March, 2012

now browsing by month

 

Jodoh.Mungkin atau Yakin?

Postingan kali ini saya tulis sambil menyeruput cappucino hangat di 711. Pengen posting karena terkontaminasi dengan seseorang yang menurut saya punya otak encer lantaran rajin menulis blog.Dan ajaibnya dia punya gaya penulisan yang bagus menurut saya.Walau kadang tulisannya itu sangat absurd dan hanya Tuhan dan dia yang mengerti..haha!

Kali ini saya mau ngomongin masalah jodoh.Bukan cuma jodoh dalam hal pasangan hidup. Tapi jodoh dalam hal apapun. Bisa pertemanan, pasangan hidup, pekerjaan, dan lain sebagainya. Menurut saya jodoh itu adalah sesuatu yang nggak bisa diprediksi samasekali. Karena kita cuma bisa bilang, “Hhmmm… Mungkin dia jodoh saya” dan itu yang sering saya lakukan.Saya pikir saya benar.Nggak taunya saya Tolol! Perkiraan jodoh saya selama ini selalu meleset.Pacar yang tadinya bikin saya bahagia ternyata menyakiti,teman yang tadinya sahabat ternyata mengkhianati, atau pekerjaan yang saya pikir bisa mengisi hari tua saya ternyata hanya bertahan seumur jagung. See… Nggak usah muluk-muluk.Penggunaan kata ‘MUNGKIN’ saja udah salah total.Hey,tau nggak kalau kata itu dilarang diucapkan dalam sebuah persidangan karena dianggap nggak bisa dipertanggung jawabkan?so,itu tandanya memang nggak ada diantara kita manusia yang bisa menebak siapa dan apa jodoh kita.

Belum lama ini saya bertemu dengan seseorang yang ternyata oh ternyata…kenal dengan orang-orang di masa lalu saya.Dia yang membuat saya berpikir sesuatu. Well, kebayang nggak sih kalau misalnya ternyata dulu kami pernah bertemu,bahkan tahu, bahkan duduk bersebelahan, atau bahkan saling menyapa degan sebutan ‘eh’ hanya untuk sekedar basa-basi karena lingkup pertemanan yang sama?Tapi pada saat itu kami belum berkenalan.

Dan…setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya kami bertemu dan berkenalan secara resmi.Dia tahu banyak hal tentang lingkungan saya yang setelah ditelusuri kami berada di lingkungan yang sama pada jaman dulu.

Menurut saya, itu termasuk jodoh. Saya berjodoh dengan dia. Kenapa kami nggak bertemu puluhan tahun yang lalu padahal berada di lingkungan yang sama?Lalu kenapa kami baru berkenalan sekarang ini dimana lingkungan saya dan dia sudah berbeda tongkrongan? Padahal ‘mungkin’ kesempatan berkenalan yang jauh lebih besar justru ada di masa lalu?
Saya jadi ingat ungkapan klise, “kalo jodoh nggak akan kemana” yaps, bayak rahasia Tuhan yang nggak bisa diprediksi manusia.Ibarat novel,alurnya nggak bisa ditebak.Kenapa saya nggak berkenalan dengan dia waktu itu? Saya nggak tau jawabannya.Tapi saya yakin kalau Tuhan punya ribuan jawaban keren untuk menjawabnya….

Jangan pacaran sama saya.Saya bukan pacar yang baik!

Harus saya akui kalau saya bukan pacar yang baik.Itu adalah ungkapan kejujuran saya setelah berkali-kali saya gagal dalam urusan yang satu itu.

Pacaran sama saya itu membosankan. Karena setiap kali berduaan saya akan berubah jadi orang yang gak banyak ngomong. Saya akan sering bilang terserah, dan saya akan betah berjam-jam melek meskipun udah larut malam.

Pacaran sama saya juga ngeselin. Suka cueeek banget. Seakan apapun apapun yang terjadi, saya nggak akan perduli. Bahkan ketika pacar saya ketahuan bohongpun saya suka diem aja. Nggak asik.Ibarat masakan nggak ada bumbunya.Hambar…

Pacaran sama saya juga bikin bingung.Sebentar-sebentar suka uring-uringan sendiri. Ya,saya sering ngomel sama diri sendiri yang suka bikin pacar saya bingung musti gimana. Ahahaha…

Pacaran sama saya susah ditebak maunya.

Tapi hal yang mesti kamu tau, kalau saya pengagum cinta.Karena setiap kali saya mengalaminya,ada sensasi tersendiri di dalam hati saya yang nggak pernah ingin saya ganggu gugat dengan hal-hal lain.Bingung ya?sama:p

Kalau sedang berdua, buat saya moment itu terlalu indah.Terlalu sayang kalau saya harus kehilangan beberapa menit saat bersamanya gara-gara saya banyak bicara atau tertidur.Saya nggak mau. Saya lebih suka mendengarkan dia bercerita,menatap wajahnya sepuasnya,dan saya paling suka deg-degannya yang hanya saya sendiri yang tahu.Seru! Dan itu hanya bisa saya dapatkan kalau dia yang menguasai moment.Bukan saya.Dia pemain,dan saya penonton.

Saya cuek banget karena banyak faktor.Pertama, itu cara saya menutupi salah tingkah saya karena ada dia (Asli! Saya cupu banget kalau lagi jatuh cinta). Kedua, saya anggap hubungan cinta itu terlalu mahal untuk dilihat banyak orang.Terlalu berharga.Bagi saya cinta itu indah banget kalau hanya kami berdua yang tahu.Hanya kami berdua yang tahu betapa besar gejolak cinta yang kami punya.Biarlah ini jadi rahasia kami. Di public,saya lebih suka memperlihatkan hubungan yang lebih ke partner atau sahabat agar orang lain pun nyaman berteman dengan kami berdua. Ketiga, saya cuek bukan karena saya tak perduli dengan sifat buruk pacar saya.Tapi saya lebih suka kalau dia mengakui secara gentle dan meminta maaf.Saya amat sangat menjaga yang namanya cinta.Please jangan dirusak.

