May, 2012

now browsing by month

 

And we hate Our Birthday

20120520-225558.jpg

Saya sangat membenci ulang tahun saya sendiri. Orang tua saya tahu itu.Saking bencinya sampai-sampai seringkali saya melupakannya. Tadinya saya pikir hanya saya, tapi ternyata saya merasakan kalau orang tua saya pun membenci ulang tahun mereka masing-masing. Saya nggak tau kenapa, tapi mama saya contohnya, sebisa mungkin ia menjaga agar orang-orang nggak tau tanggal lahirnya. Nggak penting katanya.

Kalau saya, punya alasan khusus kenapa saya membenci ulang tahun saya sendiri. Pertama, saya merasa ketika ulang tahun,seharusnya seseorang merasa sedih karena umurnya di dunia berkurang. Kedua, beberapa ulang tahun saya belakangan ini membuat orang tua saya memberikan selamat ulang tahun pada saya sambil meneteskan air mata.Dan keluarlah kata-kata yang paling nggak enak, “Maafin Papa nggak bisa ngasih kamu apa-apa..” duh! Emang kalo ulang tahun harus ya ngasih apa-apa?

Saya sampai heran asal muasal hari ulang tahun itu. Sampai saya sampai pada sebuah kesimpulan absurd yang nggak pantes juga dipercaya (haha!) bahwa ketika manusia mencapai umur 25 tahun, mereka akan memaknai ulang tahun dengan terbalik.

Jadi gini,coba deh kamu lihat anak-anak kecil yang umurnya di bawah 5 tahun. Setiap mereka ulang tahun sebisa mungkin orang tuanya akan merayakan.Dan doanya adalah ….”Semoga kamu cepet dewasa ya…”

Nah ketika di usia 25 tahun, apakah kalimat doanya akan sama? Pasti enggak.Karena usia itu dianggap sudah dewasa.Yang ada malahan deg-degan kalo ada target-target yang belum tercapai. Ya, kan??? Ah…anggap aja iya.Biar saya senaaang ahahaha…..

Seven Days

20120515-154207.jpg

Saya pikir saya mati rasa. Begitulah yang saya rasakan ketika berencana menulis novel cinta layaknya novel pertama dan kedua saya.Semua seperti datar-datar saja.Nggak ada perasaan menggebu-gebu,nggak ada emosi,ataupun rasa bahagia.Semuanya ‘lempeng’.Mungkin ini yang namanya mati rasa.Terlau banyak luka,terlalu banyak sakit di hati saya.Sehingga yaah… datar-datar aja ngadepin semuanya.

Hingga tiba-tiba pikiran absurd itu muncul. “Gimana kalau gue jadi volunteer di sasana tinju untuk jadi target latihan pukulan?Atau gimana kalau saya buka lagi lembaran-lembaran luka dengan mantan pacar saya?atau… Bisakah saya membayar seorang cowok hanya untuk pacaran dengan saya?”

Semua itu hanya untuk satu tujuan.Saya ingin hati saya bekerja dengan baik.Saya ingin merasakan sesuatu dengan lebih ‘dalem’ jangan ‘ lempeng’ aja.

Hingga ketika saya merebahkan diri, saya melihat dia ada disana. Berdiri dihadapan saya dengan berkata, “Gue mau jadi pacar lo.”
Saya kaget bukan main.Kenapa cowok ini tiba-tiba dengan sukarela mau jadi pacar saya? Saya bertanya, “Kenapa?”
“Karena gue pengen menolong elo”
“Apa perlu gue bayar?”
Dia langsung menggelengkan kepalanya.”Gue tulus mau nolong elo.”

Oke,ketika sebuah kesepakatan terjadi dengan serbagai embel-embel rules yang mengikat,dia menarik saya memasuki dunia cintanya yang begitu sempurna.Dia bebaskan saya tertawa,berlari,atau bercerita sesuka saya.Dia perlakukan saya dengan sangatindah.Bahkan terlalu indah sampai kata terima kasih pun tak cukup jika dibandingkan dengan apa yang dia lakukan untuk saya. Ya, saya jatuh cinta dengan dia yang ~entah datang dari mana~ menjadi pacar saya untuk tujuh hari ke depan.

