dulu, mama saya paling nggak bisa melihat anak perempuannya berteman dengan banyak cowok, pulang larut malam, tertawa terlalu keras, dan paling protes ketika saya memutuskan untuk tidak kerja kantoran di bank selepas kuliah. Karena menurutnya, dari turun temurun keluarga saya tidak membiasakan anak-anaknya seperti itu. Butuh proses yang panjang untuk membuat mama memahami semuanya. Dari mulai memperkenalkan teman-teman cowok saya ke mama, mengajak mama ke kantor saya jika ada kesempatan, dan menunjukan prestasi yang bisa saya capai dengan tidak bekerja kantoran di bank. Dan sekarang, perlahan beliau sudah mulai bisa memahami. Well, kepercayaan itu penting. Dan lebih penting lagi adalah tanggung jawab pada diri kita sendiri untuk nggak menyia-nyiakan kepercayaan itu.

Oiya bicara soal wanita Jawa dari garis keturunan keluarga saya (gak tau ya, apakah di keluarga lain juga sama atau enggak), ada satu hal yang masih saya kagumi dan nyaris membuat saya terheran-heran. Masalah ilmu kebatinan. Dulu masyarakat Jawa menganut keyakinan yang disebut dengan kejawen. Dimana merupakan sebuah alkulturasi antara keyakinan dan agama yang ada saat itu masuk ke wilayah Jawa. Eyang juga dulu menganut kejawen sebelum murni masuk islam. Kejawen berkaitan erat dengan ilmu kebatinan yang *entahbagaimana* masih dimiliki oleh eyang putri sampai saat ini.

Oke, saya akan bercerita sedikit (kalau kalian bosan, silahkan berhenti membaca, key. Kalau masih ‘on’ mariih baca kalimat selanjutnya:) Percaya nggak percaya, eyang putri memiliki batin yang kuat untuk bisa merasakan jika seseorang yang beliau sayangi dalam bahaya. Itu karena kebiasaannya waspada semenjak eyang putri menikah muda dengan eyang kakung yang pada masa itu merupakan seorang priyai di desa. Karena saat itu adalah masa perang, maka eyang kakung adalah tokoh yang lumayan diincar oleh musuh. Sering kali terjadi penjebakan dimana eyang kakung diundang untuk menghadiri berbagai acara yang ternyata adalah strategi musuh untuk menangkap eyang kakung. Dan disitulah peran eyang putri. Beliau mampu merasakan melalui batinnya ketika suaminya dalam bahaya (ini yang namanya cinta,sob! *tsah!). Ketika itu terjadi, eyang putri akan melakukan segenap cara untuk menghambat eyang kakung mendatangi tempat tersebut. Hingga usaha musuh menjebak eyang kakung selalu gagal.

Mama pernah bercerita, ketika jaman perang, rumah eyang kakung sering kali didatangi oleh mata-mata yang ingin memberikan informasi kepada musuh. Waktu itu mama masih sangat kecil. Tapi mama mengingat jelas bagaimana eyang putri dan eyang kakung melindungi keluarga mereka. Ketika batin eyang putri merasakan bahaya, beliau akan berdiam diri, memanjatkan doa kepada Tuhan agar diberikan perlindungan. Pada saat itu banyak yang bilang kalau orang-orang jahat yang ingin mendekati rumah eyang tidak mampu mencapai rumah. Mereka hanya berputar-putar disekeliling kebun kayak orang bingung. Canggih ya? :))

Atau pernah juga mama bercerita ketika situasi desa lagi nggak aman, which dimana-mana suara tembakan. Ketika musuh menyantroni rumah eyang, eyang kakung membawa eyang putri dan mama kecil ke salah satu sudut rumah. Eyang kakung memejamkan mata, meminta perlindungan pada Tuhan, dan…. >>> mama ingat betul apa yang terjadi ketika itu. Musuh mondar-mandir di depan mereka membawa senjata. Tapi amazing…. nggak ada satupun yang bisa melihat eyang kakung, eyang putri, dan mama. Mereka invisible… (aseli,saya mendengarkan mama bercerita seperti sedang menonton sebuah adegan film x-men. Hahaha….).

Pelajaran yang bisa dipetik adalah… yess, keyakinan pada Tuhan itu penting banget untuk melindungi kita di dunia ini. Mama bilang, bahwa apa yang dilakukan eyang itu bukanlah sebuah ilmu, atau kekuatan yang dimiliki seorang manusia. Eyang adalah orang biasa tanpa kelebihan apa-apa. Itu bukanlah sebuah kelebihan. Tapi sebuah kepasrahan luarbiasa yang dilakukan seorang manusia kepada Tuhan. Ya, pasrah pada Tuhan. Eyang sadar betul bahwa keluarganya dalam bahaya. Kekuatannya sebagai manusia tidak bisa untuk melindungi dirinya dan keluarganya, mengalahkan musuh yang jumlahnya banyak dan bersenjata lengkap. Maka, satu-satunya jalan adalah pasrah. Pasrah bahwa hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Bahwa ada kekuatan Maha Dahsyat yang bisa mengalahkan ribuan peluru sekalipun. Yang memberikan keputusan akhir atas apa yang akan terjadi…..

Saat ini, jaman sudah semakin maju. Tapi banyak kebiasaan-kebiasaan dan adat istiadat nenek moyang kita yang masih bisa kita gunakan dan lestarikan. Karena sebenarnya, ada banyak makna dan moral yang bisa kita pelajari dari apa yang dilakukan oleh nenek moyang kita terdahulu…. yeah, everything happens for a reason, rite?

Akhirnya, saya mau bilang…. saya wanita Jawa, asli Solo. Kamu?