Pacaran sama saya suka uring-uringan.Why?Well,jujurnya… Saya pasti lagi kangen.Kangen yang nggak kesampaian.Makanya uring-uringan nggak jelas.Saya agak susah mengekspresikan perasaan.Makanya suka belok:p Tapi kalau udah gini,obatnya gampang banget kok.Ketemuan aja.Dengan liat wajah dia aja udah cukup kok hihihihi….dasar!

Pacaran sama saya susah banget ditebak maunya.Tapi satu hal yang musti dipegang adalah, saat saya menyayangi seseorang, perasaan saya pasti akan sangat daleeeeem banget. Karena sebenernya saya tipe yang sulit jatuh cinta. Harus ada sesuatu yang ‘unik’ di mata saya yang bisa membuat saya jatuh cinta.Nah, ‘unik’ versi saya itu yang emang sulit dimengerti orang. Saya menyukai hal-hal kecil yang sifatnya surprise daripada hal besar yang mahal tapi biasa aja.Saya suka yang spontan.Kalau bingung nebak mau saya apa, just be your self. Nggak usah lebay…pasti saya akan tersenym lagi:)

See, saya memang bukan pacar yang baik….

Oiya, inget ya…cinta itu selalu indah kok.Cuma mencintai orang yang salah itu yang membuat cinta jadi nggak indah :)

NB: Buat orang-orang yang penah saya gambar, saya buat foto 3Dnya, saya rajutkan syal, atau yang paling susah: saya buatkan patung claynya. Well, itu adalah ekspresi betapa sayangnya saya sama kalian.Karena nggak semua orang bisa saya buatkan itu.Saya membuatnya pake hati… 😀

20120317-112344.jpg

Jangan dipendam jauh2. Ngegalinya susah!

20120316-124447.jpg

Saya punya kebiasaan memendam perasaan marah atau kecewa. Kebiasaan yang bagi sebagian orang dianggap luar biasa tapi justru lebih sering mencelakakan saya.Saya jadi sering disakiti sama orang yang justru amat sangat saya sayangi.Memang, semakin saya menyayangi seseorang,semakin tinggi kadar saya memendam perasaan hanya untuk membuat dia selalu bahagia… membuat dia nyaman…

Banyak sahabat saya yang marah karena kebiasaan buruk saya itu.Bagi mereka itu terlalu berlebih.Sama saja bunuh diri.

Bunuh diri?Mungkin saja. Saya pernah punya pacar yang amat sangat saya sayangi.Suatu hari saya tahu kalau dia selingkuh. Selingkuh dengan seseorang yang kebetulan juga saya kenal.Yang justru ada di otak saya saat itu adalah bagaimana saya harus menahan kemarahan saya agar pacar saya itu tetap nyaman bersama saya.Saya ingin dia mengaku sendiri tanpa harus saya sudutkan yang membuat hubungan saya-dia menjadi nggak tenang. Tapi ternyata, dia nggak pernah ngaku sampai detik dimana kami memutuskan untuk putus. Dan saya tidak tega untuk mengungkit2nya.

Kalau sudah begitu, saya lebih sering mencari tempat sepi dan menangis sendiri. Tapi nggak lama.Karena setelah itu saya harus kembali menghadapinya dengan topeng dewa saya.Alias cengar-cengir seakan nggak terjadi apa-apa.Kalian boleh sebut saya muna. Tapi trust me, itu saya lakukan karena saya nggak mau membuat suasana nggak asik.Saya nggak mau menyakiti orang lain. Itu cara saya mengatasi rasa sakit hati.

Saya benci pertengkaran.Saya benci permusuhan.Saya nggak suka adu urat untuk nyelesaiin masalah. Mungkin karena saya tidak suka bicara dengan intonasi tinggi yang bisa menyebabkan saya langsung drop menangis, atau paling parah:mimisan. Saya paling nggak suka orang membentak saya ketika marah. Karena membentak itu tidak manusiawi. Tegas dan bentak itu berbeda.

Di keluarga, saya juga lebih sering jadi penengah ketika terjadi adu urat disana. Saya dianggap bisa berkepala dingin menyelesaikan masalah tanpa emosi.Omongan saya kadang nyelekit walau tanpa intonasi tinggi.Saya mulai sadar kegunaan saya berada di tengah2 keluarga ini.

Tapi ini bukan berarti saya nggak bisa marah. Saya bisa marah.Tapi terlalu brutal untuk diceritakan.Marah saya lebih pantas disebut mengamuk.Keluarga saya pernah melihat saya marah dan mereka ketakutan setengah mati.Habis itu saya menyesal telah membuat mereka ketakutan. Tapi itu jarang terjadi.Sekarang saya lebih sering jatuh sakit,demam tinggi, ketika hati dan pikiran saya terlalu tersakiti atau emosi tinggi.

Saya percaya keajaiban ada saat seseorang yang saya sayangi memeluk saya dan membiarkan saya menangis sepuasnya.Harga mati untuk peluapan emosi saya yang sulit keluar. Itu salah satu doa sahabat-sahabat saya.Yaitu suatu hari nanti saya akan menemukan lelaki yang siap memeluk saya ketika saya emosi atau sakit hati untuk membiarkan saya menangis sepuasnya.Thanks buat doanya ya, dear…

Saya capek… Nahan perasaan itu menghabiskan energi saya…

Please bantu saya meluapkannya….

Yeah, mungkin ini alasan Tuhan kenapa saya jadi penulis:)