Tujuh hari begitu penuh cerita. Tujuh hari begitu penuh rasa. Ia menggenggam tangan kecil saya.Menggoyang-goyangkannya ke depan dan ke belakang menyusuri jalanan malam ibukota yang penuh lampu-lampu indah. Saya menarik tangannya tiba-tiba untuk mengajaknya berlari menyeberangi jalan.Dia terkejut,sedikit mengeluh karena lelah,namun dia tersenyum aneh kemudian. Dan saya hanya bisa tertawa lebar melihat ekspresinya yang begitu lucu.

Dengan sekali kedipan mata, kami tiba di tempat yang berbeda. Bukan di jalan malam ibukota. Tapi di sebuah arena bermain yang begitu luas. Ada badut-badut,ada musik-musik,orang-orang menari,tertawa,saling bergandengan,bersuka ria.Kami ada di sana dan ikut bahagia.Mereka menyambut dan menarik kami kedalam arena mereka, dan kami pun bersenang-senang. Dari kejauhan saya melihat sepasang patung kelinci raksasa sedang menatap kami. Tersenyum.

Senja berubah menjadi malam. Ia menggenggam tangan saya. Kali ini kami berlari bersama. Kami berlari sekencang-kencangnya menuju titik paling ujung di jalan itu. Dengan nafas beradu,langkah kaki cepat, dan semua mata ingin tahu yang berada di sepanjang jalan yang kami lalui, kami tertawa lebar.

Saya melihat ia menjentikkan jari. Dan kami kembali berada di tempat yang berbeda, Bukan sebuah jalanaan ibukota, bukan pula sebuah arena bermain yang mengasyikan. Tapi kami berada di sebuah ruangan kecil yang entah berada dimana. Ketika tersadar,saya melihat dia tepat di depan saya.Tersenyum indah seperti biasa. Jantung saya berdetak cepat. Tiba-tiba ia menarik tubuh saya, merengkuhnya.Saya hanyut kedalam sensasi wangi tubuhnya.Saya bisa merasakan detak jantungnya yang seirama. Dan disanalah semuanya terjadi. Ia mencium saya. Membawa saya berfantasi.Semua begitu nyaman.Begitu dalam. Semakin lama semakin dalam dan kami terhanyut. Saya rasa ini sayang… kamu?

Tik…tik…tik…

Sebuah suara membuyarkan sensasi itu. Saya tak menyadari kalau sudah cukup lama ia memeluk tubuh saya, menghujani saya dengan ciumannya yang memabukkan.Tiba-tiba sebuah ketakutan menyertai saya.Memenuhi hampir seluruh aliran darah saya. Saya terdiam menatapnya. Membuatnya sedikit bingung.
“Ada suara detiknya…” ucap saya.
“Kenapa?” jawabnya.
Saya melirik pada kalender di dinding. Hari minggu. Ya, ini hari minggu.Tepat tujuh hari saya bersamanya.Tepat tujuh hari ia menjadi pacar saya. Itu tandanya…
“Waktunya….” saya kembali berkata cemas.
Ia menyadari apa yang sedang terjadi. Tiba-tiba tangannya menggapai jam di meja dan menghantamnya sekuat tenaga tanpa mampu saya halangi. PRANG!!!

“JANGAAANN!!!”

Blup!

Saya membuka mata saya perlahan. Kening saya berkerut. Saya menatap sekeliling, mencari-cari dia. Tapi dia tak ada di sana. Ah, ternyata saya hanya bermimpi. Mimpi yang terlalu indah di siang bolong. Dia hanyalah sebuah ilusi yang memberikan sensasi tersendiri dalam mimpi saya. Dia tak nyata.Bahkan kami belum sempat mengetahui nama kami masing-masing.Ah itu tak perlu.

Saya beranjak menuju meja di sudut ruangan, membuka laptop, dan mulai menulis… Ya, mimpi itu memberikan mood yang sangat bagus untuk saya menulis.Membuat perasaan saya mulai bekerja dengan sangat baik. Saya mampu merasakan sesuatu. Saya nggak mati rasa. Saya menulis dulu ya, teman-teman…. 😀

Dari saya untuk Bumi Indonesia

20120503-062343.jpg

“My name’s Dyan Nuranindya. And I’m from Indonesia.”

Ruangan itu mendadak hening. Semua mata tertuju pada saya yang bertubuh mini, berambut hitam dan berkulit cokelat ini. Pandangan mereka terlihat aneh. Seakan saya ini makhluk dari belahan planet antah berantah yang terdampar di bumi. Sempat dengan bodohnya saya meyakinkan diri bahwa saya memang tidak pergi terlalu jauh dari bumi. Bahwa 12 jam perjalanan dengan pesawat udara tidak sampai membuat saya mendarat di planet Mars.

“Are you from Indonesia? How come? Well, I mean are you really from that place?”

Saya menganggukkan kepala yakin. Kemudian dengan cueknya saya bercerita tentang negara saya. Tentang ribuan pulau yang dimiliki, kekayaan alam, budaya, sumber daya manusia, dan semua yang pernah saya baca dan tau tentang Indonesia. Bahkan sesekali saya menggambar di papan tulis di ruangan tersebut untuk memberikan bayangan kepada mereka (padahal jujurnya saya bingung menjelaskannya dalam bahasa Inggris jadi ya saya gambar aja huahahaha….)

Lalu dengan sekali kedipan mata, mendadak hampir seluruh manusia yang berada di ruangan tersebut mengacungkan tangan, berebut menghujani saya dengan pertanyaan. Dalam hati sayapun menjawab, “mati gue!”

Kaki saya bergerak-gerak waktu itu. Ini bukan pertama kalinya untuk saya berdiri di hadapan puluhan orang dari rumpun yang berbeda. Sebelumnya, saya dan kedua orang teman dari Indonesia juga pernah mengalami hal yang sama. Dari warna bola mata mereka yang berada di dalam ruangan itu saja, saya bisa tahu kalau mereka dari negara yang berbeda. Berbagai pertanyaan yang mereka ajukan nyaris membuat saya setengah miris dalam hati. Gila banget sih? Masa segitu buruknya citra Indonesia dimata dunia? Negara teroris, miskin, kriminalitas tinggi, korupsi, dll.

“Ok, mungkin apa yang kalian ketahui tentang Indonesia memang benar terjadi di Indonesia. Tapi kan hampir semua negara memiliki permasalahan yang kurang-lebih sama?”

Entah kenapa saat itu saya begitu bangga terhadap diri saya sebagai orang Indonesia. Saya begitu bangga diberikan kepercayaan untuk membela negara saya dihadapan mereka.Di negara superior itu. Setidaknya saya mampu membuka mata dan pikiran positif mereka terhadap Indonesia. Walaupun efeknya mungkin gak terlalu besar. Setidaknya saya sudah berusaha berbuat ‘sesuatu’ untuk Indonesia. Meskipun setelah itu saya kembali teringat hal-hal yang pernah saya baca dan yang pasti akan membuat pangeran diponegoro, cut nyak dien, teuku imam bonjol dan pahlawan lainnya geleng-geleng kepala: tawuran antar sekolah, pembantaian,penjualan pulau, banjir karena sampah yang overload,korupsi, narkoba, dan sebagainya dan lain-lain.

Saya jadi mikir,apa sebenernya semua masalah yang terjadi di negara kita ini adalah karena pola pikir kita sendiri yang justru menganggap kalo Indonesia negara kaya raya. Makanya kebanyakan masyarakatnya jadi males ngapa-ngapain. Tau hutan kita di babat, satwa kita ditangkepin, pulau kita dijual, dan lainnya sebagainya, apa coba yang kita lakuin?….. duduk manis nonton beritanya di tv. Hey guys, do something! C’mon… Gak usah muluk-muluk terbang ke kalimantan dan ngeluarin jurus2 karate ke para penebang liar itu. Lakukan aja apa yang bisa kamu lakuin.Jangan boros kalau pake kertas misalnya.

Please guys, stop untuk menganggap negara kita negara kaya. Kekayaan yang negara kita miliki pasti lama kelamaan habis kalau kita sebagai warga negara hanya mampu berpikir konsumtif bukan produktif. Belum lagi banyak orang-orang yang egois sehingga menggunakan kekayaan Indonesia untuk ketamakan dan kepentingan pribadi. Jangan sampai mental generasi-generasi penerus bangsa ini dibangun menjadi mental pemalas. Mental yang hanya menunggu belas kasihan orang untuk memberi.Kasihan banget sih loooo….ahahaha…*maluuu